Sunday, April 22, 2018

Makalah Sejarah Pemikiran Teologi Kalam Islam di Indonesia Abad 17-18


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Saat ini para ilmuwan islam sedang gencar untuk mengembangkan ilmu pengetahuan modern yang dikaitkan dengan ajaran Islam berdasarkan Al – Qur’an dan Al - Hadist. Hal ini bertujuan agar kehidupan manusia tidak hanya focus pada aspek duniawi tetapi juga spiritualitas kepada sang Ilahi untuk mecapai kesehatan mental. Ilmu mengenai kesehatan mental  yang telah ada di barat tersebut hanya memfokuskan pada salah satu aspek saja, padahal manusia adalah satu kesatuan utuh antara jasmani dan rohani. seperti pandangan pencetus awal psikologi yaitu teori psikoanalisa, ia hanya memandang bahwa kesehatan mental diperoleh jika adanya kongruensi antara id, ego, dan superego serta kebutuhan pada lima tahap awal perkembangan telah terpenuhi, begitu pula teori behavioristik yang menyebutkan kesehatan mental terbentuk jika perilaku yang adaptif sesuai dengan stimulus sehingga manusia dianggap sebagai robot, adapun teori humanistic yang menganggap bahwa manusia mencapai aktualisasi diri jika manusia telah mampu mencapai aktualisasi dirinya, tetapi penelitian menunjukan banyaknya masyarakat yang telah mencapai aktualisasi dirinya namun merasa kekosongan atau emptiness.
Banyak masyarakat yang telah mencoba segala cara untuk mencapai kesehatan mental, namun  yang terjadi masyarakat cenderung untuk  bunuh diri karena tertekan. hal ini dikarenakan hanya focus pada satu aspek tanpa melihat manusia sebagai satu kesatuan yang utuh sehingga masyarakat merasa kosong baik batiniah maupun rohaniah.
Oleh sebab itu, munculah psikologi Islam yang ingin mengkritisisme dalam ilmu pengetahuan modern dan wacana dalam perkembangan psikologi modern dengan menerapkan  dalam pandangan Islam untuk mencapai kesehatan mental dan  menyelesaikan permasalahan – permasalahan patologis  dengan menghargai manusia  menjadi satu kesatuan yang utuh dari jasmani maupun rohani menggunakan prinisip ketahuidan.

B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimanakah kesehatan mental dalam Islam ?
2.      Bagaimanakah metode dalam pemeliharaan kesehatan mental dalam Islam?
3.      Bagaimanakah psikopatologi menurut Islam ?

C.    Tujuan
1.      Untuk memahami kesehatan mental dalam Islam
2.      Untuk memahami metode dalam pemeliharaan kesehatan mental dalam Islam
3.      Untuk memahami psikopatologi menurut Islam




