PENDAHULUAN
Menurut ayat suci yang termaktub dalam
Al_Qur’an dijelaskan bahwa anak lahir seperti kertas putih, anak tersebut akan
menjadi anak Majusi atau Yahudi, tergantung oleh pendidikan yang diperoleh.
Pendidikan untuk anak usia dini juga sangat penting dalam pembentukan karakter
pada anak. Menurut Islam pendidikan anak dimulai sejak anak dalam kandungan.
Contohnya seorang ibu disarankan banyak membaca ayat suci, Al_Qur’an, dan dinasehatkan banyak berbuat kebajikan.
Pada waktu ibu mengandung dianjurkan bayi yang masih dalam kandungan di
dengarkan lagu-lagu yang Islami, hal itu akan mempengaruhi karakter anak jika
kelak ia dewasa nanti itu merupakan bukti,
bayi dalam kandungan terdidik dengan baik.
Pada saat
lahir, oleh ayahnya dikumandangkan suara adzan suara ini adalah suara
pertama kali yang dia dengar dan diharapkan kelak dia dewasa
anak tergerak jika mendengar adzan dan melaksanakan sholat.
Pada usia dini merupakan masa-masa Golden Age,
pada masa golden age berumur 0-6 tahun pada masa ini otak anak berkembang 80%.
Pada masa ini pula anak-anak mudah dibentuk oleh karena itu Anak perlu
dibimbing dengan cara yang baik dan sesuai dengan usianya, agar nantinya dia menjadi anak yang unggul dalam
agama maupun intelektualnya. Oleh Karena
itu peran pendidik dan orang tua dalam mendidik anak sangat penting. Orang tua
dan pendidik harus melihat potensi anak yang dimilikinya dan orang tua maupun
pendidik harus membantu mengembangkan potensi yang dia miliki, dan jangan
sampai orang tua memaksa kehendak pada anaknya.
PEMBAHASAN
A. Hakikat
Pendidikan Anak Usia Dini
Pendidikan anak usia dini merupakan serangkaian
upaya sistematis dan terprogram dalam
melakukan pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai usia 6
tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendiikan untuk membantu
pertumbuhan dan perkembangan jasmani serta rohani agar anak memiliki kesiapan
untuk memasuki pendidikan lebih lanjut.
Ada dua tujuan diselenggarakannya pedidikan
anak usia dini yaitu sebagai berikut :
1. Membentuk anak
yang berkualitas, yaitu anak yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan tingkat
perkembangannya, sehingga memiliki kesiapan yang optimal didalam memasuki
pendidikan dasar serta mengarungi kehidupan di masa dewasa.
2. Membantu
menyiapkan anak mencapai kesiapan belajar( akademik ) di sekolah.[1]
B. Prinsip-prinsip
dalam Pendidikan Anak Usia Dini.
Dalam melaksanakan Pendidikan Anak Usia
Dini ( PAUD ) terdapat prinsip-prinsip
utama yang harus diperhatikan. Prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut
:
1. Mengutamakan
kebutuhan anak. Kegiatan pembelajaran pada anak harus senantiasa berorientasi
kepada kebutuhan anak. Anak usia dini adalah anak yang sedang membutuhkan
upaya-upaya pendidikan untuk mencapai optimalisasi semua aspek perkembangan,
baik perkembangan fisik maupun psikis, yaitu intelektual, bahasa, motorik, dan
sosio-emosional.
2. Belajar melalui
bermain atau bermain seraya belajar. Bermain merupakan sarana belajar anak usia
dini. Melalui permainan,anak diajak untuk bereksplorasi, menemukan, memanfaatkan,
dan mengambil kesimpulan mengenai benda disekitarnya.
3. Lingkungan yang
kondusif dan menentang. Lingkungan harus diciptakan sedemikian rupa sehingga
menarik dan menyenangkan, sekaligus menentang dengan memperhatikan keamanan
serta kenyamanan yang dapat mendukung kegiatan belajar melalui bermain.
4. Menggunakan
pembelajaran terpadu dalam bermain. Pembelajaran anak usia dini harus menggunakan konsep
pembelajaran terpadu yang dilakukan melalui tema. Tema yang harus dibangun
harus menarik dan dapat membangkitkan minat anak, serta bersifat kontekstual.
