Sunday, April 22, 2018

MAKALAH DASAR-DASAR KEIMANAN


BAB I
PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang
Salah satu realita yang cukup memprihatinkan pada saat sekarang ini, adalah kondisi kaum muslimin yang mulai tidak peduli terhadap ajaran agama Islam, terutama terhadap perkara aqidah. Sebagian besar kaum muslimin saat ini lebih disibukkan dengan usaha-usaha perbaikan dan pembangunan fisik, peningkatan ekonomi umat, kesejahteraan kaum muslimin dan lain sebagainya, yang pada hakikatnya seluruh jerih payah tersebut tidak membawa banyak perubahan bagi kaum muslimin.
Mereka lupa bahwa perkara yang harus dibenahi pertama kali dari umat ini adalah perkara aqidah dan pembenaran iman. Bukankah perkara yang pertama kali diserukan oleh para rasul Allah kepada umatnya, termasuk Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah perkara aqidah?
Allah ta’ala berfirman,
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
“Dan sungguh Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut”. (QS. An Nahl : 36)
Rasul tidaklah diutus oleh Allah ta’ala melainkan dalam rangka pembenaran dan pelurusan aqidah umat. Setiap kitab tidaklah diturunkan oleh Allah ta’ala melainkan dalam rangka menjelaskan aqidah yang selamat dan menjelaskan segala perkara yang dapat membatalkan atau menguranginya. Dan setiap manusia tidaklah diciptakan melainkan karena tujuan ini. Inilah hakikat kunci kebahagiaan manusia di dunia dan di akhirat. (Lihat Al Irsyad ila Shahihil I’tiqad, hal. 9)
Tak kenal maka tak sayang, demikian bunyi pepatah. Banyak orang mengenal Allah, akan tetapi pernahkah kita mengukur sejauh mana pengetahuan dan pengenalan kita kepada-Nya? Cukupkah mengenalnya dengan mengetahui dan menghafal nama-nama dan sifat-sifat-Nya? Mengetahui dan menghafalnya merupakan sebagian dari pengenalan kita kepada Allah, akan tetapi ada yang lebih penting, yaitu apa dan bagaimana sikap kita terkait dengan nama dan sifat itu.
Lalu bagaimana kita dapat mengenali Allah dengan sebenar benar nya? Pengenalan yang sesungguhnya adalah apabila pengetahuan kita tentang sifat-sifat dan nama-nama Allah itu kemudian di barengi dengan penyikapan yang benar dan proporsional.
Mengenali Allah menjadi sangat penting karena banyak sekali dalil sangat kuat yang telah membuktikan keberadaan,sifat-sifat, dan nama-nama-Nya, baik dalil naqli, dalil aqli maupun dalil fitri yang tak terbantahkan. Kalau dalil-dalil yang menunjukan keberadaan dan kekuasaan-Nya demikian banyak dan kuat, berarti kita ketinggalan informasi bila masih belum mengenal-Nya.
Dan manfaat yang kita rasakan dengan mengenal Allah itu adalah di akhirat, di mana kita akan mendapatkan surga dan keridhaan-Nya. Tidak ada suatu kenikmatan yang sebanding apalagi melebihi kenikmatan di akhirat itu. Yaitu ketika seorang hamba dimasukkan kedalam surga dan mendapatkan  keridhaan Allah swt. Semoga kita termasuk orang-oran yang mengenal Allah dengan baik, supaya kehidupan kita lebih baik dan pada akhirnya kita mendapatkan kebaikan di dunia dan akhirat di bawah naungan rahmat dan ridho-Nya, Amin.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan mebgnenal tuhan?
2.      Bagaimana mengimani allah sebagai tuha?
3.      Bagaimana cara kita untuk menyembah, meminta pertolongan bertawakal, serta hanya kepada allah tempat kembali?

C.     Tujuan
1.      Untuk mengetahui yang dimaksud dengan mebgnenal tuhan
2.      Untuk memahami mengimani allah sebagai tuhan
3.      Untuk memahami cara kita untuk menyembah, meminta pertolongan bertawakal, serta hanya kepada allah tempat kembali
 
BAB II
PEMBAHASAN

A.     Mengenal  Allah  SWT
1.      Mengenal Allah SWT
Mungkin terlintas dalam benak kita, apakah masih perlu berbicara tentang Allah? Bukankah kita sudah sering mendengar dan menyebut asma-Nya. Bukankah kita sudah tahu bahwa Allah adalah Tuhan kita. Tidakkah itu sudah cukup? Ketahuilah, perasaan merasa cukup inilah yang menghalangi kita untuk menambah dan memperkaya wawasan kita tentang pemahaman dan pengenalan terhadap pencipta kita, Allah SWT.
Makrifatullah adalah bahasa arab yang terdiri dari dua kata, yaitu Makrifat dan Allah. Makrifat berarti mengetahui, mengenal. Mengengenal Allah yang di ajarkan kepada Manusia adalah mengenal melalui hasil penciptaannya bukan melalui zat Allah. Karena akal kita memiliki keterbatasan untuk memahami seluruh ilmu yang ada di dunia ini, apalagi zat Allah.[1]
Makrifatullah merupakan ilmu tertinggi yang harus di pahami oleh manusia. Hakikat ilmua adalah memberikan keyakinan kepada orang yang mendalamiya. Memahami makrifatullah juga akan mengeluarkan manusia dari kegelapan, kebodohan, kepada cahaya yang terang yaitu keimanan. (Qs : Al-luqman(31):18).
Apabila pengaruh positif dari mengenal Allah diketahui, tentu manusia akan berlomba-lomba untuk mengenal-Nya lebih jauh. Karena itu, orang yang beriman selalu berusaha mengenali tuhannya secara baik. Namun Allah itu bersifat gaib dan tidak terjangkau oleh indra kita, sehingga upaya untuk mengenal-Nya lebih jauh dari itu tidak dapat di lakukan secara baik, jika hanya mengandalkan pengamatn indrawi. Lantaran kegaiban, kesempurnaan, dn keagungan-Nya melalui ayat-ayat-Nya. Adapun ayat-ayat atau tanda-tanda keberadaan, keagungan, dan kekuasaan Allah itu, secara global dapat di klasifikasikan menjadi dua bagian yaitu ayat-ayat qauliyah (ucapan), berupa firman-firman-Nya dalam kitab suci yan telah di wahyukan kepada para nabi dan rosul, dan ayat-ayat kauniyah (fenomena alam), yaitu tanda-tanda kekuasaan-Nya yang terbesar di alam semesta ini.[2]
Menurut pendapat Syeikh Ahmad Arifin berpendapat bahwa setiap yang ada pasti dapat di kenal, dan hanya yang tidak ada yang tidak bisa di kenal. Karena Allah adalah zat yang wajib al-wujud yaitu zat yang wajib adanya, tentulah Allah dapat di kenal, dan kewajiban pertama bagi setiap muslim adalah mengenal kepada yang di sembahnya, barulah ia beruat ibadah sebagai mana sabda nabi:
أَوَلُ الدِّيْنِ مَعْرِفَةُ اللهِ
Artinya: “Pertama sekali di dalam Aganma adalah mengenal Allah”
Kenalilah dirimu sebagaimana sabda nabi Muhammad:
مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّهُ وَمَنْ عَرَفَ رَبَّهُ فَسَدَ جَسَدَهُ
Artinya: Barang siapa yang mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya dan barang siapa mengenal Tuhannya maka binasalah (fana) dirinya.
Lalu dari mana yang wajib kita kenal? Sesungguhnya diri kita terbagi dua. Sebagai firman Allah dalam surat Luqman ayat 20:
وَأَسْبَغَ عَليْكُمْ نِعَمَهُ ظَهِرَةً وَبَاطِنَةً
Artinya: Dan Allah telah menyempurnakan bagimu nikmat zhahir dan nikmat batin.
Jadi dari berdasarka ayat di atas, diri kita terbagi menjadi dua:
1.      Diri zhahir yaitu diri yang dapat dilihat oleh mata dan bisa diraba oleh tangan.
2.      Diri batin yaitu yang tidak dapat di pandang oleh mata dan tidak dapat di raba oleh tangan, tetapi dapat di rasakan oleh mata hati. Adapun dalil mengenai terbaginya diri manusia karena sedmikian pentingnya peran diri yang batin inidi dalam upaya untuk memperoleh pengenalan kepada Allah, itulah sebabnya kenapa kita di suruh melihat kedalam diri (introspeksi diri) sebagaimana firman Allah dalam surat az-zariyat 21:
وَفِى اَنْفُسِكُمْ اَفَلاَ تُبْصِرُوْنَ
Artinya: Dan di dalam diri kamu apakah kamu tidak memperhatikannya.