BAB II
PEMBAHASAN

A.    Kesehatan Mental dalam Islam
1.      Pengertian
Menurut Mujid ( 2006  ) kesehatan mental adalah pola - pola yang berisi pola negatif dan pola positif. Pola positif  atau Ijabiy adalah kesehatan mental dimana indvidu memiliki kemampuan dalam penyesuaian terhadap diri sendiri dan lingkungan sosial dan pola negatif atau salaby adalah kesehatan mental yang dimiliki individu karena terhindar dari neurosis dan psikosis.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kesehatan Mental. Ada dua faktor yang mempengaruhi kesehatan mental, yaitu faktor intern dan ekstern.
1.      Faktor intern
Faktor intern adalah faktor yang berasal dari dalam diri seseorang, seperti keimanan, ketakwaan, sikap menghadapi problema hidup, keseimbangan dalam berfikir, kondisi kejiwaan seseorang dan sebagainya. Seseorang yang memiliki keimanan dan ketakwaan yang tinggi, dalam hal ini akan dapat memperoleh ketenangan dan ketentraman batin dalam hidupnya. Apabila ia menghadapi suatu problematika hidup, ia menghadapinya dengan sabar dan tidak mudah putus asa karena sebenarnya dalam diri manusia yang beriman, tidak terjadi putus asa atau “reaksireaksi kompensasi” dan “mekanisme pertahanan diri” yang sifatnya merugikan.[1]
Sikap seseorang dalam menghadapi problematika hidup, juga berpengaruh terhadap kesehatan mental. Menurut para ahli ilmu jiwa, sikap dan cara orang menghadapi kesukaran itu berbeda-beda antara satu dengan yang lain, sesuai dengan kepribadian dan kepercayaan terhadap lingkungannya. Jika masalah ini ditinjau dari segi agama, maka akan kita dapati perbedaan antara orang yang beragama dan orang yang tidak beragama. Bagi orang yang beragama, kesukaran atau bahaya sebesar apapun yang harus dihadapinya, dia akan waras dan sabar, karena dia merasa bahwa kesukaran dalam hidup itu merupakan bagian dari cobaan Allah terhadap hamba-Nya yang beriman. Dia tidak memandang setiap kesukaran dan ancaman terhadap dirinya dengan cara yang negatif, tetapi sebaliknya melihat bahwa di celah-celah kesukaran itu terdapat harapan-harapan. Dia tidak akan menyalahkan orang lain atau mencari sebab-sebab negatif pada orang lain
Jadi menurut hemat penulis, penghayatan dan pengamalan agama merupakan faktor penting yang dapat mempengaruhi kesehatan mental. Karena dengan menghayati dan mengamalkan agama dengan sungguh-sungguh, maka keimanan dan ketakwaan akan diraih. Dengan beriman dan bertakwa, manusia mampu bersikap tenang dan sabar dalam menghadapi problema hidup dan mampu berfikir secara seimbang serta kondisi kejiwaannya penuh dengan ketentraman dan kedamaian karena selalu mengingat Allah. Maka dari itu, orang yang menyikapi penderitaan yang dialaminya dengan sabar dan menyadari bahwa di balik penderitaan terdapat hikmah, dapat digolongkan sebagai orang yang sehat mentalnya. Sebaliknya, orang yang menyikapi penderitaannya dengan keluhan dan kekecewaan merupakan orang yang mengalami gangguan mental.[2]
Menurut Ustman Najati, mengingat Allah yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah ingat kepada Allah yang dapat menimbulkan perasaan tenteram dan tenang. Di dalam jiwanya tidak ada perasaan bersalah. Ini merupakan terapi bagi kegelisahan yang dirasakan manusia ketika ia merasa lemah dan tidak punya penyangga serta penolong dalam menghadapi berbagai tekanan dan masalah kehidupan.
2.      Faktor Ekstern
Faktor ekstern adalah faktor yang berasal dari luar diri seseorang, seperti keadaan ekonomi, kondisi lingkungan, baik lingkungan keluarga, masyarakat, maupun lingkungan pendidikan dan sebagainya.
Sebenarnya faktor intern itu lebih dominan pengaruhnya dibandingkan dengan faktor ekstern. Hal ini sesuai dengan pendapat Daradjat (1982: 15), bahwa sesungguhnya ketenangan hidup, ketenangan jiwa atau kebahagiaan batin itu tergantung dari faktor ekonomi, adat kebiasaan dan sebagainya. Akan tetapi lebih tergantung pada cara dan sikap menghadapi faktor-faktor tersebut.

B.     Prinsip-Prinsip Kesehatan Mental
prinsip kesehatan mental ialah fundamen dasar-dasar yang harus ditegakkan manusia guna mendapatkan kesehatan mental dan terhindar dari gangguan kejiwaan. Di antara prinsip tersebut adalah sebagai berikut :
1.      Gambaran dan sikap yang baik terhadap diri sendiri
Memiliki gambaran dan sikap yang baik terhadap diri sendiri merupakan dasar dan syarat utama untuk mendapatkan kesehatan mental. Orang yang memiliki kemampuan menyesuaikan diri dengan dirinya sendiri, orang lain, alam dan lingkungan dan Tuhan.[3]
2.      Keterpaduan atau integrasi diri
Keterpaduan diri berarti adanya keseimbangan antara kekuatankekuatan jiwa dalam diri, kesatuan pandangan dalam hidup, dan kesanggupan mengatasi stres . Orang yang memiliki keseimbangan diri berarti orang yang seimbang kekuatan id, ego, dan super egonya. Orang yang memiliki kesatuan pandangan hidup adalah orang yang memperoleh makna dan tujuan dari kehidupannya.
3.      Perwujudan diri
Perwujudan diri sebagai proses kematangan diri dapat berarti sebagai kemampuan mempergunakan potensi jiwa dan memiliki gambaran dan sikap yang baik terhadap diri sendiri serta peningkatan motivasi dan semangat hidup.
4.      Berkemampuan menerima orang lain, melakukan aktivitas sosial dan menyesuaikan diri dengan lingkungan tempat tinggal
Kemampuan menerima orang lain berarti kesediaan menerima kehadiran, mencintai, menghargai menjalin persahabatan dan memperlakukan orang lain dengan baik. Melakukan aktivitas sosial berarti bersedia bekerja sama dengan masyarakat dalam melakukan pekerjaan sosial yang menggugah hati dan tidak menyendiri dari masyarakat. Menyesuaikan diri dengan lingkungan berarti usaha untuk mendapatkan rasa aman, damai dan bahagia dalam hidup bermasyarakat di lingkungan tempat tinggalnya.
5.      Berminat dalam tugas dan pekerjaan
Setiap manusia harus berminat dalam tugas dan pekerjaan yang ditekuninya. Tanpa adanya minat, manusia sulit mendapatkan rasa gembira dan bahagia dalam tugas dan pekerjaannya.[4]
6.      Agama, cita-cita dan falsafah hidup
Untuk pembinaan dan pengembangan kesehatan mental, manusia membutuhkan agama, seperangkat cita-cita yang konsisten, dan pandangan hidup yang kukuh. Dengan agama, manusia dapat terbantu dalam mengatasi persoalan hidup yang berada di luar kesanggupan dirinya sebagai manusia yang lemah. Dengan citacita, manusia dapat bersemangat dan bergairah dalam perjuangan hidup yang berorientasi ke masa depan, membentuk kehidupan secara tertib, dan mengadakan perwujudan diri dengan baik. Dengan falsafah hidup, manusia dapat menghadapi tantangan yang dihadapinya dengan mudah.

