Thursday, April 19, 2018

MAKALAH PERANAN NILAI-NILAI PRIBADI KLIEN DALAM PRAKTEK BIMBINGAN DAN KONSELING


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Seluruh problem kehidupan manusia menuntut adanya penyelesaian. Akan tetapi, tidak setiap problem dapat diselesaikan sendiri oleh individu, sehingga ia kadangkala membutuhkan seorang ahli sesuai dengan jenis problemnya. Pendekatan-pendekatan psikologis berupa bimbingan dan konseling merupakan pendekatan alternatif dan menjadi perhatian para ahli pada umumnya.
Manusia perlu mengenal dirinya sendiri dengan sebaik-baiknya. Dengan mengenal dirinya sendiri, mereka dapat bertindak dengan tepat sesuai dengan kemampuan yang ada pada dirinya. Walaupun demikian, tidak semua manusia mampu mengenal dirinya. Mereka memerlukan bantuan orang lain agar dapat mengenal diri sendiri, lengkap dengan segala kemampuanyang dimilikinya dan bantuan tersebut dapat diberikan oleh bimbingan dan konseling.
Adapun konseling merupakan proses yang meliputi segala kegiatan tatap muka antara konselor dan klien dalam rangka mengatasi masalah klien melalui hubungan yang mendalam dan berorientasi pada pemecahan masalah klien.
Proses konseling yang melibatkan konselor dan klien secara tatap muka di dalamnya terdapat komunikasi antara dua pihak yaitu konselor dan klien selama proses konseling itu berlangsung. Keberhasilan konseling sangat ditentukan oleh keefektifan komunikasi diantara konselor dan klien. Dalam hal ini, konselor dituntut untuk mampu berkomunikasi secara efektif untuk menunjang pelaksanaan proses konseling.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan nilai dalam konseling?
2.      Apa yang dimaksud dengan klien?
3.      Bagaimana nilai atau karakteristik klien?

C.    Tujuan    
1.      Untuk mengetahui pengertian nilai dalam konseling
2.      Untuk memahami pengertian klien
3.      Untuk memahami nilai dan karakter klien
BAB II
PEMBAHASAN

A.    Nilai Dalam Konseling
Isu moral dan etika dalam konseling berkaitan erat dengan pertanyaan tentang nilai. Maslow dan Rogers menekankan terhadap arti penting dari konsep nilai. Nilai dapat didefinisikan sebagai keyakinan kuat bahwa suatu kondisi akhir atau mode perbuatan adalah sesuatu yang bisa diterima. Rokeach (1973) berpendapat bahwa sebagian orang akan menyetujui nilai seperti “ekualitas”, dan cara terbaik untuk menguak sistem nilai personal yang memandu perilaku seseorang adalah dengan menanyakan nilai yang dipilihnya. Misalnya, seseorang bisa menilai ekualitas lebih tinggi dibandingkan dengan kebebasan, sedangkan seseorang yang lain justru menempatkan kedua nilai ini dalam urutan yang berbeda. Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa nilai para konselor memengaruhi nilai yang dipegang oleh klien. Kelly (1989) menunjukkan kecenderungan bahwa adanya hubungan antara nilai yang dipegang oleh klien dengan yang dimiliki konselor.[1]
Dipertanyakan tentang bagaimana akar kultural konseling dan psikoterapi dalam bentuk religius dapat menolong dan memberi makna. Bergin (1980) mengatakan bahwa dukungan psikologi terhadap keyakinan dan sikap ilmiah terkait dengan penolakan terhadap nilai religius. Dia memandang bahwa karena begitu banyak orang awam yang menganut pandangan religius yang kuat, ada bahaya bahwa terapi akan dipandang tidak relevan atau bahkan menghancurkan. Bergin melakukan analisis sistematik terhadap perbedaan yang disebutnya “teistik” dengan nilai sistem “klinikal-humanistik”. Hasil analisis ini memungkinkan untuk melihat apakah ada perbedaan pandang yang radikal berkenaan dengan apa “yang benar” atau “yang baik”. Konselor yang dididik dalam institusi yang mungkin menyertakan nilai klinis-humanistik dapat kehilangan sentuhan terhadap nilai klien mereka. Ketidakseimbangan kekuasaan dalam situasi konseling memungkinkan klien untuk menilai ketidaksesuaian konselor dan memutuskan untuk tidak lagi melakukan konseling. Masalah perbedaan nilai menjadi sangat relevan dalam konseling multikultural. Banyak klien yang sengaja mencari konselor yang mereka tahu memiliki latar belakang dan nilai yang sama.

