Thursday, April 19, 2018

MAKALAH ARSITEK ISLAM DAN ORNAMEN


BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang
Bani Umayah merupakan kekhalifahan yang mengenalkan seni arsitektur kepada Islam, terutama seni hias atau ornamen. Seni hias atau ornamen ini diterapkan dalam dekorasi mesjid. Hal itu ditandai dengan adanya hiasan-hiasan atau ornamen-ornamen di berbagai letak bagian mesjid, seperti di mimbar ataupun di mihrabnya. Contoh di Mesjid Damaskus yang terletak di Syria.
Sebenarnya, hiasan atau ornamen yang berkembang pada masa ini dipengaruhi oleh kerajaan-kerajaan non Islam yang pernah berkuasa pada saat itu seperti Romawi Timur dan Persia. Hal ini terjadi karena khalifah-khalifah Bani Umayah pada saat itu menggunakan ahli dan tukang dalam bidang seni arsitektur dari Romawi, Persia maupun Syria. Lalu bagaimana dengan perkembangan dan pola tata letak hiasan atau ornamen di Indonesia ? Hal ini akan kita bahas dalam makalah ini dengan lebih jelas dan rinci.

B.     Masalah
1.      Apa pengertian arsitektur, Islam dan arsitektur Islam ?
2.      Bagaimana tata letak ornamen pada arsitektur Islam ?

C.     Tujuan
1.      Untuk mengetahui dan memahami apa pengertian arsitektur, Islam dan arsitektur Islam.
2.      Untuk mengetahui dan memahami bagaimana tata letak ornamen pada arsitektur Islam.




BAB II
PEMBAHASAN

A.     Pengertian Arsitektur  Islam dan Ornamen
Dalam pembahasan sejarah masa lalu, kita dapat mengetahui bagaimana pola kehidupan dan struktur kemasyarakatan manusia jaman dahulu dari gambar-gambar atau relief-relief yang ditemukan di gua-gua maupun candi-candi.
Begitu pula jika kita ingin mengetahui bagaimana corak masyarakat Islam baik pada masa lalu maupun masa kini, dapat diketahui dari bagaimana pola arsitektur bangunan-bangunan yang mereka buat, seperti bangunan mesjid, rumah, dll.
Hal ini dapat diketahui dari pengertian arsitektur itu sendiri, bukan hanya arsitektur dengan pengertian seni yang berkenaan dengan rancang bangun saja. Tapi yang kita maksud yaitu arsitektur dengan pengertian yang lebih mendalam, yaitu salah satu segi dari kebudayaan yang menyentuh segi kemanusiaan secara langsung, yang dengan sendirinya mengandung faktor pelaksanaan kehidupan manusia. Lebih jelas lagi, arsitektur merupakan arsip visual dari keadaan zaman tersebut, bahkan dapat memberikan gambaran yang jelas tentang ukuran tinggi-rendahnya kehidupan masyarakat pada masa itu.3 Sumber lain mengatakan bahwa arsitektur merupakan bagian sistem tata nilai suatu masyarakat, ia adalah cermin tata nilai tersebut yang ber(w)ujud bangunan dan struktur-struktur yang ada.[1]
Seperti jenis seni yang lainnya, arsitektur juga memiliki unsur-unsur, yaitu: bentuk, komposisi, proporsi, harmoni dan keseimbangan.5 Seni arsitektur lebih unggul dibandingkan dengan jenis seni lainnya dalam segi kegunaan, bahkan dapat relevan dengan penampilannya sebagai keperluan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sekitar, contohnya seperti relief-relief yang terdapat di candi-candi, tidak hanya memiliki keindahan saja, namun juga dapat memberitahukan kita apa nilai yang terkandung dalam gambar tersebut, bahkan tidak hanya itu, kita juga dapat mengetahui bagaimana kemajuan peradaban pada masa itu dan kapan relief itu dibuat dengan menyelidiki tehnik pembuatannya.
Kita akan membahas arsitektur yang bersangkutan dengan islam, alangkah lebih baik jika kita mengetahui pengertian islam dan arsitektur islam itu sendiri.
Untuk dapat mengetahui Islam, kita harus mengetahui apa ciri-ciri dari Islam itu sendiri. Menurut Achmad Abdullah Al-Masdoosi, ciri-ciri Islam adalah sebagai berikut:
1.      Berpokok pada ke Esaan Tuhan.
2.      Beriman kepada para nabi.
3.      Sumber utama tuntunan dan ukuran baik dan buruk adalah kitab suci yang diwhyukan.
4.      Lahir di Timur Tengah.
Timbul di daerah yang historik di bawah pengaruh ras semitik walaupun kemudian agama termaksud berhasil menyebar keluar area pengaruh semitik.
5.      Agama wahyu, tegas dan Jelas.
Memberikan arah dan jalan yang lengkap kepada pemeluknya baik aspek duniawi (wodly) maupun aspek bukan duniawi (un-wodly) ataupun aspek spiritual hidup ini.[2]
Sedangkan arsitektur Islam adalah cabang seni rupa yang berkembang sejak abad pertama Hijriyah di Arab, Syria dan Iraq dan pengaruhnya makin meluas dan berkembang sejak zaman pemerintahan dinasti Ummayah; dimana setiap daerah kekuasaannya banyak mendirikan bangunan-bangunan masjid dan istana-istana maupun bangunan lainnya.