7.      Pengawasan diri
Manusia yang memiliki pengawasan diri akan terhindar dari kemungkinan perbuatan yang bertentangan dengan hukum, baik hukum agama, adat maupun aturan moral dalam hidupnya. Karena dengan pengawasan diri tersebut, manusia mampu membimbing tingkah lakunya.
8.      Rasa benar dan tanggung jawab
Rasa benar dan rasa tanggung jawab, penting bagi tingkah laku karena setiap individu ingin bebas dari rasa dosa, salah dan kecewa. Sebaliknya rasa benar, tanggung jawab dan sukses adalah keinginan setiap manusia yang sehat mentalnya. Rasa benar yang ada dalam diri selalu mengajak manusia kepada kebaikan, tanggung jawab dan kesuksesan, serta membebaskannya dari rasa dosa, salah dan kecewa

C.    Metode peralihan dan Pemeliharaan Kesehatan Mental dalam Islam
Menurut Mujid ( ) Ada tiga pola yang dikembangkan untuk mengungkap metode perolehan dan pemeliharaan kesehatan mental, yakni :[5]
1.      Metode Imaniah
Iman  adalah kepercayaan sehingga individu yang beriman adalah  individu yang merasa tenang dan sikapnya penuh keyakinan dalam menghadapi problem hidup. Dengan iman, seseorang memiliki tempat untuk berkeluh kesah dan tempat memohon apabila ia menghadami permasalahan hidup, baik yang berkaitan dengan perilaku fisik maupun psikis. Ketika seseorang telah mengerahkan daya upayanya secara maksimal untuk mencapai satu tujuan, namun tetap mengalami kegagalan, tidak berarti kemudian ia putus asa atau bunuh diri. Keimanan akan mengarahkan seseorang untuk mengevaluasi kinerjanya maksimal atau belum dalam pemecahan masalah berdasarkan cara – cara yang berada dalam Al – Qur’an dan al – Hadist akan tetapi jika individu menemui kegagalan, hal yang perlu diperhatikan adalah hikmah dibalik kegagalan tersebut dengan percaya bahwa Allah menguji kualitas keimanannya melalui kegagalan atau agar ia tidak sombong dan  angkuh ketika memperoleh kesuksesan.
2.      Metode Islamiah
Islam memiliki tiga makna yaitu penyerahan dan ketundukan atau  al silm, perdamaian dan keamanan atau al-salm, dan keselamatan atau al salamah. Realisasi metode Islamah dapat membentuk kepribadian muslim  yang mendorong seseorang untuk hidup bersih, suci dan dapat menyesuaikan diri dalam setiap kondisi. Kondisi seperti itu merupakan syarat mutlak bagi terciptanya kesehatan mental. Kepribadian muslim menimbulkan lima karakter
a.       Karakter Syahadatain
Karakter yang mampu menghilangkan dan membebaskan diri dari segala belenggu seperti materi dan hawa nafsu. “Terangkanlah kepada - Ku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya. Maka Apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? (Q.S. Al-Furqon: 43)
b.      Karakter Mushalli
Karakter yang mampu berkomunikasi dengan Allah dan dengan sesama manusia. Komunikasi ilahiah ditandai dengan Shalat, dzikir, dan do’a sedang komunikasi insaniah ditandai dengan salam dan silaturahim. Karakter mushalli juga menghendaki kesucian lahir dan batin. Kesucian lahir diwujudkan dalam wudhu sedang kesucian batin diwujudkan dalam bentuk keikhlasan dan kekhusyukan.
c.       Karakter Muzakki
Karakter yang berani mengorbankan hartanya untuk kebersihan dan kesucian jiwanya. Karakter Muzakki menghendaki adanya pencarian harta secara halal dan mendistribusikannya dengan cara yang halal pula. Ia menuntut adanya produktifitas dan kreativitas.
d.      Karakter sha’im
Karakter yang mampu mengendalikan dan menahan nafsu-nafsu rendah dan liar. Di antara karakter sha’im  adalah menahan makan, minum, hubungan seksual pada waktu, dan tempat dilarang.
e.       Karakter haji
Karakter yang mengorbankan harta, waktu, bahkan nyawa demi memenuhi panggilan Allah SWT.
3.      Metode Ihsaniah
Ihsan  adalah baik.Individu  yang baik atau muhsin adalah Individu yang mengetahui akan hal-hal baik, mengaplikasikan dengan prosedur yang baik, dan dilakukan dengan niatan baik pula.  Metode ini apabila dilakukan dengan benar akan membentuk kepribadian muhsin yang dapat ditempuh melalui beberapa tahapan. Tahapan tersebut meliputi :
a.       Al-bidayah
Tahapan ini disebut juga tahapan takhalli. Takhalli adalah mengurangi diri dari segala sifat-sifat kotor , tercela, dan maksiat.
b.      Al-mujahadat
Pada tahapan ini kepribadian seseorang telah bersih dari sifat-sifat tercela dan maksiat, kemudian  ia berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mengisi diri dengan tingkah laku yang baik. Tahapan ini disebut juga tahalli .
c.       Al-muziqat
Pada tahapan ini, seorang hamba tidak sekadar menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah SWT , namun ia merasa  kedekatan, kerinduan, dengan  Allah. Tahapan ini disebut Tajalli. Tajalli adalah menampakkan sifat sifat Allah SWT atau Al – Maul Husna  pada diri manusia


