BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang Masalah
Membicarakan
tentang landasan dalam bimbingan dan konseling pada dasarnya tidak jauh berbeda
dengan landasan-landasan yang biasa diterapkan dalam pendidikan, seperti
landasan dalam pengembangan kurikulum, landasan pendidikan non formal atau pun
landasan pendidikan secara umum.
Landasan
dalam bimbingan dan konseling pada hakekatnya merupakan faktor-faktor yang
harus diperhatikan dan dipertimbangkan khususnya oleh konselor selaku pelaksana
utama dalam mengembangkan layanan bimbingan dan konseling. Ibarat sebuah
bangunan, untuk dapat berdiri tegak dan kokoh tentu membutuhkan fundasi yang
kuat dan tahan lama. Apabila bangunan tersebut tidak memiliki fundasi yang
kokoh, maka bangunan itu akan mudah goyah atau bahkan ambruk. Demikian pula,
dengan layanan bimbingan dan konseling, apabila tidak didasari oleh fundasi
atau landasan yang kokoh akan mengakibatkan kehancuran terhadap layanan
bimbingan dan konseling itu sendiri dan yang menjadi taruhannya adalah individu
yang dilayaninya (klien).
Dalam
memberikan layanan bimbingan dan konseling
di sekolah ada beberapa prinsip yang perlu kita perhatikan.
Prinsip-prinsip tersebut menjadi pedoman dalam pelaksanaan bimbingan dan
konseling. Maknanya apabila bimbingan dan konseling dilaksanakan tidak sesuai
dengan prinsip-prinsip tersebut berarti bukan merupakan bimbingan dan konseling
dalam arti yang sebenarnya.
Bimbingan
dan konseling mrupakan layanan kemanusiaan. Pelaksanaannya selain harus
berlandaskan pada prinsip-prinsip dan asas-asas tertentu juga harus mengacu
pada kepada landasan bimbingan dan konseling itu sendiri.
B. Rumusan
Masalah
1. Apa pengertian
landasan bimbingan dan konseling?
2. Apa saja
landasan bimbingan dan konseling?
C. Tujuan
1. Untuk
mengetahui landasan bimbingan dan konseling
2. Untuk
mengetahui landasan-landasan bimbingan dan konseling.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Landasan
Bimbingan dan Konseling
Landasan
bimbingan dan konseling pada hakekatnya merupakan faktor-faktor yang harus
diperhatikan dan dipertimbangkan khususnya bagi konselor selaku pelaksana utama
dalam mengembangkan layanan bimbingan dan konseling.[1]
Layanan
bimbingan dan konseling merupakan bagian integral dari pendidikan di Indonesia.
Sebagai sebuah layanan profesional, kegiatan layanan bimbingan dan konseling
tidak bisa dilakukan secara sembarangan, namun harus berangkat dan berpijak
dari suatu landasan yang kokoh, yang didasarkan pada hasil-hasil pemikiran dan
penelitian yang mendalam. Dengan adanya pijakan yang jelas dan kokoh diharapkan
pengembangan layanan bimbingan dan konseling, baik dalam tataran teoritik
maupun praktek, dapat semakin lebih mantap dan bisa dipertanggungjawabkan serta
mampu memberikan manfaat besar bagi kehidupan, khususnya bagi para penerima
jasa layanan (klien). .
Agar
aktivitas dalam layanan bimbingan dan konseling tidak terjebak dalam berbagai
bentuk penyimpangan yang dapat merugikan semua pihak, khususnya pihak para
penerima jasa layanan (klien) maka pemahaman dan penguasaan tentang landasan
bimbingan dan konseling khususnya oleh para konselor tampaknya tidak bisa ditawar-tawar
lagi dan menjadi mutlak adanya..
