5.
Cara
Pembelajaran
Terdapat enam learning mode atau cara
pembelajaran yang dominan, yaitu sebagai berikut :
a.
Analytic
Learning (Pembelajaran Analitis)
Pembelajaran terjadi melalui penyatuan secara sistematis informasi
internal dan eksternal. Informasi cenderung kuanti- tatif dan dianalisis
melalui sistem formal. Tekanannya pada penggunaan logika deduktif untuk secara
numerik menganalisis data objektif.
b.
Synthetic
Learning (Pembelajaran Sintesis)
Pembelajaran ini lebih intuitif dan generik daripada analytic mode.
Di dalamnya mengandung sejumlah besar informasi yang kompleks dengan
menggunakan pemikiran sistem. Dengan demikian, pekerja berusaha
mengidentifikasi hubungan antara isu, masalah, dan peluang.
c.
Experimental
Learning (Pembelajaran Eksperimental)
Cara ini menggunakan pendekatan metodologi rasional yang didasarkan
pada menjalankan eksperimen dan memonitor hasilnya. Peserta pembelajaran
melakukan eksperimen untuk melakukan pengujian.
d.
Interactive
Learning (Pembelajaran Interaktif)
Cara ini menyangkut learning by doing atau pembelajaran dengan cara
melakukan. Daripada menggunakan prosedur metodologi sistematik, pembelajaran
terjadi terutama melalui pertukaran informasi. Pembelajaran lebih bersifat
intuitif dan induktif.
e.
Structural
Learning (Pembelajaran Struktural)
Cara ini menggunakan pendekatan metodologis yang didasarkan pada
penggunaan rutinitas organisasional. Rutinitas organisasional merupakan proses
dan prosedur standar yang memerinci bagaimana menjalankan tugas dan peran.
Orang belajar dari rutinitas sebab hal tersebut mengarahkan perhatian,
melembagakan standar, dan menciptakan perbendaharaan kata secara konsisten.
f.
Institutional
Learning (Pembelajaran Institusional)
Cara ini mencerminkan proses induktif dengan mana organisasi
menyumbangkan dan memodelkan nilai-nilai, kepercayaan, dan praktik baik dari
lingkungan eksternal atau dari eksekutif senior. Sosialisasi dan mentoring
memainkan peran penting dalam institutional learning.
6.
Resistensi
Pembelajaran
Anda dapat saja
heran, mengapa setiap orang atau organisasi yang rasional akan menolak
pembelajaran. Sama sekali tidak masuk akal. Organisasi tidak secara sadar
menolak pembelajaran. Mereka melakukan hal tersebut karena tiga masalah
fundamental (Kreitner dan Kinicki, 2001: 681). Untuk mengatasi masalah
tersebut, diperlukan pergeseran fundamental tentang bagaimana kita memandang
dunia.
a.
Memfokus
pada Fragmentasi daripada Sistem
Fragmentasi menyangkut kecenderungan memecah masalah, proyek, atau
proses menjadi bagian-bagian lebih kecil. Di dalam organisasi, fragmentasi
menciptakan tembok fungsional yang memisahkan orang menjadi kelompok
independen. Pada gilirannya menghasilkan spesialis yang bekerja dalam daerah
fungsional tertentu. Hal tersebut juga membangkitkan kebanggaan internal yang
memerangi kekuasaan, sumber-sumber, dan pengawasan. Pembelajaran, sharing,
kerja sama, dan kolaborasi menjadi hilang.
b.
Menekankan
Kompetisi di atas Kerja Sama
Kompetisi merupakan paradigma dominan di bidang sosial dan
manajemen. Paradigma merupakan cara yang pada umum- nya diterima dalam melihat
sesuatu. Meskipun tidak ada yang salah dengan kompetisi, paradigma ini
berakibat pada pekerja dalam bersaing dengan berbagai orang dengan siapa mereka
perlu berkolaborasi untuk mendapatkan sukses.
Selanjutnya, kompetisi menimbulkan tekanan berlebihan dalam melihat
kebaikan daripada menjadi baik, yang mencegah pembelajaran sebab orang menjadi
enggan mengakui bila tidak tahu sesuatu. Hal ini sepenuhnya benar bagi leader.
Pada gilirannya, pekerja menolak untuk menerima tugas atau penempatan yang
tidak mereka kuasai.
Akhirnya, kompetisi menghasilkan pendapat atas hasil terukur jangka
pendek daripada solusi jangka panjang atas akar masalah.
c.
Menjadi
Reaktif daripada Kreatif dan Proaktif
Orang hanya terbiasa dengan perubahan jika merasa perlu sebab hidup
kurang menimbulkan stress dan frustasi jika kita berada di dalam zona yang
nyaman. Dorongan untuk belajar didorong oleh kepentingan pribadi, keyakinan,
aspirasi, ima- jinasi, eksperimentasi, dan pengambilan risiko. Persoalannya
adalah bahwa kita semua telah dikondisikan untuk merespons dan bereaksi
terhadap arah dan persetujuan orang lain. Hal ini merusak dorongan intrinsik
untuk belajar. Kecenderungan ini akan menjadi dua kali lipat dengan management
byfear, intimidasi, dan krisis, orang tidak hanya menolak belajar, mereka akan
menjadi takut untuk mengambil risiko.
7.
Kepemimpinan
Efektif sebagai Solusi
Dalam menghadapi
resistensi semacam itu, diharapkan adanya kepemimpinan yang efektif sebagai
solusi. Pemimpin dapat membangun budaya organisasi yang mendorong pemikiran
berdasar sistem, terhadap fragmentasi, kolaborasi dan kerja sama atas
kompetisi, dan inovasi dan proaksi atas re-aktivitas. Pemimpin harus mengambil
peran baru dan aktivitas yang bersangkutan untuk membangun learning
organization.
Pemimpin perlu
mewujudkan tiga macam fungsi kunci dalam membangun learning organization
(Kreitner dan Kinicki, 2001: 682), yaitu sebagai berikut.
a.
