BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Ontologi termasuk cabang
Filsafat yang membahas mengenai sifat (wujud) atau lebih sempit lagi sifat
fenomena yang ingin kita ketahui.[1] Juga, Ontologi bisa
mengandung pengertian sebuah cabang filsafat yang menggeluti tata dan struktur
realitas dalam arti seluas mungkin, yang menggunakan katagori-katagori seperti:
ada atau menjadi, aktualitas atau potensialitas, esensi, keniscayaan dasar, Yang
Ada sebagai Yang Ada.
Ontologi juga mengandung
pengertian sebagai cabang filsafat yang melontarkan pertanyaan, apa arti Ada
dan Berada dan juga menganalisis bermacam-macam makna yang memungkinkan hal-hal
dapat dikatakan Ada.
Istilah ontologi muncul
sekitar pertengahan abad ke-17. Pada waktu itu ungkapan filsafat mengenai yang
ada (philosophia entis) digunakan untuk hal yang sama. Menurut akar kata
Yunani, ontologi berarti ‘teori mengenai ada yang berada’.
Oleh sebab itu, orang
bisa menggunakan ontologi dengan filsafat pertama Aristoteles, yang kemudian
disebut sebagai metafisika. Namun pada kenyataannya, ontologi hanya merupakan
bagian pertama metafisika, yakni teori mengenai yang ada, yang berada secara
terbatas sebagaimana adanya dan apa yang secara hakiki dan secara langsung
termasuk ada tersebut.
Oleh sebab itu di dalam
makalah ini akan di bahas secara seksama mengenai pengertian, dasar, dan ruang
lingkup ontologi ilmu pengetahuan.
B.
Rumusan
Masalah
1.
Apa yang
dimaksud dengan ontologi ilmu pengetahuan?
2.
Apa saja
dasar ontolgi ilmu pengetahuan?
3.
Apa pegertian
ilmu pengetahuan?
4.
Apa saja
ruang lingkup ontologi imu pengetahuan?
C.
Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian ontlogi ilmu
pengetahuan
2. Untuk memahami dasar ontologi ilmu pengetahuan
3. Untuk memahami pengertian ilmu pengetahuan
4.
Untuk
memahami ruang lingkup ontologi ilmu pengetahuan
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Ontologi Ilmu Pengetahuan
Ontologi termasuk cabang
Filsafat yang membahas mengenai sifat (wujud) atau lebih sempit lagi sifat fenomena
yang ingin kita ketahui.[2] Juga, Ontologi bisa
mengandung pengertian sebuah cabang filsafat yang menggeluti tata dan struktur
realitas dalam arti seluas mungkin, yang menggunakan katagori-katagori seperti:
ada atau menjadi, aktualitas atau potensialitas, esensi, keniscayaan dasar,
Yang Ada sebagai Yang Ada.
Ontologi mencoba
melukiskan hakikat Ada yang terakhir, ini menunjukan bahwa segala hal
tergantung padanya bagi eksistensinya. Ontologi juga mengandung pengertian
sebagai cabang filsafat yang melontarkan pertanyaan, apa arti Ada dan Berada
dan juga menganalisis bermacam-macam makna yang memungkinkan hal-hal dapat
dikatakan Ada.
Dari beberapa pengertian
ontologi di atas, maka dapat diperoleh gambaran yang lebih jelas, apa yang
disebut dengan ontologi. Ontologi juga mengandung pengertian sebuah cabang
filsafat yang menyelidiki realitas yang menentukan apa yang kita sebut
realitas. Dari beberapa pengertian dasar tersebut bisa disimpulkan bahwa
ontologi mengandung pengertian “pengetahuan tentang yang Ada”.
Pun, dapat dikatakan
bahwa antologi merupakan bagian dari filsafat ilmu yang membahas pandangan
terhadap hakikat ilmu atau pengetahuan ilmiah, termasuk pandangan terhadap
sifat ilmu itu sendiri.[3]
Istilah ontologi muncul
sekitar pertengahan abad ke-17. Pada waktu itu ungkapan filsafat mengenai yang
ada (philosophia entis) digunakan untuk hal yang sama. Menurut akar kata
Yunani, ontologi berarti ‘teori mengenai ada yang berada’.