Berbagai
kesalahkaprahan dan kasus malpraktek yang terjadi dalam layanan bimbingan dan
konseling selama ini,– seperti adanya anggapan bimbingan dan konseling sebagai
“polisi sekolah”, atau berbagai persepsi lainnya yang keliru tentang layanan
bimbingan dan konseling,- sangat mungkin memiliki keterkaitan erat dengan
tingkat pemahaman dan penguasaan konselor.tentang landasan bimbingan dan
konseling. Dengan kata lain, penyelenggaraan bimbingan dan konseling dilakukan
secara asal-asalan, tidak dibangun di atas landasan yang seharusnya.
Oleh
karena itu, dalam upaya memberikan pemahaman tentang landasan bimbingan dan
konseling, khususnya bagi para konselor, melalui tulisan ini akan dipaparkan
tentang beberapa landasan yang menjadi pijakan dalam setiap gerak langkah
bimbingan dan konseling.
B. Macam-macam
Landasan Bimbingan dan Konseling
Secara
umum terdapat empat aspek pokok yang mendasari bimbingan dan konseling yaitu:
1. Landasan
Filosofi
Landasan filosofis merupakan landasan yang
dapat memberikan arahan dan pemahaman khususnya bagi konselor dalam
melaksanakan setiap kegiatan bimbingan dan konseling yang lebih bisa
dipertanggungjawabkan secara logis, estis maupun etis.[2]
Pemikiran yang paling mendalam, luas, tinggi
dan tuntas mengarah kepada kefahaman tentang hakikat sesuatu. Sesuatu yang
dipikirkan itu dikupas, diteliti, dikaji dan selurus lurusnya dan setajam
tajamnya sehingga diperoleh kefahaman menyeluruh tentang hakikat keberadaan dan
keadaan sesuatu itu. Hasil pikiran yang menyeluruh itu selanjutnya dipakai
sebagai dasar untuk bertindak berkenaan dengan sesuatu yang dimaksudkan itu.
Pikiran filosofis juga mencapkup segi estetika, etika, logika, maka tindakan
yang berlandasan kefahaman filosofis itu akan dapat dipertanggungjawabkan
secara logis dan etis, serta dapat memenuhi tuntutan estetika.
Pelayanan bimbingan dan konseling meliputi
serangkaian kegiatan atau tindakan yang semuanya diharapkan merupakan tindakan
yang bijaksana. Untuk itu diperlukan pikiran filosofis tentang berbagai hal
yang bersangkutan dengan pelayanan bimbingan dan konseling. Pikiran dan
kefahaman filosofis menjadi alat yang bermanfaat bagi pelayanan bimbingan dan
konseling pada umumnya dan bagi konselor pada khususnya. Pikiran dan kefahaman
filosofis memunkinkan konselor menjadikan hidupnya sendiri lebih mantap, lebih
fasilitatif serta lebih efektif dalam penerapan upaya pemberian bantuannya.[3]
Ada beberapa pemiikiran yang terkait dalam
pelayanan bimbingan dan konseling, di antaranya hakikat manusia, tujuan dan
tugas kehidupan. Dalam hakikat manusia dijelaskan bahwa manusia adalah makhluk
ciptaan tuhan, manusia adalah makhluk yang tertinggi dan termulia derajatnya dan paling indah diantara
makhluk ciptaan tuhan, keberadaan manusia dilengkapi dengan dimensi kamusiaan
yaitu dimensi keindividuan, kesosialan, kesusilaan dan keberagamaan. Dalam
kehidupan ini sebagai tujuan dan tugas kehidupan manusia mencangkup tugas
kehidupan spiritual, tugas pengaturan diri, tugas bekerja, tugas persahabatan
dan tugas cinta( saling mengasihi).
