Sunday, April 22, 2018

Makalah Filsafat di Dunia Islam


BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang
Islam adalah sebuah agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw, Islam meyakini agama-agama terdahulu, bahkan keberadaan agama Kristen dan agama Yahudi dibahas dalam kitab suci agama Islam, Islam menolak penuhanan apapun selain daripada Allah. Bahkan Muhammad saw sekalipun menolak penuhanan atas dirinya, sebagai agama terakhir di muka bumi maka Nabi Muhammad saw dianggap sebagai Nabi yang terakhir pula. Itulah sebabnya apabila ada orang yang mengaku menjadi nabi dan rasul setelah Nabi Muhammad saw maka akan segera dikafirkan.
Secara etimologi dalam Bahasa Arab, kata Islam berasal dari kata aslama yang berarti berserah diri, maksudnya menyerahkan diri kepada Allah. Namun kemudian berserah diri tersebut dalam Al-Qur’an harus diseimbangkan dengan perjuangan secara optimal.
Ada pula pandapat yang mengatakan bahwa Islam berasal dari awal huruf setiap shalat wajib yaitu Isya, Subuh, Luhur (Dzuhur), Ashar dan Maghrib. Selain shalat wajib juga dianjurkan shalat sunah pada waktu tertentu, sedangkan shalat wajib menjadi salah satu rukun Islam itu sendiri.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan filsafat islam?
2.      Bagaimana pemikiran filsafat Islam di Dunia islam barat?
3.      Apa saja ciri-ciri filsafat islam?

C.     Tujuan
1.      Untuk mengetahui filsafat islam
2.      Untuk memahami pemikiran filsafat Islam di Dunia islam barat
3.      Untuk memahami ciri-ciri filsafat islam

BAB II
PEMBAHASAN

A.     Pengertian dan Ruang Lingkup Filsafat Islam
1.      Pengertian Filsafat Islam
a.      Apakah yang disebut Filsafat Islam
Dalam buku Mulyadhi Kartanegara yang berjudul Gerbang Kearifan, beliau  mendiskusikan beberapa pandangan sarjana tentang istilah filsafat Islam. Ada yang megatakan bahwa Islam tidak pernah dan bisa memiliki filsafat yang independen. Adapun filsafat yang dikembangkan oleh para filosof Muslim adalah pada dasarnya filsafat Yunani, bukan filsafat Islam. Ada lagi yang mengatakan bahwa nama yang tepat untuk itu adalah filsafat Muslim, karena yang terjadi adalah filsafat Yunani yang kemudian dipelajari dan dikembangkan oleh para filosof Muslim.[1]
Ada lagi yang mengatakan bahwa nama yang lebih tepat adalah filsafat Arab, dengan alasan bahwa bahasa yang digunakan dalam karya-karya filosofis mereka adalah bahasa Arab, sekalipun para penulisnya banyak berasal dari Persia, dan namanama lainnya seperti filsafat dalam dunia Islam.
Adapun beliau sendiri cenderung pada sebutan filsafat Islam (Islamic philosophy), dengan setidaknya 3 alasan :[2]
1.      Ketika filsafat Yunani diperkenalkan ke dunia Islam, Islam telah mengembangkan sistem teologi yang menekankan keesaan Tuhan dan syari’ah, yang menjadi pedoman bagi siapapun. Begitu dominannya Pandangan tauhid dan syari’ah ini,sehingga tidak ada suatu sistem apapun, termasuk filsafat, dapat diterima kecuali sesuai dengan ajaran pokok Islam tersebut (tawhid) dan pandangan syari’ah yang bersandar pada ajaran tauhid. Oleh karena itu ketika memperkenalkan filsafat Yunani ke dunia Islam, para filosof Muslim selalu memperhatikan kecocokannya dengan pandangan fundamental Islam tersebut, sehingga disadari atau tidak, telah terjadi “pengislaman” filsafat oleh para filosof Muslim.
2.      Sebagai pemikir Islam, para filosof Muslim adealah pemerhati flsafat asing yang kritis. Ketika dirasa ada kekurangan yang diderita oleh filsafat Yunani, misalanya, maka tanpa ragu-ragu mereka mengeritiknya secara mendasar. Misalnya, sekalipun Ibn Sina sering dikelompokkan sebagai filosof Peripatetik, namun ia tak segan-segan mengertik pandangan Aristoteles, kalau dirasa tidak cocok dan 1menggantikannnya dengan yang lebih baik. Beberapa tokoh lainnya seperti Suhrawardi, Umar b. Sahlan al-Sawi dan Ibn Taymiyyah, juga mengeriktik sistem logika Aristotetles. Sementara al-‘Amiri mengeritik dengan pedas pandangan Empedokles tentang jiwa, karena dianggap tidak sesuai dengan pandangan Islam.[3]
3.      Adanya perkembangan yang unik dalam filsafat islam, akibat dari interaksi antara Islam, sebagai agama, dan filsafat Yunani. Akibatnya para filosof Muslim telah mengembangkan beberapa isu filsfat yang tidak pernah dikembangkan oleh para filosof Yunani sebelumnya, seperti filsafat kenabian, mikraj dsb.
b.      Lingkup Filsafat Islam
Berbeda dengan lingkup filsafat modern, filsafat Islam, sebagaimana yang telah dikembangkan para filosof agungnya, meliputi bidang-bidang yang sangat luas, seperti logika, fisika, matematika dan metafisika yang berada di puncaknya. Seorang filosof tidak akan dikatakan filosof, kalau tidak menguasai seluruh cabang-cabang filosofis yang luas ini.


