BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar belakang
Mempelajari
Filsafat Pendidikan Islam berarti memasuki arena pemikiran yang mendasar,
sistematis, logis, dan menyeluruh (universal) tentang pendidikan, yang tidak
hanya dilatarbelakangi oleh ilmu pengetahuan agama Islam, melainkan menuntut
kita untuk mempelajari ilmu-ilmu yang lain. Melakukan pemikiran filosofis pada
hakikatnya adalah menggerakkan semua potensi psikologis manusia seperti pikiran
kecerdasan, kemauan, perasaan, ingatan serta pengamatan panca indra tentang
gejala kehidupan, terutama manusia dan alam sekitarnya sebagai ciptaan Tuhan.
Seluruh proses
pemikiran tersebut didasari pengalaman yang mendalam serta luas tentang masalah
kehidupan, kenyataan dalam alam raya, dan dalam dirinya sendiri. Sebagai hasil
pemikiran bercorak khas Islam, pada hakikatnya adalah konsep berpikir tentang
kependidikan yang bersumber atau berlandaskan ajaran agama Islam, tentang
hakikat kemampuan manusia untuk dapat dibina dan dikembangkan serta dibimbing
menjadi manusia muslim.
Bila dilihat dari
fungsinya, maka filsafat pendidikan Islam merupakan pemikiran yang mendasar
yang melandasi dan mengarahkan proses pelaksanaan pendidikan Islam. Oleh karena
itu, filsafat ini juga memberikan gambaran tentang latar belakang timbulnya
filsafat Pendidikan Islam masih dalam aspek fungsional, filsafat pendidikan
Islam juga bertugas melakukan kritik-kritik tentang metode-metode yang
digunakan dalam proses pendidikan Islam itu sendiri sekaligus memberikan
Pengarahan mendasar bagaimana metode tersebut harus didayagunakan atau
diciptakan agar efektif untuk mencapai tujuan.
Adapun latar
belakang timbulnya filsafat pendidikan yang sebenarnya bercikal bakal dari
filsafat itu sendiri. Sehingga perlu bagi kami mengangkat sebuah judul makalah
“latar belakang timbulnya kajian pendidikan Islam” agar kita mengetahui
bagaimana lahir dan berkembangnya filsafat pendidikan Islam yang mudah-mudahan
dapat menambah perbendaharaan tentang sejarah filsafat pendidikan Islam dan
bermanfaat bagi kami juga kita semua. Aamiin.
B.
Rumusan masalah
Berdasarkan latar
belakang di atas, maka rumusan masalah dalam makalah ini adalah :
1.
Apa pengertian Filsafat
Pendidikan Islam?
2.
Apa yang melatar belakangi
timbulnya kajian Filsafat Pendidikan Islam?
3.
Perkembangan pemikiran
Filsafat Pendidikan ?
4.
Perkembangan Filsafat
Pendidikan Islam ?
C.
Tujuan Pembahasan
Adapun tujuan pembahasan makalah ini adalah :
1.
Untuk mengetahui pengertian
Filsafat Pendidikan Islam
2.
Untuk mengetahui yang
melatar belakangi timbulnya kajian Filsafat Pendidikan Islam
3.
Untuk mengetahui Perkembangan
pemikiran Filsafat Pendidikan
4.
Untuk mengetahui Perkembangan
Filsafat Pendidikan Islam
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Filsafat
Pendidikan Islam
Filsafat
pendidikan pada umumnya dan filsafat pendidikan Islam pada khususnya, adalah
bagian dari ilmu filsafat maka dalam mempelajari filsafat itu perlu memahami
lebih dahulu tentang pengertian filsafat terutama dalam hubungannya dengan
masalah pendidikan, khususnya pendidikan Islam. Secara harfiah, filsafat
Pendidikan berarti “cinta kepada ilmu” atau yang memikirkan tentang masalah
kependidikan, sedangkan pendidikan Islam itu sendiri adalah usaha mengubah
tingkah laku seseorang dengan dilandasi nilai-nilai islami.[1]
Berikut ini
dikemukakan pengertian filsafat dalam kaitannya dengan pendidikan pada umumnya
dari beberapa ahli pikir sebagai berikut :
1. John dewey
Memandang pendidikan sebagai suatu proses pembentukan
kemampuan dasar yang fundamental, baik menyangkut daya pikir (intelektual)
maupun daya perasaan dasar (emosional), menuju kearah tabiat manusia dan
manusia biasa. Tugas filsafat dan pendidikan adalah seiring, yaitu sama-sama
memajukan hidup manusia.
2.
Thomson
Filsafat di pandang sebagai suatu bentuk pemikiran yang
konsekuen, tanpa mengenal kompromi tentang hal-hal yang di ungkap secara
menyeluruh dan bulat.[2]
3.
Van Cleve Morris
Menyatakan, secara ringkas mengatakan bahwa Pendidikan
adalah studi filosofis, karena ia pada dasarnya bukan alat sosial semata untuk
mengalihkan cara hidup secara menyeluruh. pendidikan harus dapat menyerap,
mengolah, dan menganalisis dan menjabarkan aspirasi dan idealitas masyarakat.
