Tuesday, May 22, 2018

Makalah Kajian Filsafat Pendidikan Islam dan Tokoh-tokohnya


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar belakang
Mempelajari Filsafat Pendidikan Islam berarti memasuki arena pemikiran yang mendasar, sistematis, logis, dan menyeluruh (universal) tentang pendidikan, yang tidak hanya dilatarbelakangi oleh ilmu pengetahuan agama Islam, melainkan menuntut kita untuk mempelajari ilmu-ilmu yang lain. Melakukan pemikiran filosofis pada hakikatnya adalah menggerakkan semua potensi psikologis manusia seperti pikiran kecerdasan, kemauan, perasaan, ingatan serta pengamatan panca indra tentang gejala kehidupan, terutama manusia dan alam sekitarnya sebagai ciptaan Tuhan.
Seluruh proses pemikiran tersebut didasari pengalaman yang mendalam serta luas tentang masalah kehidupan, kenyataan dalam alam raya, dan dalam dirinya sendiri. Sebagai hasil pemikiran bercorak khas Islam, pada hakikatnya adalah konsep berpikir tentang kependidikan yang bersumber atau berlandaskan ajaran agama Islam, tentang hakikat kemampuan manusia untuk dapat dibina dan dikembangkan serta dibimbing menjadi manusia muslim.
Bila dilihat dari fungsinya, maka filsafat pendidikan Islam merupakan pemikiran yang mendasar yang melandasi dan mengarahkan proses pelaksanaan pendidikan Islam. Oleh karena itu, filsafat ini juga memberikan gambaran tentang latar belakang timbulnya filsafat Pendidikan Islam masih dalam aspek fungsional, filsafat pendidikan Islam juga bertugas melakukan kritik-kritik tentang metode-metode yang digunakan dalam proses pendidikan Islam itu sendiri sekaligus memberikan Pengarahan mendasar bagaimana metode tersebut harus didayagunakan atau diciptakan agar efektif untuk mencapai tujuan.
Adapun latar belakang timbulnya filsafat pendidikan yang sebenarnya bercikal bakal dari filsafat itu sendiri. Sehingga perlu bagi kami mengangkat sebuah judul makalah “latar belakang timbulnya kajian pendidikan Islam” agar kita mengetahui bagaimana lahir dan berkembangnya filsafat pendidikan Islam yang mudah-mudahan dapat menambah perbendaharaan tentang sejarah filsafat pendidikan Islam dan bermanfaat bagi kami juga kita semua. Aamiin.

B.     Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam makalah ini adalah :
1.      Apa pengertian Filsafat Pendidikan Islam?
2.      Apa yang melatar belakangi timbulnya kajian Filsafat Pendidikan Islam?
3.      Perkembangan pemikiran Filsafat Pendidikan ?
4.      Perkembangan Filsafat Pendidikan Islam ?

C.    Tujuan Pembahasan
Adapun tujuan pembahasan makalah ini adalah :
1.      Untuk mengetahui pengertian Filsafat Pendidikan Islam
2.      Untuk mengetahui yang melatar belakangi timbulnya kajian Filsafat Pendidikan Islam
3.      Untuk mengetahui Perkembangan pemikiran Filsafat Pendidikan
4.      Untuk mengetahui Perkembangan Filsafat Pendidikan Islam













BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Filsafat Pendidikan Islam
Filsafat pendidikan pada umumnya dan filsafat pendidikan Islam pada khususnya, adalah bagian dari ilmu filsafat maka dalam mempelajari filsafat itu perlu memahami lebih dahulu tentang pengertian filsafat terutama dalam hubungannya dengan masalah pendidikan, khususnya pendidikan Islam. Secara harfiah, filsafat Pendidikan berarti “cinta kepada ilmu” atau yang memikirkan tentang masalah kependidikan, sedangkan pendidikan Islam itu sendiri adalah usaha mengubah tingkah laku seseorang dengan dilandasi nilai-nilai islami.[1]
Berikut ini dikemukakan pengertian filsafat dalam kaitannya dengan pendidikan pada umumnya dari beberapa ahli pikir sebagai berikut :
1.      John dewey
Memandang pendidikan sebagai suatu proses pembentukan kemampuan dasar yang fundamental, baik menyangkut daya pikir (intelektual) maupun daya perasaan dasar (emosional), menuju kearah tabiat manusia dan manusia biasa. Tugas filsafat dan pendidikan adalah seiring, yaitu sama-sama memajukan hidup manusia.
2.      Thomson
Filsafat di pandang sebagai suatu bentuk pemikiran yang konsekuen, tanpa mengenal kompromi tentang hal-hal yang di ungkap secara menyeluruh dan bulat.[2]
3.      Van Cleve Morris
Menyatakan, secara ringkas mengatakan bahwa Pendidikan adalah studi filosofis, karena ia pada dasarnya bukan alat sosial semata untuk mengalihkan cara hidup secara menyeluruh. pendidikan harus dapat menyerap, mengolah, dan menganalisis dan menjabarkan aspirasi dan idealitas masyarakat.
4.      Brubacher
Filsafat pendidikan adalah filsafat yang memikirkan masalah kependidikan. Oleh karena ada kaitan dengan pendidikan, filsafat diartikan sebagai teori pendidikan.
Dengan segala tingkat karena dengan memahami filsafatnya, orang akan dapat mengembangkan secara konsisten ilmu-ilmu pengetahuan yang di pelajari. Filsafat mengkaji dan memikirkan hakikat segala sesuatu secara menyeluruh, sistematis, terpadu, universal, dan radikal, yang hasil nya menjadi pedoman dan arah dari perkembangan ilmu-ilmu yang bersangkutan. Untuk menyelesaikan masalah kependidikan, ada tiga disiplin ilmu yang membantu filsafat pendidikan yaitu :
a)      Etika atau teori tentang nilai
b)      Teori ilmu pengetahuan atau epistemologi, dan
c)      Teori tentang realitas atau kenyataan dan yang ada di balik kenyataan, yang disebut metafisika.
Filsafat pendidikan Islam adalah ilmu yang memikirkan masalah kependidikan dalam mengubah tingkah laku seseorang dengan nilai-nilai islami.
Filsafat diakui sebagai induk ilmu pengetahuan yang mampu menjawab segala pertanyaan dan permasalahan mulai dari masalah-masalah yang sehubungan dengan alam semesta hingga masalah manusia dengan segala problematika dan kehidupannya.[3]