Membangun
Komitmen pada Pembelajaran
Pemimpin perlu menanamkan komitmen intelektual dan emosional
terhadap pembelajaran. Pemimpin dapat mempromosikan nilai pembelajaran dengan
membangun model sikap dan perilaku yang diinginkan. Untuk itu, dapat dilakukan
aktivitas: (1) membuat pembelajaran sebagai komponen visi dan tujuan strategis;
(2) investasi dalam pembelajaran; (3) mempromosikan secara luas tentang nilai
pembelajaran; (4) mengukur, tolok ukur, dan menelusuri pembelajaran; dan (5)
menciptakan penghargaan dan simbol pembelajaran.
b.
Bekerja
untuk Membangkitkan Gagasan dengan
Gagasan dengan dampak menambah nilai kepada satu atau lebih
stakeholder organisasi, yaitu pekerja, pelanggan, dan pemegang saham. Kegiatan
kepemimpinan meliputi: (1) implementasi program perbaikan terus-menerus; (2)
meningkatkan kompetensi pekeija melalui training atau membeli keahlian dari
luar organisasi; (3) eksperimen dengan gagasan, proses, dan pengaturan
struktural baru; (4) pergi keluar organisasi mengidentifikasi gagasan dan
proses kelas dunia; (5) identi- fikasi mental models proses organisasi; dan (6)
menanamkan system of thinking ke seluruh organisasi.
c.
Bekerja
Menggeneralisasi Gagasan dengan Dampak
Pemimpin harus membuat usaha yang disetujui bersama untuk mengurangi
hambatan interpersonal, kelompok, dan organisasional terhadap pembelajaran.
Hal ini dapat dilakukan dengan: (1) menciptakan prasarana yang
menggerakkan gagasan sepanjang batas-batas organisasi; dan (2) memutar pekerja
dari batasan fungsional dan divisional.
D.
Mengubah
Standar Keunggulan
Setiap organisasi
menetapkan standar kualitas tertentu yang menunjukkan ciri dari produk atau
jasanya. Namun, untuk menjadi unggul terhadap pesaingnya, mereka harus selalu
mengubah dan menyesuaikan standar keunggulannya.
1.
Mendefinisikan
Ulang Keunggulan
Perusahaan dapat timbul dan tenggelam dan konsep excellen- ce atau
keunggulan menjadi lebih sukar dipahami daripada sebelumnya. Kenyataannya
adalah bahwa konsep keunggulan akan tetap membingungkan sepanjang kita
perlakukan excsl- lence sebagai konsep yang terisolasi dan menjadi salah
satunya (Tan, 2002: 77).
Excellence bukanlah merupakan tiang gawang maupun tempat tujuan di
mana organisasi dapat menyatakan bahwa telah sampai. Akan tetapi, keunggulan
merupakan kerja keras berkelanjutan untuk menjadi yang terbaik, menjadi yang
pertama, dan menjadi berbeda di tempat keija dan di pasar dan di setiap cara
y2ng mungkin.
Ketika suatu organisasi terikat dalam kerja keras yang konstan, akan
memenangkan pertimbangan atau persepsi pelanggannya sebagai excellence dalam
apa yang mereka laku- kan. Keunggulan bagi organisasi adalah tentang membedakan
dirinya dengan enam P, yaitu People, Policies, Processes, Products, Practices
dan Performance (Victor Tan, 2002: 78).
Sulit dibayangkan bagaimana suatu organisasi dapat unggul jika
menunjukkan kinerja baik, tetapi produk atau jasanya mempunyai kualitas yang
jelek. Sebaliknya, suatu organisasi tidak dapat dilihat sebagai unggul hanya
karena memiliki staf yang baik, padahal menghasilkan produk inferior.
Selebihnya, apa yang telah dipertimbangkan sebagai excellence sebelumnya, bisa
tidak lagi terjadi jika dilihat dari perubahan harapan pelanggan. Excellence
harus dilihat sebagai kebiasaan yang terpadu dan interaktif dengan pandangan
terhadap perbaikan terus-menerus.
Gambar 7.7. Model Excellence
Sumber: Victor Tan, Changing YourCorporate
Culture. Singapore: Times Books International, 2002:79.
a.
People
Excellence
Hanya orang berkualitas
yang dapat membawa organisasi menjadi excellence. Hanya orang yang memungkinkan
organisasi menjadi excellsnce. Oleh karena itu, peran pemimpin adalah memilih
orang yang benar.
People Excellence adalah tentang kompetensi dan komitmen (Victor Tan, 2002: 79). Di
era digital di mana perubahan berlangsung dengan cepat, maka pengetahuan,
keterampilan dan pengalaman dapat susut dengan sangat cepat. Untuk mendorong
pengetahuan dan keterampilan, pemimpin harus mengembangkan learning
organization di tempat kerja. Mengembangkan learning organization tidak hanya
sekadar menjalankan program pelatihan dan kursus untuk staf. Akan tetapi,
tentang memperkuat lingkungan kerja yang memberikan kesempatan pekerja belajar
sambil bekerja, belajar satu sama lainnya, membagikan pengetahuan dan
pengalamannya dan belajar dari praktik terbaik di dalam industri.
Namun, kenyataannya
tidak ada organisasi yang dapat memberikan semua pembelajaran yang diperlukan
orangnya.
Dalam hal ini
self-leaming dan self-education secara berkelanjutan merupakan cara terbaik
rflenjaga tingkat kompetensi seseorang tetap relevan dengan lingkungan yang
berubah dengan cepat.
People Excellence adalah tentang komitmen. Tanpa komit- men, semua pengetahuan,
keteraiflpilan dan pengalaman tidak melakukan sesuatu yang baik bagi
organisasi. Satu alasan terpenting mengapa banyak pekerja gagal berprestasi
seperti diharapkan adalah karena mereka tidak ingin melakukan apa yang
diharapkan untuk dilakukan.
Oleh karena itu,
menjadi ironis karena sebenarnya pekeija mempunyai kualifikasi dan kompetensi
untuk melakukan pekerjaannya dengan baik, tetapi gagal mewujudkannya. Komitmen
terhadap pekerjaan sudah pasti ditentukan oleh sikap, motivasi dan pola pikir
seseorang. Karenanya untuk mengembangkan People Excellence seharusnya
tidak hanya dengan meningkatkan kompetensi, tetapi juga tentang mengubah pola
pikir untuk membangun komitmen terhadap tugas, liburan, organisasi, industri,
komunitas, dan bangsa secara keseluruhan.
b.
