ABSTRAK
Dalam melakukan analisis regresi, sebagian besar mahasiswa biasanya
tidak melakukan pengamatan populasi secara langsung. Hal itu dilakukan selain
pertimbangan waktu, tenaga, juga berdasarkan pertimbangan biaya yang relatif
besar jika melakukan pengamatan terhadap populasi. Dalam hal ini, lazimnya
digunakan persamaan regresi linier sederhana sampel sebagai penduga persamaan
regresi linier sederhana populasi dengan bentuk persamaan seperti berikut : y =
a + bX. Dan karena antara Y dan X memiliki hubungan, maka nilai X dapat
digunakan untuk menduga atau meramal nilai Y. X dinamakan variabel bebas karena
variabel ini nilai-nilainya tidak bergantung pada variabel lain. Dan Y disebut
variabel terikat juga karena variabel yang nilai-nilainya bergantung pada
variabel lain. Hubungan antar variabel yang akan dipelajari disini hanyalah
hubungan linier sederhana, yakni hubungan yang hanya melibatkan dua variabel (X
dan Y) dan berpangkat satu.
Regresi sederhana, adalah bentuk regresi dengan model yang bertujuan
untuk mempelajari hubungan antara dua variabel, yakni variabel independen
(bebas) dan variabel dependen (terikat). Jika ditulis dalam bentuk persamaan,
model regresi sederhana adalah y = a + bx, di mana, y adalah variabel tak bebas
(terikat), X adalah variabel bebas, a adalah penduga bagi intercept (α), b
adalah penduga bagi koefisien regresi (β). Atau dengan kata lain α dan β adalah
parameter yang nilainya tidak diketahui sehingga diduga melalui statistik
sampel.
REGRESI
LINEAR
A. Pengertian Analisis Regresi
Sir Francis Galton (1822 – 1911), memperkenalkan model
peramalan, penaksiran, atau pendugaan, yang selanjutnya dinamakan regresi,
sehubungan dengan penelitiannya terhadap tinggi badan manusia. Penelitian
tersebut membandingkan antara tinggi anak laki-laki dan tinggi badan ayahnya.
Galton menunjukkan bahwa tinggi badan anak laki-laki dari ayah yang tinggi
setelah beberapa generasi cenderung mundur (regressed) mendekati nilai tengah
populasi. Dengan kata lain, anak laki-laki dari ayah yang badannya sangat tinggi
cenderung lebih pendek dari pada ayahnya, sedangkan anak laki-laki dari ayah
yang badannya sangat pendek cenderung lebih tinggi dari ayahnya. (Ronal E.
Walpole). Analisis regresi digunakan untuk menentukan bentuk (dari) hubungan
antar variabel. Tujuan utama dalam penggunaan analisis ini adalah untuk
meramalkan atau menduga nilai dari satu variabel dalam hubungannya dengan
variabel yang lain yang diketahui melalui persamaan garis regresinya.
Adakalanya, setelah kita memperoleh data berdasarkan
sampel, kita ingin menduga nilai dari suatu variabel Y yang bersesuaian dengan
nilai tertentu dari variabel X. Hal ini diperoleh dengan menaksir nilai Y dari
kurva kuadrat minimum yang sesuai dengan data yang kita himpun dari sampel.
Kurva yang diperoleh dan kita bentuk dari data sampel itu disebut kurva regresi
Y terhadap X, karena Y diduga dari X.
Dalam melakukan analisis regresi, sebagian besar
mahasiswa biasanya tidak melakukan pengamatan populasi secara langsung. Hal itu
dilakukan selain pertimbangan waktu, tenaga, juga berdasarkan pertimbangan
biaya yang relatif besar jika melakukan pengamatan terhadap populasi. Dalam hal
ini, lazimnya digunakan persamaan regresi linier sederhana sampel sebagai
penduga persamaan regresi linier sederhana populasi dengan bentuk persamaan
seperti berikut : y = a + bX. Dan karena antara Y dan X memiliki hubungan, maka
nilai X dapat digunakan untuk menduga atau meramal nilai Y. X dinamakan
variabel bebas karena variabel ini nilai-nilainya tidak bergantung pada
variabel lain. Dan Y disebut variabel terikat juga karena variabel yang
nilai-nilainya bergantung pada variabel lain. Hubungan antar variabel yang akan
dipelajari disini hanyalah hubungan linier sederhana, yakni hubungan yang hanya
melibatkan dua variabel (X dan Y) dan berpangkat satu.
