BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Salah satu realita yang cukup memprihatinkan pada saat sekarang ini,
adalah kondisi kaum muslimin yang mulai tidak peduli terhadap ajaran agama
Islam, terutama terhadap perkara aqidah. Sebagian besar kaum muslimin saat ini
lebih disibukkan dengan usaha-usaha perbaikan dan pembangunan fisik,
peningkatan ekonomi umat, kesejahteraan kaum muslimin dan lain sebagainya, yang
pada hakikatnya seluruh jerih payah tersebut tidak membawa banyak perubahan
bagi kaum muslimin.
Mereka lupa bahwa perkara yang harus dibenahi pertama kali dari umat ini
adalah perkara aqidah dan pembenaran iman. Bukankah perkara yang pertama kali
diserukan oleh para rasul Allah kepada umatnya, termasuk Nabi kita Muhammad
shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah perkara aqidah?
Allah ta’ala berfirman,
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ
اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
“Dan
sungguh Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan):
Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut”. (QS. An Nahl : 36)
Rasul tidaklah diutus oleh Allah ta’ala melainkan dalam rangka
pembenaran dan pelurusan aqidah umat. Setiap kitab tidaklah diturunkan oleh
Allah ta’ala melainkan dalam rangka menjelaskan aqidah yang selamat dan
menjelaskan segala perkara yang dapat membatalkan atau menguranginya. Dan
setiap manusia tidaklah diciptakan melainkan karena tujuan ini. Inilah hakikat
kunci kebahagiaan manusia di dunia dan di akhirat. (Lihat Al Irsyad ila
Shahihil I’tiqad, hal. 9)
Tak kenal maka tak sayang, demikian bunyi pepatah. Banyak orang mengenal
Allah, akan tetapi pernahkah kita mengukur sejauh mana pengetahuan dan
pengenalan kita kepada-Nya? Cukupkah mengenalnya dengan mengetahui dan
menghafal nama-nama dan sifat-sifat-Nya? Mengetahui dan menghafalnya merupakan
sebagian dari pengenalan kita kepada Allah, akan tetapi ada yang lebih penting,
yaitu apa dan bagaimana sikap kita terkait dengan nama dan sifat itu.
Lalu bagaimana kita dapat mengenali Allah dengan sebenar benar nya?
Pengenalan yang sesungguhnya adalah apabila pengetahuan kita tentang
sifat-sifat dan nama-nama Allah itu kemudian di barengi dengan penyikapan yang
benar dan proporsional.
Mengenali Allah menjadi sangat penting karena banyak sekali dalil sangat
kuat yang telah membuktikan keberadaan,sifat-sifat, dan nama-nama-Nya, baik
dalil naqli, dalil aqli maupun dalil fitri yang tak terbantahkan. Kalau
dalil-dalil yang menunjukan keberadaan dan kekuasaan-Nya demikian banyak dan
kuat, berarti kita ketinggalan informasi bila masih belum mengenal-Nya.
Dan manfaat yang kita rasakan dengan mengenal Allah itu adalah di
akhirat, di mana kita akan mendapatkan surga dan keridhaan-Nya. Tidak ada suatu
kenikmatan yang sebanding apalagi melebihi kenikmatan di akhirat itu. Yaitu
ketika seorang hamba dimasukkan kedalam surga dan mendapatkan keridhaan Allah swt. Semoga kita termasuk
orang-oran yang mengenal Allah dengan baik, supaya kehidupan kita lebih baik
dan pada akhirnya kita mendapatkan kebaikan di dunia dan akhirat di bawah
naungan rahmat dan ridho-Nya, Amin.
B. Rumusan
Masalah
1. Apa yang
dimaksud dengan mebgnenal tuhan?
2. Bagaimana
mengimani allah sebagai tuha?
3. Bagaimana cara
kita untuk menyembah, meminta pertolongan bertawakal, serta hanya kepada allah
tempat kembali?
C. Tujuan
1. Untuk
mengetahui yang dimaksud dengan mebgnenal tuhan
2. Untuk memahami
mengimani allah sebagai tuhan
3. Untuk memahami
cara kita untuk menyembah, meminta pertolongan bertawakal, serta hanya kepada
allah tempat kembali
BAB II
PEMBAHASAN
A. Mengenal Allah SWT
1. Mengenal
Allah SWT
Mungkin terlintas dalam benak kita,
apakah masih perlu berbicara tentang Allah? Bukankah kita sudah sering
mendengar dan menyebut asma-Nya. Bukankah kita sudah tahu bahwa Allah adalah
Tuhan kita. Tidakkah itu sudah cukup? Ketahuilah, perasaan merasa cukup inilah
yang menghalangi kita untuk menambah dan memperkaya wawasan kita tentang
pemahaman dan pengenalan terhadap pencipta kita, Allah SWT.
Makrifatullah adalah bahasa arab
yang terdiri dari dua kata, yaitu Makrifat dan Allah. Makrifat berarti
mengetahui, mengenal. Mengengenal Allah yang di ajarkan kepada Manusia adalah
mengenal melalui hasil penciptaannya bukan melalui zat Allah. Karena akal kita
memiliki keterbatasan untuk memahami seluruh ilmu yang ada di dunia ini,
apalagi zat Allah.[1]
Makrifatullah merupakan ilmu
tertinggi yang harus di pahami oleh manusia. Hakikat ilmua adalah memberikan
keyakinan kepada orang yang mendalamiya. Memahami makrifatullah juga akan
mengeluarkan manusia dari kegelapan, kebodohan, kepada cahaya yang terang yaitu
keimanan. (Qs : Al-luqman(31):18).
Apabila pengaruh positif dari
mengenal Allah diketahui, tentu manusia akan berlomba-lomba untuk mengenal-Nya
lebih jauh. Karena itu, orang yang beriman selalu berusaha mengenali tuhannya
secara baik. Namun Allah itu bersifat gaib dan tidak terjangkau oleh indra
kita, sehingga upaya untuk mengenal-Nya lebih jauh dari itu tidak dapat di
lakukan secara baik, jika hanya mengandalkan pengamatn indrawi. Lantaran
kegaiban, kesempurnaan, dn keagungan-Nya melalui ayat-ayat-Nya. Adapun ayat-ayat
atau tanda-tanda keberadaan, keagungan, dan kekuasaan Allah itu, secara global
dapat di klasifikasikan menjadi dua bagian yaitu ayat-ayat qauliyah (ucapan),
berupa firman-firman-Nya dalam kitab suci yan telah di wahyukan kepada para
nabi dan rosul, dan ayat-ayat kauniyah (fenomena alam), yaitu tanda-tanda
kekuasaan-Nya yang terbesar di alam semesta ini.[2]
Menurut pendapat Syeikh Ahmad Arifin
berpendapat bahwa setiap yang ada pasti dapat di kenal, dan hanya yang tidak
ada yang tidak bisa di kenal. Karena Allah adalah zat yang wajib al-wujud yaitu
zat yang wajib adanya, tentulah Allah dapat di kenal, dan kewajiban pertama
bagi setiap muslim adalah mengenal kepada yang di sembahnya, barulah ia beruat
ibadah sebagai mana sabda nabi:
أَوَلُ الدِّيْنِ مَعْرِفَةُ اللهِ
Artinya: “Pertama sekali di dalam
Aganma adalah mengenal Allah”
Kenalilah dirimu sebagaimana sabda
nabi Muhammad:
مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّهُ وَمَنْ
عَرَفَ رَبَّهُ فَسَدَ جَسَدَهُ
Artinya: Barang siapa yang mengenal
dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya dan barang siapa mengenal Tuhannya maka
binasalah (fana) dirinya.
Lalu dari mana yang wajib kita kenal?
Sesungguhnya diri kita terbagi dua. Sebagai firman Allah dalam surat Luqman
ayat 20:
وَأَسْبَغَ عَليْكُمْ نِعَمَهُ ظَهِرَةً وَبَاطِنَةً
Artinya: Dan Allah telah
menyempurnakan bagimu nikmat zhahir dan nikmat batin.