Policy
Excellence
Menetapkan kebijakan
yang tepat di dalam organisasi merupakan bentuk strategis untuk keunggulan
bisnis. Meskipun kecepatan sangat penting di era digital, tidaklah penting
sekali bagi organisasi apabila menuju ke arah yang salah.
Policy Excellence adalah tentang pemikiran strategis dan menetapkan arah yang tepat
untuk organisasi, tidak hanya sekadar menguntungkan dan berhasil, tetapi juga
mampu melanjutkan kinerjanya dan survive dalam jangka panjang (Victor Tan,
2002: 80). Daiam hal ini, menyediakan produk dan jasa dengan benar yang
dibutuhkan pelanggan merupakan hal yang penting sekali. Menuju pada pasar yang
tepat dan datang dengan strategi pemasaran yang efektif pada produk dan jasa
yang berbeda adalah tentang Policy Excellence. Kenyataannya, strategi
pemasaran yang efektif akan memberikan hasil yang lebih baik daripada strategi
pengurangan biaya mumi.
Terlalu sering
organisasi mengeluarkan terlalu banyak - sumber daya untuk memperbaiki
kesalahan strategis dalam keputusan kebijakan. Ketika organisasi membuat keputusan
salah dan memasuki pasar yang permintaan potensialnya kecil, hal itu akan
dicoba diatasi dengan pemasaran dan periklanan secara agresif. Policy
Excellence memerlukan pemimpin bergerak di luar pemikiran operasional
normal. Mereka harus membentangkan dirinya dan mengikat pada pemikiran
strategis tentang issue yang signifikan, mempunyai dampak organisasi luas dan
implikasi jangka panjang bagi ketahanan organisasi.
c.
Process
Excellence
Business Process
Re-engineering di awai tahun 1990-an sangat
populer. Akan tetapi, banyak penulis yang mengemukakan kegagalannya. Sebenarnya
tidak ada yang salah dalam konsep Business Process Re-engineering
sebagai alat untuk memperbaiki keunggulan bisnis. Kesalahannya terletak pada
advokasinya yang menggunakan sebagai alat yang terisolasi untuk mencapai
keunggulan bisnis (Victor Tan, 2002: 81).
Pertama, Business
Process Re-engineering tidak dapat memperbaiki masalah jika perusahaan
menghasilkan dan memasarkan produk yang salah. Kedua, Business Process
Re-engineering juga tidak dapat memberikan kontribusi pada keunggulan
bisnis jika orang dalam organisasi tidak kompeten atau jika pekerja tidak
memiliki komitmen dalam melakukan inisiatif perbaikan. Ketiga, Business
Process Re-engineering dapat menjadi alat yang sangat efektif untuk
menurunkan biaya dan meningkatkan daya saing organisasi apabila digunakan
dengan benar sebagai pelengkap dari alat lainnya untuk mencapai keunggulan
bisnis.
d.
Product
Excellence
Product Excellence adalah tentang menghasilkan produk yang benar atau menyampaikan
jasa dengan benar, yang menawarkan baik kualitas maupun nilai uang bagi
konsumen. Product Excellence dapat dicapai melalui riset dan
pengembangan dan komitmen untuk menghasilkan produk berkualitas (Victor Tan,
2002:81).
Terdapat delapan
dimensi yang perlu diperhatikan organisasi untuk mencapai kualitas produk,
yaitu sebagai berikut.
1)
Performance,
yaitu karakteristik operasi utama produk. Kinerja suatu personal Computer
termasuk kecepatan, memori dan kapasitas hard disk.
2)
Features,
yaitu aspek kedua kinerja, misalnya kemungkinan dapat di-upgrade-nya personal
Computer tersebut.
3)
Reliability,
yaitu kemungkinan keberhasilan mewujudkan fungsi khusus untuk periode waktu
spesifik dalam kondisi tertentu.
4)
Conformance,
yaitu tingkat kemampuan produk memenuhi standar tertentu yang telah ditetapkan.
5)
Durability,
yaitu jangka waktu hidup produk sebelum memburuk dalam kinerja dan perlu
diganti.
6)
Serviveability,
yaitu kecepatan dan kemudahan memperbaiki atau kemampuan mengatasi persoalan.
7)
Aesthetics,
yaitu bagaimana tampak, terasakan, sounds, selera atau bau suatu produk.
8)
Perceived
quality, yaitu persepsi yang dimiliki pelanggan atau pelanggan potensial
tentang produk atau penghargaan terhadapnya.
Suatu organisasi yang berkomitmen untuk memperbaiki
dengan setiap cara yang mungkin, dengan penghargaan pada delapan karakteristik
produk tersebut, akan dapat mengembangkan keuntungan kompetitif di pasai.
e.
Practice
Excellence
Practice
Excellence adalah tentang cara mengerjakan, cara
orang memperlakukan satu sama lain dan tentang cara orang dalam organisasi
melayani pelanggan mereka. Struktur ung- gul, sistem atau proses bukanlah
pengganti untuk kurangnya Practice Excellence (VictorTan, 2002: 82).
Practice Excellence adalah lebih dalam melakukan daripada dalam mengajarkan atau
merencanakan. Practice Excellence berada di luar pengetahuan dan
keterampilan, dan memerlukan disiplin dan komitmen untuk melakukan sesuatu
dengan cara yang diperlukan keunggulan.
Dengan demikian,
mengetahui tentang perilaku unggul dalam pelayanan pelanggan tidak cukup.
Mempraktikkan pelayanan pelanggan dengan unggul sepanjang waktu merupakan
kunci. Menjadi sopan dan menolong pada pelanggan yang sulit selama masa sulit,
memerlukan disiplin dan komitmen.
Sebaliknya, tidak
saling berteriak atau merespons dalam berperilaku tidak profesional jika
diprovokasi, adalah tentang pendisiplinan diri terhadap Practice Excellence
di tempat kerja.