Regresi sederhana, adalah bentuk regresi dengan model
yang bertujuan untuk mempelajari hubungan antara dua variabel, yakni variabel
independen (bebas) dan variabel dependen (terikat). Jika ditulis dalam bentuk
persamaan, model regresi sederhana adalah y = a + bx, di mana, y adalah
variabel tak bebas (terikat), X adalah variabel bebas, a adalah penduga bagi
intercept (α), b adalah penduga bagi koefisien regresi (β). Atau dengan kata
lain α dan β adalah parameter yang nilainya tidak diketahui sehingga diduga
melalui statistik sampel.
Menurut kelaziman, dalam ilmu statistika ada dua macam
hubungan antara dua variabel yang relatif sering digunakan, yakni bentuk
hubungan dan keeratan hubungan. Bentuk hubungan bisa diketahui melalui analisis
regresi, sedangkan keeratan hubungan dapat diketahui dengan analisis korelasi.
Analisis regresi dipergunakan untuk menelaah hubungan antara dua variabel atau
lebih, terutama untuk menelusuri pola hubungan yang modelnya belum diketahui
dengan baik, atau untuk mengetahui bagaimana variasi dari beberapa variabel
independen mempengaruhi variabel dependen dalam suatu fenomena yang kompleks.
Jika X1, X2, ...., Xn, adalah variabel-variabel independen dan Y adalah
variabel dependen, maka terdapat hubungan fungsional antara X dan Y, di mana
variasi dari X akan diiringi pula oleh variasi dari Y. Jika dibuat secara
matematis hubungan itu dapat dijabarkan sebagai berikut: Y = f(X1, X2, .....,
Xn, e), di mana Y adalah variabel dependen (tak bebas), X adalah variabel
independen (bebas) dan e adalah variabel residu (disturbace term).
Berkaitan dengan analisis regresi ini, setidaknya ada
empat kegiatan yang lazim dilaksanakan yakni : (1) mengadakan estimasi terhadap
parameter berdasarkan data empiris, (2) menguji berapa besar variasi variabel
dependen dapat diterangkan oleh variasi independen, (3) menguji apakah estimasi
parameter tersebut signifikan atau tidak, dan (4) melihat apakah tanda
magnitude dari estimasi parameter cocok dengan teori.
Hubungan antar variabel dapat berupa hubungan linier
ataupun hubungan tidak linier. Misalnya, berat badan orang dewasa sampai pada
tahap tertentu bergantung pada tinggi badan, keliling lingkaran bergantung pada
diameternya, dan tekanan gas bergantung pada suhu dan volumenya. Atau dalam
ilmu pemasaran, nilai penjualan akan bergantung pada biaya promosi.
Hubungan-hubungan itu bila dinyatakan dalam bentuk matematis akan memberikan
persamaan-persamaan tertentu. Untuk dua variabel, hubungan liniernya dapat
dinyatakan dalam bentuk persamaan linier, yakni: Y = a + bX. Hubungan antara
dua variabel pada persamaan linier jika digambarkan secara (scatter diagram),
semua nilai Y dan X akan berada pada suatu garis lurus. Dan dalam ilmu ekonomi,
garis itu dinamakan garis regresi.
B. Kegunaan Analisis Regresi
Analisis regresi dalam statistika adalah salah satu metode untuk menentukan hubungan sebab -akibat
antara satu variabel dengan variabel (-variabel) yang lain. Variabel
"penyebab" disebut dengan bermacam-macam istilah: variabel
penjelas, variabel eksplanatorik, variabel independen,
atau secara bebas, variabel X (karena sering kali digambarkan
dalam grafik sebagai absis, atau sumbu X). Variabel terkena akibat dikenal sebagai variabel
yang dipengaruhi, variabel dependen, variabel terikat,
atau variabel Y. Kedua variabel ini dapat merupakan variabel acak (random), namun
variabel yang dipengaruhi harus selalu variabel acak.
Analisis regresi adalah salah satu analisis yang paling populer
dan luas pemakaiannya. Hampir semua bidang ilmu yang memerlukan analisis sebab
- akibat boleh dipastikan mengenal analisis ini. Analisis regresi dan analisis
korelasi dikembangkan untuk mengkaji dan mengukur hubungan antara dua variabel
atau lebih. Dalam analisis regresi dikembangkan persamaan estimasi untuk
mendeskripsikan pola atau fungsi hubungan antara variabel-variabel. Sesuai
dengan namanya, persamaan estimasi atau persamaan regresi itu digunakan untuk
mengestimasi nilai dari suatu variabel berdasarkan nilai variabel lainnya.