D.    Psikopatologi dalam Islam
Psikopatologi menurut Islam  adalah gangguan kepribadian yang ditunjukan sebagai perilaku yang berdosa dan merupakan penyakit hati yang dapat mengganggu realisasi dan aktualisasi diri seseorang yang disebabkan oleh kesucian qolbu  manusia hilang, karena qalbu menjadi pusat kepribadian manusia. Selain itu, psikopatologi bersumber dari dosa (guilty feeling) dan perilaku maksiat.  Dalam Islam psikopatologi ini dikenal dengan istilah penyakit hati.
Mujib ( 2006 )  membagi psikopatologi dalam dua katagori berdasarkan sifatnya yaitu :
1.      Bersifat duniawi.
Macam-macam psikopatologi dalam kategori ini berupa gejala-gejala atau penyakit kejiwaan yang telah dirumuskan dalam psikologi kontemporer. Adapun beberapa perspektif yakni :[6]
a.       Perspektif Biologi
Gangguan fisik seperti gangguan otak dan gangguan sistem syaraf otonom menyebabkan gangguan mental seseorang. Gangguan tersebut bersifat genetic atau diturunkan dari generasi ke generasi  dan proses kimiawi saraf yang tidak dapat berjalan normal karena syaraf adalah organ paling penting dalam tubuh manusia.
b.      Perspektif Psikoanalisa
Gangguan mental  disebabkan oleh konflik bawah sadar yang biasanya berawal dari 5 fase masa kanak-kanak awal dan pemakaian mekanisme pertahanan untuk mengatasi kecemasan yang ditimbulkan oleh impuls dan emosi yang direpresi. 5 fase perkembangan menurut Freud adalah
1)      Tahap oral-sensori ( 0 -  12 bulan)
Aktivitas melibatkan mulut  sebagai sumber utama kenyamanan menyerahkan segala kehidupannya kepada pengasuh.  Jika individu tidak mencapai kenikmatan dimulut maka ia akan  terfiksasi dan kesulitan mempercayai orang lain.
2)      Tahap anal  ( 1-3 tahun )
Organ anus dan rectum merupakan sumber kenyamanan. Pada tahap ini anak belajar  toilet training. Jika orang tua mengajari anak tentang kebersihan dengan keras maka memunculkan konflik sehingga ia menarik diri atau melawan.
3)      Tahap falik ( 3-6 tahun )
Organ genital sebagai sumber kenyamanan. Masturbasi dimulai dan keingintahuan seksual dapat mengalami kompleks. Permasalahan yang terjadi pada tahap ini adalah Oedipus kompleks yang menyebabkan kesulitan dalam indentitas seksual dan bermasalah dengan otoritas, ekspresi malu, dan takut.[7]
4)      Tahap latensi (6-12 tahun )
Anak – anak berfokus pada  aktivitas fisik dan intelektual dan disebut sebagai periode tenang, dimana kegiatan sexual tidak muncul. Anak terikat dalam aktivitas dengan teman sebaya yang sama jenis kelaminnya.  Penggunaan koping dan mekanisme pertahanan diri muncul pada waktu ini  Konflik yang tidak diatasi pada masa ini dapat menyebabkan obsesif dan kurang motivasi diri