B.     Faktor Munculnya Filsafat Di Dunia Islam
Timbulnya filsafat dalam dunia Islam dapat dilihat dari beberapa faktor, yaitu:
1.      Faktor dorongan ajaran Islam
Untuk membuktikan adanya Allah, Islam menghendaki agar umataya memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi. Dan penciptaan tersebut tentu ada yang mendptakannya. Pemikiran yang demikian itu kemudian menimbulkan penyelidikan dengan pemikiran filsafat
Para ahli mengakui bahwa bangsa Arab pada abad 8-12 tampil ke depan (maju) karena dua hal: pertama, karena pengaruh sinar al-Qur'an yang memberi semangat terhadap kegiatan keilmuan, kedua, karena pergumulannya dengan bangsa asing (Yunani), sehingga ilmu pengetahuan atau filsafat mereka dapat diserap, serta terjadinya akulrurasi budaya antar mereka. Agama Islam selalu menyeru dan mendorong umatnya untuk senantiasa mencari dan menggali ilmu. Oleh karena itu ilmuwan pun mendapatka perlakuan yang lebih dari Islam, yang berupa kehormatan dan kemuliaan. al-Qur'an dan as-Sunnah mengajak kaum muslimin untuk mencari dan mengembangkan ilmu serta menempatkan mereka pada posisi yang luhur.[4]
Beberapa   ayat   petama   yang   diwahyukan  Muhammad   s.a.w.   menandaskan pentingnya membaca, menulis dan belajar-mengajar. Allah menyeru: Al-Alaq. Dan tentang penciptaan alam, al-Qur'an menjelaskan bahwa Malaikat pun diperinlahkan untuk sujud kepada Adam setelah Adam diajarkan nama-nama: Al-Baqarah: 31-32.
2.      Faktor Perpecahan di Kalangan Umat Islam (internt)
Setelah khalifah Islam yang ketiga, Usman bin Affan terbunuh, terjadi perpecahan dan pertentangan di kalangan umat Islam. Perpecahan dan pertentagan tenebut pada mulanya adalah karena persoalan politik. Tetapi kemudian merembet ke bidang agama dan bidang-bidang lain. Untuk membela dan mempertahankan pendapat-pendapat mereka serta untuk menyerang pendapat lawan-lawannya, mereka berusaha menggunakan logika dan khazanah ilmu pengetahuan di masa lalu, terutama logika Yunani dan Persi, sampai akhimya mereka dapat berkenalan dan mendalami pemikiran-pemikiran yang berasal dari kedua negeri tersebut. Kemudian mereka membentuk filsafat sendiri yang dikenal dengan nama filsafat Islam.
3.      Faktor Dakwah Islam
Islam menghendaki agar umatnya menyampaikan ajaran Islam kepada sesama manusia. Agar orang-orang yang diajak masuk Islam itu dapat menerima Islam secara rasional, maka Islam harus disampaikan kepada mereka dengan dalil-dalil yang rasional pula. Untuk keperluan itu diperlukan filsafat.
4.      Faktor Menghadapi Tantangaa Zaman (ekstern)
Zaman selalu berketnbang, dan Islam adalah agama yang sesuai dengan segala perkembangan. Tetapi hal itu bergantung kepada pemahaman umatnya. Karena itu setiap zaman berkembang, menghendaki pula perkembangan pemikiran umat Islam terhadap agamanya. Pengembangan pemikiran tersebut berlangsung di dalam filsafat.
5.      Faktor Pengaruh Kebndayaatt Lain
Setelah daerah kekuasaan meluas ke berbagai wilayah. umat Islam berjumpa dengan bermacam-macam kebudayaan. Mereka menjadi tertarik, lalu mempelajarinya dan akhimya terjadi sentuhan budaya diantara mereka. Hal ini banyak sekali ditemukan dalam beberapa teori filsafat Islam, misalnya "teori emanasi" dari Al-Farabi.[5]