Variabel yang di estimasi itu disebut variabel dependen (atau variabel terikat)
sedangkan variabel yang diperkirakan memengaruhi variabel dependen itu disebut
variabel independen (atau variabel bebas). Variabel dependen lazimnya dilukis
pada sumbu- Y (dan karenanya diberi simbol Y) sementara variabel independen
dilukis pada sumbu- X (dan karenanya diberi simbol X). Berdasarkan konsep ini,
maka hubungan antara variabel Y dan X dapat diwakili dengan sebuah garis
regresi. Di samping untuk mengestimasi, analisis regresi juga digunakan untuk
mengukur tingkat ketergantungan (dependability) dari estimasi itu.
Analisis korelasi digunakan untuk mengukur tingkat
kedekatan (closeness) hubungan antar variabel-variabel. Dengan kata lain,
analisis regresi mempertanyakan pola hubungan fungsional sedangkan analisis
korelasi mempertanyakan kedekatan hubungan antar variabel-variabel. Walaupun
dimungkinkan penggunaan analisis regresi dan analisis korelasi secara terpisah,
namun dalam kenyataan, istilah analisis korelasi mencakup baik masalah korelasi
dan regresi.
Analisis regresi lebih akurat dalam
melakukan analisis korelasi, karena pada analisis itu kesulitan dalam
menunjukkan slop (tingkat perubahan suatu variabel terhadap variabel lainnya dapat
ditentukan). Dengan demikian maka melalui analisis regresi, peramalan nilai
variabel terikat pada nilai variabel bebas lebih akurat pula.
Upaya mengestimasi atau memprediksi lazimnya diawali
dengan mengadakan eksperimen. Sebagai contoh dikemukakan eksperimen yang
dilakukan oleh suatu perusahaan yang memproduksi mainan anak-anak. Eksperimen
itu didasarkan pada penalaran bahwa “ karyawan yang berbakat akan lebih
produktif daripada karyawan yang kurang berbakat dalam pembuatan mainan
anak-anak”. Untuk maksud tersebut perusahaan memilih delapan responden yang
harus mengikuti aptitude-test dan dihubungkan hasil perakitan mainan anak-anak
dalam seminggu dihitung. Tabulasi skor aptitude-test dan hasil perakitan di
tabulasi seperti ditunjukkan pada tabel. Jika data tersebut dilukis koordinat
cartesian, maka diperoleh sebaran titik-titik (X;Y) seperti ditunjukkan pada
gambar, (titik C dan F menunjukkan data yang berkaitan dengan responden C dan
F).
Tabel Data Hasil Perakitan dan Skor Aptitude-
Test
|
Responden
|
Jumlah Yang Dirakit * (Y)
|
Skor Aptitude- Test (X)
|
|
A
B
C
D
E
F
G
H
|
30
49
18
42
39
25
41
52
|
6
9
3
8
7
5
8
10
|
|
Keterangan : * satuan dalam lusin
|
||
Gambar Diagram Sebaran Tabel
Analisis regresi mempelajari hubungan yang diperoleh dinyatakan dalam
persamaan matematika yang menyatakan hubungan fungsional antara
variabel-variabel. Hubungan fungsional antara satu variabel prediktor dengan
satu variabel kriterium disebut analisis regresi sederhana (tunggal), sedangkan
hubungan fungsional yang lebih dari satu variabel disebut analisis regresi
ganda.
C. Analisis Regresi Ganda
Analisis regresi linear berganda sebenarnya sama dengan
analisis regresi linear sederhana, hanya variabel bebasnya lebih dari satu
buah. Persamaan umumnya adalah :
Y = a + b1 X1 + b2 X2 +
…. + bn Xn.
Dengan Y adalah variabel terikat, dan X adalah
variabel-variabel bebas, a adalah konstanta (intercept) dan b adalah koefisien
regresi pada masing-masing variabel bebas.
Interpretasi terhadap persamaan juga relatif sama,
sebagai ilustrasi, pengaruh antara motivasi (X1), kompensasi (X2) dan
kepemimpinan (X3) terhadap kepuasan kerja (Y) menghasilkan persamaan sebagai
berikut :
Y = 0,235 + 0,21 X1 + 0,32 X2 + 0,12 X3
Jika variabel motivasi meningkat dengan asumsi variabel
kompensasi dan kepemimpinan tetap, maka kepuasan kerja juga akan meningkat.
Jika variabel kompensasi meningkat, dengan asumsi
variabel motivasi dan kepemimpinan tetap, maka kepuasan kerja juga akan
meningkat.
Jika variabel kepemimpinan meningkat, dengan asumsi
variabel motivasi dan kompensasi tetap, maka kepuasan kerja juga akan
meningkat.