B.     Latar Belakang Munculnya Kajian Filsafat Pendidikan Islam
Filsafat pendidikan yang membahas permasalahan pendidikan Islam tidak berarti membatasi membahas diri pada permasalahan yang ada di dalam ruang lingkup kehidupan beragama umat Islam yang luas yang berkaitan dengan pendidikan bagi umat Islam. Semua permasalahan bukan nonregilius yang menyangkut permasalahan sosial dan ilmu pengetahuan serta teknologi itu dianalisis secara mendalam, sehingga diperoleh hakikatnya.
Dari segi pandangan Islam karena filsafat bertugas pokok mencari hakikat dari segala sesuatu. Dan dari hakikat itulah timbul pemikiran teori yang pada gilirannya menimbulkan pemikiran tentang strategi dan taktik atau operasionalisasi kependidikan Islam. Dari sinilah timbul pemikiran tentang cara yang tepat untuk melaksanakan ide-ide kependidikan Islam yang dituangkan ke dalam apa yang disebut “Sistem Pendidikan Islam”.
Agama menjadi sumber inspirasi serta motivasi untuk berpikir, menyelidiki, menilai, menyimpulkan, serta menemukan suatu hakikat dari alam raya ini yang bermanfaat bagi umat Islam, yaitu ilmu pengetahuan yang luas dan dalam, meskipun ilmu yang telah di ungkapkan itu belum seberapa dibanding ilmu Allah itu sendiri.
Islam telah mampu mendorong seseorang untuk menyelidiki, menganalisis, menemukan, mengembangkan, serta memperluas ilmu pengetahuan, baik yang berasal dari sumbernya yang asli ajaran Islam, maupun dari kebudayaan lain yang diolah sejalan dengan nilai-nilai Islami. Kemudian hasil-hasil penemuan yang baru atas analisis keilmuan mereka dapat mempengaruhi dunia Barat.[4]
Jika kita memperhatikan pemikiran orang barat yang membahas filsafat mereka sama sekali lepas dari apa yang dikatakan agama. Bagi mereka titik berat filsafat adalah mencari hikmah. Hikmah itu dicari untuk mengetahui suatu keadaan yang sebenarnya apa itu, dari mana itu, hendak kemana, dan bagaimana. Namun pertayaan filosofis itu kalau diteruskan, akhirnya akan sampai dan berhenti pada sesuatu yang disebut agama. Baik filosofis Timur maupun Barat mereka memiliki pandangan yang sama bila sudah sampai pada pertanyaanya “ bisakah permulaan yang ada ini , dan apakah yang sesuatu yang pertama kali terjadi, apakah yang terakhir sekali bertahan didalam ini”. Akan tetapi mereka akan berusaha. Untuk mencari hikmah yang sebenarnya supaya sampai puncak pengetahuan yang tinggi, yaitu Tuhan Yang Maha Mengetahui dan Mahakuasa.
Di antara permasalahan yang tidak dapat dijawab oleh filsafat adalah permasalahan yang terjadi di lingkungan pendidikan. Padahal menurut John Dewey, seorang filsuf Amerika, filsafat merupakan teori umum dan landasan dari semua pemikiran mengenai pendidikan. Tugas filsafat adalah mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan menyelidiki faktor-faktor realitas dan pengalaman yang banyak terdapat dalam lapangan pendidikan.
Salah satu masalah atau persoalan yang terjadi dalam era pendidikan ialah  analisis terhadap berbagai metode, pendekatan, dan produk-produk pemikiran sejak era klasik hingga abad modern. Konsep-konsep normatif Islam yang terdapat dalam kedua sumber Islam yakni Al-Qur’an dan Sunnah, merupakan sumber sebagai paradigma dalam memotret segala persoalan. Beragam pemaknaan yang dilakukan oleh para ilmuwan muslim terhadap kedua sumber fundamental Islam tersebut sehingga melahirkan puspa ragam wacana keagamaan, sosial, ekonomi, politik, budaya, dan bahkan membentuk peradapan pada zaman klasik Islam.
Pendidikan islam dipengaruhi oleh multifikator, kondisi, dan problem yang kompleks. Maju mundurnya teori dan praktik pendidikan islam diakibatkan oleh komplektifitas problem tersebut. Problem dimaksud berupa segala persoalan yang inhern dalam pendidikan, yakni problem internal, maupun berada di luar jangkauan bidang pendidikan, yakni problem eksternal yang secara tak langsung berpengaruh, seperti masalah pengangguran, kemiskinan, etos kerja, stabilitas politik, lemahnya penegakkan hukum dan lain-lain terkait dengan bidang hukum, sosial, ekonomi, dan politik.problem eksternal ini amat rumit dan karena keterbatasan ruang, maka analisi problem pendidikan islam yang hendak diuraikan dalam tulisan ini difokuskan pada problem internal saja.[5]
Problem internal yang dihadapi oleh pendidikan islam meliputi lemahnya visi atau tidak jelasnya arah pendidikan yang dilaksanakan, penekanan yang tidak seimbang antara pembentukan kepribadaan yang utama dalam diri seorang muslim dengan peranan sosialnya ditengah umat, di mana hal ini menyebabkan timbulnya kesalahan individual dan mengesampingkan tekologi yang dianggapnya tidak ada hubungan sama sekali dengan kesalehan dan ketaqwaan. Problem paradigma berpikir normatif-deduktif masih lazim dijumpai dalam pendidikan islam secara umum, bukan hanya di indonesia, tetapi juga di negara-negara islam lainnya. Tetapi juga di negara-negara islam lainnya. Berikut ini adalah penjelasannya :
1.      Lack Of Vision
Ismail Raji al-Faruqi menilai bahwa problem yang belum terselesaikan dari gejala rendahnya standar kelembagaan di dunia islam adalah konsekuensidari lemahnya visi ini. Lemahnya visi ini menyebabkan mereka sebagai alat jiplakan. Secara tak sadar, materi dan metodologi tanpa spirit ini terus menerus menimbulkan proses de-Islamisasi yang memengaruhi para pelajar dengan anggapannya bahwa hal tersebut merupakan pendidikan Islam alternatif, atau sebagai agen perubahan dan modernisasi.
2.      Kesalehan Individual dan Ketertinggalan Teknologi
Penyempitan makna kepribadian menimbulkan dampak yang besar atas sikap mereka terhadap sains dan teknologi. Seolah-olah sains dan teknologi tidak ada kaitannya dengan kesalehan dan ketakwaan. Padahal, justru di bidang dengan negara-negara lain. Sampai saat ini umat Islam masih jauh tertinggal dengan negara-negara lain dalam hal ini ilmu teknologi modern praktis di semua penganut agama besar di muka bumi ini, para pemeluk Islam adalah yang paling rendah dalam sains dan teknologi.
3.      Problem Epistemologis : Dikotomi Ilmu
Akibat berangkai dari pola pikir pendidikan yang dikotomis ini adalah terjadi disharmoni relasi antara pemahan ayat-ayat ilahiah dengan ayat-ayat kauniyah, antara iman dengan ilmu, antara ilmu dengan amal, antara dimensi duniawi dengan ukhrawi, dan relasi antara dimensi ketuhanan (teosentris) dengan kemanusiaan (antroposentris).
4.      Tradisi Berpikir Normatif-Deduktif
Bilamana pendidikan Islam dewasa ini lebih mengarah pada pola mengajar tersebut, maka dampaknya bisa dirasakan pada proses dan hasilnya. Proses pengajaran agama Islam cendrung dilaksanakan dalam bentuk hafalan dan penguasaan materi sebanyak-banyaknya. Bergesernya praktik pendidikan menjadi lebih identik dengan mengajar ini menimbulkan penekanan yang tidak seimbang pada aspek pengetahuan (kognitif) semata.
Namun, justru dengan melakukan kajian secara historis-sosiologis terhadap berbagai pemikiran Islam dengan sumber Al-Qur’an dan Sunnah Nabi, dapat ditemukan sejumlah kendala atau problematika bagi kemajuan umat Islam secara umum dan khususnya pula bagi kemajuan dalam dunia pendidikan Islam.
Para sejarahwan filsafat percaya bahwa pemikiran paling kuno yang murni atau sebagian besarnya filosofis yang berasal dari kalangan Yunani, kira-kira enam abad yang lalu. Para sejarahwan juga menyebutkan nama-nama mereka yang berupaya mengenal wujud, permulaan dan keberakhiran alam raya. Socrates dialah orang yang menamai dirinya dengan philosophus, pecinta kebijaksaaan. Ungkapan ini lantas di Arabkan menjadi failasuf dan darinya pula kata falsafah diambil. Sejak pertama kali Socrates menyebut dirinya sebagai filosof, dan istilah filsafat digunakan semenjak itu.[6]
Orang Yunani yang hidup pada abad ke-6 SM mempunyai kepercayaan bahwa kebenaran yang diterima semuanya bersumber dari mitos ke logos. Ini berarti kebenaran yang dapat diterima akal tidak berlaku. Namun sesudah abad ke-6 SM muncullah sejumlah ahli pikir yang menentang mitos tersebut, sehingga misteri alam semesta jawabannya dapat diterima oleh akal. Hal ini sekaligus merupakan cikal bakal filsafat.
Filsafat dan pendidikan memiliki hubungan hakiki dan timbal balik, maka berdirilah filsafat pendidikan yang berusaha menjawab dan memecahkan persoalan-persoalan pendidikan yang bersifat filosofis dan memerlukan jawaban secara filosofis pula. Dengan kata lain, kemunculan filsafat pendidikan ini disebabkan banyaknya perubahan dan permasalahan yang timbul di lapangan pendidikan yang tidak mampu dijawab oleh ilmu filsafat. Ditambah dengan banyaknya ide-ide baru dalam dunia pendidikan yang berasal dari tokoh-tokoh filsafat Yunani.
Tanpa sikap kritis untuk memisahkan mana yang baik dan mana yang buruk. Jadi ada sikap terhadap tradisi dalam konsep tradisonalitas. Namun tradisi, belum tentu semua unsurnya tidak baik, maka harus dilihat dan diteliti mana yang baik untuk dipertahankan dan diikuti. Sikap tradisionalitas itulah salah satu faktor penyebab munculnya ilmu-ilmu filsafat pendidikan islam mengalami kemajuan dari tradisi tradisional ke modern dalam dunia pendidikan Islam, yang mana masalahnya yang bercorak hanya bersifat penghafalan, pengulangan, dan komentar-komentar terhadap pendidikan Islam.
Sehingga perlunya pembaharuan di bidang metode dan pendekatan pendidikan Islam, yaitu beralih dari metode mengulang-ulang dan mengahafal pelajaran ke metode memahami dan manganalisis. Selama ini, sistem pendidikan Islam lebih cenderung berkonsentrasi pada buku-buku ketimbang subjek. Peserta didik hanya belajar menghafal, bukan mengelolah pikiran secara kreatuf. Sehubungan dengan praktik ini, pertumbuhan konsep pengetahuan menjadi rusak. Ilmu pengetahuan bukan merupakan sesuatu yang kreatif, melainkan sesuatu yang diperoleh, karena itulah metode menghafal harus diganti dengan metode memahami dan menganalisis secara krisis-konstruktif.[7]
Sehingga itulah kajian filsafat pendidikan Islam muncul untuk menjawab persoalan atau permasalahan atau pendapat-pendapat baru yang terjadi dari era kependidikan mulai dari masalah metode, pendekatan, komentar-komentar dll, karena filsafat berpikir dan mencari solusi untuk mengatasi masalah tersebut khususnya masalah didalam pendidikan Islam.

