BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Bani
Umayah merupakan kekhalifahan yang mengenalkan seni arsitektur kepada Islam,
terutama seni hias atau ornamen. Seni hias atau ornamen ini diterapkan dalam
dekorasi mesjid. Hal itu ditandai dengan adanya hiasan-hiasan atau
ornamen-ornamen di berbagai letak bagian mesjid, seperti di mimbar ataupun di
mihrabnya. Contoh di Mesjid Damaskus yang terletak di Syria.
Sebenarnya,
hiasan atau ornamen yang berkembang pada masa ini dipengaruhi oleh
kerajaan-kerajaan non Islam yang pernah berkuasa pada saat itu seperti Romawi
Timur dan Persia. Hal ini terjadi karena khalifah-khalifah Bani Umayah pada
saat itu menggunakan ahli dan tukang dalam bidang seni arsitektur dari Romawi,
Persia maupun Syria. Lalu bagaimana dengan perkembangan dan pola tata letak
hiasan atau ornamen di Indonesia ? Hal ini akan kita bahas dalam makalah ini
dengan lebih jelas dan rinci.
B. Masalah
1. Apa pengertian
arsitektur, Islam dan arsitektur Islam ?
2. Bagaimana tata
letak ornamen pada arsitektur Islam ?
C. Tujuan
1. Untuk
mengetahui dan memahami apa pengertian arsitektur, Islam dan arsitektur Islam.
2. Untuk
mengetahui dan memahami bagaimana tata letak ornamen pada arsitektur Islam.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Arsitektur Islam dan Ornamen
Dalam
pembahasan sejarah masa lalu, kita dapat mengetahui bagaimana pola kehidupan
dan struktur kemasyarakatan manusia jaman dahulu dari gambar-gambar atau
relief-relief yang ditemukan di gua-gua maupun candi-candi.
Begitu
pula jika kita ingin mengetahui bagaimana corak masyarakat Islam baik pada masa
lalu maupun masa kini, dapat diketahui dari bagaimana pola arsitektur
bangunan-bangunan yang mereka buat, seperti bangunan mesjid, rumah, dll.
Hal
ini dapat diketahui dari pengertian arsitektur itu sendiri, bukan hanya
arsitektur dengan pengertian seni yang berkenaan dengan rancang bangun saja.
Tapi yang kita maksud yaitu arsitektur dengan pengertian yang lebih mendalam,
yaitu salah satu segi dari kebudayaan yang menyentuh segi kemanusiaan secara
langsung, yang dengan sendirinya mengandung faktor pelaksanaan kehidupan
manusia. Lebih jelas lagi, arsitektur merupakan arsip visual dari keadaan zaman
tersebut, bahkan dapat memberikan gambaran yang jelas tentang ukuran
tinggi-rendahnya kehidupan masyarakat pada masa itu.3 Sumber lain mengatakan
bahwa arsitektur merupakan bagian sistem tata nilai suatu masyarakat, ia adalah
cermin tata nilai tersebut yang ber(w)ujud bangunan dan struktur-struktur yang
ada.[1]
Seperti
jenis seni yang lainnya, arsitektur juga memiliki unsur-unsur, yaitu: bentuk,
komposisi, proporsi, harmoni dan keseimbangan.5 Seni arsitektur lebih unggul
dibandingkan dengan jenis seni lainnya dalam segi kegunaan, bahkan dapat
relevan dengan penampilannya sebagai keperluan untuk memenuhi kebutuhan
masyarakat sekitar, contohnya seperti relief-relief yang terdapat di
candi-candi, tidak hanya memiliki keindahan saja, namun juga dapat
memberitahukan kita apa nilai yang terkandung dalam gambar tersebut, bahkan
tidak hanya itu, kita juga dapat mengetahui bagaimana kemajuan peradaban pada
masa itu dan kapan relief itu dibuat dengan menyelidiki tehnik pembuatannya.
Kita
akan membahas arsitektur yang bersangkutan dengan islam, alangkah lebih baik
jika kita mengetahui pengertian islam dan arsitektur islam itu sendiri.
Untuk
dapat mengetahui Islam, kita harus mengetahui apa ciri-ciri dari Islam itu
sendiri. Menurut Achmad Abdullah Al-Masdoosi, ciri-ciri Islam adalah sebagai
berikut:
1. Berpokok pada
ke Esaan Tuhan.