Hal ini dimaksudkan agar anak mampu mengenal berbagai konsep serta mudah dan
jelas sehingga pembelajaran menjadi mudah
dan bermakna bagi anak didik.
5. Mengembangkan
berbagai kecakapan atau keterampilan hidup (lifeskills). Mengembangkan
keterampilan hidup dapat dilakukan melalui berbagai proses pembiasaan. Hal ini
dimaksudkan agar anak belajar untuk menolong diri sendiri, mandiri, dan
bertanggungjawab, serta memiliki disiplin diri.
6. Menggunakan
berbagai media atau permainan edukatif dan sumber belajar. Media dan sumber
pembelajaran dapat berasal dari lingkungan alam sekitar atau bahan-bahan yang
sengaja disiapkan oleh pendidik, guru, dan orang tua.
7. Dilaksanakan
secara bertahap dan berulang-ulang. Pembelajaran bagi anak usia dini hendaknya
dilakukan secara bertahap, dimulai dari konsep yang sederhana dan dekat dengan
anak. Agar konsep dapat dikuasai dengan baik, hendaknya guru menyajikan
kegiatan-kegiatan yang dilakukan berulang kali.[2]
C. Pandangan
Islam Tentang Anak Usia Dini
Sungguh Alloh Subhanahu Wata’ala telah
memberikan berbagai macam amanah dan tanggung jawab kepada manusia. Diantara
amanah dan tanggung jawab terbesar yang Alloh Ta’ala bebankan kepada manusia,
dalam hal ini orang tua (termasuk guru, pengajar ataupun pengasuh) adalah
memberikan pendidikan yang benar terhadap anak. Yang demikian ini merupakan
penerapan dari firman Alloh Ta’ala:
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
“Hai orang-orang yang beriman,
jagalah diri dan keluarga kalian dari api neraka” (QS. At-Tahrim:6).
Sahabat yang mulia Ali bin Abi Tholib
rodhiyallohu ‘anhu menafsirkan ayat
diatas dengan mengatakan: “Didik dan ajarilah mereka (istri dan anak-anak)
hal-hal kebaikan” (Tafsir Ath-Thobari, Al-Maktabah As-Syamilah)[3]
Risalah Hadist Nabi telah menjustifikasi akan
pentingnya menyelenggarakan pendidikan kepada anak usia dini, juntifikasi itu
memberikan arti bahwa penyelenggaraan pendidikan pendidikan kepada anak usia
dini adalah merupakan perintah yang didalamnya memiliki makna ibadah yang
Agung. Inilah kesempurnaan sebuah ajaran, dimana Islam mengajarkan tentang
pentingnya proses pembentukan generasi muslim dari sejak sedini mungkin untuk
membangun pribadi-pribadi muslim yang kaffah (sempurna).
Beberapa landasan Hadist yang menerangkan
betapa pentingnya mendidik anak sejak usia dini, dapat di renungkan
hadist-hadist berikut ini:
قالَ رَسُولُ
الله ِصَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ : قَالَ مَامِنْ مَوْلُوْدٍ
إِلاَّيُوْلَدُعَلَى الْفِطْرَةِفَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْيُنَصِّرَانِهِ
أَوْيُمَجِّسَانِهِ (رواه البخارى(
Artinya
: “ Setiap anak dilahirkan atas fitrah (kesucian agama yang sesuai dengan
naluri), sehingga lancar lidahnya, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan
dia beragama Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (H.R. Bukhori)
أَكْرِمُواأَوْلاَدَكُمْ،وَأَحْسِنُواأَدَبَهُمْ
Artinya
: “Muliakanlah anak-anak kalian dan didiklah mereka dengan budi pekerti yang
baik.”