Oleh sebab itu, orang
bisa menggunakan ontologi dengan filsafat pertama Aristoteles, yang kemudian
disebut sebagai metafisika. Namun pada kenyataannya, ontologi hanya merupakan
bagian pertama metafisika, yakni teori mengenai yang ada, yang berada secara
terbatas sebagaimana adanya dan apa yang secara hakiki dan secara langsung
termasuk ada tersebut.
B.
Dasar
Ontologi Ilmu Pengetahuan
Berbeda dengan agama
atau bentuk pengetahuan yang lainnya, maka ilmu membatasi diri hanya kepada
kejadian yang bersifat empiris. Secara sederhana, objek kajian ilmu ada dalam
jangkauan pengalaman manusia. Objek kajian ilmu mencakup seluruh aspek kehidupan
yang dapat diuji oleh panca indera manusia. Dalam batas-batas tersebut, maka
ilmu mempelajari objek-objek empiris, seperti batu-batuan, binatang,
tumbuh-tumbuhan, hewan atau manusia itu sendiri. Berdasarkan hal itu, maka
ilmu-ilmu dapat disebut sebagai suatu pengetahuan empiris, di mana objek-objek
yang berbeda di luar jangkaun manusia tidak termasuk di dalam bidang penelaahan
keilmuan tersebut. [4]
Untuk mendapatkan
pengetahuan ini, ilmu membuat beberapa asumsi mengenai objek-objek empiris.
Sebuah pengetahuan baru dianggap benar selama kita bisa menerima asumsi yang
dikemukakannya.
Secara lebih terperinci
ilmu mempunyai tiga asumsi yang dasar, yaitu:
1. Menganggap objek-objek tertentu mempunyai
keserupaan satu sama lain, umpamanya dalam hal bentuk, struktur, sifat dan
sebagainya.
2. Menganggap bahwa suatu benda tidak mengalami
perubahan dalam jangka waktu tertentu . Kegiatan keilmuan bertujuan mempelajari
tingkah laku suatu objek dalam suatu keadaan tertentu.
3. Menganggap bahwa tiap gejala bukan merupakan suatu
kejadian yang bersifat kebetulan.
Tiap
gejala mempunyai suatu hubungan pola-pola tertentu yang bersifat tetap dengan
urutan kejadian yang sama. Dalam pengertian ini, ilmu mempunyai sifat
deterministik.
C.
Pengertian
Ilmu Pengetahuan Pada Ontologi Ilmu Pengetahuan
Ontologi ilmu
pengetahuan – Agar kita mendapatkan pengertian tentang ilmu pengetahuan yang
luas, maka didalam mengkaji masalah tersebut menjadi: [5]
1. Pengertian Ilmu
Ilmu berasal dari bahasa
arab yaitu alima–ya’lamu–‘ilman dengan wazan fa’ala–yaf’alu–fi’lan
yang berarti mengerti, memahami benar-benar. Ilmu dalam kamus Indonesia adalah
pengetahuan suatu bidang yang disusun secara konsisten menurut metode-metode
tertentu, juga dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu di
bidang (pengetahuan) itu.
Al-Quran menggunakan
kata ‘ilm dalam berbagai bentuk dan artinya sebanyak 854 kali. Antara lain
sebagai “proses pencapaian pengetahuan dan objek pengetahuan” (QS 2:31-32)
Pembicaraan tentang ilmu mengantarkan kita kepada pembicaraan tentang
sumber-sumber ilmu di samping klasifikasi dan ragam disiplinnya.
Ilmu merupakan
terjemahan dari kata science, yaitu pengetahuan yang rasional dan didukung
dengan bukti empiris, dalam bentuk yang baku. Dari segi maknanya, pengertian
ilmu sepanjang yang terbaca dalam pustaka menunjuk sekurang-kurangnya tiga hal,
yakni pengetahuan, aktivitas dan metode. Diantara para filsuf dari berbagi
aliran terdapat pemahaman umum bahwa ilmu adalah sesuatu kumpulan yang
sistematis dari pengetahuan (any systematic body of knowledge).