2. Beriman kepada
para nabi.
3. Sumber utama
tuntunan dan ukuran baik dan buruk adalah kitab suci yang diwhyukan.
4. Lahir di Timur
Tengah.
Timbul di daerah yang historik di bawah
pengaruh ras semitik walaupun kemudian agama termaksud berhasil menyebar keluar
area pengaruh semitik.
5. Agama wahyu,
tegas dan Jelas.
Memberikan arah dan jalan yang lengkap kepada
pemeluknya baik aspek duniawi (wodly) maupun aspek bukan duniawi (un-wodly)
ataupun aspek spiritual hidup ini.[2]
Sedangkan arsitektur Islam adalah cabang seni
rupa yang berkembang sejak abad pertama Hijriyah di Arab, Syria dan Iraq dan
pengaruhnya makin meluas dan berkembang sejak zaman pemerintahan dinasti
Ummayah; dimana setiap daerah kekuasaannya banyak mendirikan bangunan-bangunan
masjid dan istana-istana maupun bangunan lainnya.
B. Tata Letak
Ornamen pada Arsitektur Islam
Pada
dasarnya, letak ornamen atau hiasan yang terdapat dalam mesjid terbagi dua
yaitu hiasan atau ornamen yang terletak di luar bangunan dan hiasan atau
ornamen yang terletak di dalam bangunan.[3]
Hiasan atau ornamen yang terletak diluar bangunan yaitu:
1.
Kubah
Kubah yakni bentuk atap setengah lingkaran yang
terletak di atas bangunan mesjid dan pada bagian puncak tengah lingkaran kubah
terdapat lambang bulan sabit dan ditengahnya terdapat bintang; keduanya
ditopang oleh sebuah tongkat.
Hampir semua orang menganggap bahwa kubah
merupakan salah satu unsur wajib dalam pembangunan mesjid. Namun, hal itu
merupakan kesalahan.
Pada awalnya, atap mesjid di Indonesia biasa
saja seperti rumah-rumah yang banyak kita temui, hanya saja, seiring dengan berjalannya
waktu, bagian atap mesjid itu difungsikan sebagai menara untuk mengumandangkan
adzan. Namun kini, setelah atap diganti menjadi kubah, fungsi untuk
mengumandangkan adzan digantikan oleh menara.
Banyak orang Indonesia yang pergi ke luar
negeri, terutama ke Arab untuk naik haji dan melihat bentuk mesjid yang atapnya
melengkung, kini kita kenal dengan kubah. Sebaliknya, banyak juga orang Arab
yang berniaga dan pindah ke Indonesia. Sekitar pertengahan abad ke-20 memang
sedang gencar-gencarnya bangunan mesjid yang menggunakan atap melengkung.
Karena orang-irang tadilah, yang menagkap segala sesuatu dengan visualnya, maka
mesjid dengan atap melengkung menjadi trend hingga hampir semua mesjid memiliki
atap kubah.
Namun, selain trend, kubah juga memiliki berbagai
kelebihan, yaitu:
1.
Untuk lebih melapangkan ruangan dalam mesjid.
2.
Sebagai pengganti tiang dan membuat mesjid
terlihat lebih kokoh.
3.
Lebih memberikan kesan tinggi.
4.
Sebagai identitas bahwa bangunan tersebut
merupakan suatu mesjid, apalagi jika di atasnya terdapat lambang bulan bintang.
5.
Secara psikologis, memiliki bentuk lancip ke
atas sehingga memberikan kesan kekudusan.
6.
Sebagai estetika.
Kubah merupakan ornamen atau hiasan
karena memang kubah ikut memberikan keindahan dalam terbentuknya suatu mesjid.
Apalagi sekarang, kubah yang dilapisi emas maupun keramik yang berwarna-warni,
itu merupakan ciri kubah sebagai hiasan dan ornamen yang tak dapat dipungkiri.
Dengan begitu banyaknya
keanekaragaman budaya Indonesia, membuat kubah memiliki berbagai corak yang berbeda
satu sama lainnya tergantung dari kebudayaan dan corak seni suatu wilayah.
2.