Interpretasi terhadap konstanta (0,235) juga harus
dilakukan secara hati-hati. Jika pengukuran variabel dengan menggunakan skala
Likert antara 1 sampai dengan 5 maka tidak boleh diinterpretasikan bahwa jika
variabel motivasi, kompensasi dan kepemimpinan bernilai nol, sebagai ketiga
variabel tersebut tidak mungkin bernilai nol karena Skala Likert terendah yang
digunakan adalah 1.
Analisis regresi linear berganda memerlukan pengujian
secara serempak dengan menggunakan F hitung. Signifikansi ditentukan dengan
membandingkan F hitung dengan F tabel atau melihat signifikansi pada output
SPSS. Dalam beberapa kasus dapat terjadi bahwa secara simultan (serempak)
beberapa variabel mempunyai pengaruh yang signifikan, tetapi secara parsial
tidak. Sebagai ilustrasi: seorang penjahat takut terhadap polisi yang membawa
pistol (diasumsikan polisi dan pistol secara serempak membuat takut penjahat).
Akan tetapi secara parsial, pistol tidak membuat takut seorang penjahat. Contoh
lain: air panas, kopi dan gula menimbulkan kenikmatan, tetapi secara parsial,
kopi saja belum tentu menimbulkan kenikmatan.
Penggunaan metode analisis regresi linear berganda
memerlukan asumsi klasik yang secara statistik harus dipenuhi. Asumsi klasik
tersebut meliputi asumsi normalitas, multikolinearitas, autokorelasi,
heteroskedastisitas dan asumsi linearitas (akan dibahas belakangan).
Langkah-langkah yang lazim dipergunakan dalam analisis
regresi linear berganda adalah 1) koefisien determinasi; 2) Uji F dan 3 ) uji
t. Persamaan regresi sebaiknya dilakukan di akhir analisis karena interpretasi
terhadap persamaan regresi akan lebih akurat jika telah diketahui
signifikansinya. Koefisien determinasi sebaiknya menggunakan adjusted R
Square dan jika bernilai negatif maka uji F dan uji t tidak dapat
dilakukan.
Regresi Linear dengan Variabel Moderating
Variabel moderating adalah variabel yang memperkuat atau
memperlemah hubungan antara satu variabel dengan variabel lain. Sebagai contoh:
seorang suami menyayangi istrinya. Dengan hadirnya seorang anak, maka rasa
sayang tersebut bertambah. Berarti variabel anak merupakan moderating antara
rasa saya suami terhadap istri. Contoh lain: kompensasi memperkuat pengaruh
antara kepuasan kerja terhadap kinerja. Artinya kepuasan kerja berpengaruh
terhadap kinerja, dan adanya kompensasi yang tinggi maka pengaruh antara
kepuasan kerja terhadap kinerja menjadi lebih meningkat. Dalam hal ini,
kompensasi bisa saja berpengaruh terhadap kinerja bisa saja tidak. Metode
analisis regresi linear dengan variabel moderating :
1. Multiple Regression Analysis (MRA)
Metode ini dilakukan dengan menambahkan variabel
perkalian antara variabel bebas dengan variabel moderatingnya, sehingga
persamaan umumnya adalah sebagai berikut: Y = a + b1 X1 + b2 X2 + b3 X1 X2
dengan Y adalah kinerja, X1 adalah kepuasan kerja, X2 kompensasi dan X1 X2
adalah perkalian antara kepuasan kerja dengan kompensasi. Hipotesis moderating
diterima jika variabel X1 X2 mempunyai pengaruh signifikan terhadap Y, tidak
tergantung apakah X1 dan X2 mempunyai pengaruh terhadap Y atau tidak. Model ini
biasanya menyalahi asumsi multikolinearitas atau adanya korelasi yang tinggi
antara variabel bebas dalam model regresi, sehingga menyalahi asumsi klasik.
Hampir tidak ada model MRA yang terbebas dari masalah multikolinearitas,
sehingga sebenarnya model ini tidak disarankan untuk dipergunakan.
2. Absolut residual
Model ini mirip dengan MRA, tetapi variabel moderating
didekati dengan selisih mutlak (absolut residual) antara variabel bebas dengan
variabel moderatingnya. Penerimaan hipotesis juga sama, dan model ini masih
riskan terhadap gangguan multikolinearitas meskipun risiko itu lebih kecil dari
pada dengan metode MRA.
3. Residual
Model ini menggunakan konsep lack of fit yaitu hipotesis
moderating diterima terjadi jika terdapat ketidakcocokan dari deviasi hubungan
linear antara variabel independen. Langkahnya adalah dengan meregresikan antara
kepuasan kerja terhadap kompensasi dan dihitung nilai residualnya. Pada program
SPSS dengan klik Save pada regreesion, lalu klik pada usntandardized residual.