Ilmu adalah seluruh
usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan dan meningkatkan pemahaman manusia
dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia. Segi-segi ini dibatasi agar
dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti. Ilmu memberikan kepastian dengan
membatasi lingkup pandangannya, dan kepastian ilmu diperoleh dari
keterbatasannya.
Dari beberapa pengertian
ilmu yang di kemukakan, maka dapat diperoleh gambaran yang lebih jelas, apa
yang disebut dengan ilmu. Ilmu pada prinsipnya merupakan usaha untuk
mengorganisasikan dan mensistematisasikan common sense, suatu pengamatan dalam
kehidupan sehari-hari, namun dilanjutkan dengan suatu pemikiran secara cermat
dan teliti dengan menggunakan berbagai metode.
2. Pengertian pengetahuan pada ontologi ilmu
pengetahuan
Pengetahuan merupakan
hasil proses dari usaha manusia untuk tahu. Drs. Sidi Gazalba, mengemukakan
bahwa pengetahuan ialah apa yang diketahui atau hasil pekerjaan tahu. Pekerjaan
tahu tersebut adalah hasil dari pada: kenal, sadar, insaf, mengerti dan pandai.
Pengertian itu semua milik atau isi pikiran.
Pengetahuan adalah suatu
istilah yang digunakan untuk menuturkan apabila sesorang mengenal tentang
sesuatu. Suatu hal yang menjadi pengetahuannya adalah selalu terdiri dari unsur
yang mengetahui dan yang diketahui serta kesadaran mengenai hal yang ingin
diketahuinya itu. Oleh karena itu, pengetahuan selalu menuntut tentang sesuatu
dan obyek yang merupakan sesuatu yang dihadapinya sebagai hal yang ingin
diketahuinya. Jadi, bisa dikatakan pengetahuan adalah hasil tahu manusia
terhadap sesuatu, atau segala perbuatan manusia untuk memahami suatu objek
tertentu.
D.
Sumber-sumber
Ontologi Ilmu Pengetahuan
Setelah pengetahuan itu
sesuatu yang mungkin dan realistis, masalah yang dibahas dalam
literatur-literatur epistimologi Islam adalah masalah yang berkaitan dengan
sumber dan alat pengetahuan. Para filusuf
Islam menyebutkan beberapa sumber dan sekaligus alat pengetahuan, yaitu:
1. Alam tabi’at atau alam fisik
ontologi ilmu
pengetahuan – Contoh yang paling konkrit dari hubungan dengan materi dengan
cara yang sifatnya materi pula adalah aktivitas keseharian manusia di dunia
ini, seperti makan, minum, hubungan suami istri dan lain sebagianya. Dengan
demikian, alam tabi’at yang materi merupakan sumber pengetahuan yang
“barangkali” paling awal dan indra merupakan alat untuk berpengetahuan yang
sumbernya tabi’at.
Pandangan Sensualisme (al-hissiyyin)
Kaum sensualisme,
khususnya John Locke, menganggap bahwa pengetahuan yang sah dan benar hanya
lewat indra saja. Mereka mengatakan bahwa otak manusia ketika lahir dalam
keadaan kosong dari segala bentuk pengetahuan, kemudian melalui indra
realita-realita di luar tertanam dalam benak. Peranan akal hanya dua saja
yaitu, menyusun dan memilah serta meng-generalisasi.[6]
Jadi yang paling
berperan adalah indra. Pengetahuan yang murni lewat akal tanpa indra tidak ada.
Konskuensi dari pandangan ini adalah bahwa realita yang bukan materi atau yang
tidak dapat bersentuhan dengan indra, maka tidak dapat diketahui, sehingga pada
gilirannya mereka mengingkari hal-hal yang metafisik seperti Tuhan.
