Sunday, April 22, 2018

Makalah Epistimologi Islam (Al-Qur’an dan Hadits)


 BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Globalisasi cepat atau lambat dipastikan akan dihadapi oleh manusia. Secara logis masalah yang akan dihadapi manusia semakin kompleks dan transenden serta memerlukan pemecahan masalah yang sistematis dan kontinuitas. Dalam menghadapi tantangan dunia yang semakin kompetitif ini, masih banyak para praktisi muslim memiliki komitmen untuk lebih memprioritaskan pendidikan religiusitas dibandingkan pendidikan umum lainnya. Sekaligus mengabaikan dan menolak segala pesan dan invensi perkembangan yang dibawa oleh komuniti Barat. Sehingga mempermudah mereka untuk menanamkan idealisme sekuleristik terhadap masyarakat muslim. Moralitas, akhlak, dan nilai-nilai islamiyah menjadi bagian yang tabu dan tidak lagi membatasi manusia antara kekufuran dan kemaslahatan dan jika dibiarkan berlarut-larut akan mengantarkan Islam pada kemunduran dan kehancuran, Antisipatif problema seperti ini yang harus direncanakan seoptimal mungkin. Hal ini mengindikasikan bahwa umat muslim harus mampu mengadopsi serta memfilterisasi setiap budaya dan perkembangan yang masuk. Upaya pembenahan ini dapat dilakukan melalui pendidikan, yaitu menciptakan sumber daya manusia yang utuh, yang selalu bertanggung jawab terhadap keberadaannya didunia dan merencanakan untuk kehidupan akherat. Sehingga keseimbangan antara dunia dan akherat yang menjadi tujuan terakhir manusia sebagai khalifah Allah SWT dapat di aktualisasikan dengan maksimal.[1]
Persoalan epistemologi  sangat dipandang serius sehingga filosof Yunani, Aristoteles, berusaha menyusun kaidah-kaidah logika sebagai aturan dalam berpikir dan berargumentasi secara benar yang hingga sampai sekarang ini masih digunakan. Adanya kaidah itu menjadi penyebab berkembangnya penangkapan akal yang dapat di pertanggung jawabkan.
Sebenarnya,  epistemologi bukanlah permasalahan pertama yang muncul dalam tradisi pemikiran manusia. Dahulu, aktifitas berfikir manusia, terutama filsafat, dimulai dari wilayah metafisika. Di antara pertanyaan-pertanyaan metafisika yang muncul waktu itu adalah: Apa itu Tuhan? Apa yang dimaksud dunia ? Apa itu jiwa ? Mereka mendapatkan berbagai jawaban tentang pertanyaan- pertanyaan tersebut, masing-masing saling bertentangan. Berawal dari fakta ini, mereka tidak lagi mengarah pada petanyaan pada dunia luar, tetapi mereka mengarah kepada aktifitas mengetahui itu sendiri.  Di sinilah manusia mulai masuk kedalam ranah epistemologi.

B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana pengertian epistimologi menurut Islam?
2.      Bagaimana epistimologi menurut al-Qur’an dan hadits?

C.    Tujuan Masalah
1.      Untuk mengetahui pengertian epistimologi menurut Islam
2.      Untuk memahami epistimologi menurut al-Qur’an dan hadits