Allah memerintahkan kepada manusia untuk memperhatikan kedalam dirinya di sebabkan karena  didalam diri manusia itu Allah telah menciptakan sebuah mahligai yang mana di dalamnya Allah telah menanamkan rahasia-Nya. Sebagaimana sabda nabi dalam hadist hudsi:
بَنَيْتُ فِى جَوْفِ اِبْنِ آدَمَ قَصْرًا وَفِى الْقَصْرِ صَدْرً وَفِى الصَّدْرِ قَلْبًا وَفِى الْقَلْبِ فُؤَادً وَفِى الْفُؤَادِ شَغْافًا وَفِى الشَّغَافِ لَبًّا وَفِى لَبِّ سِرًّا وَفِى السِّرِّ أَنَا (الحديث القدسى)
Artinya: “Aku jadikan dalam rongga anak adam itu mahligai dan dalam mahligai itu ada dada dan dalam dada itu ada hati (qolbu) namanya dan dalam hati(qolbu) ada mata hati (fuad) dan dalam mata hati (fuad) itu ada penutup mata hati (saghaf) dan di balik penutup mata hati (saghaf) itu ada nur/cahaya (labban), dan di dalam nur/cahaya (labban) ada rahasia (sirr) dan di dalam rahasia (sirr) itulah Aku kata Allah”.(Hadist Qudsi).
Bagaimanakah maksud hadis ini? Tanyalah kepada Ahlinya, yaitu ahli zikir, Sebagaimana firman Allah dalam surat An-nahl ayat 43:
فَاسَئَلُوْا أَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لاَتَعْلَمُوْنَ
Artinya: Tanyalah kepada Ahli dzikrullah (Ahlu Sufi) kalau kamu benar-benar tidak tahu.
Karena Allah itu ghaib, maka perkara ini termasuk, perkara yang dilarang untuk menyampaikannya dan haram pula  di paparkan kepada yang bukan ahlinya (orang awam), sebagaimana dikatakan para sufi:
وَلِلَّهِ مَحَارِمٌ فَلاَ تَهْتَكُوْهَا
Artinya: Bagi Allah itu ada beberapa rahasia yang di haramkan membukannya kepada yang bukan Ahlinya.