B.     Tata Letak Ornamen pada Arsitektur Islam
Pada dasarnya, letak ornamen atau hiasan yang terdapat dalam mesjid terbagi dua yaitu hiasan atau ornamen yang terletak di luar bangunan dan hiasan atau ornamen yang terletak di dalam bangunan.[3] Hiasan atau ornamen yang terletak diluar bangunan yaitu:
1.      Kubah
Kubah yakni bentuk atap setengah lingkaran yang terletak di atas bangunan mesjid dan pada bagian puncak tengah lingkaran kubah terdapat lambang bulan sabit dan ditengahnya terdapat bintang; keduanya ditopang oleh sebuah tongkat.
Hampir semua orang menganggap bahwa kubah merupakan salah satu unsur wajib dalam pembangunan mesjid. Namun, hal itu merupakan kesalahan.
Pada awalnya, atap mesjid di Indonesia biasa saja seperti rumah-rumah yang banyak kita temui, hanya saja, seiring dengan berjalannya waktu, bagian atap mesjid itu difungsikan sebagai menara untuk mengumandangkan adzan. Namun kini, setelah atap diganti menjadi kubah, fungsi untuk mengumandangkan adzan digantikan oleh menara.
Banyak orang Indonesia yang pergi ke luar negeri, terutama ke Arab untuk naik haji dan melihat bentuk mesjid yang atapnya melengkung, kini kita kenal dengan kubah. Sebaliknya, banyak juga orang Arab yang berniaga dan pindah ke Indonesia. Sekitar pertengahan abad ke-20 memang sedang gencar-gencarnya bangunan mesjid yang menggunakan atap melengkung. Karena orang-irang tadilah, yang menagkap segala sesuatu dengan visualnya, maka mesjid dengan atap melengkung menjadi trend hingga hampir semua mesjid memiliki atap kubah.
Namun, selain trend, kubah juga memiliki berbagai kelebihan, yaitu:
1.      Untuk lebih melapangkan ruangan dalam mesjid.
2.      Sebagai pengganti tiang dan membuat mesjid terlihat lebih kokoh.
3.      Lebih memberikan kesan tinggi.
4.      Sebagai identitas bahwa bangunan tersebut merupakan suatu mesjid, apalagi jika di atasnya terdapat lambang bulan bintang.
5.      Secara psikologis, memiliki bentuk lancip ke atas sehingga memberikan kesan kekudusan.
6.      Sebagai estetika.
Kubah merupakan ornamen atau hiasan karena memang kubah ikut memberikan keindahan dalam terbentuknya suatu mesjid. Apalagi sekarang, kubah yang dilapisi emas maupun keramik yang berwarna-warni, itu merupakan ciri kubah sebagai hiasan dan ornamen yang tak dapat dipungkiri.
Dengan begitu banyaknya keanekaragaman budaya Indonesia, membuat kubah memiliki berbagai corak yang berbeda satu sama lainnya tergantung dari kebudayaan dan corak seni suatu wilayah.
2.      Menara
Menara dalam Bahasa Arab disebut “ma'dzan”, yakni suatu bangunan ramping dan tinggi sebagai tempat mengumandangkan suara adzan; memanggil atau menyeru orang banyak (Muslim) untuk melakukan shalat.[4]
Menara atau Minaret fungsinya merupakan untuk mengumandangkan adzan agar terdengar oleh masyarakat dengan jangkauan yang lebih luas. Awalnya, belum ada menara. Untuk mengumandangkan adzan biasanya di suatu ruangan yang terletak di atap. Tetapi, karena atap telah digantikan oleh kubah, dimana kubah tidak mampu menyediakan ruang untuk mengumadangkan adzan, maka dibangunlah menara.
Tidak ada aturan dalam meletakan posisi menara, awalnya menara di bangun setelah bangunan mesjid terbentuk, jadi mesjid dan menara merupakan bangunan yang terpisah.16 Namun, dengan seperti kubah, menara menjadi trend dan menjadi ciri suatu mesjid. Akhirnya, kini banyak mesjid yang memiliki menara, bahkan tidak hanya satu menara. Menara juga kini sudah dibangun menyatu dengan mesjid. Ciri dan bentuk menara pun berbeda-beda sesuai pengaruh kebudayaan dan corak seni suatu wilayah.
3.      Taman
Keindahan mesjid tidak hanya dapat dilihat dari dalam bangunan itu saja, tapi juga dilihat dari luar. Ketika kita datang ke suatu mesjid yang bagus, pertama kali kita lihat tentu saja kubah dan menaranya, baru kemudian kita melihat lebih detail mengenai jendela, lengkung mesjid maupun ukirannya. Oleh karena itulah, para ahli bangunan mempergunakan taman sebagai penghubung antara alam dengan objeknya dan manusia sebagai penonton dan objeknya untuk memberikan kesempatan melihat bentuk keseluruhan mesjid dari luar sebelum ke detailnya.
Kini, taman merupakan suatu objek yang mulai dikerjakan dengan lebih teliti dan profesional, karena taman mulai ada hampir pada setiap bangunan untuk umum.
Selain hiasan atau ornamen yang terdapat di luar bangunan, terdapat pula hiasan-hiasan atau ornamen-ornamen yang terdapat di dalam bangunan, seperti kaligrafi.[5]
Seperti yang sudah dipaparkan di awal bahwa pada awal perkembangan mesjid di Indonesia, hiasan atau ornamen yang digunakan tidak sesuai dengan syariat Islam karena menggunakan unsur mahluk hidup. Karena itulah, hiasan atau ornamen dengan unsur mahluk hidup tersebut diganti menjadi hiasan atau ornamen dengan tulisan kaligrafi.
Menurut harfiahnya, kata kaligrafi berasal dari kata: “kalligraphia”, yang diuraikan atas dua suku kata: kalios artinya indah, cantik; graphia artinya coretan atau tulisan. Jadi, kaligrafi merupakan seni tulisan indah (biasanya untuk huruf Arab).
Hiasan atau ornamen kaligrafi ini biasanya dipasang di sepanjang dinding di bagian dalam mesjid. Begitu banyak jenis aliran kaligrafi Arab, diantaranya:
a.       Aliran Naskhi
Merupakan suatu jenis tulisan tangan bentuk cursif, yaitu tulisan bergerak berputar (rounded) yang sifatnya mudah untuk dibaca. Tulisan ini menjadi tersohor dan banyak dikagumi bahkan termasuk salah satu jenis tulisan terbaik yaitu ketika Al Wazir Abu Ali Al Shadr Muhammad Ibn Al Hasan ibn Muqlah menyempurnakannya. Selain itu tulisan naskhi ini banyak dipakai sebagai tulisan dalam penulisan naskah-naskah ilmiah Arab , seperti brosur, majalah, koran dan sebagainya.
b.      Aliran Tsuluts
Aliran ini lebih banyak digunakan dalam penulisan manuskrip, khususnya pembuatan judul buku atau judul bab. Aliran ini terbagi dua menjadi Tsuluts Tsaqil dan Tsuluts Khafif, perbedaannya terletak pada ketebalannya saja. Namun, jenis tulisan Tsuluts ini sudah amat jarang digunakan dalam penulisan Al-Quran karena dianngap kurang praktis.
c.       Aliran Rayhani
Aliran ini berasal dari dua aliran yaitu aliran Naskhi dan Tsuluts. Rahyani Artinya yang “harum semerbak” merupakan tulisan yang hampir sama bentuk serta coraknya dengan tulisan Muhaqqaq. Jenis tulisan ini sangat digemari karena lebih fleksibel baik untuk menulis buku-buku agama maupun mushaf Al-Quran.[6]
d.      Aliran Diwani
Jenis tulisan ini berkembang pada penghujung abad 15 M, merupakan usaha seorang kaligrafer Turki yang bernama Ibrahim Munif. Corak tulisan ini miring bersusun-susun dan tumpang tindih.