Practice
Excellence harus didasarkan pada nilai inti yang
etis tentang orang, organisasi, industri dan komunitas secara keseluruhan.
f.
Performance
Excellence
Performance
Excellence adalah tentang menetapkan track record
dan melanjutkan dalam jangka panjang. Performance Excellence harus
didasarkan pada nilai nyata organisasi. Setiap organisasi harus mempunyai
produk dan jasa riil dan pelanggan. Mereka harus mempunyai strategi pemasaran
yang efektif. Mereka perlu mengembangkan orang yang kompeten dan berkomitmen.
Mereka perlu mengelola dan memanfaatkan sumber daya secara efisien dan secara
efektif agar dapat memberikan hasil yang menarik. Mereka perlu menetapkan
benchmark terhadap praktik terbaik dan tetap efektif didalam industri yang
dihormati. Mereka harus menjalankan bisnis seperti biasa berkaitan dengan
perspektif jangka panjang dan visi (Victor Tan, 2002: 83).
Performance
Excellence hanya dapat dicapai jika perusahaan
mempunyai kombinasi terbaik dari People Excellence, Process
Excellence, Policy Excellence, Process Excellence dan Practice
Excellence.
2.
Menciptakan
Keunggulan
Cara terbaik untuk menggali sarana untuk menciptakan excellence atau
keunggulan adalah dengan menanyakan tiga pertanyaan mfenda^ar berikut ini.
a.
Dengan
cara bagaimana kita ingin kelihatan berbeda?
b.
Dalam
bidang spesifik apa kita ingin menjadi yang pertama?
c.
Dalam
bisnis apa kita ingin menjadi yang terbaik?
|
d.
|
|
e.
|
Gambar7.8 Menciptakan Model Keunggulan
Sumber: Victor Tan, Changing YourCorporate
Culture. Singapore: Times Books International, 2002:84
a.
Model
Keunggulan
Pendekatan yang dapat
dilakukan dalam menciptakan keunggulan dapat ditunjukkan dengan model
keunggulan berikut ini.
1.
Being
Different (Menjadi Berbeda)
Sikap untuk menuju
keunggulan adalah berusaha sekuat tenaga untuk menjadi berbeda dari lainnya di
mata pelanggan. Perbedaan ini harus menarik dan cukup memaksa sehingga
pelanggan akan memilih produk atau jasa Anda di atas lainnya. Dalam dunia yang
semakin kompetitif, pelanggan diberi kesempatan untuk memilih banyak variasi
produk dan jasa yang ditawarkan (Victor Tan, 2002: 84).
Dalam lingkungan yang
baru dan kompetitif, market leader perlu membedakan dirinya dengan mencapai
nilai tertinggi dalam perspektif pelanggan.
a)
Pelanggan
yang berbeda membeli tipe nilai yang berbeda. Beberapa perusahaan melampaui
serrua hal sehingga raa- salahnya adalah memilih pelanggan dan mempersempit
fokus nilai.
b)
Begitu
nilai standar naik, demikian pula harapan pelanggan. Oleh karena itu,
organisasi harus secara konstan memperbaiki atau didahului oleh pesaing.
c)
Untuk
menghasilkan tingkat yang tidak sebanding dari nilai tertentu, diperlukan model
operasi yang superior ditujukan untuk memproduksi nilai semacam itu.
Oleh karena itu,
sikap keunggulan bukan sekadar tentang menjadi berbeda. Akan tetapi, tentang
membedakan produk dan jasa organisasi dalam bentuk mengusahakan nilai tertinggi
di mata pelanggan.
2.
Being the
First (Menjadi yang Pertama)
Terdapat keuntungan
untuk menjadi yang pertama. Microsoft merupakan perusahaan yang pertama
menciptakan standar dunia sistem operasi komputer, kemudian dikelola dengan
mencari perusahaan Software untuk membuat aplikasi dari sistemnya. Dengan
melakukan demikian, bagi pelanggan yang mempertimbangkan untuk menggunakan
sistem yang window- compatible akan meningkatkan biaya, dan membuat mereka
sulit untuk melakukan penggeseran.
Meskipun dapat
diperdebatkan apakah sistem operasi Microsoft adalah yang terbaik, tetapi sudah
pasti mendominasi pasar berdasarkan atas menjadi yang pertama dan sangat luar
biasa diuntungkan.
Namun, di sisi lain
terdapat argumen bahwa menjadi yang pertama tidak perlu merupakan suatu
keuntungan, bahkan tidak mempertimbangkan biaya yang terjadi. Pihak lain
berpendapat bahwa menjadi kedua atau pengikut akan menyebabkan menurunkan biaya
dan risiko. Mereka juga berargumen bahwa pengikut mendapat keuntungan belajar
dari kesalahan pemimpin (Victor Tan, 2002: 85).
Di sinilah letak
kesalahpahaman tentang nilai untuk menjadi yang pertama. Sikap pada keunggulan
untuk menjadi yang pertama harus memberikan keuntungan nyata dan peluang dalam
mengeksploitasi posisi tersebut. Karena itu, apabila organisasi merupakan yang
pertama dalam mengembangkan produk atau jasa baru, tetapi tidak memberikan
keuntungan atau manfaat darinya, strateginya perlu dipertanyakan. Apakah
perusahaan mengembangkan produk atau jasa yang benar yang menjadi yang pertama?
Apakah perusahaan mengeksploitasi posisi kepemimpinan secara efektif?
3.
Being the
Best (Menjadi yang Terbaik)
Suatu organisasi
tidak perlu menjadi yang paling baik di semua bidang. Kenyataan di era digital,
tidak ada organisasi yang dapat menjadi yang terbaik dalam semua hal. Namun,
organisasi perlu memfokuskan dan memilih bidang spesifik yang menjadi unggulan
sehingga dikenal menjadi yang terbaik (Victor Tan, 2002: 86).
Nokia dalam usahanya
menjadi terbaik di bidang sistem seluier, mendivestasikan usaha bisnis lainnya.
Mereka menjual hampir semua bisnis, dari kabel sampai elektronik konsumen,
hanya untuk mengonsentrasikan pada menghasilkan telepon genggam terbaik.