4.
Brubacher
Filsafat
pendidikan adalah filsafat yang memikirkan masalah kependidikan. Oleh karena
ada kaitan dengan pendidikan, filsafat diartikan sebagai teori pendidikan.
Dengan segala
tingkat karena dengan memahami filsafatnya, orang akan dapat mengembangkan
secara konsisten ilmu-ilmu pengetahuan yang di pelajari. Filsafat mengkaji dan
memikirkan hakikat segala sesuatu secara menyeluruh, sistematis, terpadu,
universal, dan radikal, yang hasil nya menjadi pedoman dan arah dari
perkembangan ilmu-ilmu yang bersangkutan. Untuk menyelesaikan masalah
kependidikan, ada tiga disiplin ilmu yang membantu filsafat pendidikan yaitu :
a)
Etika atau teori tentang
nilai
b)
Teori ilmu pengetahuan atau
epistemologi, dan
c)
Teori tentang realitas atau
kenyataan dan yang ada di balik kenyataan, yang disebut metafisika.
Filsafat pendidikan Islam adalah
ilmu yang memikirkan masalah kependidikan dalam mengubah tingkah laku seseorang
dengan nilai-nilai islami.
Filsafat diakui
sebagai induk ilmu pengetahuan yang mampu menjawab segala pertanyaan dan
permasalahan mulai dari masalah-masalah yang sehubungan dengan alam semesta
hingga masalah manusia dengan segala problematika dan kehidupannya.[3]
B.
Latar Belakang
Munculnya Kajian Filsafat Pendidikan Islam
Filsafat
pendidikan yang membahas permasalahan pendidikan Islam tidak berarti membatasi
membahas diri pada permasalahan yang ada di dalam ruang lingkup kehidupan
beragama umat Islam yang luas yang berkaitan dengan pendidikan bagi umat Islam.
Semua permasalahan bukan nonregilius yang menyangkut permasalahan sosial dan
ilmu pengetahuan serta teknologi itu dianalisis secara mendalam, sehingga
diperoleh hakikatnya.
Dari segi
pandangan Islam karena filsafat bertugas pokok mencari hakikat dari segala
sesuatu. Dan dari hakikat itulah timbul pemikiran teori yang pada gilirannya
menimbulkan pemikiran tentang strategi dan taktik atau operasionalisasi
kependidikan Islam. Dari sinilah timbul pemikiran tentang cara yang tepat untuk
melaksanakan ide-ide kependidikan Islam yang dituangkan ke dalam apa yang
disebut “Sistem Pendidikan Islam”.
Agama menjadi
sumber inspirasi serta motivasi untuk berpikir, menyelidiki, menilai,
menyimpulkan, serta menemukan suatu hakikat dari alam raya ini yang bermanfaat
bagi umat Islam, yaitu ilmu pengetahuan yang luas dan dalam, meskipun ilmu yang
telah di ungkapkan itu belum seberapa dibanding ilmu Allah itu sendiri.
Islam telah mampu
mendorong seseorang untuk menyelidiki, menganalisis, menemukan, mengembangkan,
serta memperluas ilmu pengetahuan, baik yang berasal dari sumbernya yang asli
ajaran Islam, maupun dari kebudayaan lain yang diolah sejalan dengan
nilai-nilai Islami. Kemudian hasil-hasil penemuan yang baru atas analisis
keilmuan mereka dapat mempengaruhi dunia Barat.[4]
Jika kita
memperhatikan pemikiran orang barat yang membahas filsafat mereka sama sekali
lepas dari apa yang dikatakan agama. Bagi mereka titik berat filsafat adalah
mencari hikmah. Hikmah itu dicari untuk mengetahui suatu keadaan yang
sebenarnya apa itu, dari mana itu, hendak kemana, dan bagaimana. Namun
pertayaan filosofis itu kalau diteruskan, akhirnya akan sampai dan berhenti
pada sesuatu yang disebut agama. Baik filosofis Timur maupun Barat mereka
memiliki pandangan yang sama bila sudah sampai pada pertanyaanya “ bisakah
permulaan yang ada ini , dan apakah yang sesuatu yang pertama kali terjadi, apakah
yang terakhir sekali bertahan didalam ini”. Akan tetapi mereka akan berusaha.
Untuk mencari hikmah yang sebenarnya supaya sampai puncak pengetahuan yang
tinggi, yaitu Tuhan Yang Maha Mengetahui dan Mahakuasa.
Di antara
permasalahan yang tidak dapat dijawab oleh filsafat adalah permasalahan yang
terjadi di lingkungan pendidikan. Padahal menurut John Dewey, seorang filsuf
Amerika, filsafat merupakan teori umum dan landasan dari semua pemikiran
mengenai pendidikan. Tugas filsafat adalah mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan
menyelidiki faktor-faktor realitas dan pengalaman yang banyak terdapat dalam
lapangan pendidikan.