Jadi dari berdasarka ayat di atas, diri kita
terbagi menjadi dua:
1. Diri zhahir
yaitu diri yang dapat dilihat oleh mata dan bisa diraba oleh tangan.
2. Diri batin
yaitu yang tidak dapat di pandang oleh mata dan tidak dapat di raba oleh
tangan, tetapi dapat di rasakan oleh mata hati. Adapun dalil mengenai
terbaginya diri manusia karena sedmikian pentingnya peran diri yang batin inidi
dalam upaya untuk memperoleh pengenalan kepada Allah, itulah sebabnya kenapa
kita di suruh melihat kedalam diri (introspeksi diri) sebagaimana firman Allah
dalam surat az-zariyat 21:
وَفِى اَنْفُسِكُمْ اَفَلاَ تُبْصِرُوْنَ
Artinya:
Dan di dalam diri kamu apakah kamu tidak memperhatikannya.
Allah memerintahkan kepada manusia
untuk memperhatikan kedalam dirinya di sebabkan karena didalam diri manusia itu Allah telah
menciptakan sebuah mahligai yang mana di dalamnya Allah telah menanamkan
rahasia-Nya. Sebagaimana sabda nabi dalam hadist hudsi:
بَنَيْتُ فِى جَوْفِ اِبْنِ آدَمَ قَصْرًا وَفِى
الْقَصْرِ صَدْرً وَفِى الصَّدْرِ قَلْبًا وَفِى الْقَلْبِ فُؤَادً وَفِى
الْفُؤَادِ شَغْافًا وَفِى الشَّغَافِ لَبًّا وَفِى لَبِّ سِرًّا وَفِى السِّرِّ
أَنَا (الحديث القدسى)
Artinya: “Aku jadikan dalam rongga
anak adam itu mahligai dan dalam mahligai itu ada dada dan dalam dada itu ada
hati (qolbu) namanya dan dalam hati(qolbu) ada mata hati (fuad) dan dalam mata
hati (fuad) itu ada penutup mata hati (saghaf) dan di balik penutup mata hati
(saghaf) itu ada nur/cahaya (labban), dan di dalam nur/cahaya (labban) ada
rahasia (sirr) dan di dalam rahasia (sirr) itulah Aku kata Allah”.(Hadist
Qudsi).
Bagaimanakah maksud hadis ini? Tanyalah kepada
Ahlinya, yaitu ahli zikir, Sebagaimana firman Allah dalam surat An-nahl ayat
43:
فَاسَئَلُوْا أَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ
لاَتَعْلَمُوْنَ
Artinya: Tanyalah kepada Ahli
dzikrullah (Ahlu Sufi) kalau kamu benar-benar tidak tahu.
Karena Allah itu ghaib, maka perkara
ini termasuk, perkara yang dilarang untuk menyampaikannya dan haram pula di paparkan kepada yang bukan ahlinya (orang
awam), sebagaimana dikatakan para sufi:
وَلِلَّهِ مَحَارِمٌ فَلاَ تَهْتَكُوْهَا
Artinya: Bagi Allah itu ada beberapa
rahasia yang di haramkan membukannya kepada yang bukan Ahlinya.
Oleh karena itu, agar kita dapat
mengenal Allah, maka kita harus mempunyai pembimbing rohani atau mursyid.
Tentang ini Abu Ali ats-Tsaqafi berkata,”Seandainya seseorang mempelajari jenis
ilmu dan berguru kepada banyak ulama, maka dia tidak sampai ketingkat para sufi
kecuali dengan melakukan latihan-latihan spiritual bersama seorang syeikh yang
memiliki akhlak luhur dan dapat memberinya nasehat-nasehat.
Sesungguhnya semakin dalam dan
sering kita memahami untuk mengenal Allah maka kita akan semakin merasa dekat
dengan-Nya. Semakin dekat perasaan kita kepada Allah, semakin tenang jiwa kita.
Sebagaimana yang termaktub dalam Al Qur’anul Karim dalam Surat Ar Ra’du (13) :
38.
Ketika kita berbicara tentang Allah,
kita tidak hanya membahas Allah sebagai Rabb (Pencipta) namun kita juga membahas
bahwa Allah sebagai Malik dan Ilah. Secara definitif dalam Al Qur’an dijelaskan
bahwa Malik memiliki makna pemilik, pemelihara dan penguasa. Ilah memiliki
makna sebagai Yang paling dicintai, Yang paling ditakuti dan Yang menjadi
sumber pengharapan.[3]
Allah SWT sebagai pencipta lebih
mudah dipahami dibandingkan memahami Allah sebagai Malik dan Ilah. Hal ini
disebabkan karena memahami Allah sebagai Malik memiliki berbagai konsekuensi
diantaranya konsekuensi pengabdian melaksanakan perintah-Nya, konsekuensi
menjadikan Allah sebagai satu-satunya yang paling dicintai, konsekuensi
menjadikan Allah sebagai satu-satunya penguasa diri, dan sebagainya.
Konsekuensi inilah yang biasanya menjadi kendala bagi kita untuk memahami Allah
secara menyeluruh.
Dalam memahami dan mengenal Allah,
kita sebaiknya berkeyakinan bahwa Allah sumber ilmu dan pengetahuan. Ilmu-ilmu
tersebut berfungsi sebagai pedoman hidup. Dan sebagai sarana hidup. Dengan
keyakinan itu maka kita akan lebih mudah untuk memahami Allah dan juga memiliki
kepribadian yang merdeka dan bebas, karena kita hanya menjadikan Allah sebagai
satu-satunya penguasa diri kita, seluruh makhluk bagi kita memiliki posisi yang
sama. Sama-sama hamba Allah jadi kita tidak akan takut kepada selain Allah.
Dalam kitab dikatakan, awaluddin
makrifatullah (awal-awal agama ialah mengenal Allah). Apabila seseorang itu
tidak mengenal Allah, segala amal baktinya tidak akan sampai Kepada Allah SWT.
Sedangkan, segala perintah suruh yang kita buat, baik yang berbentuk fardhu
maupun sunat, dan segala perintah larang yang kita jauhi, baik yang berbentuk
haram maupun makruh, merupakan persembahan yang hendak kita berikan kepada
Allah SWT. [4]
Kalau kita tidak kenal Allah SWT,
maka segala persembahan itu tidak akan sampai kepada-Nya. Ini berarti,
sia-sialah segala amalan yang kita perbuat.
Bila seseorang itu sudah kenal
Allah, barulah apabila dia berpuasa, puasanya sampai kepada Allah. Apabila dia
sholat, sholatnya sampai kepada Allah. Apabila dia berzakat, zakatnya sampai
kepada Allah. Apabila dia menunaikan haji, hajinya sampai kepada Allah SWT.
Apabila dia berjuang, berjihad, bersedekah dan berkorban, serta membuat segala
amal bakti, semuanya akan sampai kepada Allah SWT.Karena itulah, makrifatullah
(Mengenal Allah) ini amat penting bagi kita. Jika kita tidak kenal Allah, kita
bimbang segala amal ibadah kita tidak akan sampai kepada-Nya, ia menjadi
sia-sia belaka. Boleh jadi kita malah hanya akan tertipu oleh syaitan saja.
Kita mengira amalan yang kita perbuat sudah kita persembahkan pada Allah,
padahal itu adalah jebakan syaitan. Ini karena kita tidak mengenal Allah,
sehingga kita tidak mampu membedakan ilah (tuhan) yang kita ikuti, apakah itu
Allah, atau syaitan yang menipu daya. Sebab itulah mengenal Allah itu hukumnya
fardhu 'ain bagi tiap-tiap mukmin.[5]
Mengenal Allah dapat kita lakukan
dengan cara memahami sifat-sifat-Nya. Kita tidak dapat mengenal Allah melalui
zat-Nya, karena membayangkan zat AllaH itu adalah suatu perkara yang sudah di
luar batas kesanggupan akal kita sebagai makhluk Allah. Kita hanya dapat
mengenal Allah melalui sifat-sifat-Nya.