2. Landasan
psikologi
Landasan psikologis merupakan landasan yang
dapat memberikan pemahaman bagi konselor tentang perilaku individu yang menjadi
sasaran layanan (klien).[4]
Psikologis merupakan kajian tentang tingkah
laku individu. Landasan psikologis dalam bimbingan dan konseling berarti
memberikan kefahaman tentang tingkah laku individu yang menjadikan sasaran
layanan. Hal yang sangat penting karena bidang garapan bimbingan dan konseling
adalah tingkah laku klien, yaitu tingkah laku klien perlu diubah atau
dikembangkan apabila ia hendak mengatasi masalah yang di hadapinya atau ingin
mencapai tujuan yang dikehendakinya tingkah laku adalah gerak hidup individu yang dapat dirumuskan dalam bentuk
kata kerja. Tingkah laku individu tidak terjadi dalam keadaan kosong, melainkan
mengandung latar belakang, latar depan, sangkut paut dan isi tertentu.
Lagi pula tingkah laku itu berlangsung dalam
kaitannya dengan lingkungan tertentu
yang memngandung di dalam unsur waktu, tempat dan berbagai kondisi lainnya.
Untuk keperluan bimbingan dan konseling sejumlah daerah kajian dalam bidang
psikologi perlu dikuasai, tentang motiv dan motivasi, pembawaan dasar dan
lingkungan, perkembangan individu, belajar, balikan dan penguatan, kepribadian.
Perlu dipahami bahwa atribut psikologi
diantaranya kecerdasan, gaya kognitif dan motivasi, yang dan menentukan
seseorang menjadi kreativitas, terwujud dalam tingkah laku seseorang.
3. Landasan
sosial-budaya
Landasan sosial-budaya merupakan landasan yang
dapat memberikan pemahaman kepada konselor tentang dimensi kesosialan dan
dimensi kebudayaan sebagai faktor yang memperngaruhi terhadap perilaku
individu. Perkembangan zaman banyak menimbulkan perubahan dan kemajuan dalam
berbagai segi kehidupan dalam masyarakat. Perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi menimbulkan perubahan-perubahan di dalam berbagai aspek kehidupan
seperti aspek sosial, politik, ekonomi, industri dan sebagainya. Perkembangan
berbagai lapangan kerja, masalah hubungan sosial, masalah tenaga ahli, masalah
pengangguran, dan sebagainya, merupakan beberapa diantara masalah-masalah yang
sering terjadi sebagai akibat perubahan dan kemajuan tersebut. Di samping itu
pula pertambahan penduduk yang kian meningkat telah menambah kompleksnya
masalah yang dihadapi.[5]
Keadaan seperti di atas berpengaruh pula kepada
kehidupan individu sebagai pribadi maupun sebagai anggota masyarakat. Individu
dihadapkan pada situasi yang penuh dengan perubahan-perubahan yang serba
kompleks itu. Seperti telah disinggung di atas, perubahan dan perkembangan
zaman modern menimbulkan berbagai masalah yang menyangkut dengan kompleksnya
jenis-jenis dan syarat-syarat pekerjaan, jenis dan pola kehidupan, jenis dan
kesempatan pendidikan, persaingan antar individu, dan sebagainya.[6]
Dengan demikian individu dituntut untuk lebih
mampu menghadapi berbagai masalah seperti masalah penyesuaian diri, masalah
pemilihan pekerjaan, masalah perencanaan dan pemilihan pendidikan,
masalah-masalah hubungan sosial, masalah keluarga, masalah keuangan, dan
masalah-masalah pribadi. Dapat dimaklumi bahwa tiap individu dapat berhasil
dengan sebaik-baiknya mengatasi masalah-masalah yang dihadapinya itu.
4. Landasan
pengetahuan dan teknologi
Sejalan dengan perkembangan teknologi,
khususnya teknologi informasi berbasis komputer, sejak tahun 1980-an peranan
komputer telah banyak dikembangkan dalam bimbingan dan konseling. Menurut
Gausel (Prayitno, 2003) bidang yang telah banyak memanfaatkan jasa komputer
ialah bimbingan karier dan bimbingan dan konseling pendidikan. Moh. Surya
(2006) mengemukakan bahwa sejalan dengan perkembangan teknologi komputer
interaksi antara konselor dengan individu yang dilayaninya (klien) tidak hanya
dilakukan melalui hubungan tatap muka tetapi dapat juga dilakukan melalui
hubungan secara virtual (maya) melalui internet, dalam bentuk “cyber
counseling”. Dikemukakan pula, bahwa perkembangan dalam bidang teknologi
komunikasi menuntut kesiapan dan adaptasi konselor dalam penguasaan teknologi dalam
melaksanakan bimbingan dan konseling.
