BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
belakang
Seiring dengan perkembangan zaman dan
begitu pesatnya sektor perekonomian yang semakin meningkat, dinamis dengan
penuh persaingan serta tidak mengenal batas-batas wilayah. Berbagai perusahaan
yang dijalankan dengan mudahnya untuk dilaksanakan. Oleh karena itu perusahaan
di zaman sekarang ini diperlukan sumber daya insani (manusia) yang
jujur,cerdas, dan bertanggung jawab yang bertujuan untuk mewujudkan perusahaan
yang bersifat keislaman, dan bukan hanya sekedar mencari keuntungan (profit
oriented) tetapiadapertanggungjawaban oleh masing-masing perusahaan tersebut.
Dan pada dasarnya setiap perusahaan
tidak akan lepas dari keberadaan sumber daya manusia yang dapat membantu
melaksanakan serangkaian aktifitas dalam mencapai tujuan suatu perusahaan.
Untuk itu diperlukan pula peran aktif manajer dalam memahami dan mengelola
orang-orang yang ada di perusahaan tersebut. Pengelolaan sumber daya insani
(manusia) harus dilakukan secara efektif dan efesien.
Manajemen sumber daya insani (manusia)
tidak saja mengandalkan pada fungsi manajemen seperti,
perencanaan,pengorganisasian,pengarahan dan pengendalian pada fungsi
operasional manajemen SDM seperti rekrutmen,seleksi,penilaian
prestasi,pelatihan dan pengembangan, serta praktek pemberian kompensasi. Dari
sisi pandangan agama islam hal ini juga tidak mengalami perbedaan. Semua
praktek manajemen sember daya insani (manusia) semua harus di jalankan
sebaik-baiknya, berdasarkan apa yang sudah ada di dalam Al-Qur’an dan Hadist.
B.
Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah
diuraikan diatas dapat kita simpulkan bahwa rumusan masalah yang terdapat dalam
perusahaan mengenai sumber daya insani (manusia) sebagai berikut :
1. Apakah pengertian sumber daya insani (manusia)?
2. Apakah Pengertian sumber daya insani menurut
pakar ekonomi?
3. Apakah masalah-masalah yang di hadapi sumber
daya insani?
4. Apakah karakteristik sumber daya insani
(manusia)?
5. Bagaimana fenomena SDI syariah Kontemporer?
C.
Tujuan
penulisan
Untuk mempermudah tercapainya arah
serta sasaran yang diharapkan bagi pembaca, maka penyusun merumuskan beberapa
tujuan yang hendak dicapai. Adapun rumusan tujuan-tujuan tersebut adalah untuk
mengetahui :
1.
Untuk
mengetahui Pengertian sember daya insani (manusia)
2.
Untuk mengetahui
sumber daya insani menurut pakar ekonomi
3.
Untuk
mengetahui -masalah yang di hadapi sumber daya insani
4.
Untuk
mengetahui Karakteristik sumber daya insani (manusia)
5.
Untuk
mengetahui fenomena SDI syariah Kontemporer
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Sumber Daya Insani (Manusia)
Pada dasarnya setiap perusahaan tidak
akan lepas dari keberadaan sumber daya manusia yang dapat membantu melaksanakan
serangkaian aktifitas dalam mencapai tujuan suatu perusahaan. Untuk itu
diperlukan pula peran aktif manajer dalam memahami dan mengelola orang-orang
yang ada di perusahaan tersebut. Pengelolaan sumber daya insani (manusia) harus
dilakukan secara efektif dan efesien.[1]
Sumber daya maunusia (insani) bisa
didefinisikan sebagai proses serta upaya untuk merekrut, mengembangkan,
memotivasi, serta mengevaluasi keseluruhan sumber daya manusia (insani) yang
diperlukan perusahaan dalam mencapai tujuannya. Pengertian ini mencakup dari
mulai memilih siapa saja yang memiliki kualifikasi dan pantas untuk menempati posisi
dalam perusahaan (the man on the right place) seperti yang di syaratkan
perusahaan hingga bagaimana agar kualifikasi ini dapat dipertahankan bahkan
ditingkatkan serta dikembangkan dari waktu kewaktu. Manajemen sumber daya
insani tidak saja mengandalkan pada fungsi manajemen seperti, perencanaan,
pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian pada fungsi operasional manajemen
SDM seperti rekrutmen,seleksi,penilaian prestasi,pelatihan dan pengembangan,
serta praktek pemberian kompensasi.
1.
Sumber
Daya Insani Menurut Howard Garden
Howard
Garden (1983) menelaah manusia dari sudut kehidupan mentalnya,khususnya
aktivitas inteligensia (kecerdasan). Menurutnya, paling tidak manusia memiliki
tujuh macam kecerdasan yaitu :
a)
Kecerdasan
matematis atau logis : Kemampuan yang berhubungan dengan penalaran ilmiah,
inuktif atau deduktif, berhitung atau angka dan pola-pola abstrak.
b)
Kecerdasan
verbal atau bahasa : Kemampuan yang berhubungan dengan kata atau bahasa
tertulis maupun lisan.
c)
Kecerdasan
interpersonal : Kemampuan yang berhubungan dengan keterampilan berelasi dengan
orang lain, dan berkomunikasi antar pribadi.
d)
Kecerdasan
fisik atau gerak atau badan : Kemampuan
mengatur gerak badan, dan memahami sesuatu dengan gerakan.
e)
Kecerdasan
musikal atau ritme : Kemampuan penalaran berdasarkan pola nada atau ritme atau
kepekaan akan suatu nada atau ritme.
f)
Kecerdasan
musikal atau ruang atau spasial : Kemampuan yang mengandalkan penglihatan dan
membayangkan obyek. Kemampuan menciptakan gambaran mental.
g)
Kecerdasan
intrapersonal : Kemampuan yang berhubungan dengan kesadaran kebatinannya
seperti refleksi diri, kesadaran akan hal-hal kerohanian.