Untuk memahami sifat-sifat Allah
itu, kita memerlukan dalil aqli dan dalil naqli.
1.
Dalil aqli adalah dalil yang bersumber dari
akal (aqli dalam bahasa Arab = akal).
2.
Dalil naqli adalah dalil yang bersumber dari
Al-Qur'an dan As-Sunnah.
Melalui dalil aqli dan
dalil naqli ini sajalah kita dapat mengenal Allah. Tanpa dalil-dalil itu, kita
tidak dapat mengetahui sifat-sifat Allah, dan kalau kita tidak mengetahui
sifat-sifat Allah, berarti kita pun tidak mengenal Allah.
2. Makna
Mengenal Allah
Ma’rifatullah adalah bahasa Arab
yang terdiri dari dua kata, yaitu Ma’rifah dan Allah. Ma’rifah berarti
mengetahui, mengenal. Mengenal Allah yang diajarkan kepada manusia adalah
mengenal melalui hasil penciptaannya bukan melalui zat Allah. Karena akal kita
memiliki keterbatasan untuk memahami seluruh ilmu yang ada di dunia ini,
apalagi zat Allah.
Mengenal Allah atau makrifatullah
akan sangat menentukan kesalehan dan kebaikan seseoran di dunia maupun di
akhirat. Kebaikan dan kesalehanya berbanding lurus dengan tingkat pengenalanya
kepada Allah itu. Semakin mengenal Allah, semakin ssaleh dan semakin baik amal
seseorang. Sebaliknya, semakin buruk amal seseorang, itu menunjukan bahwa ia
tidak mengenal tuhanya dengan baik.
Imam Ibnu Qayyim dalam kitab
Al-Fawa’id mengatakan bahwa apabila seoran hamba telah bertekat untuk mengenal
Allah, mendekat kepada-Nya, dan mengikuti kehendaknya, ia akan digoda dan
dihadang oleh berbagai tipu daya dan penghalang, sehingga di awal perjalanannya,
ia akan terhambat dan tertipu oleh berbagai kesenangan, kekuasaan, kelezatan,
pakaian, nafsu, dan sejenisnya. Ulama yan sangat terkenal dengan karya-karya
ilmiyah ini kemudian berkata: “Bila dilihat dari sumber dan penyebabnya,
hal-hal yang menghalangi makrifatullah itu ada dua macam: Pertama, Syahwat,
atau penyakit-penyakit nafsu, yaitu penyakit-penyakit yang kaitannya dengan
hati, seperti nafsu dan kesenangan. Kedua: Syubuhat atau penyakit-penyakit
intelektual, yaitu informasi-informasi yang dan pikiran yan menimbulkan
keraguan. Apabila seseorang terjangkiti oleh penyakit-penyakit itu, akan sulit
baginya untuk mengenal tuhanya.”
Sesungguhnya Allah swt, sangat dekat
dengan diri manusia, bahkan lebih dekat dari urat lehernya, tetapi kenapa
terasa jauh dan sulit untuk mengenalnya, karena di dalam diri manusia ada
dinding yang tebal, dan berikut ada hal-hal yang mengalang-halangi kita mengenal Allah Antara lain:[6]
a) Al kibr
(Kesombongan), seperti yang telah di sebutkan di dalam Alqur’an yaitu ( Qs : 25
: 21 )
b) Sombong disini
adalah sombong yang dapat menghalangi kita dari makrifatullah yaitu ketika kita
menolak kebenaran dan mremehkan orang lain.
c) Penyakit
syahwah (penyakit hati) yang mnghalangi pengenalan kita kepada Allah adalah
Al-fisq (kefasikeran) lawan dari al-adalah (keadilan), al adala dan alfasiq
berkaitan dengan kredibitas moral. Orang yang adil dalam kortek ini adalah
orang yang tidak tercela. Orang fasiq adalah orang yang ternoda kehormatan,
harga diri, kewibawaan serta kredibilitas moral dan sosialnya akibat
kemaksiatan yang ia lakukan
d) Taklid buta
(sikap meniru tanpa berpikir), ( Qs :2:166-167)
e) Keras kepala
dan menantang ( Qs: 22:8-9)
f)
Bersandar pada panca indra ( Qs: 2-55)
g) Dusta ( Qs:
7:176)
h) Ragu-ragu ( Qs:
6:109-110).
Tanda-tanda dan indikasi penyakit ini adalah apabila seseorang tidak
menampakkan identitas dan kepribadian yang jelas, apakah agama dan
keyakinannya, apakah ia muslim atau non-Muslim, karena tidak ada tanda-tanda
yang menunjukkan keyakinan dan keislaman.
Banyak berbuat maksiat atau (Al-Ma’ashi) lawan dari ketaatan. Orang yang
bermaksiat adalah orang yang tidak melanggar batas-batas hukum Allah. Namun
bagaimana juga, Allah akan mengampuni dosanya sebelum matahari belum terbit
dari barat. Dia Allah swt. Maha pengampu lagi maha penyayang.[7]
i)
Yang terakhir adalah Al-jahl (kebodohan).
Karena itu, islam memerangi kebodohan dan menjunjung tinggi ilmu dan ulama
(orang-orang yang berilmu). Bahkan wahyu yang pertama kali turun adalah
perintah untuk melakukan hal yang dapat menghilangkan kebodohan.
Penyakit-penyakit
intelektual bermula dari ketidaktahuan (kebodohan). Karena itu, penyembuhannya
adalah dengan menghilangkan firusnya, yaitu kebodohan. Kalau penyakit-penyakit
hati di berantas dengan jihad (memerangi hawa nafsu) penyakit-penyakit intelektual
di perangi dengan ilmu,membaca, belajar dan mengaji. Semoga kita dapat
memerangi nafsu kita dan tidak bosan untuk belajar dan belajar lagi, membaca
dan membaca lagi. Dengan itu iman kita akan menjadi kuat dan kokoh.
3. Pentingnya
Mengenal Allah
a. Ma’rifatullah
merupakan ilmu tertinggi yang harus dipahami manusia. Hakikat ilmu adalah memberikan keyakinan kepada yang
mendalaminya. Ma’rifatullah adalah ilmu tertinggi sebab jika dipahami
memberikan keyakinan yang dalam. Memahami Ma’rifatullah juga akan mengeluarkan
manusia dari kegelapan kebodohan kepada cahaya yang terang yaitu keimanan. (QS.
Luqman (31) : 18).
b. Seseorang yang
mengenal Allah pasti akan tahu tujuan hidupnya.(QS. Adz Dzariyat (51)
c. Berilmu dengan
ma’rifatullah sangat penting karena berhubungn dengan manfaat yang diperolehnya
yaitu meningkatkan keimanan dan ketaqwaan, dengan kedua hal tersebut akan
memperoleh keberuntungan dan kebahagiaan yang hakiki.
4. Bukti Bahwa
Allah Itu Ada
Bagaimana kita membuktikan bahwa
allah itu ada yaitu berdasarkan Dalil Naqlinya yang terdapat dalam Al-qur’an ada 2 metode:
a.
Metode iqtirof
merupakan kita sebagai manusia membuktikan dengan melihat ciptaan Allah
SWT.Contohnya adanya laut,adanya manusia, pohon, gunung dan lain sebagainya.
b.
Metode Inayah
Kita sebagai manusia memperhatikan keindahan ciptaan Allah SWT
tersebut,contohnya Adanya laut dan setelah kita amati dalam jangka waktu yang
lama,kenapa air laut bisa asin. Hal itu tidak munkin air laut asin sendiri,
semata – mata hanya ada kekuatan Allah Lah maka hal itu bisa terjadi.[8]
Dengan berdasarkan dalil aglinya yang didapat dari pemikiran manusia
mengenai hal-hal mengetahui bahwa Allah itu Ada.