Konsentrasi dapat membawa semua kekuatan organisasi.
Sikap pada keunggulan
adalah menemukan bidang di mana organisasi paling kuat, kemudian
mengonsentrasikan pada kekuatan tersebut untuk mencapai sejumlah hasil. Inti
dari strategi kompetitif adalah mengonsentrasikan kekuatan organisasi, melawan
kelemahan pesaingnya. Konsentrasi membangun kekuatan tersembunyi organisasi dan
membiarkannya menjadi yang terbaik di bidang tersebut.
b.
The Way
Forward (Jalan Menuju ke Depan)
Jalan menuju
keunggulan harus dimulai dengan menetapkan tujuan dari keunggulan. Oleh karena
itu, organisasi harus menetapkan tujuan spesifik berkaitan dengan barang atau
jasa yang ingin dijadikan terbaik, yang pertama atau menjadi berbeda. Tujuan
ini harus dapat diukur dan harus diikat dengan waktu tertentu (Victor Tan,
2002: 87).
Lebih spesifik lagi,
organisasi dapat mulai dengan menjawab beberapa pertanyaan di bawah ini.
1)
Dengan
cara apa kita ingin organisasi menjadi berbeda dalam perspektif pelanggan dan
pada saat yang sama dilihat mengusahakan nilai tertinggi?
2)
Produk
atau jasa-apa yang kita inginkan organisasi menjadi yang pertama menyediakan
atau melayani pelanggan?
3)
Bisnis apa
yang kita ingin organisasi kita dikenal menjadi yang terbaik?
Setelah itu, organisasi dapat mendefinisikan strategi
spesifik yang harus dilakukan, untuk dapat menjadi yang pertama, menjadi yang
terbaik atau menjadi berbeda.
Untuk menjadi yang pertama dalam menyediakan produk
baru, organisasi dapat menambah departemen riset dan pengembangan dan
menetapkan deadlines untuk mengembangkan produk atau jasa baru atau melakukan
inovasi. Alternatifhya dapat memperoleh produk atau jasa baru, atau menetapkan
kerja sama strategis dengan' organisasi lain yang mempunyai tenaga ahli, tetapi
tidak mempunyai dana untuk menghasilkan produk baru untuk pasar.
Langkah pertama adalah menciptakan lingkungan yang
memungkinkan orang melakukan tindakan berani. Memberdayakan dan menghargai
orang dan desentralisasi kekuasaan berdasar pada kinerja dan prestasi akan
merupakan permulaan yang baik untuk mendorong orang melakukan tindakan berani
menuju sikap yang unggul.
Standar keunggulan meningkat setiap tahun, kecuali
apabila organisasi mulai mempertimbangkan apa yang mereka inginkan menjadi
terbaik, apa yang ingin menjadi yang pertama dan apa yang mereka ingin menjadi
berbeda, dan melakukan tindakan berani terhadap tujuan yang didefinisikan
secara jelas, pencarian keunggulan hanya akan menjadi ilusi seperti sebelumnya.
E.
Change-Adept
Organization
Organisasi tidak
dapat menghindari perubahan, tetapi juga tidak dapat melakukan revolusi tanpa
akhir yang memusingkan. Organisasi tidak dapat dilindungi dari perubahan, tanpa
memandang ukuran, sumber daya atau keunggulan sekarang. Pengingkaran terhadap
perlunya perubahan sangat berbahaya.
Akan tetapi,
perubahan yang berlebihan, tidak stabil, dan revolusioner juga menakutkan.
Perusahaan dan komunitas di mana mereka beroperasi, tidak dapat mengusahakan
kelanjutan membayar biaya perubahan, kehilangan pekeijaan dan mengocok tenaga
kerja di antyra mereka.
Berbagai penelitian
menunjukkan bahwa revolusi perubahan dalam bentuk reinvention, reengineering,
atau restructuring, merupakan cara yang mahal untuk menggerakkan organisasi ke
arah yang baru. Setiap tindakan manajerial utama tidak dapat hanya diukur atas
keberhasilannya dalam mencapai tujuan segera yang bersifat jangka pendek,
tetapi harus dilihat dampaknya pada kemampuan organisasi merangkul perubahan.
Sebagai jalan keluar,
Rosabeth Moss Kanter menganjurkan untuk membangun organisasi menjadi yang
dinamakan change-adept. organization. Change-adept organization adalah suatu
organisasi yang secara terampil, tangkas dan efektif mengantisipasi, merespons
dan menciptakan perubahan. Change-adept organization merupakan senjata
strategis manajer untuk menghadapi masalah hari ini dan menyiapkan diri
menghadapi masa depan. Apa yang ingin dilakukan adalah bagaimana menciptakan
kondisi yang membuat perubahan produktif sebagai way of life secara alamiah.
Setiap manajer harus
siap menghadapi keterkejutan dan memberdayakan agen perubahan dan menghadapi
resistensi. Semua manajer mempunyai dua pekerjaan, yaitu menangani masalah hari
ini dan menyiapkan diri untuk menghadapi masa depan. Untuk membantu dirinya
siap, mereka perlu mengetahui senjata strategis mereka yang terbaik untuk abad
informasi, yaitu a change-adept organization. A change-adept organization dapat
mengantisipasi, menciptakan, dan merespons secara efektif pada perubahan.
Dengan menempatkan
manajemen perubahan sebagai pusat strategi, apa yang ingin dilakukan adalah
bagaimana menciptakan kondisi yang membuat perubahan produktif sebagai way
oflife secara alamiah. Dalam change-adept organization, orang tidak selalu
mengidentifikasi apa yang mereka lakukan sebagai perubahan. Mereka yakin
sekadar menjalankan proyek yang ada. Tetapi dampak proyek tersebut di luar
kondisi masa yang lalu, termasuk meningkatnya kondisi masa depan. Manajer yang
dapat menanamkan kapabilitas perubahan dalam operasi setiap hari dan'yang
memberdayakan orangnya sebagai agen perubahan tidak mungkin dilemahkan oleh
keterkejutan atau menghadapi resistensi dari tenaga kerja.