Salah satu
masalah atau persoalan yang terjadi dalam era pendidikan ialah analisis terhadap berbagai metode,
pendekatan, dan produk-produk pemikiran sejak era klasik hingga abad modern.
Konsep-konsep normatif Islam yang terdapat dalam kedua sumber Islam yakni
Al-Qur’an dan Sunnah, merupakan sumber sebagai paradigma dalam memotret segala
persoalan. Beragam pemaknaan yang dilakukan oleh para ilmuwan muslim terhadap
kedua sumber fundamental Islam tersebut sehingga melahirkan puspa ragam wacana
keagamaan, sosial, ekonomi, politik, budaya, dan bahkan membentuk peradapan
pada zaman klasik Islam.
Pendidikan islam
dipengaruhi oleh multifikator, kondisi, dan problem yang kompleks. Maju
mundurnya teori dan praktik pendidikan islam diakibatkan oleh komplektifitas
problem tersebut. Problem dimaksud berupa segala persoalan yang inhern dalam
pendidikan, yakni problem internal, maupun berada di luar jangkauan bidang
pendidikan, yakni problem eksternal yang secara tak langsung berpengaruh,
seperti masalah pengangguran, kemiskinan, etos kerja, stabilitas politik,
lemahnya penegakkan hukum dan lain-lain terkait dengan bidang hukum, sosial,
ekonomi, dan politik.problem eksternal ini amat rumit dan karena keterbatasan
ruang, maka analisi problem pendidikan islam yang hendak diuraikan dalam
tulisan ini difokuskan pada problem internal saja.[5]
Problem internal
yang dihadapi oleh pendidikan islam meliputi lemahnya visi atau tidak jelasnya
arah pendidikan yang dilaksanakan, penekanan yang tidak seimbang antara
pembentukan kepribadaan yang utama dalam diri seorang muslim dengan peranan
sosialnya ditengah umat, di mana hal ini menyebabkan timbulnya kesalahan
individual dan mengesampingkan tekologi yang dianggapnya tidak ada hubungan
sama sekali dengan kesalehan dan ketaqwaan. Problem paradigma berpikir
normatif-deduktif masih lazim dijumpai dalam pendidikan islam secara umum,
bukan hanya di indonesia, tetapi juga di negara-negara islam lainnya. Tetapi juga
di negara-negara islam lainnya. Berikut ini adalah penjelasannya :
1. Lack Of Vision
Ismail Raji al-Faruqi menilai bahwa problem yang belum
terselesaikan dari gejala rendahnya standar kelembagaan di dunia islam adalah
konsekuensidari lemahnya visi ini. Lemahnya visi ini menyebabkan mereka sebagai
alat jiplakan. Secara tak sadar, materi dan metodologi tanpa spirit ini terus
menerus menimbulkan proses de-Islamisasi yang memengaruhi para pelajar dengan
anggapannya bahwa hal tersebut merupakan pendidikan Islam alternatif, atau
sebagai agen perubahan dan modernisasi.
2.
Kesalehan Individual dan
Ketertinggalan Teknologi
Penyempitan makna kepribadian menimbulkan dampak yang
besar atas sikap mereka terhadap sains dan teknologi. Seolah-olah sains dan
teknologi tidak ada kaitannya dengan kesalehan dan ketakwaan. Padahal, justru
di bidang dengan negara-negara lain. Sampai saat ini umat Islam masih jauh
tertinggal dengan negara-negara lain dalam hal ini ilmu teknologi modern
praktis di semua penganut agama besar di muka bumi ini, para pemeluk Islam
adalah yang paling rendah dalam sains dan teknologi.
3.
Problem Epistemologis :
Dikotomi Ilmu
Akibat berangkai dari pola pikir pendidikan yang
dikotomis ini adalah terjadi disharmoni relasi antara pemahan ayat-ayat ilahiah
dengan ayat-ayat kauniyah, antara iman dengan ilmu, antara ilmu dengan amal,
antara dimensi duniawi dengan ukhrawi, dan relasi antara dimensi ketuhanan
(teosentris) dengan kemanusiaan (antroposentris).
4.
Tradisi Berpikir
Normatif-Deduktif
Bilamana
pendidikan Islam dewasa ini lebih mengarah pada pola mengajar tersebut, maka
dampaknya bisa dirasakan pada proses dan hasilnya. Proses pengajaran agama
Islam cendrung dilaksanakan dalam bentuk hafalan dan penguasaan materi
sebanyak-banyaknya. Bergesernya praktik pendidikan menjadi lebih identik dengan
mengajar ini menimbulkan penekanan yang tidak seimbang pada aspek pengetahuan
(kognitif) semata.
Namun, justru dengan
melakukan kajian secara historis-sosiologis terhadap berbagai pemikiran Islam
dengan sumber Al-Qur’an dan Sunnah Nabi, dapat ditemukan sejumlah kendala atau
problematika bagi kemajuan umat Islam secara umum dan khususnya pula bagi
kemajuan dalam dunia pendidikan Islam.