1. Kita bisa
melihat dengan adanya wahyu Allah dalam Al_Qur’an surat Al-iklas(bahwa Allah itu satu)
2. Bahwa Allah itu
mengutus para nabi dan rasul kedunia untuk menyampaikan kepada umat manusia
agar mengerjakan perintah Allah
3. Bahwa Allah
menurunkan mukzizat kepada Nabi sebagai bukti kenabiannya.
4. Khauf (rasa
takut) Perasaan takut juga bisa
membuktikan bahwa Allah itu Benar-benar ada.
Rasa takut adalah
kondisi jiwa yang tersiksa karena disebabkan takut kepada Allah. Contoh: bila
kita dalam suatu penerbangan pesawat,seorang pramugari mengumumkan bahwa akan
mengalami cuaca buruk,maka semua penumpang tentulah ketakutan dan akan menyebut
nama nama Allah serta meminta pertolongan.hal itu membuktikan dengan adanya
Allah. jika anda melakukan ibadah harus didasari rasa takut kepada Allah bukan
kepada atasan atau bos di kantor dimana ibadah dilakukan karena bos di kantor
rajin shalat jadi shalatnya supaya dilihat oleh bos bukan karena takut kepada
Allah, Allah berfirman,“Janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah
kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman” (QS.Ali Imron: 17 5)
“Karena itu janganlah kamu takut
kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku” (QS.Al-Maidah: 44)
“Hanya kepada-Ku lah kamu harus
takut (tunduk)”. (QS. Al-Baqarah: 40)
Beberapa cara untuk menumbuhkan rasa
takut: [9]
1.
Rasa takut bisa timbul jika anda mengetahui
betapa kerasnya hukuman Allah kepada orang-orang yang bermaksiat.
2.
Rasa takut bisa timbul dengan mengingat masa
lalu dimana, saat waktu-waktu anda yang berharga anda gunakan untuk bermaksiat
dan membandingkannya dengan masa saat anda dekat kepada-Nya.
3.
Rasa takut bisa timbul jika kita mengenali
sifat-sifat Allah
Menumbuhkan ketakutan
dengan kondisi taubatnya apakah diterima atau tidak? dan takut kalau-kalau akan
diakhirkan dengan kondisi su’ul khatimah.
5. Cara mengenal
Allah
Bagaimana ciri-ciri orang yang
mengenal Allah? Kalau orang yang mengenal Allah setiap dia mengalami suatu
masalah pasti masalah itu akan dikembalikan kepada Allah, berdoa dan mengadu
kepada Allah karena hanya kepada Allahlah kita akan kembali.Anda dapat mengenal
Allah melalui Al-Qur’an, bahkan ada satu surat dimana Allah menjelaskan siapa diri-Nya,
coba anda lihat Al-Qur’an surat Maryam – 65 yang berbunyi :
>§ ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÇÚöF{$#ur $tBur $yJåks]÷t/ çnôç7ôã$$sù ÷É9sÜô¹$#ur ¾ÏmÏ?y»t6ÏèÏ9 4 ö@yd ÞOn=÷ès? ¼çms9 $wÏJy ÇÏÎÈ
“Tuhan (yang
menguasai) langit dan bumi, dan apa-apa yang ada diantara keduanya, maka
sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadah kepada-Nya. Apakah kamu
mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah?)”
Betapa indah dan tegasnya ayat
tersebut, bahkan selain menjelaskan tentang siapa Allah ayat tersebut juga
menjelaskan apa kewajiban kita sebagai seorang hamba kepada Sang Pencipta yaitu
beribadah kepada-Nya, dan sampai kapan kita harus terus beribadah? sampai kita
MATI.
Ibadah memiliki syarat agar ibadah
itu di kategorikan sebagai ibadah yang benar yaitu :
Ikhlas,
ikhlas melaksanakan ibadah karena Allah
Sesuai dengan syariat yaitu sesuai Al-Qur’an dan hadist jadi kalau tidak
ada di dalam Al-Qur’an dan Hadist jangan dikerjakan karena bid’ah hukumnya
haram dan amalannya akan tertolak
Ada beberapa cara kita mengenal Allah dan meyakini bahwa Allah Lah yang
Maha Esa Hanya Allah Lah Yang Kita Sembah tiada Yang Lain.maka hal-hal yang
perlu kita ketahui yaitu:
a. Kita diberi
Akal dan Fitrah Oleh Allah serta penglihatan dan penglihataan bahwa Hanya Allah
Lah yang bisa memberikan itu.
b. Meyakini bahwa
seluruh Zagat raya beserta alam semesta beserta
isinya hanya Allah Yang menciptakan.
c. Meyakini dan
mempercayai Nabi dan rasul adalah utusan Allah yang diberi mu’jizat oleh Allah
untuk menunjukkan kenabian.
d. Meyakini dan
mengenal Nama-nama ALLAH Melalui Asmaul Husna (QS. Al Mu’minun (40) : 62, QS.
Al Baqarah (2) : 284)
Manfaat Mengenal Allah
Hasil dari mengenal
Allah adalah peningkatan iman dan taqwa sehingga muncul beberapa hal di bawah
ini:
a. Kebebasan. (QS.
Al An’am (6) : 82)
b. Memberi
ketenangan. QS. Ar Ra’du (13) : 28
c. Keberkahan. QS
Al A’raf (7) : 96
d. Kehidupan yang
baik. QS. An Nahl (16) : 97
e. Syurga. QS.
Yunus (10) : 25-26
f.
Keridhaan Allah (Mardhatillah). QS. Al Bayyinah
(98) : 8
Hal-hal yang Menghalangi Mengenal
Allah
a. Kesombongan.
QS. An Nahl (16) : 22, Al Mu’min (40) : 35
b. Dzalim. QS. As
Shaff (61) : 7
c. Tidak
berpengetahuan. QS. Az Zumar (39) : 65-66
d. Dusta. QS. Al
Baqarah (2) : 10, Al Mursalat (77) : 19
e. Menyimpang. QS.
Al Maidah (5) : 13
f.
Berbuat kerusakan/fasad. QS. Al Hasyr (59) : 19
g. Lalai. QS. Al
A’raf (7) : 179
h. Banyak berbuat
maksiat. QS. Al Muthaffifiin (83) : 14
i.
Ragu-ragu. QS. An Nur (24) : 50
Semua sifat di atas
merupakan bibit kekafiran kepada Allah yang harus dibersihkan dari hati dan
pemahaman. Kekafiran yang menyebabkan Allah mengunci hati, menutup mata dan
telinga manusia serta menyiksa mereka di neraka akibat perbuatan mereka.
}§ø©9 öNä3ÍhÏR$tBr'Î/ Iwur ÇcÎT$tBr&
È@÷dr&
É=»tGÅ6ø9$# 3 `tB ö@yJ÷èt #[äþqß tøgä ¾ÏmÎ/ wur ôÅgs ¼çms9 `ÏB Èbrß «!$# $wÏ9ur wur #ZÅÁtR ÇÊËÌÈ
Barangsiapa yang mengerjakan
kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dari kejahatan itu dan ia tidak
mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah” (QS.
An-Nisa: 123)
B. Hanya Allah
Sebagai Tuhan
Kita wajib meyakini bahwa Allâh Pencipta seluruh makhluk benar-benar
ada, walaupun kita tidak pernah bertemu, melihat, mendengar secara langsung.
Banyak sekali dalil-dalil yang menunjukkan hal ini. Diantaranya firman Allâh Subhanahu
wa Ta’ala :
أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ
Apakah
mereka diciptakan tanpa sesuatupun (yakni tanpa Pencipta), ataukah mereka yang
menciptakan (diri mereka sendiri)? [ath-Thûr/52:35]
Maksudnya, keadaan manusia atau makhluk yang sudah ada ini tidak lepas
dari salah satu dari tiga keadaan :
1.
Mereka ada tanpa Pencipta. Ini tidak mungkin.
Tidak ada akal sehat yang bisa menerima bahwa sesuatu itu ada tanpa ada yang
membuatnya.
2.
Mereka menciptakan diri mereka sendiri. Ini
lebih tidak mungkin lagi. Karena bagaimana mungkin sesuatu yang awalnya tidak
ada menciptakan sesuatu yang ada.