Dengan adanya landasan ilmiah dan teknologi
ini, maka peran konselor didalamnya mencakup pula sebagai ilmuwan sebagaimana
dikemukakan oleh McDaniel (Prayitno, 2003) bahwa konselor adalah seorang
ilmuwan. Sebagai ilmuwan, konselor harus mampu mengembangkan pengetahuan dan
teori tentang bimbingan dan konseling, baik berdasarkan hasil pemikiran
kritisnya maupun melalui berbagai bentuk kegiatan penelitian.
5. Landasan
Historis
a. Sekilas tentang
sejarah bimbingan dan konseling
Secara
umum, konsep bimbingan dan konseling telah lama dikenal manusia melalui
sejarah. Sejarah tentang pengembangan potensi individu dapat ditelusuri dari
masyarakat yunani kuno. Mereka menekankan upaya-upaya untuk mengembangkan dan
menguatkan individu melalui pendidikan. Plato dipandang sebagan koselor Yunani
Kuno karena dia telah menaruh perhatian besar terhadap masalah-masalah
pemahaman psikologis individu seperti menyangkut aspek isu-isu moral,
pendidikan, hubungan dalam masyarakat dan teologis.
b. Perkembangan
layanan bimbingan di Indonesia
Layanan
BK di industri Indonesia telah mulai dibicarakan sejak tahun 1962. ditandai
dengan adanya perubahan sistem pendidikan di SMA yakni dengan adanya program
penjurusan, program penjurusan merupakan respon akan kebutuhan untuk
menyalurkan siswa kejurusan yang tepat bagi dirinya secara perorangan. Puncak
dari usaha ini didirikan jurusan Bimbingan dan penyuluhan di Fakultas Ilmu
Pendidikan IKIP Negeri, salah satu yang membuka jurusan tersebut adalah IKIP
Bandung (sekrang berganti nama Universitas Pendidikan Indonesia).
Dengan
adanya gagasan sekolah pembangunan pada tahun 1970/1971, peranan bimbingan
kembali mendapat perhatian. Gagasan sekolah pembangunan ini dituangkan dalam
program sekolah menengah pembangunan persiapan, yang berupa proyek percobaan
dan peralihan dari sistem persekolahan Cuma menjadi sekolah pembangunan.
Sistem
sekolah pembangunan tersebut dilaksanakan melalui proyek pembaharuan pendidikan
yang dinamai PPSP (Proyek Perintis Sekolah Pembangunan) yang diujicobakan di 8
IKIP. Badan pengembangan pendidikan berhasil menyusun 2 naskah penting yakni
dengan pola dasar rencana-rencana pembangunan program Bimbingan dan penyuluhan
melalui proyek-proyek perintis sekolah pembangunan dan pedoman operasional pelayanan
bimbingan pada PPSP.
Secara
resmi BK di programkan disekolah sejak diberlakukan kurikulum 1975, tahun 1975
berdiri ikatan petugas bimbingan Indonesia (IPBI) di Malang.
Penyempurnaan
kurikulum 1975 ke kurikulum 1984 dengan memasukkan bimbingan karir di dalamnya.
Selanjutnya UU No. 0/1989 tentang Sisdiknas membuat mantap posisi bimbingan dan
konseling yang kian diperkuat dengan PP No. 20 Bab X Pasal 25/1990 dan PP No.
29 Bab X Pal 27/1990 yang menyatakan bahwa “Bimbingan merupakan bantuan yang
diberikan kepada siswa dalam rangka upaya menemukan pribadi, mengenal
lingkungan dan merencanakan masa depan.