Menurut Rosabeth Moss
Kanter (2003: 4), mengelola perubahan terjadi pada tiga tingkatan: change
projects, changeprograms, dan change-adept organizations.
1.
Change
projects, merupakan tindakan spesifik yang dirancang untuk menghadapi masalah
atau kebutuhan tertentu. Ini dapat berhasil dalam jangka pendek, terutama
apabila difokuskan, berorientasi pada hasil, dan tidak banyak menyimpang dari
tradisi perusahaan. Tetapi apabila semata- mata agar tampak seperti berlainan,
sebagai proyek yang berdiri sendiri, proyek sering kali tidak akan mempunyai
dampak jangka panjang, memori mereka akan hilang, dan generasi berikutnya akan
menemukan kembali kebutuhan yang sama.
2.
Change
programs, merupakan proyek yang saling berhubungan dirancang mempunyai dampak
kumulatif organisasional. Di sini keberhasilan sering tergantung pada kurangnya
kualitas rencana atau alatnya sendiri daripada cara masing- masing proyek
berhubungan pada aliran tindakan dalam perusahaan. Program perubahan sering
gagal karena mereka terisolasi dari aktivitas bisnis yang sedang berjalan,
berisi terlalu banyak proyek yang tidak sesuai bersama-sama, atau dibawakan
oleh elit yang mengharapkan agar setiyp orang menghentikan apa yang mereka
lakukan dan bergabung dengan mereka.
3.
Change-adept
organizations, merupakan investasi yang menciptakan kapabilitas untuk inovasi
dan perbaikan berkelanjutan, untuk merangkul perubahan sebagai peluang yang
diharapkan secara internal sebelum menjadi ancaman eksternal, dengan
memobilisasi banyak orang berkontribusi dalam organisasi. Keberhasilan dari
usaha semacam ini tergantung pada apakah kondisi perlu untuk membuat terjadinya
organisasi ramah-perubahan, sehingga perubahan dapat terjadi berkelanjutan dan
berjalan secara alamiah.
Semua perubahan menyangkut menutup kesenjangan. Tetapi
terlalu banyak proyek dan program perubahan adalah sekadar problem solving atau
menyesuaikan diri pada masa lalu, dan bukannya membangun aset yang diarahkan
pada masa depan. Change-adept organization bekerja pada kesenjangan yang
berbeda: yaitu antara kinerja sekarang dan peluang organisasi, harapan, mimpi,
dan aspirasi bersama. Change-adept organization merupakan sistem yang dinamik,
sistem terbuka dengan banyak jalan aktif untuk partisipasi dan pengaruh, dengan
banyak orang terlibat dalam mencari gagasan lebih baik dan dengan umpan balik
cepat di dalam dan di luar organisasi.
Mereka mekkukan inovasi, menekankan pembelajaran dan
kolabbrasi dengan sekutu dan mitra. Mereka menghasilkan tiga tangible assets
yang membantu mereka menguasai perubahan, yaitu (Rosabeth Moss Kanter, 2C03:
5):
1.
Concepts,
merupakan gagasan dan teknologi terbaik dan terakhir, hasil dari inovasi
berkelanjutan.
2.
Competence,
menunjukkan kemampuan menjalankan dengan sempuma dan memberikan nilai kepada
pelanggan dengan standar yang lebih tinggi, dengan investasi dalam keterampilan
dan pembelajaran tenaga kerja.
3.
Connections,
merupakan mitra terbaik untuk memperluas capaian perusahaan, meningkatkan
tawaran, atau menyediakan jendela inovasi dan peluang. Tugas manajer adalah
menemukan, menciptakan, membangun, memelihara, memonitor, dan mengukur aset
ini.
Concepts, competence, dan connections menarik bakat
manusia seperti keterampilan intelektual, imajinasi, keberanian, kreativitas,
sosiabilitas, diplomasi, dan kepercayaan. Pada awainya, abad informasi
menghargai intellectual capital dan knowledge work; menjadi sesuai bagi
perusahaan untuk menyatakan bahwa orang adalah aset mereka paling penting.
Orang mungkin merupakan bahan bakuyang paling berharga dari perusahaan, tetapi
mereka tidak menjadi aset atau sumber kapital organisasi sampai disebarkan
secara efektif. Bakat manusia tersedia hanya sebagai potensi sampai diaktifkan
oleh organisasi. Manajer mempunyai pekerjaan fundamental, mendukung dalam
memobilisir dan memotivasi bakat individu dalam mengejar hasil kolektif.
Change-adept organization mengolah imajinasi untuk
inovasi, profesionalisme untuk berkinerja, dan keterbukaan untuk kolaborasi.
Manajer mereka memimpin melawan kepuasan diri sendiri, kewilayahan, dan
kepicikan. Orang mereka melayani sebagai pemandu gagasan dalam mencari inovasi,
profesional dalam mengejar keterampilan lebih baik, dan duta pada mitra dan
komunitas mereka (Rosabeth Moss Kanter, 2003: 7).
1.
Imajinasi
Melakukan Inovasi
Konsep terbaik adalah vital dalam industri yang memerlukan inovasi
konstan untuk mempertahankan dan menarik pelanggan baru. Industri di tengah
kompetisi atau pergolakan teknologi ditandai oleh sejumlah besar konsep inti
baru, terobosan atau inovasi transformasional. Konsep inti baru atau teori
bisnis sering datang dari para wirausahawan yang berhasil memotong saluran yang
sudah mapan yang didominasi oleh pemain sekarang. Konsep baru dapat berasal
dari banyak fungsi di luar departemen penelitian dan pengembangan.
Terdapat sejumlah besar alasan mengapa inovasi sulit, dan kegagalan
imajinasi manusia tidak menjadi yang terpenting. Struktur dan budaya organisasi
sering menjadi penyebabnya. Inovasi memerlukan keberanian, selain imajinasi.
Pemimpin harus menciptakan budaya di mana eksperimen, pertanyaan dan tantangan
bukan hanya untuk keberanian. Tujuannya bukan keberanian mengambil risiko,
tetapi membuatnya kurang berisiko.