Dari titik pandang sosio-antropologis, kekhasan manusia yang
membedakan dengan makhluk lain adalah bahwa manusia itu berbudaya, sedangkan
makhluk lain tidak berbudaya.[2]
Manusia merupakan faktor penentu yang terpenting dalam kemajuan
zaman. Hal tersebut harus diakui karena perkembangan dunia sekarang ini adalah
hasil dari pemikiran manusia untuk mampu memenuhi keinginan dan kebutuhan hidup
manusia itu sendiri. Di bidang ekonomi dan bisnis, hal tersebut berhubungan
dengan kemampuan perusahaan-perusahaan untuk mengikuti laju perkembangan dan
kepekaan-kepekaan perusahaan tersebut terhadap perubahan yang terjadi di dunia
bisnis. Oleh kerena itu, faktor manusia dalam perusahaan harus dikelola dengan
baik untuk menunjang produktivitas perusahaan agar perusahaan dapat unggul
dalam persaingan usaha.
Dalam konteks pemberdayaan (empowerment) secara kontemporer
merupakan obyek yang terus berkembang secara alamiah, baik dalam kehidupan
perusahaan, organisasi, pendidikan, politik maupun sosial kemasyarakatan
lainnya.
Saat ini sudah dan sedang memasuki era informasi (information age).
Era ini ditandai dengan kemajuan teknologi komunikasi dan informasi. Alvin
Toffler (1989) seorang futurology membagi peradaban yang pernah dan sedang
dijalani umat manusia kedalam tiga gelombang: 1.Gelombang agraris
(800SM-1700M), 2.Gelombang industri (1700M-1970-an), 3.Gelombang kemajuan
teknologi dan informasi.
Dengan adanya kemajuan teknologi komunikasi dan informasi, aktivitas
manusia dapat berjalan lebih efektif dan efesien, pesan-pesan dapat di kirim
dan diterima dengan cepat meskipun jarak antara pengirim dan penerimanya sangat
jauh.
Salah satu sember daya yang penting dalam manajemen adalah sumber
daya insani atau human esources. Pentingnya sumber daya insani ini, perlu
disadari oleh tingkatan semua manajemen. Bagaimanapun majunya teknologi saat
ini, namun faktor manusia tetap memegang peranan penting bagi keberhasilan
suatu organisasi. Sumber daya insani mempunyai peran yang utama dalam kegiatan
perusahaan. Walaupun didukung denagn sarana dan prasarana serta sumber dana
yang berlebihan, tetapi tanpa dukungan sumber daya insani yang andal, kegiatan
perusahaan tidak akan terselesaikan dengan baik. Hal ini menunjukan bahwa
sumber daya insani merupakan kunci pokok yang harus diperhatikan dengan segala
kebutuhannya.[3]
Sumber daya insani (SDI) merupakan salah satu faktor kunci dalam
reformasi ekonomi, yakni bagaiman menciptakan SDI yang berkualitas dan memiliki
keterampilan serta berdaya saing tinggi dalam persaingan global yang selama ini
kita abaikan. Menurut Didin S. Damanhuri (2007) setidaknya ada dua hal penting
menyangkut kondisi SDI indonesia, yaitu : Pertama adanya ketimpangan antara
jumlah kesempatan kerja dan angkatan kerja, Kedua tingkat pendidikan angkatan
kerja yang ada masih relatif rendah. Ddan problem utama dalam sumber daya
insani adalah terjadinya missalocation resources.
Pada era informasi dengan ciri kemajuan teknologi dan komunikasinya
telah melahirkan globalisasi dalam berbagai aspek kehidupan. Globalisai adalah
suatu rangkaian proses dimana proses ekonomi, budaya dan politik mengalami
keterkaitan supranasional. Globalisasi juga telah mengakibatkan perubahan
secara cepat pada berbagai bidang kehidupan dan kompetensinya.
Setiap individu akan mengembangkan sikap dan gaya hidupnya sesuai
dengan tuntunan norma-norma yang berkembang dalam masyarakat modern. Kondisi
seperti itu menentukan setiap organisasi untuk membuka diri terhadap tuntutan
perubahan dan berupaya menyusun strategi dan kebijakan yang selaras dengan
perubahan lingkungan, baik eksternal maupun internal.
Setiap organisasi harus mampu menyusun strategi dan arah kebijakan
yang sesuai dengan perkembangan dan perubahan yang terjadi. Keberhasilan
penyusunan kebijakan organisasi akan sangat dipengaruhi oleh fungsi manejerial
yang ada. Menghadapi tuntutan tersebut, pimpinan dan manajer organisasi dewasa
ini mau atau tidak mau harus menghadapi “corporate olympics” yang semakin
kompleks. Hal ini disebabkan karena untuk kelangsungan hidup dan perkembangan
hidupnya, organisasi harus memiliki daya saing yang harus dicapai melalui
peningkatan kualitas dan produktivitasnya.
2.
Sumber
Daya Insani Menurut H.A.T Tilaar
Menurut
Tilaar (dalam Daulay,2004,201) manusia unggul adalah manusia yang akan survive
di dalam kehidupan yang penuh dengan persaingan, karena itu salah satu
persoalan yang muncul adalah bagaimana meningkatkan kualitas sumber daya
manusia. Sumber daya manusia berkualitas adalah sumber daya manusia yang
memiliki keunggulan parsitipatoris, yaitu sumber daya insani yang yang ikut
serta secara aktif dalam persaingan yang sehat untuk mencari yang terbaik.
Ciri-ciri manusia yang unggul parsitipatoris sebagai berikut : kemampuan untuk
mengembangkan jaringan-jaringan(networking), kerjasama (teamwork), cinta kepada
kualitas yang tinggi.