C.     Pemikiran Filsafat Islam di Dunia Islam
Pemikiran filsafat masuk kedalam dunia Timur melalui filsafat Yunani, yaitu pada abad ke 8 M, atau abad ke 2 Hijriah. Dalam buku Sejarah Filsafat Islam karangan Majid Fakhri beliau mengutip Ensiklopedi Islam, terbitan Ichitiar Baruvan Hoeve, dijelaskan bahwa kebudayaan dan filsafat yunani masuk kedaerah itu melalui ekspansi Alexander Agung, penguasa Macedonia (336-323 SM). Beliau datang bukan dengan cara menghancurkan peradaban dan budaya Persia, tetapi sebaliknya Ia berusaha menyatukan kebudayaan yunani dan Persia, dengan demikian, memunculkan pusat-pusat kebudayaan yunani di wilayah Timur, seperti Alexandria di Mesir, Antiokia di Suriah dan Bactra di Persia.[6]
Pada masa Dinasti Umayyah, pengaruh kebudayaan Yunani terhadap Islam belum begitu jelas karna ketika itu penguasa Umaiyyah lebih banyak tertuju kepada kebudayaan Arab. Pengaruh kebudayaan Yunani, baru nampak pada masa Dinasti Abbasiyah karna orang Persia pada masa itu memiliki peranan penting dalam struktur pemerintahan pusat. Pada awalnya  para Khalifah Abbasiyah hanya tertarik dengan ilmu kedokteran yunani dan berkaitan dengan sistem pengobatannya, lama-kelamaan mereka juga tertarik dengan filsafat dan ilmu pengetahuan lain nya.
Kelahiran filsafat tidak terlepas dari adanya usaha penerjemahan naskah-naskah ilmu filsafat dan berbagai cabang ilmu pengetahuan lainnya kedalam bahasa arab. Dalam penerjemahan ini, tidak hanya dilakukan terhadap naskah-naskah berbahasa yunani saja, melainkan naskah-naskah dari berbagai bahasa, seperti bahasa siryani, Persia dan india. Usaha penerjemahan tersebut berlangsuang selama satu setengah abad dizaman klasik islam, dan menghasilkan berbagai buku-buku yang sudah di terjemahkan kedalam Bahasa Arab.[7]
Kesedian buku-buku tersebut di manfaatkan oleh kalangan kaum muslimin untuk, berkenalan bahkan mengkaji ulang berbagai  ilmu pengetahuan. Dengan demikian lahirlah tokoh-tokoh pemikiran islam. Seperti: Al-Kindi, Al-Farabi,Ibnu Maskawih, Ibnu Sina,  Al-Ghazal.  Berikut ini adalah beberapa tokoh filsafat Islam di dunia Islam Barat :