Menara
Menara dalam Bahasa Arab disebut “ma'dzan”,
yakni suatu bangunan ramping dan tinggi sebagai tempat mengumandangkan suara
adzan; memanggil atau menyeru orang banyak (Muslim) untuk melakukan shalat.[4]
Menara atau Minaret fungsinya merupakan untuk
mengumandangkan adzan agar terdengar oleh masyarakat dengan jangkauan yang
lebih luas. Awalnya, belum ada menara. Untuk mengumandangkan adzan biasanya di
suatu ruangan yang terletak di atap. Tetapi, karena atap telah digantikan oleh
kubah, dimana kubah tidak mampu menyediakan ruang untuk mengumadangkan adzan,
maka dibangunlah menara.
Tidak ada aturan dalam meletakan posisi menara,
awalnya menara di bangun setelah bangunan mesjid terbentuk, jadi mesjid dan
menara merupakan bangunan yang terpisah.16 Namun, dengan seperti kubah, menara
menjadi trend dan menjadi ciri suatu mesjid. Akhirnya, kini banyak mesjid yang
memiliki menara, bahkan tidak hanya satu menara. Menara juga kini sudah
dibangun menyatu dengan mesjid. Ciri dan bentuk menara pun berbeda-beda sesuai
pengaruh kebudayaan dan corak seni suatu wilayah.
3.
Taman
Keindahan mesjid tidak hanya dapat dilihat dari
dalam bangunan itu saja, tapi juga dilihat dari luar. Ketika kita datang ke
suatu mesjid yang bagus, pertama kali kita lihat tentu saja kubah dan
menaranya, baru kemudian kita melihat lebih detail mengenai jendela, lengkung
mesjid maupun ukirannya. Oleh karena itulah, para ahli bangunan mempergunakan
taman sebagai penghubung antara alam dengan objeknya dan manusia sebagai
penonton dan objeknya untuk memberikan kesempatan melihat bentuk keseluruhan
mesjid dari luar sebelum ke detailnya.
Kini, taman merupakan suatu objek yang mulai
dikerjakan dengan lebih teliti dan profesional, karena taman mulai ada hampir
pada setiap bangunan untuk umum.
Selain hiasan atau ornamen yang terdapat di
luar bangunan, terdapat pula hiasan-hiasan atau ornamen-ornamen yang terdapat
di dalam bangunan, seperti kaligrafi.[5]
Seperti yang sudah dipaparkan di awal bahwa
pada awal perkembangan mesjid di Indonesia, hiasan atau ornamen yang digunakan
tidak sesuai dengan syariat Islam karena menggunakan unsur mahluk hidup. Karena
itulah, hiasan atau ornamen dengan unsur mahluk hidup tersebut diganti menjadi
hiasan atau ornamen dengan tulisan kaligrafi.
Menurut harfiahnya, kata kaligrafi berasal dari
kata: “kalligraphia”, yang diuraikan atas dua suku kata: kalios artinya indah,
cantik; graphia artinya coretan atau tulisan. Jadi, kaligrafi merupakan seni
tulisan indah (biasanya untuk huruf Arab).
Hiasan atau ornamen kaligrafi ini biasanya
dipasang di sepanjang dinding di bagian dalam mesjid. Begitu banyak jenis
aliran kaligrafi Arab, diantaranya:
a.
Aliran Naskhi
Merupakan
suatu jenis tulisan tangan bentuk cursif, yaitu tulisan bergerak berputar
(rounded) yang sifatnya mudah untuk dibaca. Tulisan ini menjadi tersohor dan
banyak dikagumi bahkan termasuk salah satu jenis tulisan terbaik yaitu ketika
Al Wazir Abu Ali Al Shadr Muhammad Ibn Al Hasan ibn Muqlah menyempurnakannya.
Selain itu tulisan naskhi ini banyak dipakai sebagai tulisan dalam penulisan
naskah-naskah ilmiah Arab , seperti brosur, majalah, koran dan sebagainya.
b.
Aliran Tsuluts
Aliran
ini lebih banyak digunakan dalam penulisan manuskrip, khususnya pembuatan judul
buku atau judul bab. Aliran ini terbagi dua menjadi Tsuluts Tsaqil dan Tsuluts
Khafif, perbedaannya terletak pada ketebalannya saja. Namun, jenis tulisan
Tsuluts ini sudah amat jarang digunakan dalam penulisan Al-Quran karena
dianngap kurang praktis.
c.