Para sejarahwan
filsafat percaya bahwa pemikiran paling kuno yang murni atau sebagian besarnya
filosofis yang berasal dari kalangan Yunani, kira-kira enam abad yang lalu.
Para sejarahwan juga menyebutkan nama-nama mereka yang berupaya mengenal wujud,
permulaan dan keberakhiran alam raya. Socrates dialah orang yang menamai
dirinya dengan philosophus, pecinta kebijaksaaan. Ungkapan ini lantas di
Arabkan menjadi failasuf dan darinya pula kata falsafah diambil. Sejak pertama
kali Socrates menyebut dirinya sebagai filosof, dan istilah filsafat digunakan
semenjak itu.[6]
Orang Yunani yang
hidup pada abad ke-6 SM mempunyai kepercayaan bahwa kebenaran yang diterima
semuanya bersumber dari mitos ke logos. Ini berarti kebenaran yang dapat
diterima akal tidak berlaku. Namun sesudah abad ke-6 SM muncullah sejumlah ahli
pikir yang menentang mitos tersebut, sehingga misteri alam semesta jawabannya
dapat diterima oleh akal. Hal ini sekaligus merupakan cikal bakal filsafat.
Filsafat dan
pendidikan memiliki hubungan hakiki dan timbal balik, maka berdirilah filsafat
pendidikan yang berusaha menjawab dan memecahkan persoalan-persoalan pendidikan
yang bersifat filosofis dan memerlukan jawaban secara filosofis pula. Dengan
kata lain, kemunculan filsafat pendidikan ini disebabkan banyaknya perubahan
dan permasalahan yang timbul di lapangan pendidikan yang tidak mampu dijawab
oleh ilmu filsafat. Ditambah dengan banyaknya ide-ide baru dalam dunia
pendidikan yang berasal dari tokoh-tokoh filsafat Yunani.
Tanpa sikap
kritis untuk memisahkan mana yang baik dan mana yang buruk. Jadi ada sikap
terhadap tradisi dalam konsep tradisonalitas. Namun tradisi, belum tentu semua
unsurnya tidak baik, maka harus dilihat dan diteliti mana yang baik untuk
dipertahankan dan diikuti. Sikap tradisionalitas itulah salah satu faktor
penyebab munculnya ilmu-ilmu filsafat pendidikan islam mengalami kemajuan dari
tradisi tradisional ke modern dalam dunia pendidikan Islam, yang mana
masalahnya yang bercorak hanya bersifat penghafalan, pengulangan, dan
komentar-komentar terhadap pendidikan Islam.
Sehingga perlunya
pembaharuan di bidang metode dan pendekatan pendidikan Islam, yaitu beralih
dari metode mengulang-ulang dan mengahafal pelajaran ke metode memahami dan
manganalisis. Selama ini, sistem pendidikan Islam lebih cenderung
berkonsentrasi pada buku-buku ketimbang subjek. Peserta didik hanya belajar
menghafal, bukan mengelolah pikiran secara kreatuf. Sehubungan dengan praktik
ini, pertumbuhan konsep pengetahuan menjadi rusak. Ilmu pengetahuan bukan
merupakan sesuatu yang kreatif, melainkan sesuatu yang diperoleh, karena itulah
metode menghafal harus diganti dengan metode memahami dan menganalisis secara
krisis-konstruktif.[7]
Sehingga itulah
kajian filsafat pendidikan Islam muncul untuk menjawab persoalan atau
permasalahan atau pendapat-pendapat baru yang terjadi dari era kependidikan
mulai dari masalah metode, pendekatan, komentar-komentar dll, karena filsafat
berpikir dan mencari solusi untuk mengatasi masalah tersebut khususnya masalah
didalam pendidikan Islam.
D.
Perkembangan
Pemikiran Filsafat Pendidikan
Dalam sejumlah
literatur yang membahas tentang filsafat dijelaskan, bahwa filsafat berkembang
dari munculnya kesadaran manusia terhadap potensi dirinya, khususnya akal budi.
Awal pemikiran filsafat muncul sebagai reaksi terhadap kungkungan mitologi,
dimana manusia dibelenggu oleh kepercayaan bahwa kehidupan alam dikuasai yang
dimunculkan oleh mitos.
Penelitian
merupakan bagian dari upaya manusia untuk menemukan apa yang disebut kebenaran.
Sementara kebenaran itu telah ada sebelum manusia itu ada. Ia berada diluar
alam manusia. Kebenaran itu sendiri bukanlah sesuatu yang statis melainkan
terus berkembang. Dorongan ingin tahu yang ada pada dirinya, selalu mendorong manusia
untuk terus mengembangkan “pencaharian” tersebut. Dengan demikian, upaya untuk
menemukan kebenaran itu sendiri merupakan aktivitas tanpa henti.[8]
Perkembangnya
filsafat itu sendiri berkembang saat munculnya kesadaran atau
pemikiran-pemikiran manusia terhadap potensi dirinya dan mencari kebenaran
karna rasa ingin tahunya.