1.      Al-Kindi
Al-Kindi, nama lengkapnya Abdul Yusuf Ya’qub bin Ishaq bin Ash-Shabah bin ‘Imran bin Isma’il bin Muhammad bin al-Asy’ats bin Qais al-Kindi. Al-Kindi dilahirkan di Kufah sekitar tahun 185 H (801 M) dari keluarga kaya dan terhormat. Ia berasal dari kabilah kindah, termasuk kabilah terpandang di kalangan masyarakat Arab dan  bermukim di daerah Yaman dan Hijaz. Setelah dewasa al-Kindi pergi ke Baghdad dan mendapat perlindungan dari khalifah al- Ma’mun (813-833 H) dan khalifah al-Mu’tasim (833-842 H). Al-Kindi menganut paham Mu’tazilah dan kemudian belajar filsafat. Selain belajar filsafat ia juga menekuni dan ahli dalam bidang ilmu astronomi, ilmu ukur, ilmu alam astrologi, ilmu pasti, ilmu seni musik, meteorologi, optika, kedokteran, politik dan matematika. Penguasaanya terhadap filasafat dan disiplin ilmu lainnya telah menempatkan ia menjadi orang Islam pertama yang berkebangsaan Arab dalam jajaran para filosof  terkemuka. Karena itu pula dinilai pantas dalam menyadang gelar Failasuf al-‘Arab (filosof berkebangsaan Arab).[8]
Al-Kindi orang Islam yang pertama meretas jalan mengupayakan pemaduan antara filasafat dan agama atau antara akal dan wahyu. Menurutnya antara keduanya tidak bertentangan karena masing-masing keduanya adalah ilmu tentang kebenaran. Sedangkan kebenaran itu satu tidak banyak. Ilmu filasafat meliputi ketuhanan, keesan-Nya, dan keutamaan serta ilmu-ilmu lain yang mengajarkan bagaimana jalan memperoleh apa-apa yang bermanfaat dan menjauhkan dari apa-apa yang mudarat. Hal seperti ini juga dibawa oleh para rasul Allah dan juga mereka menetapkan keesaan Allah dan memastikan keutamaan yang diridhai-Nya.
Agaknya untuk memuskan semua pihak, terutama orang-orang Islam yang tidak senang dengan filsafat, dalam usaha pemanduannya ini, al-Kindi juga membawakan ayat-ayat Al-Quran. Menurutnya menerima dam mempelajari filsafat sejalan dengan anjuran Al-Quran yang memerintahkan pemeluknya untuk meneliti dan membahas segala fenomena di alam semesta ini.
2.      Al-Farabi
Al-Fārābi, nama lengkapnya Abu Nashr Muhammad ibn Muhammad ibn Tharkhan ibn Auzalagh al-Farabi, lahir di Wasij, sebuah dusun kecil di distrik kota Farab, propinsi Transoxiana, Turkestan, tahun 257 H/ 870 M. Ayahnya seorang pejabat tinggi militer dikalangan dinas ketentaraan dinasti Samaniyah yang menguasai sebagian besar wilayah Transoxiana, propinsi otonom dalam kekhalifahan Abbasiyah, sehingga al-Farabi dipastikan termasuk keluarga bangsawan yang mempunyai kemudahan fasilitas.[9]
Dalam penciptaan alam menurut al-Farabi, Tuhan tidak mencipta alam, akan tetapi ia sebagai penggerak pertama dari segala yang ada. Dengan pemikiran ini, al-Farabi mencoba menjelaskan "bagaimana yang banyak bisa timbul dari Yang Satu" ( كيفية خروج الكثرة عن الواحد البسيط ). Tuhan bersifat Maha Satu, tidak berobah, jauh dari arti banyak, Maha sempurna, dan tidak berhajat pada apapun. Kalau demikian hakekat sifat Tuhan, bagaimana terjadinya alam materi yang banyak ini dari yang Maha Satu? dengan alasan inilah  al-Farabi memaksakan pemikirannya dengan menyatakan bahwa alam ini muncul dari Allah dengan jalan emanasi atau pemancaran (ان العالم قد نشاْ عن الله عن طريق الفيض ( . Tuhan sebagai akal, berfikir tentang diri-Nya, dan dari pemikiran ini timbul suatu maujud lain, Tuhan merupakan wujud pertama  (الوجود الاول) dan dengan pemikiran itu timbul wujud kedua (الوجود الثاني)   yang juga mempunyai substansi. 

D.    Ciri-ciri Filsafat Islam
Pemikiran kefilsafatan menurut Suyadi M.P. mempunyai karakteristik sendiri, yaitu menyeluruh, mendasar, dan spekulatif. Hal ini sama dengan pendapat Sri Suprapto Wirodiningrat menyebutkan juga pikiran kefilsafatan mempunyai tiga ciri, yaitu menyeluruh, mendasar, dan spekulatif. Lain halnya Sunoto, menyebutkan ciri-ciri dari berfilsafat, yaitu deskriptif, kritis dan analitis, evaluatif atau normatif, spekulatif, dan sistematik.
1.      Menyeluruh
Artinya, pemikiran yang luas karena tidak membatasi diri dan bukan hanya ditinjau dari satu sudut panddangan tertentu. Pemikiran kefilsafatan ingin mengetahui hubungan antara ilmu yang satu dengan ilmu-ilmu lain, hubungan ilmu dengan moral, seni, dan tujuan hidup. [10]
2.      Mendasar
Artinya, pemikiran yang dalam sampai kepada hasil yang fundamental atau esensial objek yang dipelajarinya sehingga dapat dijadikan dasar berpijak bagi segenap nilai dan keilmuan. Jadi, tidak hanya berhenti pada periferis ( kulitnya) saja, tetapi sampai tembus kedalamnya.
3.      Pekulatif
Artinya, hasil pemikiran yang didapat dijadikan dasar bagi pemikiran selanjutnya. Hasil pemikirannya selalu dimaksudkan sebagai dasar untuk menjelajah wilayah pengetahuan yang baru. Meskipun demikian, tidak berarti hasil pemikiran kefilsafatan itu meragukan, karena tidak pernah mencapai penyelesaian.