BAB II
PEMBAHASAN

A.    Epistimologi dalam Pandangan Islam
Pandangan Islam akan ukuran kebenaran menunjukkan kepada landasan keimanan dan keyakinan terhadap keadilan yang bersumber pada Al-Qur’an. Sebagaiman yang diutarakan oleh Fazrur Rahman : Bahwa semangat dasar dari Al-Qur’an adalah semangat moral, ide-ide keadilan sosial dan ekonomi. Hukum moral adalah abadi, Ia adalah “perintah Allah”. Manusia tak dapat  membuat atau memusnahkan hokum moral : ia harus menyerahkan diri kepadannya.[2]
Pernyataan ini dinamakan Islam dan implementasinnya dalam kehidupan disebut ibadah atau pengabdiaan kepada Allah. Tetapi hukum moral dan nilai-nilai spiritual, untuk bisa dilaksanakan haruslah diketahui
kajian epistimologi Islam dijumpai beberapa teori tentang kebenaran :
1.      Teori Korespondensi
Menurut teori ini suatu posisi atau pengertian itu benar adalah apabila terdapat suatu fakta bersesuaian, yang beralasan dengan realistis, yang serasi dengan situasi aktual, maka kebenaran adalah sesuai dengan fakta dan sesuatu yang selaras dengan situasi akal.[3]
2.      Teori Konsistensi
Menurut teori ini kebenaran tidak dibentuk atas hubungan antara putusan (judgement) dengan suatu yang lain yaitu fakta atau realistis, tetapi atas hubungan antara putusan-putusan itu sendiri. Dengan kata lain, kebenaran ditegakkan atas hubungan antara putusan-putusan yang baik dengan putusan lainnya. Yang telah kita ketahui dan diakui benar terlebih dahulu, jadi sesuatu itu benar jika hubungan itu saling berkaitan dengan kebenaran sebelumnya.
3.      Teori Prakmatis
Teori ini mengemukakan benar tidaknya suatu ucapan, dalil atau semata-mata tergantung kepada berfaedah tidaknya ucapan, dalil atau teori tersebut bagi manusia untuk berfaedah dalam kehidupannya.
Fungsi pengetahuan dalam Islam disini dapat menjadi inspirasi dan pemberi kekuatan mental yang akan menjadi bentuk moral yang mengawasi segala tingkah laku dan petunjuk jalan hidupnya serta menjadi obat anti penyakit gangguan jiwa.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa fungsi pengetahuan dalam islam adalah:
1.      Membuktikan secara otentik sumber dasar, pokok- pokok dan prinsip-prinsip ajaran islam sebagai wahyu dari Allah yang tertuang dalam Al-Qur’an.
2.      Memberikan penjelasan, contoh dan teladan pelaksanaan Agama Islam secara operational dalam sosial budaya umatnya, yang kemudian di kenal dengan sebutan as-sunnah/al-hadist.
3.      Memberikan cara atau metode untuk mengembangkan ajaran Islam secara terpadu dalam kehidupan sosial budaya umat manusia sepanjang sejarah dengan sistem ijtihad.
Secara rinci dapat digambarkan empat fungsi ilmu pengetahuan Islam :[4]
a.       Fungsi deskriptif yaitu menggamarkan/melukiskan dan memaparkan suatu masalah sehingga mudah dipelajari.
b.      Fungsi pengembangan yaitu melanjutkan hasil penemuan yang lalu dan menemuka hasil penemuan yang baru.
c.       Fungsi prediksi yaitu meramalkan kejadian-kejadian yang besar kemungkinan terjadi sehingga manusia dapat mengambil tindakan-tindakan yang perlu usaha menghadapi.
d.      Fungsi kontrol yaitu berusaha mengendalikan peristiwa-peristiwa yang tidak dikehendaki.
B.     Al-Qur’an dan Hadist Sebagai Sumber Epistimologi
Filsafat adalah dasar semua pengetahuan yang mempersoalkan cara-cara meraih pengetahuan, pengembangan pemikiran, batas pengetahuan dan bagaimana memanfaatkan pengetahuan, ternyata sebagian dari persoalan diatas dapat ditemukan jawabannya pada wahyu pertama yang diterima oleh nabi Muhammad saw yang terdapat dalam surah al-Alaq: 1-5 di antaranya pengetahuan dengan pena dan pengetahuan ilahiyah.
Beragam uraian para pakar tentang persoalan yang dibahas oleh epistemologi namun agaknya dapat disebutkan beberapa hal yang menjadi pembahasannya, antara lain: apakah sumber pengetahuan?, bagaimana manusia mengetahui?, apa watak pengetahuan?, apakah yang diketahui itu ada wujudnya diluar benak siapa yang mengetahuinya. Kalau ada, apakah manusia dapat menjangkaunya?, apakah pengetahuan -yang ada dalam benak itu- benar adanya? Dan bagaimana membedakan antara yang benar dan yang salah?. Untuk mengetahui al-Qur’an menjadi sumber epistemologi atau tidak, pertanyaan-pertanyaan tersebut membutuhkan jawaban dari al-Qur’an.