Oleh karena itu, agar kita dapat mengenal Allah, maka kita harus mempunyai pembimbing rohani atau mursyid. Tentang ini Abu Ali ats-Tsaqafi berkata,”Seandainya seseorang mempelajari jenis ilmu dan berguru kepada banyak ulama, maka dia tidak sampai ketingkat para sufi kecuali dengan melakukan latihan-latihan spiritual bersama seorang syeikh yang memiliki akhlak luhur dan dapat memberinya nasehat-nasehat.
Sesungguhnya semakin dalam dan sering kita memahami untuk mengenal Allah maka kita akan semakin merasa dekat dengan-Nya. Semakin dekat perasaan kita kepada Allah, semakin tenang jiwa kita. Sebagaimana yang termaktub dalam Al Qur’anul Karim dalam Surat Ar Ra’du (13) : 38.
Ketika kita berbicara tentang Allah, kita tidak hanya membahas Allah sebagai Rabb (Pencipta) namun kita juga membahas bahwa Allah sebagai Malik dan Ilah. Secara definitif dalam Al Qur’an dijelaskan bahwa Malik memiliki makna pemilik, pemelihara dan penguasa. Ilah memiliki makna sebagai Yang paling dicintai, Yang paling ditakuti dan Yang menjadi sumber pengharapan.[3]
Allah SWT sebagai pencipta lebih mudah dipahami dibandingkan memahami Allah sebagai Malik dan Ilah. Hal ini disebabkan karena memahami Allah sebagai Malik memiliki berbagai konsekuensi diantaranya konsekuensi pengabdian melaksanakan perintah-Nya, konsekuensi menjadikan Allah sebagai satu-satunya yang paling dicintai, konsekuensi menjadikan Allah sebagai satu-satunya penguasa diri, dan sebagainya. Konsekuensi inilah yang biasanya menjadi kendala bagi kita untuk memahami Allah secara menyeluruh.
Dalam memahami dan mengenal Allah, kita sebaiknya berkeyakinan bahwa Allah sumber ilmu dan pengetahuan. Ilmu-ilmu tersebut berfungsi sebagai pedoman hidup. Dan sebagai sarana hidup. Dengan keyakinan itu maka kita akan lebih mudah untuk memahami Allah dan juga memiliki kepribadian yang merdeka dan bebas, karena kita hanya menjadikan Allah sebagai satu-satunya penguasa diri kita, seluruh makhluk bagi kita memiliki posisi yang sama. Sama-sama hamba Allah jadi kita tidak akan takut kepada selain Allah.
Dalam kitab dikatakan, awaluddin makrifatullah (awal-awal agama ialah mengenal Allah). Apabila seseorang itu tidak mengenal Allah, segala amal baktinya tidak akan sampai Kepada Allah SWT. Sedangkan, segala perintah suruh yang kita buat, baik yang berbentuk fardhu maupun sunat, dan segala perintah larang yang kita jauhi, baik yang berbentuk haram maupun makruh, merupakan persembahan yang hendak kita berikan kepada Allah SWT. [4]
Kalau kita tidak kenal Allah SWT, maka segala persembahan itu tidak akan sampai kepada-Nya. Ini berarti, sia-sialah segala amalan yang kita perbuat.
Bila seseorang itu sudah kenal Allah, barulah apabila dia berpuasa, puasanya sampai kepada Allah. Apabila dia sholat, sholatnya sampai kepada Allah. Apabila dia berzakat, zakatnya sampai kepada Allah. Apabila dia menunaikan haji, hajinya sampai kepada Allah SWT. Apabila dia berjuang, berjihad, bersedekah dan berkorban, serta membuat segala amal bakti, semuanya akan sampai kepada Allah SWT.Karena itulah, makrifatullah (Mengenal Allah) ini amat penting bagi kita. Jika kita tidak kenal Allah, kita bimbang segala amal ibadah kita tidak akan sampai kepada-Nya, ia menjadi sia-sia belaka. Boleh jadi kita malah hanya akan tertipu oleh syaitan saja. Kita mengira amalan yang kita perbuat sudah kita persembahkan pada Allah, padahal itu adalah jebakan syaitan. Ini karena kita tidak mengenal Allah, sehingga kita tidak mampu membedakan ilah (tuhan) yang kita ikuti, apakah itu Allah, atau syaitan yang menipu daya. Sebab itulah mengenal Allah itu hukumnya fardhu 'ain bagi tiap-tiap mukmin.[5]
Mengenal Allah dapat kita lakukan dengan cara memahami sifat-sifat-Nya. Kita tidak dapat mengenal Allah melalui zat-Nya, karena membayangkan zat AllaH itu adalah suatu perkara yang sudah di luar batas kesanggupan akal kita sebagai makhluk Allah. Kita hanya dapat mengenal Allah melalui sifat-sifat-Nya.
Untuk memahami sifat-sifat Allah itu, kita memerlukan dalil aqli dan dalil naqli.
1.      Dalil aqli adalah dalil yang bersumber dari akal (aqli dalam bahasa Arab = akal).
2.      Dalil naqli adalah dalil yang bersumber dari Al-Qur'an dan As-Sunnah.
Melalui dalil aqli dan dalil naqli ini sajalah kita dapat mengenal Allah. Tanpa dalil-dalil itu, kita tidak dapat mengetahui sifat-sifat Allah, dan kalau kita tidak mengetahui sifat-sifat Allah, berarti kita pun tidak mengenal Allah.
2.      Makna Mengenal Allah
Ma’rifatullah adalah bahasa Arab yang terdiri dari dua kata, yaitu Ma’rifah dan Allah. Ma’rifah berarti mengetahui, mengenal. Mengenal Allah yang diajarkan kepada manusia adalah mengenal melalui hasil penciptaannya bukan melalui zat Allah. Karena akal kita memiliki keterbatasan untuk memahami seluruh ilmu yang ada di dunia ini, apalagi zat Allah.
Mengenal Allah atau makrifatullah akan sangat menentukan kesalehan dan kebaikan seseoran di dunia maupun di akhirat. Kebaikan dan kesalehanya berbanding lurus dengan tingkat pengenalanya kepada Allah itu. Semakin mengenal Allah, semakin ssaleh dan semakin baik amal seseorang. Sebaliknya, semakin buruk amal seseorang, itu menunjukan bahwa ia tidak mengenal tuhanya dengan baik.
Imam Ibnu Qayyim dalam kitab Al-Fawa’id mengatakan bahwa apabila seoran hamba telah bertekat untuk mengenal Allah, mendekat kepada-Nya, dan mengikuti kehendaknya, ia akan digoda dan dihadang oleh berbagai tipu daya dan penghalang, sehingga di awal perjalanannya, ia akan terhambat dan tertipu oleh berbagai kesenangan, kekuasaan, kelezatan, pakaian, nafsu, dan sejenisnya. Ulama yan sangat terkenal dengan karya-karya ilmiyah ini kemudian berkata: “Bila dilihat dari sumber dan penyebabnya, hal-hal yang menghalangi makrifatullah itu ada dua macam: Pertama, Syahwat, atau penyakit-penyakit nafsu, yaitu penyakit-penyakit yang kaitannya dengan hati, seperti nafsu dan kesenangan. Kedua: Syubuhat atau penyakit-penyakit intelektual, yaitu informasi-informasi yang dan pikiran yan menimbulkan keraguan. Apabila seseorang terjangkiti oleh penyakit-penyakit itu, akan sulit baginya untuk mengenal tuhanya.”
Sesungguhnya Allah swt, sangat dekat dengan diri manusia, bahkan lebih dekat dari urat lehernya, tetapi kenapa terasa jauh dan sulit untuk mengenalnya, karena di dalam diri manusia ada dinding yang tebal, dan berikut ada hal-hal yang mengalang-halangi  kita mengenal Allah Antara lain:[6]
a)      Al kibr (Kesombongan), seperti yang telah di sebutkan di dalam Alqur’an yaitu ( Qs : 25 : 21 )
b)      Sombong disini adalah sombong yang dapat menghalangi kita dari makrifatullah yaitu ketika kita menolak kebenaran dan mremehkan orang lain.
c)      Penyakit syahwah (penyakit hati) yang mnghalangi pengenalan kita kepada Allah adalah Al-fisq (kefasikeran) lawan dari al-adalah (keadilan), al adala dan alfasiq berkaitan dengan kredibitas moral. Orang yang adil dalam kortek ini adalah orang yang tidak tercela. Orang fasiq adalah orang yang ternoda kehormatan, harga diri, kewibawaan serta kredibilitas moral dan sosialnya akibat kemaksiatan yang ia lakukan
d)      Taklid buta (sikap meniru tanpa berpikir), ( Qs :2:166-167)
e)      Keras kepala dan menantang ( Qs: 22:8-9)
f)        Bersandar pada panca indra ( Qs: 2-55)
g)      Dusta ( Qs: 7:176)
h)      Ragu-ragu ( Qs: 6:109-110).
Tanda-tanda dan indikasi penyakit ini adalah apabila seseorang tidak menampakkan identitas dan kepribadian yang jelas, apakah agama dan keyakinannya, apakah ia muslim atau non-Muslim, karena tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan keyakinan dan keislaman.