D.    Perkembangan Pemikiran Filsafat Pendidikan
Dalam sejumlah literatur yang membahas tentang filsafat dijelaskan, bahwa filsafat berkembang dari munculnya kesadaran manusia terhadap potensi dirinya, khususnya akal budi. Awal pemikiran filsafat muncul sebagai reaksi terhadap kungkungan mitologi, dimana manusia dibelenggu oleh kepercayaan bahwa kehidupan alam dikuasai yang dimunculkan oleh mitos.
Penelitian merupakan bagian dari upaya manusia untuk menemukan apa yang disebut kebenaran. Sementara kebenaran itu telah ada sebelum manusia itu ada. Ia berada diluar alam manusia. Kebenaran itu sendiri bukanlah sesuatu yang statis melainkan terus berkembang. Dorongan ingin tahu yang ada pada dirinya, selalu mendorong manusia untuk terus mengembangkan “pencaharian” tersebut. Dengan demikian, upaya untuk menemukan kebenaran itu sendiri merupakan aktivitas tanpa henti.[8]
Perkembangnya filsafat itu sendiri berkembang saat munculnya kesadaran atau pemikiran-pemikiran manusia terhadap potensi dirinya dan mencari kebenaran karna rasa ingin tahunya.
1.      Perkembangan  pemikiran Filsafat Spiritualisme Kuno
Dari uraian diatas dapat diketahui filsafat mulai berkembang dan berubah fungsi, dari sebagai induk ilmu pengetahuan menjadi semacam pendekatan kembali sebagai ilmu pengetahuan yang telah berkembang pesat dan terpisah satu dengan lainnya. Jadi, jelaslah bagi kita bahwa filsafat berkembang sesuai perputaran zaman. Paling tidak, sejarah filsafat lama membawa manusia untuk mengetahui cerita dalam katagori filsafat spiritualisme kuno.
a.       Timur Jauh
Di India berkembang filsafat Spiritualisme, Hinduisme, dan Budhisme. Sedangkan Jepang berkembang Shintoisme. Begitu juga di China, berkembang Toisme dan Komfusianisme.
b.      Timur Tengah
1)      Yang berkembang adalah di Yahudi dan Kristen.
2)      Romawi danYunani: Antromornisme
3)      Antromornisme merupakan suatu paham yang menyamakan sifat-sipat Tuhan dengan sifat-sifat manusia (yang di ciptakan). Misalnya tentang tuhan di samakan dengan tangan manusia. Paham ini muncul zaman patristik dan skolastik, pada akhir zaman kuno atau zaman pertengahan filsafat barat di pengaruhi oleh pemikiran Kristian.
2.      Reaksi Terhadap Spritualisme Di Yunani
Spritualisme merupakan suatu aliran filsafat yang mementingkan kerohanian, lawan dari materialisme. Namun demikian, ternyata ada beberapa filosof yang merasa kurang puas dengan aliran spritualisme, mereka menganggap aliran ini tidak sesuai dengan ilmu pengetahuan ilmiah. Maka lahirlah aliran materialism. Diantara tokonya adalah Leukipos dan Demokritus (460-370 SM), yang menyatakan bahwa semua kejadian alam adalah atom, dan semuanya adalah materi.[9]
a)      Idealisme
Aliran ini memandang dan menganggap yang nyata hanyalah nyata. Nyata selalu tetap tidak mengalami perubahan dan pergeseran yang mengalami gerak tidak di kategorikan.
b)      Materialisme
Mereka berpendapat bahwa kejadian seluruh alam terjadi karena atom kecil, yang menpunyai bentuk dan bertubuh, jiwa pun dari atom kecil yang mempunyai bentuk bulat dan mudah bereaksi untuk mengadakan gerak.
c)      Rasionalisme
Aliran rasionalisme memandang akal di anggap sebagai perantara khusus untuk menentukan kebenaran dalam ilmu pengetahuan.
3.      Pemikiran Filsafat Yunani Kuno Hingga Abad Pertengahan
Pada masa ini, keterangan-keterangan mengenai alam semesta dan penghuninya masih berdasarkan kepercayaan. Dan karena para filsuf belum puas atas keterangan itu, akhirnya mereka mencoba mencari keterangan melalui budinya. Oleh karena itu filsuf-filsuf berusaha mencari inti alam, maka mereka di sebut filsuf alam dan filsafat mereka disebut filsafat alam.
Masa pra-socrates di warnai pula oleh munculnya kaum sofisme.
4.      Pemikiran filsafat pendidikan menurut Socrates (470-399 SM)
Prinsip dasar pendidikan, menurut Socrates adalah metode dialektis. Meode ini di gunakan Socrates sebagai dasar teknis pendidikan yang di rencanakan untuk mendorong seseorang berpikir cermat, untuk menguji coba diri sendiri dan untuk memperbaiki pengetahuannya.
5.      Pemikiran filsafat pendidikan menurut Plato ( 427-347 SM )
Menurut Plato, idealnya dalam sebuah Negara pendidikan memperoleh tempat yang paling utama dan mendapatkan perhatian yang yang sangat mulia, maka ia harus di selenggarakan oleh Negara.
6.      Pemikiran filsafat pendidikan menurut Aristoteles (367-345 SM)
Pendidikan bukanlah soal akal semata-mata, melainkan soal memberi bimbingan kepada perasaan-perasaan yang lebih tinggi yaitu akal guna mengatur nafsu-nafsu. Akal sendiri tidak berdaya, sehingga ia memerlukan dukungan perasaan yang lebih tinggi agar di arahkan secara benar.[10]