5)      Genital (13 tahun )
a.       Genital menjadi pusat dari tekanan dan kesenangan seksual
b.      Produksi hormon seksual menstimulasi perkembangan heteroseksual
c.       Energi ditujukan untuk mencapai hubungan intim  yang dewasa, kemudian mulai berkembang kemampuan untuk menerima dan mencintai antar lawan jenis dan pemenuhan kebutuhan. Jika tidak terealisasikan maka akan menarik diri dan rendah diri.
c.       Behavior
Perspektif  Behaviorisme menyatakan bahwa perilaku abnormal dapat berkembang melalui respon yang dipelajari dengan cara yang sama seperti perilaku lainnya yang dipelajari, melalui classical conditioning, operant conditioning, atau modeling. Para behavioris lebih memperhatikan perilaku abnormal hasil dari perilaku yang bertahan disebabkan berbagai kejadian hadiah dan hukuman yang mendorong pola respon yang bermasalah.
1)      Classical conditioning
Classical conditioning dapat menimbulkan ketakutan patologis dimana adanya stimulus netral diikuti dengan respon yang tidak menyenangkan sehingga menimbulkan gangguan perilaku seperti phobia.
2)      Operant conditioning
Adanya penguatan positif yang memperkuat tindakan negatif. Seperti agresi verbal diikuti oleh pujian teman – temannya sehingga perilaku tersebut terus berulang.
3)      Modeling
Perilaku abnormal disebabkan karena mengamati orang lain. Orang lain mendapat sesuatu yang positive ketika melakukan suatu hal, sehingga pengamat cenderung untuk menirunya. Seperti minuman keras, karena sang model menikmati minuman keras maka individu akan meniru  sang model untuk merasakan kenikmatan minuman tersebut tersebut.
4)      Cognitif
Kognitif berfokus pada bagaimana manusia menyusun berbagai pengalaman mereka, bagaimana mereka membuat pengalaman-pengalaman tersebut menjadi masuk akal, dan bagaimana mereka menghubungkan pengalaman masa kini dengan berbagai pengalaman masa lalu yang disimpan dalam memori. Perspektif ini menganggap perilaku abnormal disebabkan oleh serangkaian kognitif tertentu atau skema tertentu dan interpretasi irasional terhadap suatu pengalaman.