Nilai residual kemudian diambil nilai absolutnya lalu diregresikan antara
kinerja terhadap absolut residual. Hipotesis moderating diterima jika nilai t
hitung adalah negatif dan signifikan. Model ini terbebas dari gangguan
multikolinearitas karena hanya menggunakan satu variabel bebas.
Persyaratan Penggunaan Model Regresi
Model kelayakan regresi linear didasarkan pada hal-hal sebagai
berikut:
1. Model regresi dikatakan layak jika angka signifikansi pada ANOVA
sebesar < 0.05
2. Predictor yang digunakan sebagai variabel bebas harus layak. Kelayakan
ini diketahui jika angka Standard Error of Estimate < Standard Deviation.
3. Koefesien regresi harus signifikan. Pengujian dilakukan dengan Uji T.
Koefesien regresi signifikan jika T hitung > T tabel (nilai kritis)
4. Tidak boleh terjadi multikolinieritas, artinya tidak boleh terjadi
korelasi yang sangat tinggi atau sangat rendah antar variabel bebas. Syarat ini
hanya berlaku untuk regresi linier berganda dengan variabel bebas lebih dari
satu.
5. Tidak terjadi otokorelasi. Terjadi otokorelasi jika angka Durbin dan
Watson (DB) sebesar < 1 dan > 3
6. Keselerasan model regresi dapat diterangkan dengan menggunakan nilai r2 semakin
besar nilai tersebut maka model semakin baik. Jika nilai mendekati 1 maka model
regresi semakin baik. Nilai r2mempunyai karakteristik diantaranya:
1) selalu positif, 2) Nilai r2 maksimal sebesar 1.
Jika Nilai r2sebesar 1 akan mempunyai arti kesesuaian yang sempurna.
Maksudnya seluruh variasi dalam variabel Y dapat diterangkan oleh model
regresi. Sebaliknya jika r2 sama dengan 0, maka
tidak ada hubungan linier antara X dan Y.
7. Terdapat hubungan linier antara variabel bebas (X) dan variabel
tergantung (Y)
8. Data harus berdistribusi normal
9. Data berskala interval atau rasio
10. Kedua variabel bersifat dependen, artinya satu variabel merupakan
variabel bebas (disebut juga sebagai variabel predictor) sedang variabel
lainnya variabel tergantung (disebut juga sebagai variabel response)
KESIMPULAN
Dalam melakukan analisis regresi, sebagian besar mahasiswa biasanya
tidak melakukan pengamatan populasi secara langsung. Hal itu dilakukan selain
pertimbangan waktu, tenaga, juga berdasarkan pertimbangan biaya yang relatif
besar jika melakukan pengamatan terhadap populasi. Dalam hal ini, lazimnya
digunakan persamaan regresi linier sederhana sampel sebagai penduga persamaan
regresi linier sederhana populasi dengan bentuk persamaan seperti berikut : y =
a + bX. Dan karena antara Y dan X memiliki hubungan, maka nilai X dapat
digunakan untuk menduga atau meramal nilai Y. X dinamakan variabel bebas karena
variabel ini nilai-nilainya tidak bergantung pada variabel lain. Dan Y disebut
variabel terikat juga karena variabel yang nilai-nilainya bergantung pada
variabel lain. Hubungan antar variabel yang akan dipelajari disini hanyalah
hubungan linier sederhana, yakni hubungan yang hanya melibatkan dua variabel (X
dan Y) dan berpangkat satu.
Regresi sederhana, adalah bentuk regresi dengan model yang bertujuan
untuk mempelajari hubungan antara dua variabel, yakni variabel independen
(bebas) dan variabel dependen (terikat). Jika ditulis dalam bentuk persamaan,
model regresi sederhana adalah y = a + bx, di mana, y adalah variabel tak bebas
(terikat), X adalah variabel bebas, a adalah penduga bagi intercept (α), b
adalah penduga bagi koefisien regresi (β). Atau dengan kata lain α dan β adalah
parameter yang nilainya tidak diketahui sehingga diduga melalui statistik
sampel.
DAFTAR PUSTAKA
Algifari. 2000. Analisis Regresi (Teori, Kasus
dan solusi). Edisi II. Badan Penerbit Fakultas Ekonomi Yogyakarta,
Yogyakarta.
Miller. J.C. 1991. Statistika untuk Kimia
Analitik. Bandung : ITB
M. Nazir, 1983, Metode Statistika dasar I ,
Gramedia Pustaka Utama :Jakarta.
Sudijono, Anas. 1996. Pengantar Statistik
Pendidikan. Jakarta: Rajawali
No comments:
Post a Comment