E.     Perkembangan Filsafat Pendidikan Islam
Perkembangan  pendidikan Islam pada hakikatnya tidak terlepas dari sejarah Islam. Oleh sebab itu periodisasi sejarah pendidikan Islam itu sendiri. Secara garis besar Dr. Harun Nasution membagi sejarah Islam ke dalam tiga periode, yaitu periode klasik, pertengahan dan modern. Kemudian perinciannya dapat dibagi menjadi 5 masa, yaitu :
1.      Masa hidupnya Nabi Muhammad SAW (571-632 M).
2.      Masa khalifah yang empat (Khulafaur Rasyidin : Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali di madinah/632-661 M).
3.      Masa kekuasaan Umawiyah di Damsyik (661-750 M).
4.      Masa kekuasaan Abbasiyah di Bagdad (750-1250 M).
5.      Masa dari jatuhnya kekuasaan khalifah di Bahdad tahun 1250 M sampai sekarang.
Pembagian 5 masa di atas dalam kaitannya dengan periodisasi sejarah pendidikan Islam nampak sebagaimana diuraikan pada bagian kedua. Akan tetapi dalam kaitannya dengan kajian pendidikan Islam di indonesia, maka cakupan pembahasannya akan berkaitan dengan sejarah Islam di indonesia dengan fase-fase sebagai berikut :
1.      Fase datangnya Islam ke Indonesia.
2.      Fase pengembangan dengan melalui proses adaptasi.
3.      Fase berdirinya kerajaan-kerajaan Islam (proses politik).
4.      Fase kedatangan orang Barat (zaman penjajahan).
5.      Fase penjajahan Jepang.
6.      Fase Indonesia merdeka.
7.      Fase pembangunan.[11]
Perkembangan pendidikan Islam yang terjadi di Indonesia secara periodisasi diungkapkan dalam uraian bagian ketiga. Dengan demikian periodisasi uraian tentang perkembangan Islam ini mencakup periode sejarah Islam yang terjadi dalam kawasan dunia Islam dan dalam kawasan Indonesia. Hal ini erat kaitannya dengan kepentingan studi atau kajian Islam di Indonesia.