1.
Perkembangan pemikiran Filsafat Spiritualisme Kuno
Dari uraian diatas dapat diketahui filsafat mulai
berkembang dan berubah fungsi, dari sebagai induk ilmu pengetahuan menjadi
semacam pendekatan kembali sebagai ilmu pengetahuan yang telah berkembang pesat
dan terpisah satu dengan lainnya. Jadi, jelaslah bagi kita bahwa filsafat
berkembang sesuai perputaran zaman. Paling tidak, sejarah filsafat lama membawa
manusia untuk mengetahui cerita dalam katagori filsafat spiritualisme kuno.
a.
Timur Jauh
Di India berkembang filsafat Spiritualisme, Hinduisme,
dan Budhisme. Sedangkan Jepang berkembang Shintoisme. Begitu juga di China,
berkembang Toisme dan Komfusianisme.
b.
Timur Tengah
1)
Yang berkembang adalah di
Yahudi dan Kristen.
2)
Romawi danYunani:
Antromornisme
3)
Antromornisme merupakan
suatu paham yang menyamakan sifat-sipat Tuhan dengan sifat-sifat manusia (yang
di ciptakan). Misalnya tentang tuhan di samakan dengan tangan manusia. Paham
ini muncul zaman patristik dan skolastik, pada akhir zaman kuno atau zaman
pertengahan filsafat barat di pengaruhi oleh pemikiran Kristian.
2.
Reaksi Terhadap
Spritualisme Di Yunani
Spritualisme
merupakan suatu aliran filsafat yang mementingkan kerohanian, lawan dari
materialisme. Namun demikian, ternyata ada beberapa filosof yang merasa kurang
puas dengan aliran spritualisme, mereka menganggap aliran ini tidak sesuai
dengan ilmu pengetahuan ilmiah. Maka lahirlah aliran materialism. Diantara
tokonya adalah Leukipos dan Demokritus (460-370 SM), yang menyatakan bahwa
semua kejadian alam adalah atom, dan semuanya adalah materi.[9]
a)
Idealisme
Aliran ini memandang dan menganggap yang nyata hanyalah
nyata. Nyata selalu tetap tidak mengalami perubahan dan pergeseran yang
mengalami gerak tidak di kategorikan.
b)
Materialisme
Mereka berpendapat bahwa kejadian seluruh alam terjadi
karena atom kecil, yang menpunyai bentuk dan bertubuh, jiwa pun dari atom kecil
yang mempunyai bentuk bulat dan mudah bereaksi untuk mengadakan gerak.
c)
Rasionalisme
Aliran rasionalisme memandang akal di anggap sebagai
perantara khusus untuk menentukan kebenaran dalam ilmu pengetahuan.
3.
Pemikiran Filsafat Yunani
Kuno Hingga Abad Pertengahan
Pada masa ini, keterangan-keterangan
mengenai alam semesta dan penghuninya masih berdasarkan kepercayaan. Dan karena
para filsuf belum puas atas keterangan itu, akhirnya mereka mencoba mencari
keterangan melalui budinya. Oleh karena itu filsuf-filsuf berusaha mencari inti
alam, maka mereka di sebut filsuf alam dan filsafat mereka disebut filsafat
alam.
Masa pra-socrates
di warnai pula oleh munculnya kaum sofisme.
4.
Pemikiran filsafat
pendidikan menurut Socrates (470-399 SM)
Prinsip dasar pendidikan, menurut Socrates adalah
metode dialektis. Meode ini di gunakan Socrates sebagai dasar teknis pendidikan
yang di rencanakan untuk mendorong seseorang berpikir cermat, untuk menguji
coba diri sendiri dan untuk memperbaiki pengetahuannya.
5.
Pemikiran filsafat pendidikan
menurut Plato ( 427-347 SM )
Menurut Plato, idealnya dalam sebuah Negara pendidikan
memperoleh tempat yang paling utama dan mendapatkan perhatian yang yang sangat
mulia, maka ia harus di selenggarakan oleh Negara.
6.
Pemikiran filsafat pendidikan
menurut Aristoteles (367-345 SM)
Pendidikan bukanlah soal akal semata-mata, melainkan soal
memberi bimbingan kepada perasaan-perasaan yang lebih tinggi yaitu akal guna
mengatur nafsu-nafsu. Akal sendiri tidak berdaya, sehingga ia memerlukan
dukungan perasaan yang lebih tinggi agar di arahkan secara benar.[10]
E.
Perkembangan
Filsafat Pendidikan Islam
Perkembangan pendidikan Islam pada hakikatnya tidak
terlepas dari sejarah Islam. Oleh sebab itu periodisasi sejarah pendidikan
Islam itu sendiri. Secara garis besar Dr. Harun Nasution membagi sejarah Islam
ke dalam tiga periode, yaitu periode klasik, pertengahan dan modern. Kemudian
perinciannya dapat dibagi menjadi 5 masa, yaitu :
1.