D.    Bersifat Ukhrawi
Psikopatologi akibat penyimpangan terhadap norma-norma atau nilai-nilai moral, spiritual dan agama. Adapun sifat – sifat psikopatologi dalam aspek ukhrowi yaitu :
1.      Qalbu Hayyah
Gangguan kepribadian yang berhubungan dengan akidah atau dengan Tuhan, seperti menyekutukan Allah atau syirik mengingkari, berbuat dosa, nifaq, pamer, dan menuruti bisikan syetan.
2.      Mayyit
Gangguan kepribadian yang berhubungan dengan kemanusiaan seperti iri hati, dengki, buruk sangka, marah, benci, penakut, pelit, menipu, mengolok-olok, menyakiti, memfitnah, menceritakan keburukan orang lain, rakus, adu domba, putus asa, menganiaya, boros dan materialism
3.      Marid
Gangguan kepribadian yang berkaitan dengan pemanfaatan alam semesta sebagai realisasi tugas-tugas kekhilafan seperti membuat kerusakan. Berdasarkan tiga sifat maka dapat digolongkan 16 macam patologis menurut Islam, yakni :
a.       Syirik
Kepercayaan, sikap dan perilaku mendua terhadap masalah yang fundamental dalam kehidupan manusia. Gejalanya individu meyakini Allah sebagai tuhannya tapi amal perbuatannya diorientasikan bukan untuk-Nya melainkan untuk sesuatu yang sifatnya temporer dan nisbi seperti kepada roh halus. Penyakit syirik yang menyerang orang mukmin tergolong psikopatologi sebab pelakunya tidak mampu mengintegrasikan kepribadiannya dengan baik. Seseorang yang menghambakan diri pada sesuatu selain Allah berarti ia menerima perbudakan, membelenggu diri dan mengekang kebebasannya. Perilaku syirik ada yang teraktual dalam bentuk ucapan, pikiran dan perbuatan. Hampir semua bentuk psikopatologis dalam perspektif Islam bermuara pada syirik karena ia menjadi sumber penganiayaan (zhulm) diri yang berat, sumber rasa takut, sumber dari segala kesesatan dan dosa yang tak terampuni, padahal dosa merupakan sumber konflik batin, tidak memilki peenolong dalam menyelesaikan sesuatu, seburuk-buruk makhluk,  dimurkai dan dikutuk Allah dan  semua aktifitas baiknya tidak dianggap.[8]
b.      Kufur
Mengingkari terhadap sesuatu yang sebenarnya.  maka tergolong psikopatologi sebab pelakunya tidak menyadari hikmah dari apa yang telah diberikan Allah SWT sehingga ia tidak bersyukur.
c.       Nifaq
Nifaq adalah menampakkan sesuatu yang dipandang baik oleh orang lain, padahal di dalam hatinya tersembunyi keburukan Apa yang ditampakkan tidak sama dengan qalbunya. Nifaq merupakan karakter orang munafik yang tergolong psikopatologi. Penderitanya tidak mampu menghadapi kenyataan yang sebenarnya, sehingga dia berdusta jika berbicara, ingkar jika berjanji dan khianat bila dipercaya.
d.      Riya’
 Suatu perbuatan karena pamrih, pamer atau cari muka pada orang lain. Seseorang yang melakukan riya’ berarti tidak mampu merealisasikan dirinya dengan baik. Riya’ termasuk psikopatologis karena pelakunya berbuat sesuatu hanya untuk mencari muka tanpa memperhitungkan produktifitas dan kualitas amaliahnya. Secara spiritual juga disebut penyakit sebab pelakunya telah menyalahi perjanjian ketuhanan di alam arwah, untuk beribadah kepada-Nya.
e.       Marah
Menunjukkan tingkat kelabilan kejiwaan seseorang karena ia tidak mampu mengendalikan amarahnya. Yang dimaksud di sini adalah ketika kemarahan berkobar tak terkendali maka kesadaran nurani terhalangi yang kemudian mendatangkan sakit hati yang berat.
f.       Lupa atau gaflah atau nisyan
Kelupaan yang disengaja terhadap suatu keyakinan, nilai-nilai hidup yang mendasar dan pandangan hidupnya yang mengakibatkan segala tindakannya menjadi tidak teratur, merugikan dan dapat menjerumuskan ke dalam kehancuran. Seperti: lupa mengingat Allah karena dirinya dikuasai setan, melupakan ayat-ayat Allah setelah dirinya beriman dan lupa karena mengikuti hawa nafsu.
g.      Was – was
Waswas merupakan bisikan halus dari setan yang mengajak seseorang untuk berbuat maksiat dan dosa yang dapat merusak citra diri dan harga dirinya. Mengikuti waswas sama artinya dengan melanggar fitrah asli manusia yang suci dan baik, sebab was - was berorentasi pada fitrah asal setan yang sesat. Karena itu mengikuti bisikan setan tergolong psikopatologi bagi manusia.
h.      Putus asa
Hilangnya gairah, semangat, sinergi dan motivasi hidup setelah seseorang tidak berhasil menggapai sesuatu. Putus asa dianggap psikopatologi karena ia menafikan potensi hakiki manusiawi, tidak percaya takdir Allah dan putus asa terhadap rahmat dan karunia-Nya.
i.        Rakus
Penyakit jiwa yang selalu merasa kurang terhadap apa yang dimiliki meskipun apa yang dimiliki lebih dari cukup. Orang rakus dikatakan berpenyakit karena tak menguasai diri, bahkan kebebasan hidup karena dikendalikan hawa nafsunya.
j.        Ghurur
Percaya atau meyakini sesuatu yang tidak hakiki dan tidak substantif. Ghurur berjangkit pada jiwa manusia antara lain disebabkan oleh keingkaran kepada pertolongan Allah yang Maha Pemurah dan tipu daya kesenangan dunia yang sementara padahal kesenangan yang hakiki hanya milik Allah di akhirat kelak.
k.      Membanggakan diri (ujub) dan sombong (takabbur).
Sombong dianggap penyakit sebab pelakunya tak menyadari akan kekurangannya dan memaksa diri memaksa harga diri yang tinggi. Hidupnya tak akan tenang karena ia tak akan rela orang lain memiliki kelebihan, sedang ia sendiri tak berusaha meningkatkan kualitas dirinya.
l.        Iri hati dan dengki
Termasuk penyakit mental yang berat sebab pelakunya senantiasa menanggung beban psikologis yang kompleks seperti kebencian, amarah, buruk sangka, pelit dan menghinakan orang lain serta sempit dalam berpikir dan bertindak sehingga ia sulit mengaktualisasikan potensi positifnya dan akan terisolir dari lingkungannya.
m.    Menceritakan keburukan orang lain (ghibah) dan mengadu domba (namimah)
Dianggap sebagai penyakit sebab penderitanya tidak sanggup mengadakan penyesuaian diri dengan lingkungan sosialnya. Ia sibuk menyebut keburukan orang lain, padahal dirinya memiliki keburukan yang tak jauh beda dengannya, bahkan mungkin lebih buruk lagi.
n.      Cinta dunia, pelit dan berlebih-lebihan atau menghambur-hamburkan harta.
Cinta dunia maksudnya menjadikan dunia dan isinya sebagai tujuan akhir hidup dan bukan sebagai sarana hidup. Cinta semacam itu tergolong psikopatologi sebab penderitanya tidak sadar akan tujuan hidup yang hakiki. Ciri-ciri penyakit ini adalah penderitanya memiliki sikap dan perilaku materialisme, hedonisme dan egoisme.[9]
o.      Memiliki keinginan yang tak mungkin terjadi (tamanni)
Dianggap psikopatologi sebab penderitanya tenggelam dalam dunia khayalan yang tidak realistik. Ia berkeinginan besar memiliki sesuatu namun tidak dibarengi dengan aktifitas nyata sehingga hidupnya tidak kreatif & produktif. Akibat dari gejala tamanni ini maka penderitanya tak segan-segan mengambil jalan pintas, seperti: memperdalam angan-angannya dengan mengkonsumsi zat adiktif, mencuri, merampok dan korupsi.
p.      Picik dan penakut (al-jubn).
Picik atau penakut adalah sikap atau perilaku yang tidak berani menghadapi kenyataan yang sesungguhnya. Ciri-ciri penderitanya ialah, apabila ia dihadapkan pada suatu masalah, maka ia berpikir dampak negatifnya terlebih dahulu, tanpa sedikitpun mempertimbangkan tingkat kemaslahatannya. Karenanya ia tidak berani bertindak yang seharusnya ia lakukan. Kepicikan seseorang biasanya disebabkan oleh keimanan yang lemah, seperti sikap orang-orang munafik yang tak berani berperang di jalan Allah karena takut mati, tidak mengeluarkan zakat karena takut miskin dan sebagainya.