Banyak berbuat maksiat atau (Al-Ma’ashi) lawan dari ketaatan. Orang yang bermaksiat adalah orang yang tidak melanggar batas-batas hukum Allah. Namun bagaimana juga, Allah akan mengampuni dosanya sebelum matahari belum terbit dari barat. Dia Allah swt. Maha pengampu lagi maha penyayang.[7]
i)        Yang terakhir adalah Al-jahl (kebodohan). Karena itu, islam memerangi kebodohan dan menjunjung tinggi ilmu dan ulama (orang-orang yang berilmu). Bahkan wahyu yang pertama kali turun adalah perintah untuk melakukan hal yang dapat menghilangkan kebodohan.
Penyakit-penyakit intelektual bermula dari ketidaktahuan (kebodohan). Karena itu, penyembuhannya adalah dengan menghilangkan firusnya, yaitu kebodohan. Kalau penyakit-penyakit hati di berantas dengan jihad (memerangi hawa nafsu) penyakit-penyakit intelektual di perangi dengan ilmu,membaca, belajar dan mengaji. Semoga kita dapat memerangi nafsu kita dan tidak bosan untuk belajar dan belajar lagi, membaca dan membaca lagi. Dengan itu iman kita akan menjadi kuat dan kokoh.
3.      Pentingnya Mengenal Allah
a.       Ma’rifatullah merupakan ilmu tertinggi yang harus dipahami manusia. Hakikat ilmu adalah   memberikan keyakinan kepada yang mendalaminya. Ma’rifatullah adalah ilmu tertinggi sebab jika dipahami memberikan keyakinan yang dalam. Memahami Ma’rifatullah juga akan mengeluarkan manusia dari kegelapan kebodohan kepada cahaya yang terang yaitu keimanan. (QS. Luqman (31) : 18).
b.      Seseorang yang mengenal Allah pasti akan tahu tujuan hidupnya.(QS. Adz Dzariyat (51)
c.       Berilmu dengan ma’rifatullah sangat penting karena berhubungn dengan manfaat yang diperolehnya yaitu meningkatkan keimanan dan ketaqwaan, dengan kedua hal tersebut akan memperoleh keberuntungan dan kebahagiaan yang hakiki.
4.      Bukti Bahwa Allah Itu Ada
Bagaimana kita membuktikan bahwa allah itu ada yaitu berdasarkan Dalil Naqlinya yang terdapat  dalam Al-qur’an ada 2 metode:
a.       Metode iqtirof
merupakan kita sebagai manusia membuktikan dengan melihat ciptaan Allah SWT.Contohnya adanya laut,adanya manusia, pohon, gunung dan lain sebagainya.
b.      Metode Inayah
Kita sebagai manusia memperhatikan keindahan ciptaan Allah SWT tersebut,contohnya Adanya laut dan setelah kita amati dalam jangka waktu yang lama,kenapa air laut bisa asin. Hal itu tidak munkin air laut asin sendiri, semata – mata hanya ada kekuatan Allah Lah maka hal itu bisa terjadi.[8]
Dengan berdasarkan dalil aglinya yang didapat dari pemikiran manusia mengenai hal-hal mengetahui bahwa Allah itu Ada.
1.      Kita bisa melihat dengan adanya wahyu Allah dalam Al_Qur’an surat Al-iklas(bahwa  Allah itu satu)
2.      Bahwa Allah itu mengutus para nabi dan rasul kedunia untuk menyampaikan kepada umat manusia agar mengerjakan perintah Allah
3.      Bahwa Allah menurunkan mukzizat kepada Nabi sebagai bukti kenabiannya.
4.      Khauf (rasa takut)  Perasaan takut juga bisa membuktikan bahwa Allah itu Benar-benar ada.
Rasa takut adalah kondisi jiwa yang tersiksa karena disebabkan takut kepada Allah. Contoh: bila kita dalam suatu penerbangan pesawat,seorang pramugari mengumumkan bahwa akan mengalami cuaca buruk,maka semua penumpang tentulah ketakutan dan akan menyebut nama nama Allah serta meminta pertolongan.hal itu membuktikan dengan adanya Allah. jika anda melakukan ibadah harus didasari rasa takut kepada Allah bukan kepada atasan atau bos di kantor dimana ibadah dilakukan karena bos di kantor rajin shalat jadi shalatnya supaya dilihat oleh bos bukan karena takut kepada Allah, Allah berfirman,“Janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman” (QS.Ali Imron: 17 5)
“Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku” (QS.Al-Maidah: 44)
“Hanya kepada-Ku lah kamu harus takut (tunduk)”. (QS. Al-Baqarah: 40)
Beberapa cara untuk menumbuhkan rasa takut: [9]
1.      Rasa takut bisa timbul jika anda mengetahui betapa kerasnya hukuman Allah kepada orang-orang yang bermaksiat.
2.      Rasa takut bisa timbul dengan mengingat masa lalu dimana, saat waktu-waktu anda yang berharga anda gunakan untuk bermaksiat dan membandingkannya dengan masa saat anda dekat kepada-Nya.
3.      Rasa takut bisa timbul jika kita mengenali sifat-sifat Allah
Menumbuhkan ketakutan dengan kondisi taubatnya apakah diterima atau tidak? dan takut kalau-kalau akan diakhirkan dengan kondisi su’ul khatimah.
5.      Cara mengenal Allah
Bagaimana ciri-ciri orang yang mengenal Allah? Kalau orang yang mengenal Allah setiap dia mengalami suatu masalah pasti masalah itu akan dikembalikan kepada Allah, berdoa dan mengadu kepada Allah karena hanya kepada Allahlah kita akan kembali.Anda dapat mengenal Allah melalui Al-Qur’an, bahkan ada satu surat dimana Allah menjelaskan siapa diri-Nya, coba anda lihat Al-Qur’an surat Maryam – 65 yang berbunyi :
>§ ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÇÚöF{$#ur $tBur $yJåks]÷t/ çnôç7ôã$$sù ÷ŽÉ9sÜô¹$#ur ¾ÏmÏ?y»t6ÏèÏ9 4 ö@yd ÞOn=÷ès? ¼çms9 $wŠÏJy ÇÏÎÈ  
“Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi, dan apa-apa yang ada diantara keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadah kepada-Nya. Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah?)”
Betapa indah dan tegasnya ayat tersebut, bahkan selain menjelaskan tentang siapa Allah ayat tersebut juga menjelaskan apa kewajiban kita sebagai seorang hamba kepada Sang Pencipta yaitu beribadah kepada-Nya, dan sampai kapan kita harus terus beribadah? sampai kita MATI.
Ibadah memiliki syarat agar ibadah itu di kategorikan sebagai ibadah yang benar yaitu :
Ikhlas, ikhlas melaksanakan ibadah karena Allah
Sesuai dengan syariat yaitu sesuai Al-Qur’an dan hadist jadi kalau tidak ada di dalam Al-Qur’an dan Hadist jangan dikerjakan karena bid’ah hukumnya haram dan amalannya akan tertolak
Ada beberapa cara kita mengenal Allah dan meyakini bahwa Allah Lah yang Maha Esa Hanya Allah Lah Yang Kita Sembah tiada Yang Lain.maka hal-hal yang perlu kita ketahui yaitu:
a.       Kita diberi Akal dan Fitrah Oleh Allah serta penglihatan dan penglihataan bahwa Hanya Allah Lah yang bisa memberikan itu.
b.      Meyakini bahwa seluruh Zagat raya beserta alam semesta beserta  isinya hanya Allah Yang menciptakan.
c.       Meyakini dan mempercayai Nabi dan rasul adalah utusan Allah yang diberi mu’jizat oleh Allah untuk menunjukkan kenabian.
d.      Meyakini dan mengenal Nama-nama ALLAH Melalui Asmaul Husna (QS. Al Mu’minun (40) : 62, QS. Al Baqarah (2) : 284)
Manfaat Mengenal Allah
Hasil dari mengenal Allah adalah peningkatan iman dan taqwa sehingga muncul beberapa hal di bawah ini:
a.       Kebebasan. (QS. Al An’am (6) : 82)
b.      Memberi ketenangan. QS. Ar Ra’du (13) : 28
c.       Keberkahan. QS Al A’raf (7) : 96
d.      Kehidupan yang baik. QS. An Nahl (16) : 97
e.       Syurga. QS. Yunus (10) : 25-26
f.        Keridhaan Allah (Mardhatillah). QS. Al Bayyinah (98) : 8
Hal-hal yang Menghalangi Mengenal Allah
a.       Kesombongan. QS. An Nahl (16) : 22, Al Mu’min (40) : 35
b.      Dzalim. QS. As Shaff (61) : 7
c.       Tidak berpengetahuan. QS. Az Zumar (39) : 65-66
d.      Dusta. QS. Al Baqarah (2) : 10, Al Mursalat (77) : 19
e.       Menyimpang. QS. Al Maidah (5) : 13
f.        Berbuat kerusakan/fasad. QS. Al Hasyr (59) : 19
g.       Lalai. QS. Al A’raf (7) : 179
h.       Banyak berbuat maksiat. QS. Al Muthaffifiin (83) : 14
i.         Ragu-ragu. QS. An Nur (24) : 50
Semua sifat di atas merupakan bibit kekafiran kepada Allah yang harus dibersihkan dari hati dan pemahaman. Kekafiran yang menyebabkan Allah mengunci hati, menutup mata dan telinga manusia serta menyiksa mereka di neraka akibat perbuatan mereka.
}§øŠ©9 öNä3ÍhÏR$tBr'Î/ Iwur ÇcÎT$tBr& È@÷dr& É=»tGÅ6ø9$# 3 `tB ö@yJ÷ètƒ #[äþqß tøgä ¾ÏmÎ/ Ÿwur ôÅgs ¼çms9 `ÏB Èbrߊ «!$# $wŠÏ9ur Ÿwur #ZŽÅÁtR ÇÊËÌÈ  

Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dari kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah” (QS. An-Nisa: 123)

B.     Hanya Allah Sebagai Tuhan
Kita wajib meyakini bahwa Allâh Pencipta seluruh makhluk benar-benar ada, walaupun kita tidak pernah bertemu, melihat, mendengar secara langsung. Banyak sekali dalil-dalil yang menunjukkan hal ini. Diantaranya firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala :
أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ
Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun (yakni tanpa Pencipta), ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? [ath-Thûr/52:35]
Maksudnya, keadaan manusia atau makhluk yang sudah ada ini tidak lepas dari salah satu dari tiga keadaan :
1.      Mereka ada tanpa Pencipta. Ini tidak mungkin. Tidak ada akal sehat yang bisa menerima bahwa sesuatu itu ada tanpa ada yang membuatnya.
2.      Mereka menciptakan diri mereka sendiri. Ini lebih tidak mungkin lagi. Karena bagaimana mungkin sesuatu yang awalnya tidak ada menciptakan sesuatu yang ada.
3.      Inilah yang haq, yaitu Allâh Azza wa Jalla yang telah menciptakan mereka, Dialah Sang Pencipta, Penguasa, tidak ada sekutu bagi-Nya.
Seorang Arab Baduwi ditanya, “Apakah bukti tentang adanya Allâh Azza wa Jalla?” Dia menjawab, “Subhânallâh (Maha Suci Allâh)! Sesungguhnya kotoran onta menunjukkan adanya onta, bekas telapak kaki menunjukkan adanya perjalanan! Maka langit yang memiliki bintang-bintang, bumi yang memiliki jalan-jalan, lautan yang memiliki ombak-ombak, tidakkah hal itu menunjukkan adanya al-Lathîf (Allâh Yang Maha Baik) al-Khabîr (Maha Mengetahui).”
Imam Ahmad rahimahullah ditanya tentang hal ini, beliau menjawab, “Ada sebuah benteng yang kokoh, halus, tidak ada pintu dan jendela. Luarnya seperti perak putih, dalamnya seperti emas murni. Ketika dalam keadaan demikian, tiba-tiba temboknya terbelah, lalu keluarlah darinya seekor binatang yang dapat mendengar dan melihat, memiliki bentuk yang indah dan suara yang merdu.”
Yang dimaksudkan oleh Imam Ahmad adalah seekor ayam yang keluar dari telurnya. [Lihat Tafsîr Ibnu Katsîr, surat al-Baqarah, ayat ke-21]
Sesungguhnya keyakinan adanya Sang Pencipta, Allâh Azza wa Jalla , merupakan fithrah makhluk. Oleh karena itulah Fir’aun, bahkan Iblis, juga meyakini hal ini. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang Fir’aun dan kaumnya yang mengingkari mu’jizat Nabi Musa Alaihissallam :
وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنْفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا ۚ فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِينَ
Dan mereka (Fir’aun dan kaumnya) mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya. Maka perhatikanlah betapa kesudahan orang-orang yang berbuat kebinasaan. [an-Naml/27:14]
Oleh karena itu, tidaklah semata-mata seseorang meyakini adanya Allâh berarti dia adalah orang Islam atau beriman.
Kita wajib meyakini keesaan rububiyah Allâh, yaitu bahwa hanya Allâh yang mencipta, memiliki, menguasai, dan mengatur seluruh makhluk. Hanya Allâh Azza wa Jalla yang menghidupkan, mematikan, memberi rizqi, mendatangkan kebaikan, mendatangkan bencana. Tidak ada sekutu bagi Allâh Azza wa Jalla dalam seluruh perkara di atas, baik malaikat, nabi, wali, jin, ruh, atau lainnya.
Rububiyah (mencipta, memiliki, dan mengatur/menguasai) seluruh alam semesta ini hanyalah bagi Allâh semata. Allâh Azza wa Jalla berfirman :
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِين
Segala puji bagi Allah, Rabb (Pemilik, Penguasa) semesta alam. [al-Fâtihah/1:2]
Jenis tauhid ini tidak diingkari oleh orang-orang musyrik di zaman Rasûlullâh, bahkan mereka mengakuinya, sebagaimana dinyatakan oleh beberapa ayat al-Qur’ân. Antara lain, firman Allâh Azza wa Jalla .

قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ ۚ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ ۚ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ
“Katakanlah, “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan yang mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan” Maka mereka (orang-orang musyrik jahiliyah) menjawab, “Allâh”. Maka katakanlah: “Mengapa kamu tidak bertaqwa (kepada-Nya)?” [Yunus/10: 31]
Demikian juga Iblis mengakui hal ini, dia mengakui bahwa Allâh-lah yang telah menciptakannya dari api.
قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ ۖ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ
Allah berfirman, “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Iblis menjawab “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”. [al-A’râf/7:12]
Oleh karena itulah, seseorang yang meyakini adanya Allâh dan keesaan kekuasaan-Nya belum bisa disebut orang Islam atau orang beriman, sampai dia mengimani keesaan uluhiyah Allâh, juga mengimani nama-nama dan sifat-sifat Allâh, sebagaimana akan dijelaskan di bawah ini.
Kita meyakini bahwa yang berhak diibadahi hanya Allâh Subhanahu wa Ta’ala . Tidak boleh memberikan ibadah kepada selain Allâh, walaupun kepada makhluk yang dekat kepada-Nya, seperti malaikat atau rasul Allâh Azza wa Jalla . Apalagi kepada makhluk yang derajatnya di bawah mereka, seperti: manusia, jin, binatang, pohon, batu, senjata, planet, bintang, ataupun lainnya.
Tauhid inilah makna yang terkandung di dalam perkataan Lâ ilâha illa Allâh, karena maknanya adalah tidak ada yang berhak diibadahi selain Allâh. Dia Azza wa Jalla berfirman :
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
Hanya Engkaulah yang kami ibadahi dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan. [al-Fâtihah/1:5]
Allâh Azza wa Jalla juga berfirman :
قُلْ إِنَّمَا يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ فَهَلْ أَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Katakanlah, “Sesungguhnya yang diwahyukan kepadaku adalah,”Bahwasanya Ilahmu (yang kamu ibadahi) adalah Ilah Yang Esa, maka hendaklah kamu berserah diri (kepada-Nya)”. [al-Anbiyâ’/21:108]
Keimanan terhadap keesaan uluhiyah Allâh (hakNya untuk diibadahi) ini adalah inti dakwah seluruh rasul. Dan inilah yang diingkari oleh orang-orang musyrik dan kafir. Allâh Azza wa Jalla berfirman.
وَعَجِبُوا أَنْ جَاءَهُمْ مُنْذِرٌ مِنْهُمْ ۖ وَقَالَ الْكَافِرُونَ هَٰذَا سَاحِرٌ كَذَّابٌ﴿٤﴾أَجَعَلَ الْآلِهَةَ إِلَٰهًا وَاحِدًا ۖ إِنَّ هَٰذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ
“Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan (rasul) dari kalangan mereka; dan orang-orang kafir berkata, “ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta”. Mengapa ia menjadikan ilah-ilah itu Ilah Yang Satu saja. Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan. [Shad/38: 4-5]
Tujuan dari pengenalan keesaan uluhiyah Allâh ini adalah supaya kita mencintai Allâh, tunduk kepada-Nya, takut dan berharap kepada-Nya, serta mengesakan ibadah hanya kepada-Nya.
Ibadah kepada Allâh yaitu merendahkan diri dan taat kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala dengan penuh kecintaan, pengagungan, mengharapkan rahmat, dan takut terhadap siksa. Hal itu dilakukan dengan cara melaksanakan perintah Allâh Azza wa Jalla dan menjauhi larangan-Nya.
Adapun ruang lingkup ibadah yaitu segala yang dicintai dan diridhai oleh Allâh Azza wa Jalla , baik berupa perkataan dan perbuataan, yang lahir maupun yang batin.[10]
Ibadah akan diterima oleh Allâh dengan dua syarat yaitu ikhlas dan mutâba’ah. Ikhlas yaitu: mencari ridha Allâh semata, sedangkan mutâba’ah, yaitu mengikuti Sunnah (ajaran) Nabi Muhammad.
Oleh karena itu orang yang meyakini keesaan hak Allâh untuk diibadahi, dia akan mempersembahkan segala jenis ibadah hanya kepada-Nya semata. Di antara jenis-jenis ibadah adalah ketaatan yang mutlak dengan harap dan takut; kecintaan yang disertai ketundukan mutlak; do’a; niat di dalam beribadah (ikhlas); menyembelih binatang; takut; tawakal; dan lainnya.
Imâmah (kepemimpinan ) adalah keyakinan bahwa setelah Nabi Muhammad SAW wafat harus ada pemimpin-pemimpin Islam yang melanjutkan misi atau risalah Nabi Muhammad SAW. Dalam Syi’ah kepemimpinan itu mencakup persoalan-persoalan keagamaan dan kemasyarakatan . Imam bagi kalangan ini merupakan pemimpin agama dan sekaligus sebagai pemimpin masyarakat.
Oleh karena itu persoalan imâmah dalam Syi’ah termasuk salah satu rukun agama atau ushûluddîn . Sedangkan bagi kalangan Sunni hanya merupakan masalah furu ’ ( hukum tambahan ) . Dalam Sunni istilah ini lebih populer dengan sebutan khilâfah. Khilâfah dalam Sunni lebih dikaitkan pada persoalan kepemimpinan politik daripada sebagai persoalan keagamaan.
Sementara itu, kalangan Mu’tazilah juga memiliki lima rukun yang disebut dengan ushûl al-khamsah ( lima pokok / dasar ), yaitu keyakinan terhadap :
a)      Keesaan Tuhan ( al-tawhid ).
b)      Keadilan Tuhan ( al-‘adl ).
c)      Janji dan ancaman ( al-wa’d wa al-wa’id ).
d)      Posisi di antara dua posisi ( al-manzilah bayna al-manzilatayn ).
Menegakkan kebajikan dan mencegah kejahatan ( al-amru bi al-ma’ruf wa nahyu ‘an al-munkar ). Mu’tazilah merupakan salah satu aliran dalam teologi Islam yang dikenal bersifat rasional dan liberal. Pandangan teologisnya lebih banyak ditunjang oleh dalil-dalil ‘aqliah ( akal ) dan lebih bersifat filosofis, sehingga sering disebut aliran rasionalis Islam. Mu’tazilah didirikan oleh Wasil bin Atha pada tahun 100 H / 718 M.
Satu keyakinan yang tidak ditemukan di dalam aliran teologi Islam yang lain adalah al-manzilah bayna al-manzilatayn. Wasil bin Atha meyakini bahwa orang mukmin yang berdosa besar menempati posisi antara mukmin dan kafir. Jadi, orang itu bukan mukmin dan bukan pula kafir, tetapi di antara keduanya. Oleh karena nanti di akhirat tidak ada tempat di antara surga dan neraka, maka orang itu dimasukkan ke dalam neraka, tetapi siksaan yang diperolehnya lebih ringan dari siksaan orang kafir. Pendapat Wasil ini kemudian menjadi salah satu doktrin Mu’tazilah.