قَالَ رَسُولُ
اللهِ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِنَّ مِنْ أَخْيَرِكُمْ أَحْسَنَكُمْ
خُلُقًا ( رواه البخارى(
Artinya : “ Paling baiknya kamu sekalian adalah dari budi pekertinya. “
(H.R. Bukhori)
‘Amru bin ‘Atabah pernah memberikan pegangan kepada para pengasuh
anaknya dengan berkata :
لِيَكُنْ
أَوَّلُ إِصْلاَحِكَ لِوَلِدَى إِصْلاَحَكَ لِنَفْسِكَ فَإِنَّ عُيُوْنَهُمْ
مَعْقُوْدَةٌبِعَيْنِكَ,فَاالْحَسَنُ عِنْدَهُمْ مَاصَنَعْتَ وَالْقَبِيْحُ
عِنْدَهُمْ مَاتَرَكْتَ
Artinya : “ Hendaklah tuntunan perbaikan yang pertama bagi anak-anakku,
dimulai dari perbaikan anda terhadap diri anda sendiri. Karena mata dan
perhatian mereka selalu terikat kepada anda.Mereka menganggap baik segala yang
anda kerjakan, dan mereka menganggap jelek segala yang anda jauhi.”
Oleh karena itu sudah sepantasnya bagi orang
tua untuk memperhatikan masalah pendidikan anaknya dengan sebaiknya-baiknya.[4]
Dari mana harus memulai?
Segala sesuatu adalah berproses, demikian juga
dalam hal mendidik anak. Berikut beberapa tahapan dalam membina dan mendidik
anak
1.
Memilih istri (ibu bagi anak) yang sholihah
Hal
ini merupakan langkah awal yang dilakukan oleh seseorang (calon bapak) agar
anak-anaknya kelak menjadi anak-anak yang sholih.Karena seorang ibu adalah
sekolah pertama tempat anak-anak menimba ilmu dan belajar. Seorang ibu yang
sholihah tentu saja akan mengajarkan kebaikan dan amal sholih kepada
anak-anaknya.
Oleh
karena itu Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya :
“Wanita dinikahi karena 4 hal: (yaitu) kekayaanya, kedudukanya, kecantikannya,
dan agamanya. Pilihlah wanita yang memiliki agama, niscaya engkau akan
beruntung”(HR. Bukhori Muslim).
Demikian
juga sebaliknya. Bagi seorang calon ibu, ia harus memilih pendamping sholih
yang kelak akan menjadi ayah dari anak-anaknya. Ayah adalah pemimpin dalam
keluarga yang akan mengarahkan kemana bahtera rumah tangga akan berlayar.
Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya : “Apabila datang
kepada kalian orang yang kalian ridhoi akhlak dan agamanya maka nikahkanlah ia,
jika tidak kalian lakukan akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang
luas” (HR At-Tirmidzi)
2.
Membiasakan anak untuk mengerjakan ibadah
Diantara
yang perlu ditanamkan sejak dini dalam diri anak-anak adalah kesadaran untuk
mengerjakan sholat wajib. Yang demikian ini disebutkan dalam firman Alloh :
وَأْمُرْأَهْلَكَ
بِالصَّلَاةِوَاصْطَبِرْعَلَيْهَا
“perintahkan keluargamu untuk mengerjakan
sholat dan bersabar atasnya” (QS. Thoha:132).
Rosululloh
shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya: “ajarkan sholat pada anak
anak disaat berumur 7 tahun” (HR. At-Tirmidzi).
Selain
itu pula hendaknya orang tua memotivasi anak-anak untuk mengerjakan ibadah yang
lain agar ketika mereka mencapai usia balig, mereka sudah terbiasa dengan
ibadah-ibadah tersebut.[5]
3.
Memberikan teladan yang baik
Teladan
yang baik merupakan hal terpenting dalam keberhasilan mendidik anak.Telah
diketahui bersama bahwa seorang anak itu suka meniru tingah laku orang
tuanya.Bila orang tua memberikan teladan yang baik kepada anaknya niscaya anak
tersebut menjadi pribadi yang baik.Begitu juga sebaliknya. Maka hendaknya orang
tua memperhatikan dan tidak menyepelekan masalah ini, serta jangan pula apa
yang dikerjakan bertentangan dengan apa yang dikatakan. Alloh berfirman yang
artinya : ”Hai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengatakan apa yang
tidak kalian kerjakan. Amat besar kemurkaan disisi Alloh ta’ala bila kalian
mengatakan apa yang tidak kalian kerjakan” (QS. Ash –Shof : 2-
4.