Aliran Rayhani
Aliran
ini berasal dari dua aliran yaitu aliran Naskhi dan Tsuluts. Rahyani Artinya
yang “harum semerbak” merupakan tulisan yang hampir sama bentuk serta coraknya
dengan tulisan Muhaqqaq. Jenis tulisan ini sangat digemari karena lebih fleksibel
baik untuk menulis buku-buku agama maupun mushaf Al-Quran.[6]
d.
Aliran Diwani
Jenis
tulisan ini berkembang pada penghujung abad 15 M, merupakan usaha seorang
kaligrafer Turki yang bernama Ibrahim Munif. Corak tulisan ini miring
bersusun-susun dan tumpang tindih.
e.
Aliran Diwani Jali
Diwani
Jali merupakan tulisan hias yang berkembang dari tulisan Diwani, ciri Diwani
Jali yaitu memiliki corak hias yang berlebihan, cenderung lebih menonjolkan
segi hiasannya daripada ejaannya.
f.
Aliran Ta'liq Farisi
Aliran
ini banyak berkembang di Persia, Pakistan, India dan Turki. Jenis tulisan ini
digunakan untuk penulisan buku, majalah dan surat kabar. Berkembang awal mula
di Persia pada masa Pemerintahan dinasti Safavid (15-18 M). Mengalami kemajuan
yang sangat tinggi pada masa pemerintahan Shah Ismail dan Shah Tahmasp. Bentuk
serta corak tulisan ini yaitu seperti menggantung di awan.
g.
Aliran Koufi
Aliran
Koufi ini disebut Khat Muzawwa, yakni suatu jenis tulisan Arab yang berbentuk
siku-siku. Tulisan Koufi mencapai puncak perkembangannya pada abad ke-8 M,
yakni akhir masa kekuasaan Bani Ummayah. Selama pemerintahan Ummayah,
Abbasiyyah, Fatimayyah sampai Andalusia menggunakan tulisan ini sebagai hiasan
mata uang maupun hiasan dekorasi mesjid-mesjid.
h.
Aliran Riq'ah
Merupakan
suatu bentuk tulisan Arab yang bisa ditulis dengan cepat. Tulisan ini ditemukan
sekitar adab 15 M. Penemu tulisan ini diperkirakan adalah Mumtaz Bek pada tahun
1270 H.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Arsitektur
merupakan arsip visual dari keadaan zaman tersebut, bahkan dapat memberikan
gambaran yang jelas tentang ukuran tinggi-rendahnya kehidupan masyarakat pada
masa itu. Sumber lain mengatakan bahwa arsitektur merupakan bagian sistem tata
nilai suatu masyarakat, ia adalah cermin tata nilai tersebut yang ber(w)ujud
bangunan dan struktur-struktur yang ada. Arsitektur juga memiliki unsur-unsur,
yaitu: bentuk, komposisi, proporsi, harmoni dan keseimbangan.
Arsitektur
Islam adalah cabang seni rupa yang berkembang sejak abad pertama Hijriyah di
Arab, Syria dan Iraq dan pengaruhnya makin meluas dan berkembang sejak zaman
pemerintahan dinasti Ummayah; dimana setiap daerah kekuasaannya banyak
mendirikan bangunan-bangunan masjid dan istana-istana maupun bangunan lainnya.
B. Saran
Demikianlah
pembahasan mengenai ornament-ornamen Islam di Indonsia, semoga dapat bermanfaat
bagi kita sekalian. kritik dan saran sangat pemakalah harapkan demi untuk
perbaikan makalah kami selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA
Departemen Pendidikan
dan Kebudayaan. 1993. Jakarta: Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional.
Rochym, Abdul. 1995.
Mesjid dalam Karya Arsitektur Nasional Indonesia. Bandung: Angkasa.
Situmorang, Oloan.
1993. Seni Rupa Islam Pertumbuhan dan Perkembangannya. Bandung: Angkasa
[3] Situmorang, Oloan.
Seni Rupa Islam Pertumbuhan dan Perkembangannya. (Bandung: Angkasa,
1993) h. 41
[5] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. (Jakarta: Direktorat Sejarah
dan Nilai Tradisional. 1993) h. 140
No comments:
Post a Comment