BAB III
PENUTUP

A.     Kesimpulan
Dunia Islam telah berhasil membentuk suatu filsafat yang sesuai dengan prinsip-prinsip agama dan keadaan masyarakat Islam sendiri. Nama Al-Kindi adalah merupakan nama yang diambil dari nama sebuah suku, yaitu : Banu Kindah. Banu Kindah adalah suku keturunan Kindah, yang berlokasi di daerah selatan Jazirah Arab dan mereka ini mempunyai kebudayaan yang tinggi.
Filsafat Islam artinya berpikir dengan bebas dan radikal namun tetap berada pada makna, yang mempunyai sifat, corak, serta karakter yang menyelamatkaan dan memberi kedamaian hati yang tetap berlandaskan pada Al-Qur’an dan As-Sunah.Perbedaan filsafat Islam dengan filsafat Barat adalah filsafat Barat memiliki paham sekularisme yang memisahkan antara agama dengan filsafat sedangankan filsafat Islam bersifat universal namun berlandaskan agama.
Cara menyikapi perbedaan pendapat para filosof mengenai filsafat islam adalah dengan cara sikap terbuka dan toleransi. Dengan mempelajari filsafat islam kita dapat melihat segala sesuatu tidak hanya di permukaannya saja tetapi lebih jauh dalam dan luas. Selain itu manfaat mempelajai filsafat membuat kita memahami diri dan sekeliling dengan pertanyaan-pertanyaan mendasar.Filsafat mengasah pikiran untuk lebih kritis.Hal ini membuat kita tidak begitu saja menerima sesuatu tanpa mengetahui maksudnya.

B.     Saran
Demikianlah pembahasan makalah mengenai Sejarah dan pikiran Filsafat Islam di dunia Islam barat, semoga dapat bermanfaat bagi rekan sekalian. kritik dan saran sangat pemakalah harapkan demi untuk perbaikan makalah kami selanjutnya.


DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Hanafi, Pengantar Filsafat Islam, (Bulan Bintang, Jakarta : 1996) 

Sudarsono, Ilmu Filsafat – Suatu Pengantar, (Rineka Cipta, Jakarta : 2001)

Majid Fakhriy, Sejarah  Filsafat Islam, (Bandung: Mizan, 2001)

Mustofa,  Fisafat Islam, (CV. Pustaka Setia, Bandung , 1997)

Surajiyo,Ilmu Filsafat, (Jakarta:Pustaka Bumi Aksara )


[1] Ahmad Hanafi, Pengantar Filsafat Islam, (Bulan Bintang, Jakarta : 1996)  h. 51
[2] Sudarsono, Ilmu Filsafat – Suatu Pengantar, (Rineka Cipta, Jakarta : 2001) h. 24
[3] Ahmad Hanafi, Pengantar Filsafat Islam,  … h. 53
[4] Atang Abdul Hakim, Filsafat Umum Dari Metologi Sampai Teofilosofi, (Bandung : Pustaka Setia, 2008), halm.435
[5] Muzairi,M.Ag, Filsafat Umum, (Yogyakarta : Teras, 2009), halm. 109
[6] Majid Fakhriy, Sejarah  Filsafat Islam, (Bandung: Mizan, 2001) hal 2
[7] Mustofa,  Fisafat Islam, (CV. Pustaka Setia, Bandung , 1997) hal. 99
[8] Sudarsono,  Filsafat Islam, (Cet II; Jakarta: Rineka Cipta , 1994) h. 67
[9] Sudarsono,  Filsafat Islam,  … h. 69
[10] Surajiyo,Ilmu Filsafat, (Jakarta:Pustaka Bumi Aksara ) hlm.13.

No comments:

Post a Comment