Menjauhkan mereka dari teman teman yang buruk
Hendaknya
orang tua memberikan pengarahan kepada anak-anaknya agar memilih teman-teman yang baik agama dan budi
pekertinya. Juga selayaknya orang tua memberikan pengertian dan senantiasa
mengingatkan mereka akan bahaya bergaul dengan orang-orang tak sholih.
Rosululloh
shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda
yang artinya: “Sesungguhnya, perumpamaan teman baik dengan teman buruk, seperti
penjual minyak wangi dan pandai besi; adapun penjual minyak, maka bisa jadi dia
akan memberimu hadiah atau engkau membeli darinya atau mendapatkan aromanya;
dan adapun pandai besi, maka boleh jadi ia akan membakar pakaianmu atau engkau
menemukan bau busuk” (HR Bukhari dan
Muslim)
5.
Membentengi diri mereka dari hal hal yang
merusak akhlak mereka
Penyebab
banyaknya penyimpangan yang dilakukan anak-anak baik dari segi aqidah maupun
akhlak adalah apa yang mereka saksikan baik di media cetak maupun elektronik
berupa gambar-gambar atau tayangan-tayangan yang merusak agama mereka.
Solusinya adalah terus memantau aktivitas sehari-hari mereka, serta memberikan
bimbingan akan dampak negatif dari kemajuan teknologi. Yang demikian ini bukan
berarti melarang mereka untuk menggunakan sarana informasi dan komunikasi,
hanya merupakan pengarahan agar teknologi bisa termanfaatkan dengan baik.
6.
Mengajarkan nilai-nilai luhur dalam ajaran
islam
Sudah
sepantasnya bagi orang tua untuk menanamkan nilai-nilai luhur pada diri
anak-anaknya, seperti pentingnya iman dan islam, kecintaan pada Alloh Ta’ala
dan Rosul-Nya shollallohu ‘alaihi wa sallam
(yang nantinya membuahkan ketaatan terhadap perintah-perintah dan
meninggalkan larangan-larangan), juga mengajarkan mereka adab-adab islam
sehari-hari,( seperti adab berpakaian, makan dan minum dsb), dzikir-dzikir dan
doa-doa, cara bertutur kata, bergaul dengan baik terhadap orang yang lebih tua
dan sesama, cinta akan kebersihan dan perilaku baik lainya.
KESIMPULAN
Dari materi yang kami bahas tentang Pendidikan
Anak Usia Dini dan Pandangan Islam tentang Anak dapat disimpulkan bahwa
pendidikan anak usia dini merupakan pendidikan awal, untuk membantu pertumbuhan
dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan untuk memasuki
pendidikan yang lebih lanjut. Dalam hal ini peran orang tua sangat penting,
karena orang tua adalah pengenalan pertama tentang pendidikan. Pada masa usia
dini anak harus memenuhi aspek-aspek perkembangan seperti moral, bahasa, kognitif,
emosi, social, dan agama. Setiap anak memiliki perkembangan yang berbeda,
karena cara pola asuh mereka tidak sama. Ali bin Abi Tholib as, mengatakan
“didik dan ajarilah mereka (istri dan anak-anak) hal-hal kebaikan”. Risalah
Hadist Nabi telah menjustifikasi akan pentingnya pendidikan anak usia dini.
Dalam hadist diterangkan bahwa “ Setiap anak dilahirkan atas fitrah, sehingga
lancar lidahnya, maka orang tuanya yang menjadikan dia beragama Yahudi,
Nasrani, atau Majusi.
DAFTAR PUSTAKA
Hasan, Maimunah. 2011. Pendidikian Anak Usia Dini. Yogyakarta: DIVA
press
Mansyur. 2005. Pendidikan Anak Usia Dini dalam Islam. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Hasan, Maimunah. Pendidikian Anak Usia
Dini. Yogyakarta: DIVA press 2011)
Ahmad Tafsir, Metodologi Pengajaran Agama
Islam (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1996)
Muhaimin, dkk, Paradigma Pendidikan Islam
(Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2002)
No comments:
Post a Comment