F.     Tokoh Filsafat Pendidikan Islam
1.      Al-Kindi (185 H/801 M-260/873 M)
Al-Kindi adalah filosof Muslim pertama. Nama lengkapnya adalah Abu Yusuf Ya’kub ibn Ishaq ibn Sabbah ibn Imran ibn Ismail bin Qais al-Kindi. Kindah adalah salah satu suku Arab besar pra-Islam. Ia dilahirkan di Kufah dan di sana ia mempelajari berbagai macam pengetahuan terutama sastra dan filsafat. Ia juga menguasai bahasa Yunani dan menerjemahkan karya-karya Yunani seperti Enneads karya Plotinus. Al- Qifti menyebutnya sebagai filsof Arab, sedangkan Ibn Nabatah menyebutnya sebagi filsuf Muslim. Karya-karyanya antara lain: Fi al-Qaul fi al-Nafs (Pendapat tentang Jiwa), Kalam fi al-Nafs (Pembahasan tentang Jiwa), Mahiyah al-Naum wa al-Ru’ya (Substansi Tidur dan Mimpi); Fi al-Aql (Tentang Akal);, dan al-Hilah li Daf’i al-Ahzan (Kiat Melawan Kesedihan). Ide-idenya banyak dipengaruhi ole ide-ide Aristoteles, Plato, dan Plotinus.[12]
Menurut al-Kindi, jiwa manusia terbagi menjadi tiga bagian, yaitu jiwa syahwat, jiwa emosional, dan jiwa rasional. Jiwa-jiwa itu akan tetap kekal meski badan telah hancur. Jiwa tumbuhan berfungsi untuk makan, tumbuh, dan berkembang biak. Jiwa hewani berfungsi sebagai penginderaan, imajinasi, dan gerak disamping makan, tumbuh dan berkembang biak. Jiwa rasional berfungsi untuk berpikir. Jiwa itulah yang dimiliki mansuia. Karenanya manusia disebut makhluk berpikir (al-hayawan al-nathiq). Adapun jiwa rasional atau akal dibagi menjadi akal yang selalu aktif . Akal ini merupakan Akal Pertama, yaitu Allah SWT. Akal potensial , yaitu kesiapan yang ada pada mansuia untuk memahami hal-hal yang rasional. Akal yang berubah di dalam jiwa, dari potensi menjadi actual. Akal ini disebut sebagai akal kepemilikan (al-‘aql bi al-malakah) dan akal mustafaz yang berarti bahwa awalnya ia tidak menjadi milik jiwa kemudian menjadi miliknya. Akal lahir, yaitu jika akal serius memahami hal-hal yang rasional atau mengubahnya menjadi yang lain, maka pada saat itu ia disebut akal lahir. Manusia terkadang mengalami kesedihan. Menurut al-Kindi dalam bukunya Kiat Melawan Kesedihan, kesedihan merupakan gangguan psikis (neurosis) yang terjadi karena kehilangan hal-hal yang dicintai dan yang diinginkan. Obat untuk menghilangkan kesedihan adalah berpikir rasional dan melakukan kebiasaan yang terpuji seperti sabar dan menjauhi hal-hal yang sepele, kemudian disiplin atas kebiasaan terpuji. Bila kesedihan akibat perbuatan sendiri, maka caranya adalah menjauhkan perbautan tersebut. Adapun bila kedihan akibat perbuatan orang lain, maka kita tidak boleh bersedih bila sesuatu itu belum terjadi, bila terjadi berusahalah agar kesdihan tidak berlarut-larut. Kita juga hendaknya mengetahui sebab-sebab kesedihan, cerdas dan bijak dalam mengatasinya. Kebahagiaan sejati manusia bukanlah yang bersifat duniawi, inderawi, dan artificial, tetapi kenikmatan yang bersifat ilahiah dan rohaniah. Karena itu kebahagiaan sejati adalah kebahagiaan merasa dekat dengan Allah SWT.
2.      Al-Farabi (259-339 H/872-950 M)
Namanya adalah Abu Nashr Muhammad bin Muhammad Tharkhan bin Uzalag. Ia adalah Maha Guru Kedua (The Second Master) setelah Guru Petama Aristoteles. Ia merupakan ahli filsafat ternama yang mengarang buku Ara Ahl Madinah al-Fadhilah (Masdyarakat Utama), tahshil al-sa’adah, Risalah fi al-Aql, Fushus al-Hikam, al-Siyasah al-Madaniyah, dan al-Da’wai al-Qalbiyah. Menurutnya, mansia terdiri dari badan dan jiwa. Manusia dikatakan menjadi sempurna bila menjadi makhluk yang bertindak. Anggota tubuh manusia merupakan perantara untuk menjalankan kehendak jiwa. Ia juga membagi tiga jenis jiwa, yaitu iwa tumbuhan, hewan, dan manusia. Ketiga filosuf Muslim di atas merupakan filsuf aliran masysya’i (perpatetik), yang pemikirannya sangat dipengaruhi oleh Aristoteles, kemudian mencapai puncaknya pada Syekh al-Rais Ibn Sina. Pemikiran ntentang jiwa manusia dan intelek merupakan kelanjutan dari ketiga filsuf di atas. Karenanya akan dibahas secara panjang lebar pada pembahasan tentang Ibn Sina.