BAB III
METODE PENELITIAN
A.    Jenis Penelitian
Jenis   penelitian   yang   akan   penulis   lakukan   ini   adalah   penelitian   pustaka (library research)  yaitu sebuah penelitian yang dilakukan diperpustakaan,  dimana pekerja riset membaca, menelaah atau memeriksa bahan-bahan kepustakaan yang terdapat di dalam perpustakaan tersebut.[10]
Penelitian kepustakaan adalah penelitian yang dilakukan dengan cara membaca buku–buku, majalah dan sumber data lainnya di dalam perpustakaan. Kegiatan ini dilakukan dengan menghimpun data dari berbagai literatur, baik di perpustakaan maupun ditempat–tempat lainnya. Literatur yang dipergunakan tidak terbatas hanya pada buku–buku, tetapi juga berupa bahan–bahan dokumentasi, majalah–majalah, koran–koran dan lain–lain. Berdasarkan sumber data tersebut, penelitian ini kerap kali disebut juga penelitian dokumentasi (documentary research) atau survey buku (book survey research). [11]

B.     Sumber Data
1.      Sumber Data Primer
Sumber primer yaitu sumber yang memberikan informasi lebih banyak  dan  mempunyai  kedudukan  penting  di  dalam  pencarian  data penulisan   ini.   Literatur   primer   penulisan   skripsi   ini   adalah   buku-buku yang berkenaan dengan kesehatan mental, psikopatologi.
2.      Sedangkan data sekunder bersumber dari buku-buku yang berkaitan dengan penelitian ini. Data sekunder adalah data penelitian yang diperoleh secara tidak langsung melalui media perantara (dihasilkan pihak lain) atau digunakan oleh peneliti lainnya yang bukan merupakan pengelolahnya tetapi dapat dimanfaatkan dalam satu penelitian tertentu. Data sekunder pada umumnya berbentuk catatan atau laporan data dokumentasi.[12]

C.    Metode Pengumpulan Data
Teknik   pengumpulan   data   dengan   melakukan   penelusuran   dan   penelaahan pada  literatur  dan  bahan  pustaka  yang  relevan  dengan  latar  belakang  yang diangkat.
Data  penelitian  ini  diperoleh  dari  dua  sumber,  yaitu  data primer  dan sumber   sekunder. Sumber primer adalah sumber bahan atau dokumen yang dikemukakan atau digambarkan sendiri oleh  orang  atau  pihak  yang  hadir  pada  waktu  kejadian  yang  digambarkan tersebut berlangsung sehingga dapat menjadi saksi.
Sumber   sekunder   sebagai   sumber   pelengkap   yaitu   sumber   atau   bahan kajian   yang  digambarkan   oleh   bukan   orang  yang  ikut   mengalami   atau yang hadir pada waktu kejadian berlangsung.