C.     Meminta Pertolongan Kepada Allah
Hadits Tentang Meminta Pertolongan Kepada Allah swt.
عن ابي هريرة رضي الله عنه قال قال رسول الله صلئ الله عليه و سلم “اَللَّهُمَّ اِنْفَعْنِي بِمَا عَلَّمْتَنِي وَعَلِّمْنِي مَا يَنْفَعُنِي وَزِدْنِي عِلْمًا الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ وَأَعُوذُ بِاَللَّهِ مِنْ حَالِ أَهْلِ اَلنَّار قال عبسى هذا حديث حسن غريب من هذا الوجه (اخرجه الترمذي و ابن ماجه وهذا اللفظ للترمذي كتب الدعوات : باب في العفم و العافية)

Artinya : Dari Abu Hurairah r.a. dia berkata; Rasulullah s.a.w. bersabda : “Ya Allah, semoga Engkau memberi manfaat terhadap ilmu yang Engkau berikan padaku, dan ajarilah aku sesuatu yang bermanfaat bagiku, tambahilah ilmuku, segala puji bagi Allah di semua keadaan, aku berlindung kepada Allah dari keadaannya ahli neraka”  (HR Tirmidzi )
Penjelesan Hadits
Dari hadits diatas tersirat bahwa sebagai pesrta didik hendaknya senantiasa dengan kerendahan hati memohon untuk dibukakan jalan agar mendapat ilmu yang bermanfaat dan dijauhkan dari kesesatan. Seperti apa yang dikatakan Syaikh Zarnunji dalam kitab Ta’lim al-Muta’alim: “Penuntut ilmu hendaknya berdoa dengan penuh kerendahan dihadirat Allah, memohon didapatkan petunjuk (hidayah). Sungguh Allah menunjukan orang yang memohon petunjuk.”[11]
Sebagai peserta didik juga harus memohon kepada Allah swt. Agar : Segala karunia atau nikmat (ilmu) yang telah diberikan Allah dapat memberi manfaat.
Allah swt. membimbing kita ke jalan menujusesuatu (ilmu) yang bermanfaat. Imam Ibnu Rajab al-Hambali dalam kitab Al-Khusyuu’ fish Shalaah berkata : “Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang masuk dan menetap ke dalam relung hati manusia, yang kemudian melahirkan rasa tenangt, takut, tunduk, merendahkan dan mengakui kelemahan diri dihadapan Allah”.
Ciri-ciri ilmu yang bermanfaat di dalam diri seseorang yaitu:
1.      Menghasilkan rasa takut dan cinta kepada Allah.
2.      Menjadikan hati tunduk atau khusyuk kepada Allah dan merasa hina dihadapan-Nya dan selalu bersikap tawadhu’.
3.      Membuat jiwa selalu cukup (qonaah) dengan hal-hal yang halal walaupun sedikit yang itu merupakan bagian dari dunia.
4.      Menumbuhkan rasa zuhud.
5.      Senantiasa didengar doanya.
6.      Ilmu itu senantiasa berada dihatinya.
7.      Menganggap bahwa dirinya tidak memiliki sesuatu dan kedudukan.
8.      Menjadikannya benci akan tazkiah dan pujian
9.      Selalu mengharap akhirat.
10.  Berbaik sangka terhadap ulama-ulama salaf (terdahulu)
11.  Sedikt bicara karena takut jika terjadi kesalahan dan tidak bebicara kecuali dengan ilmu. Sesungguahnya, sediktnya perkataan-perkataan yang dinukil dari orang-orang terdahulu bukanlah karena mereka tidak mampu untuk berbicara, tetapi karena mereka memiliki sifat wara’ dan takut kepada Allah.
12.  Senatiasa ditambahkan ilmu
Firman Allah Ta’ala:
وَقٌل رَّبِّ زِدْنِئ عِلْمً
Artinya : “ Dan katakanlah : Ya Rabb-ku, tambahkanlah ilmu kepadaku.” (QS. Thaha :114(
Ilmu tidak hanya kirta peroleh dalam pendidikan formal, oleh guru atau orang-orang yang lainnya, namun juga bisa didapat dari semua orang, kapan saja dan dimana saja.
Pelajar hendaklah memanfaatkan semua orang untuk diambil pelajarannya di semua waktu dan keadaan. Rasulullah saw. bersabda :

ضا لة المؤمن اينما وجدها اخذها الحكمة
Artinya : “Hikmah (sesuatu yang bermanfaat) adalah sebagai barang hilang orang mukmin, didapatkan dimana saja maka ambillah.”.