Sementara
mengenai karakteristik globalisasi, H.A.T. Tilaar sebagaimana dikutip A.Tafsir,
mengemukakan beberapa karakteristik globalisasi sebagai berikut :
a)
Masyarakat
pada abad ke-21 itu adalah masyarakat tanpa batas (borderless world),
b)
Kegiatan ilmu yang tinggi,
c)
Munculnya
kesadaran akan hak dan kewajiban asasi manusia yang mendunia,
d)
Lahirnya
masyarakat kompetitif bahkan megakompetitif,
e)
Rasionalisme
diperkirakan akan semakin kuat pengaruhnya,
f)
Pada zaman
global, sikap materialistik akan semakin menggejala.[4]
Veithzal mengemukakan bahwa sumber daya pada saat ini merupakan
masalah yang paling penting, karena dengan sumber daya manusia menyebabkan
sumber daya lain dalam perusahaan dapat berfungsi atau dijalankan. Tanpa adanya
unsur manusia dalam perusahaan, tidak mungkin perusahaan terebut dapat bergerak
dan berjalan menuju tujuan yang diinginkan. Sumber daya manusia dapat
menciptakan efisiensi, efektivitas dan produktivitas perusahaan. Oleh karena
itupengelolaan sumber daya insani dalam organisasi menjadi suatu hal yang sangat
penting, bukan hanya menjadi tanggung jawab para pegawai atau karyawan, akan
tetapi merupakan tanggung jawab pemimpin perusahaan. Tentunya yang dimaksudkan
pimpinan di sini adalah seorang pemimpin yang profesional.
Perwujudan dari globalisasi ekonomi yang akan dihadapi bangsa
indonesia antara lain terjadi dalam bentuk sebagai berikut :
a)
Produksi :
Dimana perusahaan berproduksi di berbagai negara, dengan sasaran agar biaya
produksi lebih rendah.
b)
Pembiayaan
: Perusahaan global mempunyai akses untuk memperoleh pinjaman atau melakukan
investasi (baik dalam bentuk portopolio
ataupun langsung) di semua negara di dunia.
c)
Tenaga
kerja : Perusahaan global akan mampu memanfaatkan tenaga kerja dari seluruh
dunia sesuai kelasnya, seperti penggunaan staf profesional di ambil dari tenaga
kerja yang telah memiliki pengalaman internasional atau buruh diperoleh dari
negara berkembang.
d)
Jaringan
informasi : Masyarakat suatu negara dengan mudah dan cepat mendapatkan
informasi dari negara-negara didunia karena kemajuan teknologi informasi,
antara lain melalui TV, radio, media cetak, dan lain-lain.
e)
Perdagangan
: Hal ini terwujud dalam bentuk penurunan dan penyeragaman tarif serta
penghapusan berbagai penghambatan nontarif.
Probelm utama dalam pembangunan sumber daya insani adalah terjadinya
missalocation of human resources. Pada era sebelum reformasi, pasar tenaga
kerja yang mengikuti aliran ekonomi konglomeratif. Diamna tenaga kerja yang ada
cenderung memasuki dunia kerja yang bercorak konglomeratif yaitu mulai dari
sektor industri manufaktur sampai dengan perbankan. Dengan begitu, dunia
pendidikan akhirnya masuk dalam kemelut ekonomi politik, yakni terjadinya
kesenjangan ekonomi yang diakselerasi struktur pasar yang masih terdistorsi.
Sumber daya insani memiliki peran strategis bagi suatu organisasi,
namun tanpa adanya sumber daya manusia, maka tujuan organisasi tidak akan
terwujud. Manusia merupakan satu-satunya sumber daya organisasi yang memilki
kemampuan untuk berfikir, berkreasi, berketerampilan, berpengetahuan dorongan,
daya dan karsa sehingga dengan semua itu dapat memanfaatkan sumber daya
organisasi lainnya untuk mencapai tujuan organisasi.
Organisasi saat ini dihadapkan pada tantangan peningkatan
produktivitas, inovasi yang terus menerus (performa), improvisasi produk dan
pelayanan prima. Perubahan eksternal organisasi yang sangat cepat menuntut
setiap organisasi untuk mempunyai kemampuan mengelola sumber daya manusia yang
dimiliki. Pengelolaan sumber daya manusia ini menjadi salah satu fungsi organisasi
yang dikenal dengan istilah Manajemen Sumber Daya Insani. Jadi, manajemen
sumber daya insani merupakan bidang strategis dari organisasi.
Globalisasi telah menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan yang
begitu cepat di dalam bisnis, yang menuntut organisasi untuk lebih mampu
beradaptasi, mempunyai ketahanan, mampu melakukan perubahan arah dengan cepat,
dan memusatkan perhatiannya kepada pelanggan.
Dalam suasana bisnis seperti ini, fungsi sumber daya insani (SDI) di
dalam perusahaan harus mampu untuk menjadi mitra kerja yang dapat diandalkan,
baik oleh para pemimpin puncak perusahaan maupun manajer lini. Funsi SDM selama
ini lebih banyak berperan dalam hal-hal yang menyangkut penyelenggaraan
hubungan industrial diperusahaan, selain itu funsi SDM juga seringkali
dipersepsikan perannya tidak lebih sebagai pelaksana administrasi personalia.