Masa hidupnya Nabi Muhammad
SAW (571-632 M).
2.
Masa khalifah yang empat
(Khulafaur Rasyidin : Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali di madinah/632-661 M).
3.
Masa kekuasaan Umawiyah di
Damsyik (661-750 M).
4.
Masa kekuasaan Abbasiyah di
Bagdad (750-1250 M).
5.
Masa dari jatuhnya
kekuasaan khalifah di Bahdad tahun 1250 M sampai sekarang.
Pembagian 5 masa di atas dalam
kaitannya dengan periodisasi sejarah pendidikan Islam nampak sebagaimana
diuraikan pada bagian kedua. Akan tetapi dalam kaitannya dengan kajian
pendidikan Islam di indonesia, maka cakupan pembahasannya akan berkaitan dengan
sejarah Islam di indonesia dengan fase-fase sebagai berikut :
1.
Fase datangnya Islam ke
Indonesia.
2.
Fase pengembangan dengan
melalui proses adaptasi.
3.
Fase berdirinya
kerajaan-kerajaan Islam (proses politik).
4.
Fase kedatangan orang Barat
(zaman penjajahan).
5.
Fase penjajahan Jepang.
6.
Fase Indonesia merdeka.
7.
Fase pembangunan.[11]
Perkembangan pendidikan Islam yang
terjadi di Indonesia secara periodisasi diungkapkan dalam uraian bagian ketiga.
Dengan demikian periodisasi uraian tentang perkembangan Islam ini mencakup
periode sejarah Islam yang terjadi dalam kawasan dunia Islam dan dalam kawasan
Indonesia. Hal ini erat kaitannya dengan kepentingan studi atau kajian Islam di
Indonesia.
F.
Tokoh Filsafat Pendidikan
Islam
1.
Al-Kindi (185 H/801
M-260/873 M)
Al-Kindi adalah filosof Muslim pertama. Nama lengkapnya
adalah Abu Yusuf Ya’kub ibn Ishaq ibn Sabbah ibn Imran ibn Ismail bin Qais
al-Kindi. Kindah adalah salah satu suku Arab besar pra-Islam. Ia dilahirkan di
Kufah dan di sana ia mempelajari berbagai macam pengetahuan terutama sastra dan
filsafat. Ia juga menguasai bahasa Yunani dan menerjemahkan karya-karya Yunani
seperti Enneads karya Plotinus. Al- Qifti menyebutnya sebagai filsof Arab,
sedangkan Ibn Nabatah menyebutnya sebagi filsuf Muslim. Karya-karyanya antara
lain: Fi al-Qaul fi al-Nafs (Pendapat tentang Jiwa), Kalam fi al-Nafs
(Pembahasan tentang Jiwa), Mahiyah al-Naum wa al-Ru’ya (Substansi Tidur dan
Mimpi); Fi al-Aql (Tentang Akal);, dan al-Hilah li Daf’i al-Ahzan (Kiat Melawan
Kesedihan). Ide-idenya banyak dipengaruhi ole ide-ide Aristoteles, Plato, dan
Plotinus.[12]
Menurut al-Kindi, jiwa manusia terbagi menjadi tiga
bagian, yaitu jiwa syahwat, jiwa emosional, dan jiwa rasional. Jiwa-jiwa itu akan
tetap kekal meski badan telah hancur. Jiwa tumbuhan berfungsi untuk makan,
tumbuh, dan berkembang biak. Jiwa hewani berfungsi sebagai penginderaan,
imajinasi, dan gerak disamping makan, tumbuh dan berkembang biak. Jiwa rasional
berfungsi untuk berpikir. Jiwa itulah yang dimiliki mansuia. Karenanya manusia
disebut makhluk berpikir (al-hayawan al-nathiq). Adapun jiwa rasional atau akal
dibagi menjadi akal yang selalu aktif . Akal ini merupakan Akal Pertama, yaitu
Allah SWT. Akal potensial , yaitu kesiapan yang ada pada mansuia untuk memahami
hal-hal yang rasional. Akal yang berubah di dalam jiwa, dari potensi menjadi
actual. Akal ini disebut sebagai akal kepemilikan (al-‘aql bi al-malakah) dan
akal mustafaz yang berarti bahwa awalnya ia tidak menjadi milik jiwa kemudian
menjadi miliknya. Akal lahir, yaitu jika akal serius memahami hal-hal yang
rasional atau mengubahnya menjadi yang lain, maka pada saat itu ia disebut akal
lahir. Manusia terkadang mengalami kesedihan. Menurut al-Kindi dalam bukunya
Kiat Melawan Kesedihan, kesedihan merupakan gangguan psikis (neurosis) yang
terjadi karena kehilangan hal-hal yang dicintai dan yang diinginkan. Obat untuk
menghilangkan kesedihan adalah berpikir rasional dan melakukan kebiasaan yang
terpuji seperti sabar dan menjauhi hal-hal yang sepele, kemudian disiplin atas
kebiasaan terpuji. Bila kesedihan akibat perbuatan sendiri, maka caranya adalah
menjauhkan perbautan tersebut. Adapun bila kedihan akibat perbuatan orang lain,
maka kita tidak boleh bersedih bila sesuatu itu belum terjadi, bila terjadi
berusahalah agar kesdihan tidak berlarut-larut. Kita juga hendaknya mengetahui
sebab-sebab kesedihan, cerdas dan bijak dalam mengatasinya. Kebahagiaan sejati
manusia bukanlah yang bersifat duniawi, inderawi, dan artificial, tetapi
kenikmatan yang bersifat ilahiah dan rohaniah. Karena itu kebahagiaan sejati
adalah kebahagiaan merasa dekat dengan Allah SWT.