D.    Bertawakal Kepada Allah
Tawakal (tawakul) dalam bahasa arab berarti mewakilkan atau menyerahkan. Dalam agama islam, tawakal  berarti berserah diri kepada allah dalam menghadapi suatu pekerjaan, atau menanti akibat dari suatu keadaan.
Tawakal adalah kesungguhan hati dalam bersandar kepada Allah SWT untuk mendapatkan kemaslahatan serta mencegah bahaya, baik menyangkut urusan dunia maupun akhirat . Allah SWT berfirman yang artinya :
çmø%ãötƒur ô`ÏB ß]øym Ÿw Ü=Å¡tFøts 4 `tBur ö@©.uqtGtƒ n?tã «!$# uqßgsù ÿ¼çmç7ó¡ym 4 ¨bÎ) ©!$# à÷Î=»t/ ¾Ín̍øBr& 4 ôs% Ÿ@yèy_ ª!$# Èe@ä3Ï9 &äóÓx« #Yôs% ÇÌÈ  
“dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap  sesuatu”. (QS.Ath-Thalaq [65]:3)
Nabi saw bersabda: “jika kalian bertawakal kepada Allah dengan tawakal yang sebenar-benarnya, pasti Allah akan memberikan kalian rezeki sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung. Mereka berangkat dipagi hari dengan perut kosong, dan kembali di waktu petang dengan perut  yang penuh isi”. (HR. Ahmad)
Derajat Tawakal
Tawakal merupakan gabungan berbagai unsur yang menjadi satu, dimana tawakal tidak dapat terealisasikan tanpa adanya unsur-unsur tersebut. Unsur-unsur ini juga merupakan derajat dari tawakal itu sendiri:[12]
Derajat pertama dari tawakal adalah : Ma’rifat kepada Allah SWT dengan segala sifat-sifat-Nya minimal meliputi tentang kekuasaan-Nya keagungan-Nya, keluasan ilmu-Nya, keluasan kekayaan-Nya, bahwa segala urusan akan kembali pada-Nya, dan segala sesuatu terjadi karena kehendak-Nya, dsb.
Derajat tawakal yang kedua adalah : Memiliki keyakinan akan keharusan melakukan usaha. Karena siapa yang menafikan keharusan adanya usaha, maka tawakalnya tidak benar sama sekali. Seperti seseorang yang ingin pergi haji, kemudian dia hanya duduk di rumahnya, maka sampai kapanpun ia tidak akan pernah sampai ke Mekah. Namun hendaknya ia memulai dengan menabung, kemudian pergi kesana denan kendaraan yang dapat menyampaikannya ke tujuannya tersebut.
Derajat Tawakal yang ketiga adalah : Adanya ketetapan hati dalam mentauhidkan (mengesakan) Dzat yang ditawakali, yaitu Allah SWT. Karena tawakal memang harus disertai dengan keyakinan akan ketauhidan Allah. Jika hati memiliki ikatan kesyirikan-kesyirikan dengan sesuatu selain Allah, maka batallah ketawakalannya.[13]
Derajat tawakal yang keempat adalah : Menyandarkan hati sepenuhnya hanya kepada Allah SWT, dan menjadikan situasi bahwa hati yang tenang hanyalah ketika mengingatkan diri kepada-Nya. Hal ini seperti kondisi seorang bayi, yang hanya bisa tenang dan tentram bila berada di susuan ibunya. Demikian juga seorang hamba yang bertawakal, dia hanya akan bisa tenang dan tentram jika berada di ‘susuan’ Allah SWT.
Derajat tawakal yang kelima adalah : Husnudzan (baca ; berbaik sangka) terhadap Allah SWT. Karena tidak mungkin seseorang bertawakal terhadap sesuatu yang dia bersu’udzan kepadanya. Tawakal hanya dapat dilakukan terhadap sesuatu yang dihusnudzani dan yang diharapkannya.
Derajat Tawakal yang keenam adalah : Memasrahkan jiwa sepenuhya hanya kepada Allah SWT. Karena orang yang bertawakal harus sepenuh hatinya menyerahkan segala sesuatu terhadap yang ditawakali. Tawakal tidak akan mungkin terjadi, jika tidak dengan sepenuh hati memasrahkan hatinya kepada Allah.
Derajat tawakal yang ketujuh yaitu : Menyerahkan, mewakilkan, mengharapkan, dan memasrahkan segala sesuatu hanya kepada Allah SWT. Dan hal inilah yang merupakan hakekat dari tawakal. Allah SWT berfirman: (QS. 40 : 44)
“Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya”.
Seorang hamba yang menyerahkan segala urusannya kepada Allah, maka ia tidak akan berbuat melainkan dengan perbuatan yang sesuai dengan kehendak Allah. Karena dia yakin, bahwa Allah tidak akan menetapkan sesuatu kecuali yang terbaik bagi dirinya baik di dunia maupun di akhirat.
Bagiamana     Cara   Kita     BertawakalSikap tawakal tentu saja tidak bisa muncul dengan sendirinya, tanpa adanya penghayatan terhadap akidah atau tauhid secara benar, misalnya penghayatan terhadap luasnya makna Laa Ilaaha Illallah, atau keluasan.
Asmaul Husna, sehingga melahirkan sikap akidah yang mantap. Keyakinan yang mantap teralisir dalam aplikasi sebagai seorang muslim yang mempunyai akhlakul karimah. Seperti kesabaran yang kuat, keistiqomahan yang mantap, sifat qonaah, ketenangan qalbu (muthmainah) yang baik. Termasuk di dalamnya sifat tawakal yang sebenarnya. Semua itu harus betul-betul dipahami dengan pemahaman yang sempurna. Sebuah contoh dari seorang alim yang pemahaman Islamnya sempurna, ia adalah Hatim al-Sham (237 H). Ketika ia di tanya tentang tawakal. “Atas dasar apa anda bangun urusan anda dalam hal tawakal”. Kemudian ia menjawab: “Berdasarkan empat perkara, Pertama: Aku tahu bahwa rezekiku tidak akan di makan oleh selainku, maka hatiku tentram dengannya. Kedua: Aku tahu bahwa amalku tidak dilakukan oleh orang selainku, maka aku sibuk dengannya. Ketiga: Aku tahu bahwa kematian itu datang dengan tiba-tiba, maka aku berpacu dengannya. Keempat: aku tahu bahwa aku tidak pernah sepi dari pengawasan Allah, maka aku malu kepada-Nya.