Funsi SDI yang ada dalam perusahaan harus sudah mulai melakukan perubahan
perannya, dari pemain peran tradisional pasif, menjadi pemain peran yang
bertindak proaktif dan memberikan nilai tambah kepada perusahaan, yaitu:[5]
a)
Peran baru
: Funsi SDI harus menetapkan standar yang lebih tinggi dari yang telah mereka
yang miliki hingga saat ini.
b)
Mintra
bisnis strategis : Fungsi SDI dan para praktisinya harus mampu memberikan masukan-masukan
yang berniali tambah kepada tim bisnis perusahaan, dalam penyusunan strategis
bisnis.
c)
Ahli di
bidan administrasi : Fungsi SDI dan para praktisinya harus mampu melakukan
rekayasa ulang terhadap proses-proses kerja yang dilakukan selama ini.
d)
Pendukung
dan pendorong kemajuan karyawan : Fungsi SDI dan para praktisinya dituntut
untuk mampu mengenali kebutuhan-kebutuhan karyawan dengan harapan-harapan
perusahaan dan harus mampu menciptakan suasana kerja yang dapat memberdayakan
karyawan dan memotivasi mereka untuk memberikan kontribusi terbaiknya kepada
perusahaan.
e)
Agen
perubahan : Fungsi SDI dan para praktisinya dituntut untuk mampu menjadi
katalisator perubahan di dalam perusahaan dan mampu berperan dalam mempercepat
dan mengelola proses perubahan yang direncanakan oleh perusahaan secara
efektif.
Banyak masalah yang dihadapi oleh fungsi SDI dan para praktisinya,
masalah-masalah tersebut antara lain sebagai berikut :[6]
a)
Adanya
mitos yang tidak tepat tentang profesi SDM.
b)
Belum
tersosialisasinya pemahan tentang funsi SDM sebagai sebuah profesi yang
bersifat multi disipliner (psikologi, ekonomi atau manajemen atau bisnis,
hukum, teknologi atau manajemen informasi) dikalangan praktisi SDI.
c)
Peran
tradisional dari funsi SDI di masa lalu membuat banyak praktisi SDM yang
mempunyai keterbatasan dalam memahami strategi bisnis dan keuangan perusahaan
secara menyeluruh.
d)
Mahalnya
investasi di bidang sistem informasi SDI (Human Resources information system).
Alternatif-alternatif
yang diusulkan di bawah ini, bukanlah seperti obat mujarab yang langsung dapat
menyembuhkan penyakit, namun lebih sebagai sebuah proses berkesinambungan yag
sebaiknya perlu mulai dilakukan :
a)
Para
pratiksi SDI sudah selayaknya menanamkan kesadaran bahwa dalam setiap kebijakan
yang dibuat maupun tindakan yang dilakukan haruslah memberikan nilai tambah
pada perusahaan.
b)
Untuk
meluaskan wawasan di bidang SDM, maka para praktisi SDM diharapkan untuk dapat
secara aktif terlibat dalam membangun jaringan SDM melalui asosiasi-asosiasi
SDM.
c)
Para
praktisi SDM perlu lebih banyak meluangkan waktu untuk membaca buku-buku atau
koran atau majalah atau mendengar ulasan-ulasan di bidang bisnis, dan bertukar
pikiran dengan para praktisi bisnis di perusahaan lainnya.
d)
Meningkatkan
pengetahuan di bidang finansial dengan cara bertukar pikiran dengan para
praktisi keuangan dalam perusahaan, maupun dengan menghadiri pelatihan mengenai
keuangan, yang dirancang khusus bagi para manajer di luar bidang keuangan.
e)
Fungsi SDI
dapat memberikan pelayanan yang cepat dan tepat dibidang administrasi kepada
manajemen dan para karyawan .
f)
Menyelenggarakan
program-progarm pelatihan dan pengembangan yang dibutuhkan para karyawan untuk
dapat melaksanakan tugas secara efektif.
g)
SDI harus
dapat memberikan contoh kepada fungsi-fungsi lain didalam perusahaan dalam hal
memulai dan menerima perubahan.[7]
h)
Mengingatkan
mahalnya perangkat lunak dan sistem informasi SDI.
Untuk mewujudkan
peran seperti yang diharapkan di atas, tentunya memerlukan kerja keras dan
tekad yang kuat dari para praktisi sumber daya insani untuk secara terus
menerus meningkatkan pengetahuan dan keterampilan di bidang-bidang yang selama
ini mungkin kurang mendapatkan perhatian. Investasi di bidang sistem informasi
sumber daya insani juga layak untuk di pertimbangkan, sebagai salah satu cara
yang dapat dilakukan untuk membuat kinerja dari funsi sumber daya insani menjadi
lebih efesien dan efektif.
B.
Pengertian
sumber daya insani menurut islam
Dari sisi pandangan agama islam hal
ini juga tidak mengalami perbedaan. Semua praktek manajemen sember daya insani
(manusia) semua harus di jalankan sebaik-baiknya, berdasarkan apa yang sudah
ada di dalam Al-Qur’an dan Hadist. Kajian sumber daya insani akan dimulai dari
manusia sebagai makhluk yang sengaja diciptakan Allah SWT. Manusia diciptakan dengan
sebaik-baiknya bentuk seperti yang dijelaskan dalam kandungan Al-Qur’an surah
At-Tiin (95) ayat 4, sebagai berikut :[8]
Manusia mempunyai unsur yang lebih
lengkap, selain dibekali nafsu juga diberikan akal untuk berfikir, sehingga ia
bebas menentukan jalan mana yang akan dipilih,jalan taqwa atau fujur yang
diilhami kepadanya.potensi yang lain yang ada pada manusia adalah rasio atau
pemikiran kalbu atau hati,ruh (jiwa) dan jasmani (raga). Manusia diciptakan
oleh Allah adalah untuk mengabdi kepadanya, sebagaimana tercantum dalam
Al-Qur’an surah Adz-Dzariyaat (51) ayat 56, sebagai berikut :
1.
Mengabdi
artinya menghambakan diri kepada Allah dan penghambaan itu dilakukan dengan
beribadah kepada Allah dan ibadah ‘ammah atau muamalah yang berkaitan dengan
hubungan manusia dengan lingkungannya.
2.