e.       Aliran Diwani Jali
Diwani Jali merupakan tulisan hias yang berkembang dari tulisan Diwani, ciri Diwani Jali yaitu memiliki corak hias yang berlebihan, cenderung lebih menonjolkan segi hiasannya daripada ejaannya.
f.        Aliran Ta'liq Farisi
Aliran ini banyak berkembang di Persia, Pakistan, India dan Turki. Jenis tulisan ini digunakan untuk penulisan buku, majalah dan surat kabar. Berkembang awal mula di Persia pada masa Pemerintahan dinasti Safavid (15-18 M). Mengalami kemajuan yang sangat tinggi pada masa pemerintahan Shah Ismail dan Shah Tahmasp. Bentuk serta corak tulisan ini yaitu seperti menggantung di awan.
g.       Aliran Koufi
Aliran Koufi ini disebut Khat Muzawwa, yakni suatu jenis tulisan Arab yang berbentuk siku-siku. Tulisan Koufi mencapai puncak perkembangannya pada abad ke-8 M, yakni akhir masa kekuasaan Bani Ummayah. Selama pemerintahan Ummayah, Abbasiyyah, Fatimayyah sampai Andalusia menggunakan tulisan ini sebagai hiasan mata uang maupun hiasan dekorasi mesjid-mesjid.
h.       Aliran Riq'ah
Merupakan suatu bentuk tulisan Arab yang bisa ditulis dengan cepat. Tulisan ini ditemukan sekitar adab 15 M. Penemu tulisan ini diperkirakan adalah Mumtaz Bek pada tahun 1270 H.