2.
Al-Farabi (259-339
H/872-950 M)
Namanya adalah Abu Nashr Muhammad bin Muhammad Tharkhan
bin Uzalag. Ia adalah Maha Guru Kedua (The Second Master) setelah Guru Petama
Aristoteles. Ia merupakan ahli filsafat ternama yang mengarang buku Ara Ahl
Madinah al-Fadhilah (Masdyarakat Utama), tahshil al-sa’adah, Risalah fi al-Aql,
Fushus al-Hikam, al-Siyasah al-Madaniyah, dan al-Da’wai al-Qalbiyah.
Menurutnya, mansia terdiri dari badan dan jiwa. Manusia dikatakan menjadi
sempurna bila menjadi makhluk yang bertindak. Anggota tubuh manusia merupakan
perantara untuk menjalankan kehendak jiwa. Ia juga membagi tiga jenis jiwa,
yaitu iwa tumbuhan, hewan, dan manusia. Ketiga filosuf Muslim di atas merupakan
filsuf aliran masysya’i (perpatetik), yang pemikirannya sangat dipengaruhi oleh
Aristoteles, kemudian mencapai puncaknya pada Syekh al-Rais Ibn Sina. Pemikiran
ntentang jiwa manusia dan intelek merupakan kelanjutan dari ketiga filsuf di
atas. Karenanya akan dibahas secara panjang lebar pada pembahasan tentang Ibn
Sina.
3.
Ibnu Sina
Nama lengkapnya Abu Ali al- Husien ibn Abdullah ibn
Hasan ibn Ali ibn Sina. Ia dilahirkan didesa Afsyanah, dekat Buhkara, Persia
Utara pada 370 H. Ia mempunyai kecerdasan dan ingatan yang luar biasa sehingga
dalam usia 10 tahun telah mampu menghafal Al-Qur’an, sebagian besar sastra Arab
dan juga hafal kitab metafisika karangan Aristoteles setelah dibacanya empat
puluh kali. Pada usia 16 tahun ia telah banyak menguasai ilmu pengetahuan,
sastra arab, fikih, ilmu hitung, ilmu ukur, filsafat dan bahkan ilmu kedokteran
dipelajarinnya sendiri.
4.
Jalaluddin Rumi
Rumi lahir di Balk, Afghanistan pada tahun 604 H/1207
M. Ia lebih dikenal sebagai mistikus Islam (sufi). Karyanya-karyanya dalam
bentuk syair-syair di antaranya Matsani dan Divani. Menurut Runi, tujuan utama
penciptaan terpenuhi melalui diri para nabi dan orang-orang suci. Mereka dapat
mengaktualisasikan seluruh potensi yang dimiliki manusia. Para nabi dan Adam
adalah prototipe kesempurnaan manusia. Rumi menunjuk pada Adam, dan
menggunbakan istilah adami, yang berarti “manusia” dan kesempurnaan kondisi
rohaniahnya. Rumi menggambarkan tiga corak makhluk: malaikat, manusia, dan
binatang; dan tiga corak manusia: manusia malaikat, mansuia biasa, dan manusia
binatang. Corak yang pertama adalah para nabi dan orang-orang suci, yang kedua
manusia kebanyakan, atau orang awam, dan ketiga orang-orang kafir atau para
pengikut syetan.
5.
Ibn Taimiah
(661-728/1263-1328 M)
Ibn Taimiah bergelar Guru Besar Islam (Syaikh al-Islam).
Berasal dari keluarga terhormat yang terkenal karena ilmu dan agamanya. Lahir
di Haran pada 661 H. ia menguasai berbagai disiplin ilmu dengan kekuatan yang
laur biasa. Ia seorang ulama yang teguh memegang prinspi dan dikenal sebagai
tokoh salafi yang menyerukan terbukanya pintu ijtihad di kalangan umat Islam.