Sebagaiman telah dijelaskan sebelumnya bahwa ada beberapa pendapat tentang sumber pengetahuan antara lain: [5]
1.      Emperisme yang beranggapan bahwa manusia memperoleh pengetahuan melalui pengalaman (empereikos/pengalaman). Dalam hal ini harus ada tiga hal, yaitu yang mengetahui (subjek), yang diketahui (objek) dan cara mengetahui (pengalaman). Tokoh yang terkenal: John Locke (1632 –1704), George Barkeley(1685 -1753) dan David Hume.
Dalam Al-Qur'an, banyak ayat yang menganjurkan untuk melakukan perjalanan dan menjadikan pengalaman sebagai pelajaran yang harus dimanfaatkan. Oleh karena itu, dalam pandangan al-Qur'an, wujud yang yang diinformasikan oleh panca indra -selama dalam wilayah kerjanya- dapat diandalkan dan bahwa apa yang dijangkaunya adalah satu kenyataan dan pengetahuan.
Bahkan al-Qur'an secara tegas menyatakan bahwa: “Allah mengeluarkan kamu dari perut ibu-ibu kamu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, aneka penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.
2.      Rasionalisme, aliran ini menyatakan bahwa akal (reason) merupakan dasar kepastian dan kebenaran pengetahuan, walaupun belum didukung oleh fakta empiris. Tokohnya adalah Rene Descartes (1596–1650, Baruch Spinoza (1632 –1677) dan Gottried Leibniz (1646 –1716).
Al-Qur'an memerintahkan manusia untuk menggunakan nalarnya  dalam menimbang ide yang masuk ke dalam benaknya. Banyak ayat yang berbicara tentang hat ini dan dengan berbagai redaksi seperti ta'qilu>n, tatafakkaru>n, tadabbaru>n.  dan lain-lain.  lni membuktikan bahwa akal pun mampu meraih pengetahuan dan kebenaran selama ia digunakan dalam wilayah kerjanya.
3.      Intuisi. Dengan intuisi, manusia memperoleh pengetahuan secara tiba-tiba tanpa melalui proses penalaran tertentu. Ciri khas intuisi antara lain; z|auqi> (rasa) yaitu melalui pengalaman langsung, ilmu hud}u>ri> yaitu kehadiran objek dalam diri subjek, dan eksistensial yaitu tanpa melalui kategorisasi akan tetapi mengenalnya secara intim. Henry Bergson menganggap intuisi merupakan hasil dari evolusi pemikiran yang tertinggi, tetapi bersifat personal.
Dalam surah pertama yang diturunkan kepada Rasulullah saw., dijelaskan bahwa ada dua cara mendapatkan pengetahuan. pertama melalui "pena" (tulisan) yang harus dibaca oleh manusia dan yang kedua melalui pengajaran secara langsung tanpa alat. Cara yang kedua ini dikenal dengan istilah 'llm Ladunny seperti ilmu yang diperoleh oleh Nabi Haidir:
فوجدا عبدا من عبادنا آتيناه رحمة من عندنا وعلمناه من لدنا علما
Artinya: “Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba kami, yang Telah kami berikan kepadanya rahmat dari sisi kami, dan yang Telah kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami”.
Pengetahuan intuisi ada yang berdasar pengalaman indrawi seperti aroma atau warna sesuatu, ada yang langsung diraih melalui nalar dan bersifat aksioma seperti A adalah A, ada juga ide cemerlang secara tiba-tiba seperti halnya Newton ( 1642-1727 M) menemukan gaya gravitasi setelah melihat sebuah apel yang terjatuh tidak jauh dari tempat ia duduk dan ada juga berupa mimpi seperti mimpi Nabi Yusuf as. dan Nabi Ibrahim as.
4.      Wahyu adalah pengetahuan yang bersumber dari Tuhan melalui hamba-Nya yang terpilih untuk menyampaikannya (Nabi dan Rasul). Melalui wahyu atau agama. Manusia diajarkan tentang sejumlah pengetahuan baik yang terjangkau ataupun tidak terjangkau oleh manusia.
Di samping itu, masih ada sumber pengetahuan seperti kritisisme atau rasionalisme kritis adalah pandangan yang mendasari kebenaran pada dua aspek yaitu rasio dan pengalaman. Sedangkan positivisme adalah cara pandang dalam memahami dunia dengan berdasarkan sains. Penganut paham positivisme meyakini bahwa hanya ada sedikit perbedaan (jika ada) antara ilmu sosial dan ilmu alam, karena masyarakat dan kehidupan sosial berjalan berdasarkan aturan-aturan, demikian juga alam.


