Tuesday, May 22, 2018

Makalah Ukhuwah Islamiyah


BAB I
PEMBUKAAN
A.     PENDAHULUAN
Manusia pada hakikatnya adalah makhluk sosial, saling membutuhkan untuk memenuhi keperluan dan meningkatkan taraf hidupnya. Fitrah inilah yang ditegaskan oleh islam. Lebih lagi terhadap sesama muslim. Sebagai seorang muslim diwajibkan untuk menjalin tali persaudaraan dengan muslim lainnya. Dimana persaudaraan itu merupakan pertalian persahabatan yang serupa dengan hubungan kekeluargaan. Bahkan islam mengibaratkan persaudaraan dan tali persaudaraan ibarat sebuah bangunan. Rasul banyak memberikan tuntunan bagaimana seharusnya umat menjaga persaudaraan. Umat islam tidak boleh saling menyakiti.
Ukhuwah islamiyah biasanya diartikan sebagai persaudaraan. Kata islamiyah yang dirangkaikan dengan kata ukhwah lebih tepat dipahami sebagai adjektiv, sehingga ukhuwah islamiyah berarti persaudaraan yang bersifat islami atau yang diajarkan umat islam. Sesama umat islam hendaknya saling tolong-menolong, tidak ada kedengkian dan hasad buruk sehingga menjadikan persaudaraan muslim menjadi jauh karenanya. Dalam Al-Qur’an dan Hadits telah banyak disebutkan tentang hak dan kewajiban antara sesama muslim. Dan darinya dapat dirasakan nikmatnya iman.
B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Apa pengertian Ukhuwah Islamiyah?
2.       Apa hadis yang menerangkan tentang Ukhuwah Islamiyah?
BAB II
PEMBAHASAN
A.     Pengertian Ukhuwah Islamiyah.
 Secara Bahasa Ukhuwah Islamiyah berarti Persaudaraan Islam. Adapun secara istilah ukhuwah islamiyah adalah kekuatan iman dan spiritual yang dikaruniakan Allaah kepada hamba-Nya yang beriman dan bertakwa yang menumbuhkan perasaan kasih sayang, persaudaraan, kemuliaan, dan rasa saling percaya terhadap saudara seakidah. Dengan berukhuwah akan timbul sikap saling menolong,saling pengertian dan tidak menzhalimi harta maupun kehormatan orang lain yang semua itu muncul karena Allaah semata.[1]

B. Hadis yang menerangkan tentang Ukhuwah Islamiyah.
1.        Hadis tentang orang Muslim itu bersudara.
حدثنا ابو نعيم حدثناز كريا عن عا مر قال سمعت يقول عن النعمان بن بشير رضي الله عنهما قال : قال رسوا الله صلي الله عليه وسلم: تري المؤمنين في ترحمهم و توادهم وتعا تفهم كمثل الجسد ادا اشتكي عضو تدعي ساء رالجسد باسهر والحمي (كتاب الاداب رواه البخاري)
“telah menceritakan kepada kami Abu Nu’aim, telah menceritakan kepada kami zakariyah dari Amir ia berkata: au telh mendengar ia berkata dari al-nu’man bin basyir, radiya Allahu ‘anhuma: kamu kan melihat kaum mukminin dalam kasih sayang dan saling mencintai, laksana satu basan jika anggota badan tersebut ada yang sakit, maka menjalar ke anggota badan lainya. Sehingga anggota badanya terasa  panastidak dapat tidur”
Penjelasan:
Hadis di atas menggambarkan:
a.       Hubungan antara orang islam atau orang mukmin itu sangatlah erat, sesama kaum mukmin saling menyayangi, saling tolong menolong.
b.      Apabila ada kaum mukmin yang mendapat kesulitan atau merasakan kesusahan, maka kaum mukmin lainya harus ikut merasakan dan membantu kaum mukmin lainya.
c.       Kaum mukmin tidak boleh egois mementingkan diri sendiri, sementara kaum mukmin lainya mengalami kesusahan dan penderitaan.
d.      Kaum mukmin hendaknya selalu memupuk ukhwah islamiah, agar selalu bersatu dalam menegakkan agama Allah dan menjalankan perintahnya.[2]








2.        Biografi perowi
·        Nama lengkap: An nu’man bin basyir bin sa’ad
·        Kuniah: Abu Abdullah
·        Negeri hidup kuffah
·        Tahun wafat: 65h
Jumlah hadis yang diriwayatkan






3.        Skema perowi
Text Box: نبي محمد
 

Text Box: النعمان بِن بشير
Text Box: عامر
Text Box: زكرياء Text Box: ابو نعيم Text Box: امام بخاري
 