2. Alam Akal
Kaum Rasionalis, selain
alam tabi’at atau alam fisika, meyakini bahwa akal merupakan sumber pengetahuan
yang kedua dan sekaligus juga sebagai alat pengetahuan. Mereka menganggap
akal-lah yang sebenarnya menjadi alat pengetahuan sedangkan indra hanya
pembantu saja.
Aktivitas-aktivitas
Akal:
a) Menarik kesimpulan. Yang dimaksud dengan menarik
kesimpulan adalah mengambil sebuah hukum atas sebuah kasus tertentu dari hukum
yang general. Aktivitas ini dalam istilah logika disebut silogisme kategoris
demonstratif.
b) Mengetahui konsep-konsep yang general. Ada dua
teori yang menjelaskan aktivitas akal ini, Pertama, teori yang mengatakan bahwa
akal terlebih dahulu menghilangkan ciri-ciri yang khas dari beberapa person dan
membiarkan titik-titik kesamaan mereka. Teori ini disebut dengan teori tajrid
dan intiza’. Kedua, teori yang mangatakan bahwa pengetahuan akal tentang konsep
yang general melalui tiga tahapan, yaitu persentuhan indra dengan materi,
perekaman benak, dan generalisasi.
c) Pengelompokan Wujud. Akal mempunyai kemampuan
mengelompokkan segala yang ada di alam realita ke beberapa kelompok.
d) Pemilahan dan Penguraian.
e) Penggabungan dan Penyusunan.
f)
Kreativitas.[7]
3. Analogi (Tamtsil)
Termasuk alat
pengetahuan manusia adalah analogi yang dalam terminologi fiqih disebut qiyas.
Analogi ialah menetapkan hukum (baca; predikat) atas sesuatu dengan hukum yang
telah ada pada sesuatu yang lain karena adanya kesamaan antara dua sesuatu itu.
Analogi tersusun dari beberapa unsur:
a)
Asal, yaitu
kasus parsial yang telah diketahui hukumnya.
b)
Cabang, yaitu
kasus parsial yang hendak diketahui hukumnya,
c)
Titik
kesamaan antara asal dan cabang, dan
d)
Hukum yang sudah
ditetapkan atas asal.
4.
Hati dan
Ilham (Wahyu)
Kaum empiris yang
memandang bahwa ada sama dengan materi sehingga sesuatu yang inmateri adalah
tidak ada, maka pengetahuan tentang in materi tidak mungkin ada. Sebaliknya
kaum Ilahi (theosopi) yang meyakini bahwa ada lebih luas dari sekedar materi,
mereka mayakini keberadaan hal-hal yang inmateri. Pengetahuan tentangnya tidak
mungkin lewat indra tetapi lewat akal atau hati.
Tentu yang dimaksud
dengan pengetahuan lewat hati di sini adalah penngetahuan tentang realita
inmateri eksternal, kalau yang internal seperti rasa sakit, sedih, senang,
lapar, haus dan hal-hal yang iintuitif lainnya diyakini keberadaannya oleh
semua orang tanpa kecuali. Pengetahuan
tentang alam gaib yang dicapai manusia lewat hati jika berkenaan dengan pribadi
seseorang saja disebut ilham atau isyraq, dan jika berkaitan dengan bimbingan
umat manusia dan penyempurnaan jiwa mereka dengan syariat disebut wahyu.
E.
Ruang
Lingkup Ontologi Ilmu Pengetahuan
Secara ontologis, ilmu
membatasi lingkup penelaah keilmuannya hanya pada daerah-daerah yang berada
dalam jangkauan pengalaman manusia. Ilmu memulai penjelajahannya pada
pengalaman manusia dan berhenti di batas pengalaman manusia. Ilmu tidak
mempelajari ikhwal surga dan neraka. Sebab, ikhwal surga dan neraka berada
diluar jangkauan pengalaman manusia. Ilmu tidak mempelajari sebab musabab
terciptanya manusia sebab kejadian itu terjadi diluar jangkauan pengalamann
manusia. Baik hal-hal yang terjadi sebelum hidup kita, maupun hal-hal yang
terjadi setelah kematian manusia, semua itu berada di luar penjelajahan ilmu.