BAB III
PENUTUP

A.     Kesimpulan
Arsitektur merupakan arsip visual dari keadaan zaman tersebut, bahkan dapat memberikan gambaran yang jelas tentang ukuran tinggi-rendahnya kehidupan masyarakat pada masa itu. Sumber lain mengatakan bahwa arsitektur merupakan bagian sistem tata nilai suatu masyarakat, ia adalah cermin tata nilai tersebut yang ber(w)ujud bangunan dan struktur-struktur yang ada. Arsitektur juga memiliki unsur-unsur, yaitu: bentuk, komposisi, proporsi, harmoni dan keseimbangan.
Arsitektur Islam adalah cabang seni rupa yang berkembang sejak abad pertama Hijriyah di Arab, Syria dan Iraq dan pengaruhnya makin meluas dan berkembang sejak zaman pemerintahan dinasti Ummayah; dimana setiap daerah kekuasaannya banyak mendirikan bangunan-bangunan masjid dan istana-istana maupun bangunan lainnya.

B.     Saran
Demikianlah pembahasan mengenai ornament-ornamen Islam di Indonsia, semoga dapat bermanfaat bagi kita sekalian. kritik dan saran sangat pemakalah harapkan demi untuk perbaikan makalah kami selanjutnya.










DAFTAR PUSTAKA

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1993. Jakarta: Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional.

Rochym, Abdul. 1995. Mesjid dalam Karya Arsitektur Nasional Indonesia. Bandung: Angkasa.

Situmorang, Oloan. 1993. Seni Rupa Islam Pertumbuhan dan Perkembangannya. Bandung: Angkasa




[1] Rochym, Abdul. Mesjid dalam Karya Arsitektur Nasional Indonesia. (Bandung: Angkasa. 1995) h. 72
[2] Rochym, Abdul. Mesjid dalam Karya Arsitektur Nasional Indonesia.  … h. 73
[3] Situmorang, Oloan. Seni Rupa Islam Pertumbuhan dan Perkembangannya. (Bandung: Angkasa, 1993) h. 41
[4] Situmorang, Oloan. Seni Rupa Islam Pertumbuhan dan Perkembangannya.  … h. 43
[5] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. (Jakarta: Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional. 1993) h. 140
[6] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.  …. h. 142

No comments:

Post a Comment