Manusia
(Al-Insan, insani-Arab) adalah makhluk multi dimensional yang dapat ditelaah
melihat manusia sebagai makhluk jasmani dan rohani. Dan yang membedakannya
dengan makhluk lain adalah aspek kerohanian. Manusia atau insan akan menjadi
sungguh-sungguh manusia (al-insan) manakal ia mengembangkan nilai-nilai rohani
atau budaya, yang meliputi nilai pengetahuan, keagamaan, kesenian, ekonomi,
kemasyarakatan dan politik.
3.
Menurut
ajaran Islam, manusia dikategorikan kedalam tiga golongan, yaitu mukmin, kafir
dan munafik.Mukmin adalah orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.Orang
kafir adalah orang telah tertutup hatinya untuk menerima kebenaran ajaran
Allah. Sedangkan orang munafik adalah orang yang membenarkan ajaran Allah,
tetapi tidak mau / enggan melaksanakan perintah- perintah-Nya. Orang mukmin,
yaitu orang Islam dalam Surat Ali Imran (3) ayat 110 dinyatakan sebagai “khaira
ummah”, umat terbaik yang menyuruh kepada hal yang ma’ruf, mencegah dari hal
yang munkar dan beriman kepada Allah. Inilah tantangan bagi setiap muslim untuk
menjadi umat yang terbaik di muka bumi ini. Berdasarkan pertimbangan hal-hal
diatas kemudian dikembangkan kajian sumber daya manusia dari kacamata Islam,
yang lazim diperkenalkan dengan istilah sumber daya insani.
C.
Karakteristik
dan prinsip pengembangan sumber daya insani
Dalam kajian sumber daya insani,
manusia sebagai sumber daya penggerak suatu proses produksi, harus mempunyai
karakteristik atau sifat-sifat yang diilhami dari shifatul anbiyaa’ atau
sifat-sifat para nabi. Sifat-sifat tersebut dapat disingkat dengan SIFAT pula,
yaitu : shiddiq (benar), itqan (profesional), fathanah (cerdas), amanah
(jujur/terpercaya) dan tabligh (transparan).
Seperti halnya dengan manajemen sumber
daya manusia konvensional, dalam manajemen sumber daya islami, atau sumber daya
insani terdapat juga mekanisme dalam proses Rekriutmen calon pegawai,
penempatan pegawai, penetapan upah dan gaji, pengembangan dan latihan, serta
banyak lagi. Yang semua nya didasarkan pada perspektif islam, yang sepenuh nya
bersumber dari Alquran dan Assunah, yang disertai dengan contoh yang diterapkan
pada masa khalifah pengganti Rasullullah SAW.[9]
Adapun prinsip-prinsip pengembangan
sumber daya insani
1.
Perencanaan
sumber daya insani
2.
Perolehan
dan penempatan SDI.
3.
Pengembangan
SDI.
4.
Perancangan
sistem penilaian kinerja.
D.
Fenomena
Sumber Daya Manusia Syariah Kontemporer
Perkembangan ekonomi Syariah yang
semakin hari semakin tampak memunculkan fenomena baru khususnya pada sisi para
praktisinya. Jika pada awal kemunculannya ekonomi Islam diusung oleh
insan-insan yang konsisten dengan ajaran Islam, mereka mendasarkan aktifitas
ekonominya karena ideology yang muncul dari kekuatan iman maka fenomena terkini
menunjukan adanya penurunan kualitas tersebut. Penurunan kualitas yang dimaksud
adalah munculnya praktisi ekonomi syariah yang bukan berasal dari rahim lembaga
pendidikan Islami atau bukan dari Islam itu sendiri. Hal ini menjadi sebuah
konsekuensi ketika ekonomi Islam semakin berkembang dan menggiurkan bagi
seluruh pelaku ekonomi maka siapa saja akan tertarik untuk mencicipi
kelezatannya. Demikian juga orang-orang di luar Islam yang menginginkan
mendapatkan “keberkahan” dari booming ekonomi Syariah ini.
Jika penurunan kualitas adalah karena
masuknya praktisi non-muslim yang terjun dalam ceruk bisnis ini tentu tidak
menjadi masalah. Mudah-mudahan mereka akan tertarik tidak hanya kepada ekonomi
syariah namun juga Islam sebagai agama yang komprehensif dan sempurna. Namun
fenomena yang terjadi dan sangat memprihatinkan adalah para praktisi ekonomi
syariah yang notabene adalah muslim namun mereka terjuan ke bisnis berbasis
syariah ini hanya sekadar mencari keuntungan keduniaan yang terkadang tidak mempedulikan
apa yang sebenarnya sedang mereka kerjakan.
Fenomena para praktisi ekonomi syariah
yang saat ini tampak seiring dengan perkembangan ekonomi syariah adalah
munculnya para pelaku ekonomi ini yang bukan didasarkan kepada ideology atau
keimanan, namun hanya didasarkan pada kebutuhan akan pekerjaan, mendapatkan
keuangan yang mapan atau hanya mengikuti trend pasar. Di antara fenomena yang
merupakan penyimpangan yang dilakukan oleh para pelaku ekonomi syariah adalah:
1.
Lemahnya
Tauhid.
Tauhid
adalah pondasi dasar keimanan seseorang, ia menjadi basis bagi pemahaman
keagamaan bagi seluruh umat Islam. Tauhid yang dimaksud adalah keyakinan hanya
Allah saja yang berhak untuk diibadahi, disembah, ditakuti, diharapkan dan
segala hal harus dikembalikan kepada takdirNya. Seorang prkatisi ekonomi
syariah yang memahami tauhid dengan benar akan berusaha untuk semaksimal
mungkin setiap aktifitas dan tindakannya adalah ditujukan hanya untuk Allah
ta’ala saja, dalam bahasa lainnya yaitu “lillah”. Khususnya dalam masalah aktiftas
pekerjaannya sebagai seorang praktisi ekonomi syariah, ia akan menyadari bahwa
pekerjaannya bukan saja untuk memperoleh materi namun lebih dari itu adalah
melaksanakan hukum-hukum Allah ta’ala dalam bentuk bisnis dan ekonomi.