Perkembangan
BK di Indonesia semakin mantap dengan berubahnya 1 PBI menjadi ABKIN (Asuransi
Bimbingan dan Konseling Indonesia) tapa tahun 2001.
6. Landasan Religius
Dalam landasan religius BK diperlukan penekanan pada 3 hal pokok:
a. Keyakinan bahwa
mnusia dan seluruh alam adalah mahluk Tuhan
b. Sikap yang
mendorong perkembangan dan perikehidupan manusia berjalan kearah dan sesuai
dengan kaidah-kaidah agama
c. Upaya yang
memungkinkan berkembang dan dimanfaatkannya secara optimal suasana dan
perangkat budaya serta kemasyarakatan yang sesuai dengan kaidah-kaidah agama
untuk membentuk perkembangan dan pemecahan masalah individu
Landasan
Religius berkenaan dengan :
a. Manusia sebagai
Mahluk Tuhan, Manusia adalah mahluk Tuhan yang memiliki sisi-sisi kemanusiaan.
b. Sikap
Keberagamaan
Menyeimbangkan
antara kehidupan dunia dan akhirat menjadi isi dari sikap keberagaman. Sikap
keberagaman tersebut pertama difokuskan pada agama itu sendiri, agama harus
dipandang sebagai pedoman penting dalam hidup, nilai-nilainya harus diresapi
dan diamalkan. Kedua, menyikapi peningkatan iptek sebagai upaya lanjut dari
penyeimbang kehidupan dunia dan akhirat.
c. Peranan Agama
Pemanfaatan
unsur-unsur agama hendaknya dilakukan secara wajar, tidak dipaksakan dan tepat
menempatkan klien sebagai seorang yang bebas dan berhak mengambil keputusan
sendiri sehingga agama dapat berperan positif dalam konseling yang dilakukan
agama sebagai pedoman hidup ia memiliki fungsi :
1)
Memelihara fitrah
2)
Memelihara jiwa
3)
Memelihara akal
4)
Memelihara keturunan
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Landasan
bimbingan dan konseling pada hakekatnya merupakan faktor-faktor yang harus
diperhatikan dan dipertimbangkan khususnya bagi konselor selaku pelaksana utama
dalam mengembangkan layanan bimbingan dan konseling.
Terdapat
empat aspek yang mendasari bimbingan dan konseling diantaranya yaitu: landasan
filosofis, landasan psikologis, landasan sosial-budaya dan landasan Ilmu
Pengetahuan dan Teknologi.
B. Saran
Agar lebih
memahami di dalam melaksanakan program bimbingan dan konseling, maka pemakalah
menyarankan agar kita menguasai dan mengetahui terlebih dahulu landasan
bimbingan dan konseling.
DAFTAR PUSTAKA
Prayitno dan Amti,
Erman, 2004, Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling, Jakarta : Rineka Cipta.
W.S, Winkel, 1991,
Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan, Jakarta : PT Grasindo.
Yusuf, Syamsu dan
Nurishan, A. Juntika, 2006, Landasan Bimbingan dan Konseling, Bandung : Remaja
Rosdakarya
Nana Syaodih Sukmadinata. Landasan Psikologi Proses
Pendidikan. (Bandung : P.T. Remaja Rosdakarya. 1005)
Abin Syamsuddin
Makmun. 2003. Psikologi Pendidikan. Bandung : PT Rosda Karya Remaja.
[1] Nana Syaodih Sukmadinata. Landasan Psikologi Proses Pendidikan.
(Bandung
: P.T. Remaja Rosdakarya.
1005) h. 63
[2] Syamsul Yusuf, A. Juntika Narihsan, Landasan Bimbingan dan
Konseling, (Bandung: Remaja Rosdakarnya, 2006) hal. 106
[4] Prayitno. Erman Amti, Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling, (Jakarta:
Rineka Cipta, 2004) Hal. 170
[6] W.S, Winkel, Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan, (Jakarta : PT
Grasindo. 1991) h. 22
No comments:
Post a Comment