B.     Pengertian Klien
Klien adalah individu yang diberi bantuan professional oleh seorang konselor atas permintaan dia sendiri atau orang lain. Klien yang datang atas kemauannya sendiri karena dia membutuhkan bantuan, dia sadar bahwa dalam dirinya ada masalah yang memerlukan bantuan seorang ahli. Klien yang datang atas permintaan orang lain seperti orang tua dan guru, berarti dia tidak sadar akan masalah yang dialami dirinya sendiri karena kurangnya kesadaran diri. Apabila klien sudah sadar akan diri dan masalahnya, maka dia mempunyai harapan terhadap konselor dan proses konseling, yaitu supaya dia tumbuh, berkembang, produktif, kreatif, dan mandiri, sehingga dapat menentukan keberhasilan proses konseling.[2]

C.    Karakteristik Klien
Semua individu yang diberi bantuan professional oleh seorang konselor atas permintaan dia sendiri atau atas permintaan orang lain, dinamakan klien. dan klien yang datang atas kemauan sendiri, karena dia membutuhkan bantuan. Dia sadar bahwa dalam dirinya ada suatu kekurangan atau masalah yang memerlukan bantuan seorang ahli. [3]
Akan tetapi ada pula individu yang tidak sadar akan masalah yang dialaminya, karena kurangnya kesadaran diri.  Dia mungkin dikirim kepada konselor oleh orang tua atau gurunya. Namun secara umum kalau klien sudah sadar akan diri dan masalahnya maka dia mempunyai harapan terhadap konselor dan proses konseling yaitu supaya dia tumbuh, berkembang, produktif, kreatif, dan mandiri. Harapan, kebutuhan, dan latar belakang klien akan menentukan terhadap keberhasilan proses konseling.[4]
Beberapa karakteristik klien Islami, yaitu :
1.      Klien yang dibantu melalui konseling Islami adalah klien yang beragama Islam atau non-muslim yang bersedia diberi bantuan melalui pendekatan yang menggunakan nilai-nilai Islam.
2.      Klien adalah individu yang sedang mengalami hambatan/masalah untuk mendapatkan kebahagiaan hidup (ketentraman).
3.      Klien secara sukarela/didorong untuk mengikuti proses konseling.
4.      Klien adalah seorang yang berhak menentukan jalan hidupnya sendiri, dan akan bertanggungjawab atas dirinya setelah baligh/dewasa untuk kehidupan dunia maupun akhiratnya.
5.      Pada dasarnya setiap klien adalah baik, karena Allah SWT telah membekali setiap individu dengan potensi berupa fitrah yang suci untuk tunduk pada aturan dan petunjuk Allah Yang Maha Esa.
6.      Ketidaktentraman/ketidakbahagiaan klien dalam hidupnya umumnya bersumber dari belum dijalankannya ajaran agama sesuai tuntunan al-Qur’an dan Hadits, sehingga perlu didiagnosis secara mendalam bersama klien.
7.      Klien yang bermasalah pada hakekatnya orang yang membutuhkan bantuan untuk memfungsikan jasmani, qolb, a’qal, dan basyirohnya dalam mengendalikan dorongan hawa nafsunya.


BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan pada bab II dapat pemakalah simpulkan bahwa Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa nilai para konselor memengaruhi nilai yang dipegang oleh klien. Kelly (1989) menunjukkan kecenderungan bahwa adanya hubungan antara nilai yang dipegang oleh klien dengan yang dimiliki konselor.
Klien adalah individu yang diberi bantuan professional oleh seorang konselor atas permintaan dia sendiri atau orang lain. Klien yang datang atas kemauannya sendiri karena dia membutuhkan bantuan, dia sadar bahwa dalam dirinya ada masalah yang memerlukan bantuan seorang ahli.

B.     Saran
Demikianlah pembahasan makalah ini, semoga bermanfaat bagi kita sekalian, kritik dan saran sangat pemakalah harapkan demi untuk perbaikan makalah kami selanjutnya.


DAFTAR PUSTAKA

Fenti Hikmawati, Bimbingan Konseling (Jakarta: Rajawali Press, 2012), cet. 3,

Sofyan S. Willis, Konseling Individual Teori dan Praktek (Bandung: Penerbit Alfabeta, 2009), cet. 4,

Eko13. Karakteristik Klien. Sumber: https://eko13.wordpress.com diunggah pada 18/03/2008 pukul 20.00, dan diakses pada 26/09/2016 pukul 19.00


[1] Fenti Hikmawati, Bimbingan Konseling (Jakarta: Rajawali Press, 2012), cet. 3, h. 35
[2] Fenti Hikmawati, Bimbingan Konseling (Jakarta: Rajawali Press, 2012), cet. 3, hlm. 39
[3] Sofyan S. Willis, Konseling Individual Teori dan Praktek (Bandung: Penerbit Alfabeta, 2009), cet. 4, hlm. 112
[4] Eko13. Karakteristik Klien. Sumber: https://eko13.wordpress.com diunggah pada 18/03/2008 pukul 20.00, dan diakses pada 26/09/2016 pukul 19.00

No comments:

Post a Comment