Seseorang yang memiliki tauhid yang kokoh akan percaya bahwa setiap tindakannya
akan senantiasa diawasi oleh Allah ta’ala sehingga tidak ada waktu sedetikpun
untuk berusaha melanggar syariahNya.
Sebagai
contoh seorang yang memiliki keyakinan tauhid yang kokoh tidak akan berani melakukan
aktiftas ekonomi yang melanggar nilai-nilai syariah, demikian pula ia tidak
akan mau mencampur adukan antara ekonomi ribawi dan ekonomi syariah. Ia tidak
mau melakukan kegiatan yang memberikan mudharat kepada dirinya sendiri dan juga
bagi orang lain. Intinya seorang praktisi yang bertauhid akan meyakini bahwa
setiap tindakannya akan dimintai pertanggunganjawab di akhirat.
Fenomena
yang terjadi adalah bahwa para praktisi ekonomi syariah masih menganggap bahwa
pekerjaannya walaupun di bidang ekonomi syariah tidak berkaitan langsung dengan
tauhid, mereka menganggap bahwa kerja ya kerja dan agama ya agama. Tentu saja
ini adalah pemikiran sekuler yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam yang
komprehensif di mana Islam tidak membedakan apakah urusan bisnis dan agama.
Solusi
yang bisa dilakukan adalah mengadakan berbagai training keagamaan yang bisa
meningkatkan keimana dan ketauhidan para praktisi ekonomi syariah. Misalnya
dengan kajian mingguan, atau tarbiyah yang berkesinambungan.
2.
Missing
link
Ada
hal yang sangat menarik dalam perkembangan ekonomi syariah khususnya para
praktisinya. Dari data yang ada menunjukan bahwa sebagian besar dari mereka
adalah hasil “karbitan” dalam arti mereka mengkikuti training, workshop atau
pelatihan tentang ekonomi Islam kemudian setelah selesai mereka langsung terjun
sebagai pelaku ekonomi syariah. Bukannya tidak bagus, namun dalam proses
tarbiyah maka ada sesuatu yang terputus dalam metode ini. Missing link yang
dimaksud adalah loncatan yang terlalu jauh dari praktisi ekonomi ribawi yang
berdasarkan riba harus langsung menuju ekonomi syariah yang bebas dari riba.
Hal ini hanya diperoleh dari pelatihan beberapa hari atau beberapa pekan. Tentu
saja hal ini berakibat kepada pemahaman yang tidak komprehensif bagi para
praktisi ekonomi syariah. Akibatnya mereka cenderung melaksanakan apa yang
menjadi materi dari pelatihan yang diikutinya tanpa lebih tahu secara mendalam
mengenai ekonomi syariah dari mulai dasar hukumnya, hikmah-hikmahnya hingga
tauhid yang menjadi pondasinya. Fenomena ini jika terus dibiarkan akan
mengakibatkan bangunan ekonomi syariah akan goyah, keropos dan bisa jadi akn
tumbang karenda pondasi dasarnya kurang kuat. Oleh karena itu maka pelatihan
bagi para praktis ekonomi syariah haruslah diawali dengan pemberian materi yang
menjadi penopang dari ekonomi syariah.
3.
Inkonsistensi
dengan Fatwa DSN
Fenomena
lainnya yang terjadi pada para praktisi ekonomi syariah adalah usaha untuk
mendapatkan keuntungan tanpa melihat lagi status hukum yang telah diputuskan
oleh Dewan Syariah Nasional (DSN). Pada beberapa kejadian praktisi ekonomi
syariah tidak menggunakan fatwa tersebut karena dianggap tidak menguntungkan
secara bisnis, sementara sebagian lainnya memanipulasi dan menafsirkan secara
sepihak fatwa tersebut maksudnya adalah fatwa yang telah dikeuarkan oleh DSN
tidak dilaksanakan secara sempurna sehingga pada beberapa produk yang mereka
tawarkan ke nasabah sering sekali menyimpang dari fata yang ada. Kondisi yang
lebih parah adalah tidak menggunakan fatwa DSN sebagai acuan pridu-produknya.
Padahal ciri utama ekonomi Islam adalah adanya fatwa DSN yang akan memberikan
pedoman hukum apakah sebuah akad transaksi itu sesuai dengan hukum Islam atau
tidak. Bisa jadi pelanggaran terhadap fatwa ini dikarenakan ketidakpahaman
mereka terhadap ekonomi syariah sehingga mereka menganggap tidak ada bedanya
antara ekonomi ribawi dan ekonomi syariah. Solusi yang bisa dilakukan adalah
melakukan kembali sosialisasi dari tugas dan wewenang DSN sehingga seluruh
praktisi ekonomi syariah akan memahaminya dan bisa melaksanakan setiap
fatwa-fatwa yang dikeluarkan oleh DSN.
4.