E.     Kepada Allah Tempat Kembali
Bertemu dengan Allah (liqa’Allah). Bertemu dengan Tuhan (liqa’I rabbihim). Liqa mempunyai arti perjumpaan denganya secara bersamaan, pertemuan sesuatu atau pertemuan dua hal. Pertemuan dengan Allah dan Rabb digambarkan dalam Al Qur’an seperti dalam surat berikut ini.
`tB tb%x. (#qã_ötƒ uä!$s)Ï9 «!$# ¨bÎ*sù Ÿ@y_r& «!$# ;NUy 4 uqèdur ßìÏJ¡¡9$# ÞOŠÎ=yèø9$# ÇÎÈ  
“Barangsiapa yang mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah itu, pasti datang. Dan Dialah Yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS Al’Ankabuut [29] ayat 5)
ö@è% uqèd âÏŠ$s)ø9$# #n?tã br& y]yèö7tƒ öNä3øn=tæ $\/#xtã `ÏiB öNä3Ï%öqsù ÷rr& `ÏB ÏMøtrB öNä3Î=ã_ör& ÷rr& öNä3|¡Î6ù=tƒ $YèuÏ© t,ƒÉãƒur /ä3ŸÒ÷èt/ }¨ù't/ CÙ÷èt/ 3 öÝàR$# y#øx. ß$ÎhŽ|ÇçR ÏM»tƒFy$# öNßg¯=yès9 šcqßgs)øÿtƒ ÇÏÎÈ  
“Kemudian Kami telah memberikan Al Kitab (Taurat) kepada Musa untuk menyempurnakan (nikmat Kami) kepada orang yang berbuat kebaikan, dan untuk menjelaskan segala sesuatu dan sebagai petunjuk dan rahmat, agar mereka beriman (bahwa) mereka akan menemui Tuhan mereka” (QS Al An’am [6] ayat 154)
Pertemuan dengan Allah pasti akan terjadi bila manusia mengharap bertemu dengan Allah. Kalau tidak berharap, tentunya tidak akan bertemu dengan Allah. Manusia yang tidak berharap pertemuan dengan Allah dilukiskan dalam (QS Yunus [10] ayat 7)[14]
¨bÎ) šúïÏ%©!$# Ÿw šcqã_ötƒ $tRuä!$s)Ï9 (#qàÊuur Ío4quysø9$$Î/ $u÷R9$# (#qœRr'yJôÛ$#ur $pkÍ5 šúïÏ%©!$#ur öNèd ô`tã $uZÏF»tƒ#uä tbqè=Ïÿ»xî ÇÐÈ  
“Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami.”
Kapan pertemuan dengan Allah? Bisa jadi di dunia seperti yang sudah dijelaskan dalam artikel Kepada Allah Semua Kembali (1). Pertemuan dengan Allah itu pada suatu hari dimana orang-orang dikumpulkan sebagaimana yang digambarkan pada ayat berikut ini.
“Dan (ingatlah) akan hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka, (mereka merasa di hari itu) seakan-akan mereka tidak pernah berdiam (di dunia) hanya sesaat di siang hari, (di waktu itu) mereka saling berkenalan. Sesungguhnya rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Allah dan mereka tidak mendapat petunjuk” (QS Yunus [10] ayat 45)
Orang-orang itu dikumpulkan bersaf-saf. Apakah yang dikumpulkan itu badan wadagnya? Bukan ! Yang berkumpul itu adalah Ruhnya. Jadi bertemu dengan Allah itu berada di alam Ruh. Simak ayat berikut ini.
“Pada hari, ketika ruh[1550] dan para malaikat berdiri bershaf- shaf, mereka tidak berkata-kata, kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan Yang Maha Pemurah; dan ia mengucapkan kata yang benar.” (QS An-Naba’ [78] ayat 38)
Setelah ruh-ruh tadi dihisab dan setiap ruh (jiwa) akan mengetahui apa yang telah dikerjakannya (QS At Takwir [81] ayat 14) , maka akan dipertemukan ruh-ruh itu dengan badan wadagnya. “dan apabila ruh-ruh dipertemukan (dengan tubuh)” (QS At TAkwir [81] ayat 7). Bagaimana Allah mempertemukan ruh-ruh itu dengan badan wadagnya? Pertemuan ruh dengan badan wadagnya ini tentu melalui proses. Proses ini digambarkan oleh dalam QS As Sajdah [32] ayat 9) dengan cara meniupkan ruh-Nya kedalam badan wadag.
“Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.”
Setelah manusia mengalami siklus kematian dan kehidupan -pertemuan roh dan badan wadagnya – ( baca artikel sebelumnya), pada akhirnya kembali kepada Allah.
“Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan? ”(QS Al Baqarah (2) ayat 28).
Tsumma Ilaiihi Turja’uun (kemudian kepada-Nya lah kamu dikembalikan). Turja’uun berasal dari kata raja’a-yarji’u-raj’an. Artinya menurut Al-Ashfahani adalah kembali kepada keadaan semula atau ukuran semula. Kalau dulu asalnya roh itu ditiupkan oleh Tuhan, pada saat kembali tentunya menunju kepada Tuhan atau menurut kamus Al-Munawwir berarti kembali kepada Tuhan melalui jalan semula (jalan yang telah dilewati). Bagaimana prosesnya ? Hanya Tuhan yang mengetahuinya. Allah Maha Mengetahui.


BAB III
PENUTUP
A.     Kesimpulan
Kita bisa mengambil kesimpulan materi diatas, bahwa dalam mengenal Allah, kita di tuntut menjadi seorang yang beramal sholeh. Allah sangat menyayangi hambanya yang senantiasa selalu mengingat-Nya, Allah menjanjikan surga, keridhoan, keberkahan, kemerekaan serta kemulyaan di dalam hidup kita.
Mengenal Allah yang benar adalah dengan menimbulkan rasa malu, cinta dan rasa takut kepada-Nya. Yang disebut malu karena merasa membawa beban dosa. Cinta yaitu rindu untuk menghadap Allah dan senang memperoleh pahala-Nya. Dan takut kepada Allah adalah takut terkena siksa-Nya. Jika hal tersebut telah timbul di dalam hati kita. Insya Allah kita telah mampu mengenal Allah dengan cinta.
Untuk itu sebelum kita mengenal Allah alangkah baiknya kalau kita membersihkan hati kita dari berbagai penyakit, yang membuat hati kita menjadi petang atau gelap. Hanya dengan cara itulah kita bisa mengerti apa rahasia-rahasia yang selama ini tidak kita ketahui.

B.     Saran
Demikianlah pembahasan makalah mengenai dasar keimanan, semoga menjadi bahan rujukan bagi kita bersama dalam menambah wawasan mengenai studi tentang ilmu kalam.  
DAFTAR PUSTAKA
Ali, Mohammad Daud, Pendidikan Agama Islam, Cet. Ke-3, (Jakarta : PT RajaGrafindo Persada, 2000)

Al-Lari, Sayyid Mujtaba Musawi, Teologi Islam Syi’ah : Kajian Tekstual Rasional Prinsip-prinsip Islam, Cet. 1, (Jakarta : Al-Huda, 2004)

Azra,  Azyumardi (ed) ,  Ensiklopedi Islam,  Cet. 9,  (Jakarta : Ichtiar Baru Van Hoeve,   2001)

Glasse,  Cyril,  Ensiklopedi Islam – Ringkas ( The Concise Encyclopedia of Islam ) , Cet. 3, Jakarta :  PT RajaGrafindo Persada,  2002)

M. Afnan chafidh, TERJEMAH: Ta’lim al-Muta’alim, (Pekalongan: penerbit HASAB BIN EDRUS PEKALONGAN)

Jasiman, Mengenal dan Memahami Islam, (PT Era Adicitra Intermedia. 2002)


[1] Ali, Mohammad Daud, Pendidikan Agama Islam, Cet. Ke-3, (Jakarta : PT RajaGrafindo Persada, 2000) H. 32
[2] Ali, Mohammad Daud, Pendidikan Agama Islam, Cet. Ke-3,  … H. 32
[3] Al-Lari, Sayyid Mujtaba Musawi, Teologi Islam Syi’ah : Kajian Tekstual Rasional Prinsip-prinsip Islam, Cet. 1, (Jakarta : Al-Huda, 2004) H. 17
[4] Al-Lari, Sayyid Mujtaba Musawi, Teologi Islam Syi’ah : Kajian Tekstual Rasional Prinsip-prinsip Islam, Cet. 1,  … H. 19
[5] Al-Lari, Sayyid Mujtaba Musawi, Teologi Islam Syi’ah : Kajian Tekstual Rasional Prinsip-prinsip Islam, Cet. 1,  … H. 20
[6] Azra,  Azyumardi (ed) ,  Ensiklopedi Islam,  Cet. 9,  (Jakarta : Ichtiar Baru Van Hoeve,   2001) H. 53
[7] Azra,  Azyumardi (ed) ,  Ensiklopedi Islam,  Cet. 9,   … H. 55
[8] Glasse,  Cyril,  Ensiklopedi Islam – Ringkas ( The Concise Encyclopedia of Islam ) , Cet. 3, Jakarta :  PT RajaGrafindo Persada,  2002) H. 327
[9] Glasse,  Cyril,  Ensiklopedi Islam – Ringkas ( The Concise Encyclopedia of Islam ) , Cet. 3, … H. 328
[10] Azra,  Azyumardi (ed) ,  Ensiklopedi Islam,  Cet. 9,   … H. 61
[11] M. Afnan chafidh, TERJEMAH: Ta’lim al-Muta’alim, (Pekalongan: penerbit HASAB BIN EDRUS PEKALONGAN), hml.42.
[12] Jasiman, Mengenal dan Memahami Islam, (PT Era Adicitra Intermedia. 2002) H. 28
[13] Jasiman, Mengenal dan Memahami Islam, (PT Era Adicitra Intermedia. 2002) H. 30
[14] Jasiman, Mengenal dan Memahami Islam,  … H. 35

No comments:

Post a Comment