3.      Ibnu Sina
Nama lengkapnya Abu Ali al- Husien ibn Abdullah ibn Hasan ibn Ali ibn Sina. Ia dilahirkan didesa Afsyanah, dekat Buhkara, Persia Utara pada 370 H. Ia mempunyai kecerdasan dan ingatan yang luar biasa sehingga dalam usia 10 tahun telah mampu menghafal Al-Qur’an, sebagian besar sastra Arab dan juga hafal kitab metafisika karangan Aristoteles setelah dibacanya empat puluh kali. Pada usia 16 tahun ia telah banyak menguasai ilmu pengetahuan, sastra arab, fikih, ilmu hitung, ilmu ukur, filsafat dan bahkan ilmu kedokteran dipelajarinnya sendiri.
4.      Jalaluddin Rumi
Rumi lahir di Balk, Afghanistan pada tahun 604 H/1207 M. Ia lebih dikenal sebagai mistikus Islam (sufi). Karyanya-karyanya dalam bentuk syair-syair di antaranya Matsani dan Divani. Menurut Runi, tujuan utama penciptaan terpenuhi melalui diri para nabi dan orang-orang suci. Mereka dapat mengaktualisasikan seluruh potensi yang dimiliki manusia. Para nabi dan Adam adalah prototipe kesempurnaan manusia. Rumi menunjuk pada Adam, dan menggunbakan istilah adami, yang berarti “manusia” dan kesempurnaan kondisi rohaniahnya. Rumi menggambarkan tiga corak makhluk: malaikat, manusia, dan binatang; dan tiga corak manusia: manusia malaikat, mansuia biasa, dan manusia binatang. Corak yang pertama adalah para nabi dan orang-orang suci, yang kedua manusia kebanyakan, atau orang awam, dan ketiga orang-orang kafir atau para pengikut syetan.
5.      Ibn Taimiah (661-728/1263-1328 M)
Ibn Taimiah bergelar Guru Besar Islam (Syaikh al-Islam). Berasal dari keluarga terhormat yang terkenal karena ilmu dan agamanya. Lahir di Haran pada 661 H. ia menguasai berbagai disiplin ilmu dengan kekuatan yang laur biasa. Ia seorang ulama yang teguh memegang prinspi dan dikenal sebagai tokoh salafi yang menyerukan terbukanya pintu ijtihad di kalangan umat Islam. Wafat di penjara tahun 728. karya-karya antara lain: Ilm al-Suluk, Amradh al-Qulub, Majmu al-Rasail, dan sebagainya. Ibn Taimiah berbicara kebutuhan manusia. Menurutnya, kebutuhan manusia ada dua macam, yaitu primer seperti makan, minum, tempat tinggal, nikah, dan lain-lain yang dibutuhkan untuk mempertahankan hidupnya. Kedua, kebutuhan yang tidak terlalu dibutuhkan yang disebut kebutuhan sekunder. Manusia tidak boleh mengaitkan hatinya dengan kebutuhan-kebutuhan itu. Manusia mencintai sesuatu tetapi cinta tertinggi adalah cinta kepada Allah dan rasuln-Nya. Tingkat cinta manusia adalah: senantiasa terpaut hatinya, rindu, senantiasa melekat dalam hati, asmara, dan keputuhan buta terhadap yang dicintai. Adapun kebahagiaan sejati manusia adalah cinta kepada Allah. Manusia sempurna, paling mulia, paling berharga, paling dekat kepada Allah, paling kuat, dan paling banyak mendapatkan petunjuk adalah yang paling sempurna dalam pengabdiannya kepada Allah.




BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Filsafat pendidikan Islam adalah ilmu yang memikirkan masalah kependidikan dalam mengubah tingkah laku seseorang dengan nilai-nilai islami. Latar belakang dari timbulnya filsafat pendidikan Islam karna banyaknya persoalan dan perubahan baru yang timbul didalam dunia pendidikan tersebut dan berusaha untuk menjawab serta memecahkanya, rasa ingin tahu, dan ditambahnya ide-ide baru dalam dunia pendidikan. Mulai dari masalah metode, pendekatan, komentar-komentar dll, karena filsafat berpikir dan mencari solusi untuk mengatasi masalah tersebut khususnya masalah didalam pendidikan Islam.
Berkembangnya filsafat itu sendiri berkembang saat munculnya kesadaran atau pemikiran-pemikiran manusia terhadap potensi dirinya dan mencari kebenarannya. Ada pun pemikiran-pemikiran tersebut mulai dari pemikiran spiritualisme Kuno, Yunani, Yunani Kuno abad pertengahan, hingga para tokoh seperti Socrates, Plato, dan Aristoteles.
Perkembangan pendidikan Islam yang terjadi di Indonesia secara periodisasi diungkapkan dalam uraian bagian ketiga. Dengan demikian periodisasi uraian tentang perkembangan Islam ini mencakup periode sejarah Islam yang terjadi dalam kawasan dunia Islam dan dalam kawasan Indonesia. Hal ini erat kaitannya dengan kepentingan studi atau kajian Islam di Indonesia.

B.     Saran
Demikianlah pembahasan makalah mengenai kajian filsafat pendidikan Islam. Semoga dapat bermanfaat bagi kita sekalian, kritik dan saran sangat pemakalah harapkan demi untuk perbaikan makalah kami selanjutnya.  


DAFTAR PUSTAKA

Muzayyin Arifin, Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: Mizan IKAPI, 2003),

Jalaluddin, dan Abdullah Idi, Filsafat Pendidikan, (Jakarta: PT RajaGrapindo Persada, 2011),

Zaprulkhan, Filsafat Islam : Sebuah Kajian Tematik, (Jakarta: Rajawali Pers, 2014)

Abd. Rachman Assegaf, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Rajawali Pers, 2011)

Ali, Yunasril, Perkembangan Pemikiran Falsafah dalam Islam,( Jakarta: Bumi Aksara, 1996)





[1] Muzayyin Arifin, Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: Mizan IKAPI, 2003), hlm. 3
[2] Jalaluddin, dan Abdullah Idi, Filsafat Pendidikan, (Jakarta: PT RajaGrapindo Persada, 2011), hlm 31
[3] Jalaluddin, dan Abdullah Idi, Filsafat Pendidikan,  … , hlm 32
[4] Muzayyin Arifin, Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: Mizan IKAPI, 2003), hlm. 9
[5] Muzayyin Arifin, Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: Mizan IKAPI, 2003), hlm. 10
[6] Jalaluddin, dan Abdullah Idi, Filsafat Pendidikan,  … , hlm 33
[7] Zaprulkhan, Filsafat Islam : Sebuah Kajian Tematik, (Jakarta: Rajawali Pers, 2014), hlm. 156
[8] Zaprulkhan, Filsafat Islam : Sebuah Kajian Tematik,  … hlm. 158
[9] Abd. Rachman Assegaf, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Rajawali Pers, 2011), hlm. 19
[10] Abd. Rachman Assegaf, Filsafat Pendidikan Islam,  … hlm. 20
[11] Abd. Rachman Assegaf, Filsafat Pendidikan Islam,  … hlm. 21
[12] Ali, Yunasril, Perkembangan Pemikiran Falsafah dalam Islam,( Jakarta: Bumi Aksara, 1996), h. 39

No comments:

Post a Comment