Murtad
Profesi
Beberapa
praktisi ekonomi syariah masih menganggap bahwa tidak ada perbedaan antara
ekonomi syariah dengan ekonomi ribawi, sehingga fenomena murtad profesi
dianggap sesuatu yang lumrah dan bisa. Murtad profesi yang dimaksud adalah
setelah beberapa lama menjadi praktisi ekonomi syariah kemudian karena berbagai
hal akhirnya ia keluar dari perusahaan syariah tersebut dan menjadi pejabat
pada sebuah lembaga keungan ribawi. Hal ini tentu sangat disayangkan, apalagi
kalau dilakukan oleh pejabat setingkat manager atau kepala cabang. Kisah ini
terjadi belum lama ini di Jakarta di mana seorang manager lembaga keuangan
syariah kemudian berpindah menjadi pejabat sebuah lembaga keuangan ribawi. Bisa
jadi hal ini karena dalam benaknya tidak ada bedanya antara ekonomi syariah
dengan ekonomi ribawi, padahal sudah sangat jelas disebutkan dalam berbagai
buku dan literature bahwa keduanya berbeda antara hitam dengan putih atau
bagaikan surga dan neraka. Beberapa praktisi juga beralasan kepindahannya ke
lembaga keuangan ribawi adalah karena hukumnya darurat, tentu saja alasan ini
tidak diterima perkembangan ekonomi syariah sudah sangat memungkinkan bagi
praktisi ekonomi syariah untuk mencari pekerjaan pada bidang ini.
5.
Jilbab
hanya seragam
Fenomena
ini terjadi pada beberapa praktisi ekonomi syariah khususnya yang perempuan, di
mana mereka mengenakan jilbab hanya ketika di kantor atau pada aktifitas yang
dilakukan pada lembaga keuangan syariah. Setelah selesai dari bekerja mereka
akan membuka jilbabnya karena menganggap itu adalah sebuah seragam kerja.
Padahal ekonomi syariah bukan hanya terletak pada jilbab atau pakaian yang
dikenakan oleh para praktisinya, lebih dari itu ia adalah system ekonomi
rabbani yang ditetapkan oleh ta’ala bagi seluruh umat manusia. Sehingga sangat
salah sekali ketika ada praktisi ekonomi syariah yang mengenakan jilbab ketika
berada di kantornya saja. Penyebab dari fenomena ini tentu saja ketidakpahaman
mereka terhadap Islam sehingga upaya untuk terus mentarbiyah mereka haru selalu
dilakukan secara berkesinambungan.
6.
Kebiasaan
merokok
Majelis
Ulama Indonesia telah mengeluarkan fatwa mengenai haramnya rokok bagi umat
Islam, sementara seluruh elemen ekonomi syariah telah bersepakat untuk tidak
memberikan pembiayaan kepada perusahaan rokok. Oleh karena itu jika masih
banyak praktisi ekonomi syariah yang merokok maka hal ini harus segera
diperbaiki. Walaupun ada beberapa ulama yang menyatakan hukum rokok adalah
makruh namun untuk kehati-hatian maka sudah selayaknya para praktisi ekonomi
syariah untuk meninggalkannnya.
7.
Budaya
tidak Islami dalam kehidupan sehari-hari
Banyak
sekali ketimpangan yang terjadi pada para praktisi ekonomi syariah, masih
banyak di antara mereka yang dalam kehidupan sehari-hari tidak mencerminkan
seorang mujahid ekonomi syariah. Dalam kehidupan sehari-hari misalnya pesta
pernikahan mereka masih suka dengan gaya pernikahan ala barat atau eropa yang
notabene bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Hal seperti ini pernah terjadi
pada salah satu kepala cabang lembaga keungan syariah terkemuka, ketika ia
mengadakan pernikahan keluargnya pesta pernikahannya dilaksanakan dengan gaya
barat yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam. Padahal sebagai seorang
kepala cabang lembaga keuangan syariah sangat tidak pantas ketika melaksanakan
pesta pernikahan justru bertentangan dengan nilai-nilai Islam.
Fenomena-fenomena
tersebut tentu saja tidak boleh dibiarkan, ia harus mulai diperbaiki sejak saat
ini jika tidak maka ekonomi syariah hanya sekadar kulit atau cangkang,
sementara isinya yang sama saja dengan ekonomi ribawi. Salah satu caranya
adalah kembali memperbaiki SDM ekonomi syariah yang ada saat ini dengan
meningkatkan pengetahuan tentang agama secara intensif dan dlanjutkan dengan
hukum bisnis syariah.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Sumber daya maunusia (insani) bisa
didefinisikan sebagai proses serta upaya untuk merekrut, mengembangkan,
memotivasi, serta mengevaluasi keseluruhan sumber daya manusia (insani) yang
diperlukan perusahaan dalam mencapai tujuannya.Adapun menurut para pakar :
Howard Garden (1983) menelaah manusia
dari sudut kehidupan mentalnya, khususnya aktivitas inteligensia (kecerdasan).
Menurutnya, paling tidak manusia memiliki tujuh macam kecerdasan yaitu :
1.
Kecerdasan
matematis atau logis
2.
Kecerdasan
verbal atau bahasa
3.
Kecerdasan
interpersonal
4.
Kecerdasan
fisik atau gerak atau badan
5.
Kecerdasan
musikal atau ritme
6.
Kecerdasan
musikal atau ruang atau spasial
7.
Kecerdasan
intrapersonal
Menurut Tilaar Sumber daya manusia berkualitas adalah sumber daya
manusia yang memiliki keunggulan parsitipatoris, yaitu sumber daya insani yang
yang ikut serta secara aktif dalam persaingan yang sehat untuk mencari yang
terbaik. Ciri-ciri manusia yang unggul parsitipatoris sebagai berikut:
kemampuan untuk mengembangkan jaringan-jaringan(networking), kerjasama
(teamwork), cinta kepada kualitas yang tinggi. Perwujudan dari globalisasi
ekonomi yang akan dihadapi bangsa indonesia antara lain terjadi dalam bentuk
sebagai berikut : 1)Produksi, 2)Pembiayaan, 3)Tenaga kerja, 4)Jaringan
informasi, 5)Perdagangan.
B.
SARAN
Demikian yang dapat kami paparkan
mengenai materi yang menjadi pokok bahasan dalam makalah ini, tentunya masih
banyak kekurangan dan kelemahannya, karena terbatasnya pengetahuan dan
kurangnya rujukan atau referensi yang ada hubungannya dengan makalah ini.