                                                                                                                                     


BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Epistemologi secara etimologis diartikan sebagai teori pengetahuan yang benar dan dalam bahasa Indonesia disebut filsafat pengetahuan. Secara terminologi epistemologi adalah teori mengenai hakikat ilmu pengetahuan atau ilmu filsafat tentang pengetahuan.
Metode ilmiah berperan dalam tataran transformasi dari wujud pengetahuan menjadi ilmu pengetahuan. Bisa tidaknya pengetahuan menjadi ilmu pengetahuan  sangat bergantung pada metode ilmiah. Dengan demikian metode ilmiah selalu disokong oleh dua pilar pengetahuan, yaitu rasio dan fakta secara integratif.
Sebagai teori pengetahuan ilmiah, epistemologi berfungsi dan bertugas menganalisis secara kritis prosedur yang ditempuh ilmu pengetahuan. Epistemologi juga membekali daya kritik yang tinggi terhadap konsep-konsep atau teori-teori yang ada. Filsafat ilmu merupakan telaah kefilsafatan yang ingin menjawab pertanyaan mengenai hakikat ilmu, yang ditinjau dari segi ontologis, epistemelogis maupun aksiologisnya. Sebagai cabang dari filasafat ilmu, epistemologi dapat menyangkut masalah-masalah filosofikal yang mengitari teori ilmu pengetahuan atau bagian filsafat yang meneliti asal-usul, asumsi dasar, sifat-sifat, dan bagaimana memperoleh pengetahuan menjadi penentu penting dalam menentukan sebuah model filsafat.

B.     Saran
Demikianlah pembahasan mengenai epistimologi Islam, semoga dapat bermanfaat bagi rekan sekalian kritik dan saran sangat pemakalah harapkan demi untuk perbaikan makalah selanjutnya.



DAFTAR PUSTAKA

Hadi, P. Hardono,  Epistemolog Filsafat Pengetahuan  (Yogyakarta: Kanisius, 1994)

S. Suriasumantri, Jujun, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, (Jakarta:Pustaka Sinar Harapan, 1990)

Surajiyo, Ilmu Filsafat Suatu Pengantar, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008)

Susanto, Filsafat Ilmu, (jakarta : Bumi Aksara, 2011)

Wijaya, Askin, Nalar Kritis Epistemologi Islam (Ponorogo: Komunitas Kajian Proliman, 2012)

Qomar, Mujammil, Epistemologi Pendidikan Islam: Dari Metode Rasional Hingga Metode Kritik, ( Jakarta: Erlangga 2005)




[1] Askin Wijaya, Nalar Kritis Epistemologi Islam (Ponorogo: Komunitas Kajian Proliman, 2012), h. 22
[2] Arief Amai, Pengantar Ilmu Dan Metodologi Pendidikan Islam, (Jakarta: Ciputat Pers, 2002) h. 36
[3] Daud Ali Mohammad, Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada, 2010) h. 55
[4] Sulaiman Al hamid Abu, Permasalahan Metodologis dalam Pemikiran Islam, (Jakarta: Media Dakwah, 1994) h. 71
[5] Rizal Mustansyir, Filsafat Ilmu, Cet: VIII; (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008) h. 76

No comments:

Post a Comment