3.
Inilah yang haq, yaitu Allâh Azza wa Jalla yang
telah menciptakan mereka, Dialah Sang Pencipta, Penguasa, tidak ada sekutu
bagi-Nya.
Seorang Arab Baduwi ditanya, “Apakah bukti
tentang adanya Allâh Azza wa Jalla?” Dia menjawab, “Subhânallâh (Maha Suci
Allâh)! Sesungguhnya kotoran onta menunjukkan adanya onta, bekas telapak kaki
menunjukkan adanya perjalanan! Maka langit yang memiliki bintang-bintang, bumi
yang memiliki jalan-jalan, lautan yang memiliki ombak-ombak, tidakkah hal itu
menunjukkan adanya al-Lathîf (Allâh Yang Maha Baik) al-Khabîr (Maha
Mengetahui).”
Imam Ahmad rahimahullah ditanya tentang hal
ini, beliau menjawab, “Ada sebuah benteng yang kokoh, halus, tidak ada pintu
dan jendela. Luarnya seperti perak putih, dalamnya seperti emas murni. Ketika
dalam keadaan demikian, tiba-tiba temboknya terbelah, lalu keluarlah darinya
seekor binatang yang dapat mendengar dan melihat, memiliki bentuk yang indah dan
suara yang merdu.”
Yang dimaksudkan oleh Imam Ahmad adalah seekor
ayam yang keluar dari telurnya. [Lihat Tafsîr Ibnu Katsîr, surat al-Baqarah,
ayat ke-21]
Sesungguhnya keyakinan adanya Sang Pencipta, Allâh Azza wa Jalla ,
merupakan fithrah makhluk. Oleh karena itulah Fir’aun, bahkan Iblis, juga
meyakini hal ini. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang Fir’aun dan
kaumnya yang mengingkari mu’jizat Nabi Musa Alaihissallam :
وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنْفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا ۚ
فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِينَ
Dan mereka (Fir’aun dan kaumnya) mengingkarinya karena kezaliman dan
kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya. Maka
perhatikanlah betapa kesudahan orang-orang yang berbuat kebinasaan. [an-Naml/27:14]
Oleh karena itu, tidaklah semata-mata seseorang meyakini adanya Allâh
berarti dia adalah orang Islam atau beriman.
Kita wajib meyakini keesaan rububiyah Allâh, yaitu bahwa hanya Allâh
yang mencipta, memiliki, menguasai, dan mengatur seluruh makhluk. Hanya Allâh
Azza wa Jalla yang menghidupkan, mematikan, memberi rizqi, mendatangkan
kebaikan, mendatangkan bencana. Tidak ada sekutu bagi Allâh Azza wa Jalla dalam
seluruh perkara di atas, baik malaikat, nabi, wali, jin, ruh, atau lainnya.
Rububiyah (mencipta, memiliki, dan mengatur/menguasai) seluruh alam
semesta ini hanyalah bagi Allâh semata. Allâh Azza wa Jalla berfirman :
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِين
Segala
puji bagi Allah, Rabb (Pemilik, Penguasa) semesta alam. [al-Fâtihah/1:2]
Jenis tauhid ini tidak diingkari oleh orang-orang musyrik di zaman
Rasûlullâh, bahkan mereka mengakuinya, sebagaimana dinyatakan oleh beberapa
ayat al-Qur’ân. Antara lain, firman Allâh Azza wa Jalla .
قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ
السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ
الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ ۚ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ ۚ
فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ
“Katakanlah, “Siapakah
yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa
(menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang
hidup dari yang mati dan yang mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan
siapakah yang mengatur segala urusan” Maka mereka (orang-orang musyrik jahiliyah)
menjawab, “Allâh”. Maka katakanlah: “Mengapa kamu tidak bertaqwa (kepada-Nya)?”
[Yunus/10: 31]
Demikian juga Iblis mengakui hal ini, dia mengakui bahwa Allâh-lah yang
telah menciptakannya dari api.
قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ ۖ قَالَ أَنَا خَيْرٌ
مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ
Allah
berfirman, “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku
menyuruhmu?” Iblis menjawab “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya
dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”. [al-A’râf/7:12]
Oleh karena itulah, seseorang yang meyakini adanya Allâh dan keesaan
kekuasaan-Nya belum bisa disebut orang Islam atau orang beriman, sampai dia
mengimani keesaan uluhiyah Allâh, juga mengimani nama-nama dan sifat-sifat
Allâh, sebagaimana akan dijelaskan di bawah ini.
Kita meyakini bahwa yang berhak diibadahi hanya Allâh Subhanahu wa
Ta’ala . Tidak boleh memberikan ibadah kepada selain Allâh, walaupun kepada
makhluk yang dekat kepada-Nya, seperti malaikat atau rasul Allâh Azza wa Jalla
. Apalagi kepada makhluk yang derajatnya di bawah mereka, seperti: manusia,
jin, binatang, pohon, batu, senjata, planet, bintang, ataupun lainnya.
Tauhid inilah makna yang terkandung di dalam perkataan Lâ ilâha illa
Allâh, karena maknanya adalah tidak ada yang berhak diibadahi selain Allâh. Dia
Azza wa Jalla berfirman :
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
Hanya
Engkaulah yang kami ibadahi dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.
[al-Fâtihah/1:5]
Allâh
Azza wa Jalla juga berfirman :
قُلْ إِنَّمَا يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ
فَهَلْ أَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Katakanlah,
“Sesungguhnya yang diwahyukan kepadaku adalah,”Bahwasanya Ilahmu (yang kamu
ibadahi) adalah Ilah Yang Esa, maka hendaklah kamu berserah diri (kepada-Nya)”.
[al-Anbiyâ’/21:108]
Keimanan terhadap keesaan uluhiyah Allâh (hakNya untuk diibadahi) ini
adalah inti dakwah seluruh rasul. Dan inilah yang diingkari oleh orang-orang
musyrik dan kafir. Allâh Azza wa Jalla berfirman.
وَعَجِبُوا أَنْ جَاءَهُمْ مُنْذِرٌ مِنْهُمْ ۖ وَقَالَ الْكَافِرُونَ
هَٰذَا سَاحِرٌ كَذَّابٌ﴿٤﴾أَجَعَلَ الْآلِهَةَ إِلَٰهًا وَاحِدًا ۖ إِنَّ هَٰذَا
لَشَيْءٌ عُجَابٌ
“Dan mereka heran karena
mereka kedatangan seorang pemberi peringatan (rasul) dari kalangan mereka; dan
orang-orang kafir berkata, “ini adalah seorang ahli sihir yang banyak
berdusta”. Mengapa ia menjadikan ilah-ilah itu Ilah Yang Satu saja.
Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan. [Shad/38: 4-5]
Tujuan dari pengenalan keesaan uluhiyah Allâh ini adalah supaya kita
mencintai Allâh, tunduk kepada-Nya, takut dan berharap kepada-Nya, serta
mengesakan ibadah hanya kepada-Nya.
Ibadah kepada Allâh yaitu merendahkan diri dan taat kepada Allâh
Subhanahu wa Ta’ala dengan penuh kecintaan, pengagungan, mengharapkan rahmat,
dan takut terhadap siksa. Hal itu dilakukan dengan cara melaksanakan perintah
Allâh Azza wa Jalla dan menjauhi larangan-Nya.
Adapun ruang lingkup ibadah yaitu segala yang dicintai dan diridhai oleh
Allâh Azza wa Jalla , baik berupa perkataan dan perbuataan, yang lahir maupun
yang batin.[10]
Ibadah akan diterima oleh Allâh dengan dua syarat yaitu ikhlas dan
mutâba’ah. Ikhlas yaitu: mencari ridha Allâh semata, sedangkan mutâba’ah, yaitu
mengikuti Sunnah (ajaran) Nabi Muhammad.