Penyusun banyak berharap para pembaca memberikan kritik dan saran yang
membangun kepada penyusun demi sempurnanya makalah ini dan penulisan makalah di
kesempatan-kesempatan berikutnya. Semoga makalah ini berguna bagi penyusun pada
khusunya juga para pembaca pada umumnya.
DAFTAR PUSTAKA
H. Ali Hardana, Manajemen Sumber Daya
Insani, (Jurnal PDF, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN
Padangsidimpuan, AL-MASHARIF Volume 3, No. 1, Januari-Juni 2015)
Fahadil Amin Al Hasan, Meningkatkan
Kualitas Sumber Daya Insani Di Lembaga Kuangan Syariah Dalam Menghadapi
Persaingan Global, (Jurnal Pdf, Universitas Indonesia, Naskah diterima : 13
April 2016, direvisi : 15 Mei 2016, disetujui : 27 Juni 2016, Sosio Didaktika,
p-ISSN: 2356-1386, e-ISSN: 2442-9430)
Sari Rezeki Harahap, Pengaruh Strategi
Pengembangan Sumber Daya Insani Terhadap Peningkatan Kinerja dan Mutu Pelayanan
Pada PT. Bank muamalat indonesia, Tbk Cabang Medan, (Fakultas Ekonomi dan
Bisnis Islam Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Medan, Analytica Islamica,
Vol. 5, No. 1, 2016: 149-168)
Siti Fatimah, Analisis Manajemen Sumber
Daya Insani Berbasis Kompetensi Di Panti Asuhan Dan Pondok Pesantren Arrodiyah
Semarang, (jurnal PDf, Jurusan Manajemen Dakwah, UIN Sunan Kalijaga,
Yogyakart, tahun 2015)
Ernie tisnawati sule, kurniawan saefullah, Pengantar
Manajemen, (Jakarta, Prenada Media
Group, 2008)
Salam Abdus Manajemen Sumber Daya Insani,
(Cirebon, Stain Pres, 2008)
Moch.Endang.Djunaeni, Sumber Daya Insani
Dan Etos Kerja Dalam Syariah Dalam Bidang Bisnis, (Jurnal Pdf, tahun 2016)
Muhammad Isa, Pengelolaan Sumber Daya
Insani Dalam Memasarkan Produk Dan Jasa Lembaga Keuangan Syariah, (Lecturer
of Economy and Bisnis Islam Faculty at IAIN Padangsidimpuan, tahun 2016, FITRAH
Jurnal Kajian Ilmu-ilmu Keislaman Vol. 02 No. 2 Desember 2016)
Kholid Musyaddad, Prinsip Prinsip
Manajemen Sumber Daya Manusia Dalam Perspektif Islam, (Jurnal PDF tahun
2015)
Jajuk herawati dan sunarto, MSDM STRATEGIK,
(Yogyakarta: Amus Yogyakarta ,2004)
James AF Stoner, dkk, Manajemen, Edisi
Bahasa Indonesia Jilid II, Terj. Alexander Sindoro, (Jakarta: PT Prenhallindo,
1996)
Bambang
Prawiro, Fenomena SDM Syariah Kontemporer, (Sumber: http://majelispenulis.blogspot.co.id diunggah
pada 15/05/2013 pukul 13.00 Wib, dan diakses pada 15/05/2018 pukul 16.00 Wib
[1] H. Ali Hardana, Manajemen
Sumber Daya Insani, (Jurnal PDF, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam
IAIN Padangsidimpuan, AL-MASHARIF Volume 3, No. 1, Januari-Juni 2015) h. 3
[2] Fahadil Amin Al Hasan, Meningkatkan
Kualitas Sumber Daya Insani Di Lembaga Kuangan Syariah Dalam Menghadapi
Persaingan Global, (Jurnal Pdf, Universitas Indonesia, Naskah diterima : 13
April 2016, direvisi : 15 Mei 2016, disetujui : 27 Juni 2016, Sosio Didaktika,
p-ISSN: 2356-1386, e-ISSN: 2442-9430)
[3] Sari Rezeki Harahap, Pengaruh
Strategi Pengembangan Sumber Daya Insani Terhadap Peningkatan Kinerja dan Mutu
Pelayanan Pada PT. Bank muamalat indonesia, Tbk Cabang Medan, (Fakultas
Ekonomi dan Bisnis Islam Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Medan,
Analytica Islamica, Vol. 5, No. 1, 2016: 149-168)
[4] Siti Fatimah, Analisis
Manajemen Sumber Daya Insani Berbasis Kompetensi Di Panti Asuhan Dan Pondok
Pesantren Arrodiyah Semarang, (jurnal PDf, Jurusan Manajemen Dakwah, UIN
Sunan Kalijaga, Yogyakart, tahun 2015) h. 13
[5] Ernie tisnawati sule,
kurniawan saefullah, Pengantar Manajemen, (Jakarta, Prenada Media Group, 2008), hlm
194.
[6] Salam Abdus Manajemen
Sumber Daya Insani, (Cirebon, Stain
Pres, 2008), hlmn 1
[7] Salam Abdus Manajemen
Sumber Daya Insani, (Cirebon, Stain
Pres, 2008), hlmn 3
[8] Moch.Endang.Djunaeni, Sumber
Daya Insani Dan Etos Kerja Dalam Syariah Dalam Bidang Bisnis, (Jurnal Pdf,
tahun 2016)
[9] Muhammad Isa, Pengelolaan
Sumber Daya Insani Dalam Memasarkan Produk Dan Jasa Lembaga Keuangan Syariah, (Lecturer
of Economy and Bisnis Islam Faculty at IAIN Padangsidimpuan, tahun 2016, FITRAH
Jurnal Kajian Ilmu-ilmu Keislaman Vol. 02 No. 2 Desember 2016)
No comments:
Post a Comment