4.        Penjelasan singkat
Menggambarkan hakikat hubngan antara sesama kaum muslimin yang begitu eratnya menurut islm. Hubungan antara mereka dalam hal kasih sayang, cinta dan pergaulan diibaratkan hubungan antara anggota badan.yang satu sama yang lain saling membutuhkan dan saling merasakan, dan tida dapat dipisahkan jika salah satu anggota badan tersebut sakit, anggota badan lainya ikut merasakan sakit.
Dalam hadis lain dinyatakan bahwa hubungan antara seorang mukmin dalam berhubungan dengan mukmin lainya bagaikan sebuah bangunan yang saling melengkapi. Bangunan tidak akan berdiri apabila salah satu komponenya tidaka ada ataupun rusak. Hal itu manggambarkan betapa kokohnya hubungan antara sesama umat islam.
Itulah salah satu kelebihan yang seharusnya dimiliki oleh kaum mukmin dalam berhubungan antara sesama kaum mukminin.  Sifat egois atau mementingan diri sendiri sangat ditentang oleh agama islam. Sebaliknya umat islam untuk memerintahkan umatnya untuk saling bersatu dan saling membantu karena persauaraan seiman lebih erat dari pada persaudaraan sedarah. Itulah yang menjadi pangkal kaum muslimin merasakan penderitaan persaudaraanya dan mengalurkan tanganya untuk membantu sebelum diminta, yang bukan didasarkan atas “ take and give” tetapi berdasarkan lillah.
Keadaan seperti itu telah dicontohkan langsung oleh kaum mukminin pada masa kepemimpinan rasulullah SAW. Di madinah ketika beliau dengan para sahabat hijtah kemadinah. Dikota inilah, persaudaraan ummat islam sangat nyata. Pendudukan kota madinah menyambut kedatangan kaum muhajjirin dengan suka cita, melebibi sambutan kepada orang lain karena pertalian sedarah atau keluarga. Segala keperluan dan kepentingan kaum muhajjirin mulai dari tempat tinggal, makanan, serta kebutuhan lainya mendapatkan santunan dari penduduk kota madinah. Tidak mengherakan jika penduduk kota madinah mandapatkan julukan kaum anshar, yakni kaum penolong dan pembela dalam arti yang luas, tanpa balasan apapun.
B.     Memelihara Silaturrahmi
حدثنا عبدالله حدثنا محمد عباد حدثنا عبدالله بن معاذ يعني الصنعاني عن ابي اسحاق عن عاصم بن ضمرة عن رضيالله عنه
عن النبيصلي الله عليه وسلم قال من سره ان يمد له في عمرةه ويوسع له في رزقه ويدفع عنه ميته السوء فاليتق الله واليصل رحمه
Terjemah hadis
(Ahmad): telah menceritakan kepada kami Abdullah. Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abbad telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Mu’adz yakni As Shan’anhu, dari nabi shallallahu’alaihi wassalam, bersabda: barang siapa yang ingin dipanjangkan umurnya, dilapangkan rizkinya dan dihindarkan dari kematian yang uruk maka hendaknya dia bertakwa dia bertakwa kepada Allah dan menyambung silaturrahmi (tali persaudaraan).
1.      Biografi Perawi
·        Nama lengkap: ma’mar bin raosyid
·        Kalangan: tabi’ut tabiin kalangan tua
·        Kuniyah: Abu urwah
·        Negeri semasa hidup: yaman
·        Wafat: 159



2.      Biografi Perawi
 
















3.      Penjelasan singkat:
Silaturrahmi artinya menyambung tali persaudaraan. Hadis tersebut menggambarkan betapa pentingnya silaturrahmi dalam kehidupan ummat islam.hal ini karena menyambung silaturahmi berpengaruh terhadap rezeki yang merupakan bekal hidup hidup manusia untuk mengabdi kepadaNya. Selain itu orang yang selalu menyambungkan tali silaturrahmi akan di panjangkan usianya dalam arti akan dikenang selalu.
Hadis diatas kalau dicermati dengan seksama sangatah logis. Orang yang selalu bersilaturrahmi tentunya akan memiliki banyak teman dan relasi, sedangkan relasi merupakan salah satu faktor yang akan menunjang kesuksesan seseorang dalam berusaha atau berbisnis. Selain it dengan banyak teman akan banyak saudara dan berarti pula berusaha meningatkan ketakwaan kepada Allah. Hal ini karena ia telah melaksanakan salah satu perintahNya. Yakni menghubungkan silaturrahmi bagi mereka yang bertakwa. Allah SWT akan memberikan rezeki dan jalan keluar dari setiap urusanya.










BAB III
PENUTUP

A.     Kesimpulan
Ukhuwah islamiyah yang berarti persaudaraan mengajarkan kepada umat islam untuk saling tolong-menolong, saling menghargai, tidak membeda-bedakan satu sama lain. Umat muslim satu dengan yang lainnya ibarat bangunan yang yang saling menguatkan. Tidak dibenarkan menyinggung maupun menyakiti perasaan mereka, itu merupakan kefasikan. Membunuh sesama muslim sangat tidak dibenarkan karena dapat membawa kepada kekafiran.


[1] Muhammad Abdul Aziz Al khouli, menuju akhlak nabi. (Semarang: Pustaka Nuun) h.56
[2]Suryani, Hadis Tarbawi, analisis paedagogis Hadis-hadis Nabi (Yogyakarta: Teras, 2012) h. 139-140

No comments:

Post a Comment