Wafat di penjara tahun 728. karya-karya antara lain: Ilm al-Suluk, Amradh
al-Qulub, Majmu al-Rasail, dan sebagainya. Ibn Taimiah berbicara kebutuhan
manusia. Menurutnya, kebutuhan manusia ada dua macam, yaitu primer seperti
makan, minum, tempat tinggal, nikah, dan lain-lain yang dibutuhkan untuk
mempertahankan hidupnya. Kedua, kebutuhan yang tidak terlalu dibutuhkan yang
disebut kebutuhan sekunder. Manusia tidak boleh mengaitkan hatinya dengan
kebutuhan-kebutuhan itu. Manusia mencintai sesuatu tetapi cinta tertinggi
adalah cinta kepada Allah dan rasuln-Nya. Tingkat cinta manusia adalah:
senantiasa terpaut hatinya, rindu, senantiasa melekat dalam hati, asmara, dan
keputuhan buta terhadap yang dicintai. Adapun kebahagiaan sejati manusia adalah
cinta kepada Allah. Manusia sempurna, paling mulia, paling berharga, paling dekat
kepada Allah, paling kuat, dan paling banyak mendapatkan petunjuk adalah yang
paling sempurna dalam pengabdiannya kepada Allah.
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Filsafat
pendidikan Islam adalah ilmu yang memikirkan masalah kependidikan dalam
mengubah tingkah laku seseorang dengan nilai-nilai islami. Latar belakang dari
timbulnya filsafat pendidikan Islam karna banyaknya persoalan dan perubahan
baru yang timbul didalam dunia pendidikan tersebut dan berusaha untuk menjawab
serta memecahkanya, rasa ingin tahu, dan ditambahnya ide-ide baru dalam dunia pendidikan.
Mulai dari masalah metode, pendekatan, komentar-komentar dll, karena filsafat
berpikir dan mencari solusi untuk mengatasi masalah tersebut khususnya masalah
didalam pendidikan Islam.
Berkembangnya
filsafat itu sendiri berkembang saat munculnya kesadaran atau
pemikiran-pemikiran manusia terhadap potensi dirinya dan mencari kebenarannya.
Ada pun pemikiran-pemikiran tersebut mulai dari pemikiran spiritualisme Kuno,
Yunani, Yunani Kuno abad pertengahan, hingga para tokoh seperti Socrates,
Plato, dan Aristoteles.
Perkembangan
pendidikan Islam yang terjadi di Indonesia secara periodisasi diungkapkan dalam
uraian bagian ketiga. Dengan demikian periodisasi uraian tentang perkembangan
Islam ini mencakup periode sejarah Islam yang terjadi dalam kawasan dunia Islam
dan dalam kawasan Indonesia. Hal ini erat kaitannya dengan kepentingan studi
atau kajian Islam di Indonesia.
B.
Saran
Demikianlah pembahasan
makalah mengenai kajian filsafat pendidikan Islam. Semoga dapat bermanfaat bagi
kita sekalian, kritik dan saran sangat pemakalah harapkan demi untuk perbaikan makalah
kami selanjutnya.
DAFTAR
PUSTAKA
Muzayyin Arifin, Filsafat Pendidikan Islam,
(Bandung: Mizan IKAPI, 2003),
Jalaluddin, dan Abdullah Idi, Filsafat Pendidikan,
(Jakarta: PT RajaGrapindo Persada, 2011),
Zaprulkhan, Filsafat Islam : Sebuah Kajian Tematik,
(Jakarta: Rajawali Pers, 2014)
Abd. Rachman Assegaf, Filsafat Pendidikan Islam,
(Jakarta: Rajawali Pers, 2011)
Ali, Yunasril, Perkembangan Pemikiran Falsafah
dalam Islam,( Jakarta: Bumi Aksara, 1996)
[1] Muzayyin Arifin, Filsafat
Pendidikan Islam, (Bandung: Mizan IKAPI, 2003), hlm. 3
[2] Jalaluddin, dan Abdullah
Idi, Filsafat Pendidikan, (Jakarta: PT RajaGrapindo Persada, 2011), hlm
31
[3] Jalaluddin, dan Abdullah
Idi, Filsafat Pendidikan, … , hlm
32
[4] Muzayyin Arifin, Filsafat
Pendidikan Islam, (Bandung: Mizan IKAPI, 2003), hlm. 9
[5] Muzayyin Arifin, Filsafat
Pendidikan Islam, (Bandung: Mizan IKAPI, 2003), hlm. 10
[6] Jalaluddin, dan Abdullah
Idi, Filsafat Pendidikan, … , hlm
33
[7] Zaprulkhan, Filsafat
Islam : Sebuah Kajian Tematik, (Jakarta: Rajawali Pers, 2014), hlm. 156
[8] Zaprulkhan, Filsafat
Islam : Sebuah Kajian Tematik, … hlm.
158
[9] Abd. Rachman Assegaf, Filsafat
Pendidikan Islam, (Jakarta: Rajawali Pers, 2011), hlm. 19
[10] Abd. Rachman Assegaf, Filsafat
Pendidikan Islam, … hlm. 20
[11] Abd. Rachman Assegaf, Filsafat
Pendidikan Islam, … hlm. 21
[12] Ali, Yunasril, Perkembangan
Pemikiran Falsafah dalam Islam,( Jakarta: Bumi Aksara, 1996), h. 39
No comments:
Post a Comment