Inovasi memerlukan pertukaran dan pertimbangan: antara kuantitas
dengan kualitas, antara pekerjaan sekarang dengan waktu bebas untuk inovasi, antara
pengembangan gagasan dari bawah dengan diseminasi dari atas ke bawah terhadap
kebutuhan inovasi tertentu.
Konsep terbaik yang menjadi standar praktik adalah bahwa
keberhasilan mendorong tumbuhnya imitator atau peniru. Change-adept
organization tidak dapat berhenti pada konsep besar terakhir, mereka harus
terikat dalam pencarian untuk berikutnya.
Pandangan Rosabeth Moss Kanter ini tampaknya sejalan dengan pendapat
Victor S.L. Tan (2002: 84). bahwa untuk mencapai keunggulan, maka organisasi
perlu 'being the best, being thefirst, dan being different’ (menjadi yang
terbaik, menjadi yang pertama, dan menjadi berbeda).
2.
Profesionalisme
Berkinerja
Competence adalah aset kedua yang dibangun oleh change-adept
organization. Kompetensi menyangkut lebih dari keterampilan dasar, memperluas
rutinitas organisasional yang memberi kesempatan orang menggunakan keterampilan
mereka untuk menjalankan kemampuan pada standar tinggi dan berkelanjutan
memperbaiki untuk memberikan nilai pada pelanggan.
Apabila motto zero defect adalah ‘do it right thefirst time’, maka
slogan change-adept organization adalah ‘do it better the second time’. Dengan
demikian, memperluas praktik terbaik dalam setiap tugas yang dilakukan, dan
hasilnya semakin baik.
Disiplin organisasional mengubah pekerja dengan bakat dasar menjadi
profesional yang dapat dipercaya melakukan hal yang benar apabila diberdayakan
untuk melakukan tindakan tidak ditutupi oleh peraturan formal. Disiplin
mengubah penemuan menjadi rutinitas. Disiplin memungkinkan orang memperoleh
manfaat dari pengalaman.
Manajer yang menjamin bahwa orang akan melakukan proses dan
pengetahuan yang tepat tentang pendekatan yang tepat dapat membebaskan orang
menggunakan pertimbangan tentang bagaimana cara terbaik untuk mendapatkan
hasil.
Profesional ditandai oleh standar kinerja tinggi, menguasai cara
yang umum melakukan sesuatu untuk mencapai standar, keyakinan pada misi
terpisah dari keberhasilan finansial, kemajuan karier melalui peningkatan
keterampilan dan penghargaan rekan kerja, berbagi bahasa dan berdasar
pengetahuan, partisipasi dalam konferensi untuk bertukar pengetahuan, manajemen
diri dan keputusan sendiri dalam pekerjaan, dan review kinerja dari rekan
kerja.
Profesional sering dikonotasikan dengan doktor, ahli hukum,
insinyur, dan ilmuwan. Sama halnya dengan olah raga, profesional harus
mempunyai komitmen terhadap keunggulan. Untuk memastikan kompetensi
organisasional, manajer harus menjadi pendidik para profesional dan menjadikan
dirinya profesional. Artinya membuat lebih sedikit larangan dan batasan, dan
menawarkan lebih banyak bantuan dalam pembelajaran bagaimana melakukan
pekerjaan sendiri, bagaimana melatih pertimbangan dan bagaimana membiasakan
solusi untuk pelanggan unik.
Dalam lingkungan yang terbuka yang memungkinkan perubahan, aturan
lama tentang sistem pengawasan tidak sesuai lagi. Pertumbuhan service economy
dari knowledge worker membuat profesionalisme lebih menjadi bagian penting dari
keberhasilan bisnis pada lebih banyak perusahaan, terutama jenis profesionalisme
dalam pekerjaan pelayanan manusia. Mereka menunjukkan emotional work, bukan
hanya technical work. Kualitas pengalaman emosional dalam pertukaran manusia
sering menentukan keberhasilan organisasi.
Pelayanan pelanggan memainkan peranan lebih besar di luar sektor
pelayanan. Dalam perusahaan manufakturing, kualitas total'mencakup cara
pelanggan diperlakukan. Pelanggan mendapatkan nilai ekstra melalui tambahan
pelayanan yang menyertai produk.
Profesionalisme memerlukan peningkatan keterampilan secara
berkelanjutan. Menjadi mode bagi perusahaan menjadi organisasi pembelajaran.
Tetapi kadang-kadang mereka gagal dalam praktik karena kurangnya investasi
untuk pembelajaran. Dalam abad informasi, pembelajaran terjadi di semua arah,
tidak hanya sekadar dari atas ke bawah atau dari kantor pusat keluar.
Change-adept organization mengenal bahwa pendatang baru dengan
pengetahuan dari luar organisasi kadang- kadang dapat menambah nilai lebih
daripada orang lama dalam perusahaan. Seperti inovasi, profesionalisme adalah
kemampuan dinamis yang dapat menghasilkan permintaannya sendiri. Sekali orang
diperlakukan seperti profesional dan didorong menggunakan pertimbangan mereka
ingin lebih banyak lagi. Sekali orang menerima penghargaan dari rekan kerja,
mereka mengetahui bahwa mereka harus belajar terus karena pengetahuan baru
mengakumulasi atau penghargaan akan tererosi. Kompetensi individual akan
tererosi tanpa investasi berkelanjutan dalam pembelajaran, demikian pula
kompetensi organisasional tererosi tanpa investasi berkelanjutan.
3.
Keterbukaan
untuk Berkolaborasi
Connections adalah aset ketiga change-adept organization. Perusahaan
semakin menyadari kepentingan strategis atas kunci hubungan mereka. Siapa yang
mereka kenal mungkin sama pentingnya dengan apa yang mereka ketahui.
Change-adept organization menggunakan hubungan untuk memperkuat
proses bisnis mereka tergantung pada masukan dari organisasi lain, mengejar
peluang baru, menyimak dan mempelajari, dan tumbuh dalam arah baru.