Ilmu hanya membatasi
daripada hal-hal yang berbeda dalam batas pengalaman kita karena fungsi ilmu
sendiri dalam hidup manusia yaitu sebagai alat bantu manusia dalam
menanggulangi masalah-masalah yang dihadapinya sehari-hari. Persoalan mengenai
hari kemudian tidak akan kita tanyakan pada ilmu, melainkan kepada agama. Sebab
agamalah pengetahuan yang mengkaji masalah-masalah seperti itu. Metode yang
dipergunakan dalam menyusun ilmu telah teruji kebenarannya secara empiris.
Dalam perkembangannya kemudian maka muncul banyak cabang ilmu yang diakibatkan
karena proses kemajuan dan penjelajahan ilmu yang tidak pernah berhenti. Dari
sinilah kemudian lahir konsep “kemajuan” dan “modernisme” sebagai anak kandung
dari cara kerja berpikir keilmuan.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan
makalah mengenai ontologi ilmu pengetahuan dapat pemakalah simpulkan bahwa Ontologi
merupakan salah satu diantara lapangan penyelidikan kefilsafatan yang paling
kuno. Ontologi berasal dari bahasa Yunani yang berarti teori tentang keberadaan
sebagai keberadaan. Pada dasarnya, ontologi membicarakan tentang hakikat dari
suatu benda/sesuatu. Hakikat disini berarti kenyataan yang sebenarnya (bukan
kenyataan yang sementara, menipu, dan berubah).
Dalam ontologi ditemukan
pandangan-pandangan pokok pemikiran, yaitu monoisme, dualisme, pluralisme,
nihilisme, dan agnostisisme. Monoisme adalah paham yang menganggap bahwa
hakikat asalnya sesuatu itu hanyalah satu. Asal sesuatu itu bisa berupa materi
(air, udara) maupun ruhani (spirit, ruh).
B.
Saran
Belajar hendaknya
menjadi salah satu karakter yang selalu melekat di dalam perilaku suatu bangsa.
Dari hal itulah setiap bangsa berusaha mengunggulakan pendidikan sebagai sebuah
fondasi dari pendirian sebuah bangsa. Proses pendidikan tidak terlepas dari
konsep ontology, epistemologi, dan akasiologi didalam pengkajiaanya dimana
pelaksannanya harus mencerminkan aktualisasi dari cita - cita suatu bangsa.
DAFTAR PUSTAKA
Zainuddin, Filsafat Ilmu Perspektif
Pemikiran Islam (Malang, Lintas Pustaka, 2006)
Bustanuddin Agus, Pengembangan Ilmu–Ilmu
Sosial: Studi Banding Antara Pandangan Ilmiah Dan Ajaran Islam, (Lintas
Pustaka, 1999)
Jujun S. Suriasumantri, Ilmu dalam
perspektif ( Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2003)
Louis O Kattsouff, Pengantar filsafat
(Yogjakarta: Tiara Wacana, 2004)
[1] Zainuddin, Filsafat Ilmu Perspektif Pemikiran Islam (Malang,
Lintas Pustaka, 2006) h 24
[2] Zainuddin, Filsafat Ilmu Perspektif Pemikiran Islam (Malang,
Lintas Pustaka, 2006) h 24
[3] Bustanuddin Agus, Pengembangan Ilmu–Ilmu Sosial: Studi Banding
Antara Pandangan Ilmiah Dan Ajaran Islam, (Lintas Pustaka, 1999) h, 23.
[4] Bustanuddin Agus, Pengembangan Ilmu–Ilmu Sosial: Studi Banding ... h, 25
[5] Jujun S. Suriasumantri, Ilmu dalam perspektif ( Jakarta:
Yayasan Obor Indonesia, 2003) h. 35.
[6] Louis O Kattsouff, Pengantar filsafat (Yogjakarta: Tiara
Wacana, 2004), 21
[7] Louis O Kattsouff, Pengantar filsafat ... h,
23
No comments:
Post a Comment