Oleh karena itu orang yang meyakini keesaan hak Allâh untuk diibadahi,
dia akan mempersembahkan segala jenis ibadah hanya kepada-Nya semata. Di antara
jenis-jenis ibadah adalah ketaatan yang mutlak dengan harap dan takut;
kecintaan yang disertai ketundukan mutlak; do’a; niat di dalam beribadah
(ikhlas); menyembelih binatang; takut; tawakal; dan lainnya.
Imâmah (kepemimpinan ) adalah keyakinan bahwa setelah Nabi Muhammad SAW
wafat harus ada pemimpin-pemimpin Islam yang melanjutkan misi atau risalah Nabi
Muhammad SAW. Dalam Syi’ah kepemimpinan itu mencakup persoalan-persoalan
keagamaan dan kemasyarakatan . Imam bagi kalangan ini merupakan pemimpin agama
dan sekaligus sebagai pemimpin masyarakat.
Oleh karena itu persoalan imâmah dalam Syi’ah termasuk salah satu rukun
agama atau ushûluddîn . Sedangkan bagi kalangan Sunni hanya merupakan masalah
furu ’ ( hukum tambahan ) . Dalam Sunni istilah ini lebih populer dengan
sebutan khilâfah. Khilâfah dalam Sunni lebih dikaitkan pada persoalan
kepemimpinan politik daripada sebagai persoalan keagamaan.
Sementara itu, kalangan Mu’tazilah juga memiliki lima rukun yang disebut
dengan ushûl al-khamsah ( lima pokok / dasar ), yaitu keyakinan terhadap :
a) Keesaan Tuhan (
al-tawhid ).
b) Keadilan Tuhan
( al-‘adl ).
c) Janji dan
ancaman ( al-wa’d wa al-wa’id ).
d) Posisi di
antara dua posisi ( al-manzilah bayna al-manzilatayn ).
Menegakkan kebajikan dan mencegah kejahatan ( al-amru bi al-ma’ruf wa
nahyu ‘an al-munkar ). Mu’tazilah merupakan salah satu aliran dalam teologi
Islam yang dikenal bersifat rasional dan liberal. Pandangan teologisnya lebih
banyak ditunjang oleh dalil-dalil ‘aqliah ( akal ) dan lebih bersifat
filosofis, sehingga sering disebut aliran rasionalis Islam. Mu’tazilah
didirikan oleh Wasil bin Atha pada tahun 100 H / 718 M.
Satu keyakinan yang tidak ditemukan di dalam aliran teologi Islam yang
lain adalah al-manzilah bayna al-manzilatayn. Wasil bin Atha meyakini bahwa
orang mukmin yang berdosa besar menempati posisi antara mukmin dan kafir. Jadi,
orang itu bukan mukmin dan bukan pula kafir, tetapi di antara keduanya. Oleh
karena nanti di akhirat tidak ada tempat di antara surga dan neraka, maka orang
itu dimasukkan ke dalam neraka, tetapi siksaan yang diperolehnya lebih ringan
dari siksaan orang kafir. Pendapat Wasil ini kemudian menjadi salah satu
doktrin Mu’tazilah.
C. Meminta
Pertolongan Kepada Allah
Hadits
Tentang Meminta Pertolongan Kepada Allah swt.
عن ابي هريرة رضي الله عنه قال قال رسول الله صلئ الله عليه و سلم
“اَللَّهُمَّ اِنْفَعْنِي بِمَا عَلَّمْتَنِي وَعَلِّمْنِي مَا يَنْفَعُنِي
وَزِدْنِي عِلْمًا الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ وَأَعُوذُ بِاَللَّهِ مِنْ
حَالِ أَهْلِ اَلنَّار قال عبسى هذا حديث حسن غريب من هذا الوجه (اخرجه الترمذي و
ابن ماجه وهذا اللفظ للترمذي كتب الدعوات : باب في العفم و العافية)
Artinya
: Dari Abu Hurairah r.a. dia berkata; Rasulullah s.a.w. bersabda : “Ya
Allah, semoga Engkau memberi manfaat terhadap ilmu yang Engkau berikan padaku,
dan ajarilah aku sesuatu yang bermanfaat bagiku, tambahilah ilmuku, segala puji
bagi Allah di semua keadaan, aku berlindung kepada Allah dari keadaannya ahli
neraka” (HR Tirmidzi )
Penjelesan
Hadits
Dari hadits diatas tersirat bahwa sebagai pesrta didik hendaknya
senantiasa dengan kerendahan hati memohon untuk dibukakan jalan agar mendapat
ilmu yang bermanfaat dan dijauhkan dari kesesatan. Seperti apa yang dikatakan
Syaikh Zarnunji dalam kitab Ta’lim al-Muta’alim: “Penuntut ilmu hendaknya
berdoa dengan penuh kerendahan dihadirat Allah, memohon didapatkan petunjuk
(hidayah). Sungguh Allah menunjukan orang yang memohon petunjuk.”[11]
Sebagai peserta didik juga harus memohon kepada Allah swt. Agar : Segala
karunia atau nikmat (ilmu) yang telah diberikan Allah dapat memberi manfaat.
Allah swt. membimbing kita ke jalan menujusesuatu (ilmu) yang
bermanfaat. Imam Ibnu Rajab al-Hambali dalam kitab Al-Khusyuu’ fish Shalaah
berkata : “Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang masuk dan menetap ke dalam
relung hati manusia, yang kemudian melahirkan rasa tenangt, takut, tunduk,
merendahkan dan mengakui kelemahan diri dihadapan Allah”.
Ciri-ciri ilmu yang bermanfaat di dalam diri seseorang yaitu:
1.
Menghasilkan rasa takut dan cinta kepada Allah.
2.
Menjadikan hati tunduk atau khusyuk kepada
Allah dan merasa hina dihadapan-Nya dan selalu bersikap tawadhu’.
3.
Membuat jiwa selalu cukup (qonaah) dengan
hal-hal yang halal walaupun sedikit yang itu merupakan bagian dari dunia.
4.
Menumbuhkan rasa zuhud.
5.
Senantiasa didengar doanya.
6.
Ilmu itu senantiasa berada dihatinya.
7.
Menganggap bahwa dirinya tidak memiliki sesuatu
dan kedudukan.
8.
Menjadikannya benci akan tazkiah dan pujian
9.
Selalu mengharap akhirat.
10. Berbaik sangka
terhadap ulama-ulama salaf (terdahulu)
11. Sedikt bicara
karena takut jika terjadi kesalahan dan tidak bebicara kecuali dengan ilmu.
Sesungguahnya, sediktnya perkataan-perkataan yang dinukil dari orang-orang
terdahulu bukanlah karena mereka tidak mampu untuk berbicara, tetapi karena
mereka memiliki sifat wara’ dan takut kepada Allah.
12. Senatiasa
ditambahkan ilmu
Firman
Allah Ta’ala:
وَقٌل رَّبِّ زِدْنِئ عِلْمً
Artinya : “ Dan katakanlah : Ya
Rabb-ku, tambahkanlah ilmu kepadaku.” (QS. Thaha :114(
Ilmu tidak hanya kirta peroleh dalam pendidikan
formal, oleh guru atau orang-orang yang lainnya, namun juga bisa didapat dari
semua orang, kapan saja dan dimana saja.
Pelajar hendaklah memanfaatkan semua orang
untuk diambil pelajarannya di semua waktu dan keadaan. Rasulullah saw. bersabda
:
ضا لة المؤمن اينما وجدها اخذها الحكمة
Artinya : “Hikmah (sesuatu yang bermanfaat)
adalah sebagai barang hilang orang mukmin, didapatkan dimana saja maka
ambillah.”.
D. Bertawakal
Kepada Allah
Tawakal (tawakul) dalam bahasa arab berarti
mewakilkan atau menyerahkan. Dalam agama islam, tawakal berarti berserah diri kepada allah dalam
menghadapi suatu pekerjaan, atau menanti akibat dari suatu keadaan.