Boundryless organization sering dipergunakan untuk menunjukkan nilai
kolaborasi antarwilayah, baik di luar maupun di dalam batas perusahaan. Dengan
meningkatnya frekuensi. perusahaan menunjukkan keinginan menjadi lebih dekat
dengan pelanggan, mengubah pemasok ke dalam kolaborasi, dan menemukan mitra
usaha mengombinasikan penawaran dan pertumbuhan pasar.
Perusahaan mungkin bertarung hebat dengan pesaing atas pangsa pasar,
sambil berkolaborasi dengan perusahaan yang sama untuk tujuan lain, seperti
promosi industri, penelitian ilmiah tahap awai, atau bersama-sama memasuki
paiar baru. Perusahaan ini telah menemukan ekologi organisasional,
berpartisipasi dalam sistem bisnis yang lebih luas. Seberapa baik mereka
memilih mitra dan seberapa efektif mereka mengintegrasikan aktivitas dapat
menentukan daya tahan atau kepunahan.
Pemimpin menemukan bahwa bisnis merupakan bagian dari masyarakat dan
dapat menarik nilai dari ikatan yang kuat pada komunitas. Meningkatkan hubungan
memerlukan kenyamanan dengan perbedaan. Banyak perusahaan raksasa bekerja sama
dengan mitra yang lebih kecil. Keduanya tahu bahwa mereka saling membutuhkan.
Kolaborasi memerlukan sensitivitas sosial individual dan
organisasional, seperti keterampilan menyimak, kepedulian diri, kemampuan
membaca tanda-tanda dari orang lain. Globalisasi mengintensifkan perlunya bagi
manajer menghargai perbedaan. Perusahaan dalam bidang teknologi baru seperti
piranti lunak, bioteknologi dan telekomunikasi adalah dilahirkan global.
Merancang produk dengan standar dunia dan dengan mitra di seluruh dunia.
Mengelola aliansi internasional membuat perbedaan kultural penting- Kemampuan
memahami perbedaan seperti ini dan implikasinya dapat menentukan nasib aliansi
internasional dan joint venture.
Change-adept organization harus bekerja sangat dekat dengan banyak
stakeholders, membuat mereka menjadi sekutu daripada lawan. Investor
kapitalisme menempatkan pemegang saham sebagai yang pertama, dengan asumsi
bahwa tujuan dan tanggung jawab utama bisnis adalah menciptakan nilai bagi
pemegang saham.
Perusahaan lain menjadikan sebagai sentral adalah kepentingan
pelanggan, dengan dasar bahwa misi utama perusahaan terletak pada menciptakan
nilai bagi pelanggan. Tetapi ada pula yang mengutamakan pekerja, karena
kepuasan mereka menjamin kepuasan pelanggan yang menghasilkan keuntungan untuk
memastikan kepuasan pemegang saham.
Dinamika hubungan dibedakan oleh tipe kemitraan. Supply- chain
partnership menghubungkan pemasok dan pelanggan atau produsen dan distributor
cenderung lebih mempunyai daya tahan, melibatkan lebih banyak komitmen dan
sering menciptakan lebih banyak nilai. Di mana terdapat komplementaritas dan
saling ketergantungan untuk tugas strategis, hubungan lebih stabil.
Sebaliknya, aliensi strategis dan joint venture di antara mitra yang
sama sering tidak stabil. Mereka sering menyusun ikatan yang semakin dekat dan
dalam seperti merger. Atau mereka membubarkan diri ketika mereka mencapai atau
gagal mencapai tujuan. Konfigurasi aliansi bergeser sepanjang waktu, karena
masing-masing mitra mempunyai ikatan ganda dan kepentingan independen. Mitra
harus cukup belajar dari sekutu atau mendapatkan manfaat secukupnya dari
perubahan yang membantu sekutu menciptakan, yang mereka tidak saling perlu lagi
dalam cara yang sama.
Untuk change-adept organization, connection adalah aset yang
fleksibel yang membantu membuka pintu peluang baru. Apa yang penting tentang
hubungan eksternal adalah bukan pada sifat permanen mereka, tetapi pada peluang
baru yang secara konstan ditunjukkan pemimpin, penguatan budaya terbuka untuk
tantangan, pembelajaran dan perubahan.
Mitra perlu dibawa ke dalam kerangka kerja strategis di dalam diri
manajer, sebagai aset kunci organisasional. Seperti concepts dan competence,
connections membantu menciptakan masa depan.
Dari pembahasan tersebut di atas kiranya dapat ditarik beberapa
pelajaran berharga sebagai berikut:
Banyak perusahaan melakukan tindakan buruk dan tidak menguntungkan
di bawah program perubahan berskala besar. Downsizing membuka peluang bagi
organisasi melalukan berbagai hal yang dapat berakibat pada kesalahan.
Downsizing meninggalkan kekosongan dalam sistem kontrol. Revolusi dilakukan
ketika organisasi gagal berubah secara inkremental dan menjadi kaku, atau
ketika mengabaikan kepentingan stakeholder. Tetapi perusahaan tidak perlu
mendadak, tidak melanjutkan perubahan, apabila mereka mempunyai inovasi
berkelanjutan didorong oleh umpan balik cepat dari stakeholder internal dan
eksternal.
Mungkin slow and steady tidak dapat memenangkan pacuan lagi, tetapi
fast and steady dapat melakukannya. Konteks yang ditetapkan oleh manajer
membuat perbedaan apakah pembahan bersifat traumatik, atau langkah positif
selanjutnya dalam urutan gerakan yang panjang.
Maka cara terbaik memimpin perubahan adalah dengan menciptakan
kondisi yang membuat perubahan netral. Cara tersebut dilakukan oleh manajer
dalam change-adept organization. Mereka berusaha keras melepaskan potensi
orangnya untuk menciptakan masa depan,
sebagai pemandu gagasan menyadap imajinasi untuk inovasi, sebagai profesional
berorientasi pada pembelajaran, dan sebagai kolaborator memaksimumkan nilai
dari koneksi yang baik.
Manajer perlu selalu mengembangkan wawasan dan keterampilan untuk
menciptakan dan memimpin perusahaan yang membuat perubahan sebagai teman dan
membuat organisasi mereka sebagai senjata strategis.
No comments:
Post a Comment