Tawakal adalah kesungguhan hati dalam bersandar
kepada Allah SWT untuk mendapatkan kemaslahatan serta mencegah bahaya, baik
menyangkut urusan dunia maupun akhirat . Allah SWT berfirman yang artinya :
çmø%ãötur ô`ÏB ß]øym w Ü=Å¡tFøts 4 `tBur ö@©.uqtGt n?tã «!$# uqßgsù ÿ¼çmç7ó¡ym 4 ¨bÎ) ©!$# à÷Î=»t/ ¾ÍnÌøBr& 4 ôs% @yèy_ ª!$# Èe@ä3Ï9 &äóÓx« #Yôs% ÇÌÈ
“dan barang
siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan
(keperluan)-nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi
tiap-tiap sesuatu”. (QS.Ath-Thalaq
[65]:3)
Nabi saw bersabda: “jika kalian bertawakal kepada Allah dengan
tawakal yang sebenar-benarnya, pasti Allah akan memberikan kalian rezeki
sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung. Mereka berangkat dipagi hari
dengan perut kosong, dan kembali di waktu petang dengan perut yang penuh isi”. (HR. Ahmad)
Derajat Tawakal
Tawakal merupakan gabungan berbagai unsur yang
menjadi satu, dimana tawakal tidak dapat terealisasikan tanpa adanya
unsur-unsur tersebut. Unsur-unsur ini juga merupakan derajat dari tawakal itu
sendiri:[12]
Derajat pertama dari tawakal adalah : Ma’rifat
kepada Allah SWT dengan segala sifat-sifat-Nya minimal meliputi tentang
kekuasaan-Nya keagungan-Nya, keluasan ilmu-Nya, keluasan kekayaan-Nya, bahwa
segala urusan akan kembali pada-Nya, dan segala sesuatu terjadi karena
kehendak-Nya, dsb.
Derajat tawakal yang kedua adalah : Memiliki
keyakinan akan keharusan melakukan usaha. Karena siapa yang menafikan keharusan
adanya usaha, maka tawakalnya tidak benar sama sekali. Seperti seseorang yang
ingin pergi haji, kemudian dia hanya duduk di rumahnya, maka sampai kapanpun ia
tidak akan pernah sampai ke Mekah. Namun hendaknya ia memulai dengan menabung,
kemudian pergi kesana denan kendaraan yang dapat menyampaikannya ke tujuannya
tersebut.
Derajat Tawakal yang ketiga adalah : Adanya
ketetapan hati dalam mentauhidkan (mengesakan) Dzat yang ditawakali, yaitu
Allah SWT. Karena tawakal memang harus disertai dengan keyakinan akan
ketauhidan Allah. Jika hati memiliki ikatan kesyirikan-kesyirikan dengan
sesuatu selain Allah, maka batallah ketawakalannya.[13]
Derajat tawakal yang keempat adalah :
Menyandarkan hati sepenuhnya hanya kepada Allah SWT, dan menjadikan situasi
bahwa hati yang tenang hanyalah ketika mengingatkan diri kepada-Nya. Hal ini
seperti kondisi seorang bayi, yang hanya bisa tenang dan tentram bila berada di
susuan ibunya. Demikian juga seorang hamba yang bertawakal, dia hanya akan bisa
tenang dan tentram jika berada di ‘susuan’ Allah SWT.
Derajat tawakal yang kelima adalah : Husnudzan
(baca ; berbaik sangka) terhadap Allah SWT. Karena tidak mungkin seseorang
bertawakal terhadap sesuatu yang dia bersu’udzan kepadanya. Tawakal hanya dapat
dilakukan terhadap sesuatu yang dihusnudzani dan yang diharapkannya.
Derajat Tawakal yang keenam adalah :
Memasrahkan jiwa sepenuhya hanya kepada Allah SWT. Karena orang yang bertawakal
harus sepenuh hatinya menyerahkan segala sesuatu terhadap yang ditawakali.
Tawakal tidak akan mungkin terjadi, jika tidak dengan sepenuh hati memasrahkan
hatinya kepada Allah.
Derajat tawakal yang ketujuh yaitu :
Menyerahkan, mewakilkan, mengharapkan, dan memasrahkan segala sesuatu hanya
kepada Allah SWT. Dan hal inilah yang merupakan hakekat dari tawakal. Allah SWT
berfirman: (QS. 40 : 44)
“Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah.
Sesungguhnya Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya”.
Seorang hamba yang menyerahkan segala urusannya
kepada Allah, maka ia tidak akan berbuat melainkan dengan perbuatan yang sesuai
dengan kehendak Allah. Karena dia yakin, bahwa Allah tidak akan menetapkan
sesuatu kecuali yang terbaik bagi dirinya baik di dunia maupun di akhirat.
Bagiamana
Cara Kita BertawakalSikap tawakal tentu saja tidak
bisa muncul dengan sendirinya, tanpa adanya penghayatan terhadap akidah atau
tauhid secara benar, misalnya penghayatan terhadap luasnya makna Laa Ilaaha
Illallah, atau keluasan.
Asmaul Husna, sehingga melahirkan sikap akidah
yang mantap. Keyakinan yang mantap teralisir dalam aplikasi sebagai seorang
muslim yang mempunyai akhlakul karimah. Seperti kesabaran yang kuat,
keistiqomahan yang mantap, sifat qonaah, ketenangan qalbu (muthmainah) yang
baik. Termasuk di dalamnya sifat tawakal yang sebenarnya. Semua itu harus
betul-betul dipahami dengan pemahaman yang sempurna. Sebuah contoh dari seorang
alim yang pemahaman Islamnya sempurna, ia adalah Hatim al-Sham (237 H). Ketika
ia di tanya tentang tawakal. “Atas dasar apa anda bangun urusan anda dalam hal
tawakal”. Kemudian ia menjawab: “Berdasarkan empat perkara, Pertama: Aku tahu
bahwa rezekiku tidak akan di makan oleh selainku, maka hatiku tentram
dengannya. Kedua: Aku tahu bahwa amalku tidak dilakukan oleh orang selainku,
maka aku sibuk dengannya. Ketiga: Aku tahu bahwa kematian itu datang dengan
tiba-tiba, maka aku berpacu dengannya. Keempat: aku tahu bahwa aku tidak pernah
sepi dari pengawasan Allah, maka aku malu kepada-Nya.
E. Kepada Allah
Tempat Kembali
Bertemu dengan Allah (liqa’Allah). Bertemu dengan Tuhan (liqa’I
rabbihim). Liqa mempunyai arti perjumpaan denganya secara bersamaan, pertemuan
sesuatu atau pertemuan dua hal. Pertemuan dengan Allah dan Rabb digambarkan
dalam Al Qur’an seperti dalam surat berikut ini.
`tB tb%x. (#qã_öt uä!$s)Ï9 «!$# ¨bÎ*sù @y_r&
«!$# ;NUy 4 uqèdur ßìÏJ¡¡9$# ÞOÎ=yèø9$# ÇÎÈ
“Barangsiapa yang
mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah
itu, pasti datang. Dan Dialah Yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS
Al’Ankabuut [29] ayat 5)
ö@è% uqèd âÏ$s)ø9$# #n?tã br& y]yèö7t öNä3øn=tæ $\/#xtã `ÏiB öNä3Ï%öqsù ÷rr& `ÏB ÏMøtrB öNä3Î=ã_ör&
÷rr&
öNä3|¡Î6ù=t $YèuÏ© t,Éãur /ä3Ò÷èt/ }¨ù't/ CÙ÷èt/ 3 öÝàR$# y#øx. ß$Îh|ÇçR ÏM»tFy$# öNßg¯=yès9 cqßgs)øÿt ÇÏÎÈ
“Kemudian Kami telah
memberikan Al Kitab (Taurat) kepada Musa untuk menyempurnakan (nikmat Kami)
kepada orang yang berbuat kebaikan, dan untuk menjelaskan segala sesuatu dan
sebagai petunjuk dan rahmat, agar mereka beriman (bahwa) mereka akan menemui
Tuhan mereka” (QS Al An’am [6] ayat 154)
Pertemuan dengan Allah pasti akan terjadi bila manusia mengharap bertemu
dengan Allah. Kalau tidak berharap, tentunya tidak akan bertemu dengan Allah.
Manusia yang tidak berharap pertemuan dengan Allah dilukiskan dalam (QS Yunus
[10] ayat 7)[14]
¨bÎ) úïÏ%©!$# w cqã_öt $tRuä!$s)Ï9 (#qàÊuur Ío4quysø9$$Î/ $u÷R9$# (#qRr'yJôÛ$#ur $pkÍ5 úïÏ%©!$#ur öNèd ô`tã $uZÏF»t#uä tbqè=Ïÿ»xî ÇÐÈ
“Sesungguhnya orang-orang
yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa
puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan
orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami.”
Kapan pertemuan dengan Allah? Bisa jadi di dunia seperti yang sudah
dijelaskan dalam artikel Kepada Allah Semua Kembali (1). Pertemuan dengan Allah
itu pada suatu hari dimana orang-orang dikumpulkan sebagaimana yang digambarkan
pada ayat berikut ini.
“Dan
(ingatlah) akan hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka, (mereka
merasa di hari itu) seakan-akan mereka tidak pernah berdiam (di dunia) hanya
sesaat di siang hari, (di waktu itu) mereka saling berkenalan. Sesungguhnya
rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Allah dan mereka
tidak mendapat petunjuk” (QS Yunus [10] ayat 45)
Orang-orang itu dikumpulkan bersaf-saf. Apakah yang dikumpulkan itu
badan wadagnya? Bukan ! Yang berkumpul itu adalah Ruhnya. Jadi bertemu dengan
Allah itu berada di alam Ruh. Simak ayat berikut ini.
“Pada
hari, ketika ruh[1550] dan para malaikat berdiri bershaf- shaf, mereka tidak
berkata-kata, kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan Yang
Maha Pemurah; dan ia mengucapkan kata yang benar.” (QS An-Naba’ [78] ayat 38)
Setelah ruh-ruh tadi dihisab dan setiap ruh (jiwa) akan mengetahui apa
yang telah dikerjakannya (QS At Takwir [81] ayat 14) , maka akan dipertemukan
ruh-ruh itu dengan badan wadagnya. “dan apabila ruh-ruh dipertemukan (dengan
tubuh)” (QS At TAkwir [81] ayat 7). Bagaimana Allah mempertemukan ruh-ruh itu
dengan badan wadagnya? Pertemuan ruh dengan badan wadagnya ini tentu melalui
proses. Proses ini digambarkan oleh dalam QS As Sajdah [32] ayat 9) dengan cara
meniupkan ruh-Nya kedalam badan wadag.
“Kemudian
Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia
menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit
sekali bersyukur.”
Setelah manusia mengalami siklus kematian dan kehidupan -pertemuan roh
dan badan wadagnya – ( baca artikel sebelumnya), pada akhirnya kembali kepada
Allah.
“Mengapa
kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan
kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian
kepada-Nya-lah kamu dikembalikan? ”(QS Al Baqarah (2) ayat 28).
Tsumma Ilaiihi Turja’uun (kemudian kepada-Nya lah kamu dikembalikan).
Turja’uun berasal dari kata raja’a-yarji’u-raj’an. Artinya menurut Al-Ashfahani
adalah kembali kepada keadaan semula atau ukuran semula. Kalau dulu asalnya roh
itu ditiupkan oleh Tuhan, pada saat kembali tentunya menunju kepada Tuhan atau
menurut kamus Al-Munawwir berarti kembali kepada Tuhan melalui jalan semula
(jalan yang telah dilewati). Bagaimana prosesnya ? Hanya Tuhan yang
mengetahuinya. Allah Maha Mengetahui.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kita bisa mengambil kesimpulan materi diatas, bahwa dalam mengenal
Allah, kita di tuntut menjadi seorang yang beramal sholeh. Allah sangat
menyayangi hambanya yang senantiasa selalu mengingat-Nya, Allah menjanjikan
surga, keridhoan, keberkahan, kemerekaan serta kemulyaan di dalam hidup kita.
Mengenal Allah yang benar adalah dengan menimbulkan rasa malu, cinta dan
rasa takut kepada-Nya. Yang disebut malu karena merasa membawa beban dosa.
Cinta yaitu rindu untuk menghadap Allah dan senang memperoleh pahala-Nya. Dan
takut kepada Allah adalah takut terkena siksa-Nya. Jika hal tersebut telah
timbul di dalam hati kita. Insya Allah kita telah mampu mengenal Allah dengan
cinta.
Untuk itu sebelum kita mengenal Allah alangkah baiknya kalau kita
membersihkan hati kita dari berbagai penyakit, yang membuat hati kita menjadi
petang atau gelap. Hanya dengan cara itulah kita bisa mengerti apa
rahasia-rahasia yang selama ini tidak kita ketahui.
B. Saran
Demikianlah pembahasan makalah mengenai dasar keimanan, semoga menjadi
bahan rujukan bagi kita bersama dalam menambah wawasan mengenai studi tentang
ilmu kalam.
DAFTAR
PUSTAKA
Ali, Mohammad Daud, Pendidikan Agama
Islam, Cet. Ke-3, (Jakarta : PT RajaGrafindo Persada, 2000)
Al-Lari, Sayyid Mujtaba Musawi, Teologi
Islam Syi’ah : Kajian Tekstual Rasional Prinsip-prinsip Islam, Cet. 1,
(Jakarta : Al-Huda, 2004)
Azra,
Azyumardi (ed) , Ensiklopedi
Islam, Cet. 9, (Jakarta : Ichtiar Baru Van Hoeve, 2001)
Glasse,
Cyril, Ensiklopedi Islam –
Ringkas ( The Concise Encyclopedia of Islam ) , Cet. 3, Jakarta : PT RajaGrafindo Persada, 2002)
M. Afnan chafidh, TERJEMAH: Ta’lim
al-Muta’alim, (Pekalongan: penerbit HASAB BIN EDRUS PEKALONGAN)
Jasiman, Mengenal dan Memahami Islam,
(PT Era Adicitra Intermedia. 2002)
[1] Ali,
Mohammad Daud, Pendidikan Agama Islam, Cet. Ke-3, (Jakarta : PT
RajaGrafindo Persada, 2000) H. 32
[2] Ali,
Mohammad Daud, Pendidikan Agama Islam, Cet. Ke-3, … H. 32
[3] Al-Lari,
Sayyid Mujtaba Musawi, Teologi Islam Syi’ah : Kajian Tekstual Rasional
Prinsip-prinsip Islam, Cet. 1, (Jakarta : Al-Huda, 2004) H. 17
[4] Al-Lari,
Sayyid Mujtaba Musawi, Teologi Islam Syi’ah : Kajian Tekstual Rasional
Prinsip-prinsip Islam, Cet. 1, … H.
19
[5] Al-Lari,
Sayyid Mujtaba Musawi, Teologi Islam Syi’ah : Kajian Tekstual Rasional
Prinsip-prinsip Islam, Cet. 1, … H.
20
[6] Azra, Azyumardi (ed) , Ensiklopedi Islam, Cet. 9,
(Jakarta : Ichtiar Baru Van Hoeve,
2001) H. 53
[7] Azra, Azyumardi (ed) , Ensiklopedi Islam, Cet. 9,
… H. 55
[8] Glasse, Cyril,
Ensiklopedi Islam – Ringkas ( The Concise Encyclopedia of Islam )
, Cet. 3, Jakarta : PT RajaGrafindo
Persada, 2002) H. 327
[9] Glasse, Cyril,
Ensiklopedi Islam – Ringkas ( The Concise Encyclopedia of Islam )
, Cet. 3, … H. 328
[10] Azra, Azyumardi (ed) , Ensiklopedi Islam, Cet. 9,
… H. 61
[11] M.
Afnan chafidh, TERJEMAH: Ta’lim al-Muta’alim, (Pekalongan: penerbit HASAB BIN
EDRUS PEKALONGAN), hml.42.
No comments:
Post a Comment