D.    Metode Analisis Data
Karena  penelitian  ini  meneliti  pengumpulan  informasi  melalui  pengujian arsip,   data   dan   dokumen.   Maka   tipe   penelitian   yang   kami   gunakan   dalam penelitian  ini  adalah  analisis  isi  (content  analysis)  yaitu  tehnik  penelitian  untuk membuat inferensi. Inferensi yang dapat ditiru (replicable) shohih dengan memperhatikan konteksnya. Analisis Data yang kami pakai adalah :[13]
1.      Metode   Deduktif   adalah   suatu   jalan   atau   cara   yang   dipakai   dengan berangkat  dari  pengetahuan  yang  sifatnya  umum  dan  bertitik  tolak  pada pengetahuan yang kemudian hendak menilai suatu kejadian yang khusus.[14]
2.      Metode  Induktif  adalah  kebalikan  dari  deduktif  dengan  kriteria  ideal  buku kesehatan mental da psikopatologi kemudian   diuraikan, dijabarkan dalam bentuk analisa lalu kemudian diambil kesimpulan.
3.      Metode   Komparatif   adalah   membandingkan   dua   atau   lebih peristiwa, fenomena,   pernyataan   dan   gagasan   untuk   menemukan   persamaan   dan perbedaan  di dalamnya. Metode  ini  digunakan  sebagai  suatu  penalaran yang  dilakukan  penulis  dengan  cara  membandingkan  data-data  yaitu  data yang   diperoleh   dari            literatur   maupun   bahan   pustaka    dan   data yang diperoleh  dari  wawancara   dengan   kerabat  dekat  pengarang  buku   untuk dibentuk suatu kesimpulan yang lebih valid.[15]
4.      Langkah Pengambilan Kesimpulan
Adalah  hasil  kesimpulan  akhir  yang  diperoleh  setelah  melakukan kajian data secara terinci. Adapun metode berfikir yang digunakan dalam penelitian ini adalah : Metode  induktif  yaitu  penganalisaan  data  yang  bersifat  khusus  yang mempunyai unsur-unsur kesamaan nilai sehingga dapat diintegrasikan menjadi kesimpulan yang umum.




DAFTAR PUSTAKA

Mujib, Abdul.  (2006). Kepribadian Dalam Psikologi Islam.  Jakarta : RajaGrafindo

Suharsini Arikunto, 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Renika Cipta, Jakarta)

Ruslan, Rusadi, Metode Penelitian Public Relation dan Komunikasi, (Bandung:PT Rosdakarya, 2010)

Noeng Muhajir, Metode Penelitian Kualitatif,  (Jakarta: Rekasarasin, 1994)

Sutrisno Hadi, Metodologi Research, (Yogyakarta:Andi 2001)

Suharsimi Arikunto, Manajemen Penelitian , (Jakarta:Bina Aksara,1989)

Baharudin. Psikologi Agama Dalam Perspektif Islam.  (Malang: UIN –Malang-Press, 2008)

Fahmi, Musthafa. Kesehatan Jiwa: Dalam Keluarga, Sekolah, dan Masyarakat. (Jakarta: Bulan bintang, 1977)

Raharjo, Ilmu Jiwa Agama cet. 1 (Semarang : Pustaka Rizki Putra, 2012)

Dudung Abdullah Harun, Mengenal Ciri dan Tabiat Munafik dalam Al Quran, (Jakarta: Kalam Mulia, 1994)

Sayyid Mujtaba Musawi Lari, Psikologi Islam: Membangun kembali Moral Generasi Muda, terj. Satrio Pinandito (Jakarta : Pustaka Hidayah, 1993),

Kartini, Kartono, Pengantar Metodologi Riset Sosial, (Bandung : Mandar Maju, 1996)




[1] Baharudin. Psikologi Agama Dalam Perspektif Islam.  (Malang: UIN –Malang-Press, 2008) H. 133
[2] Fahmi, Musthafa. Kesehatan Jiwa: Dalam Keluarga, Sekolah, dan Masyarakat. (Jakarta: Bulan bintang, 1977) H. 67
[3] Hadiarni. Psikologi Dalam Perspektif Islam : Hakikat dan Penanganannya. Jurnal
[4] Kartono, Kartini. Patologi Sosial. (Jakarta: Rajawali Press, 2009)  H. 112
[5] Kartono, Kartini. Patologi Sosial.  … H. 115
[6] Raharjo, Ilmu Jiwa Agama cet. 1 (Semarang : Pustaka Rizki Putra, 2012), h. 120
[7] Raharjo, Ilmu Jiwa Agama cet. 1  … h. 122
[8] Dudung Abdullah Harun, Mengenal Ciri dan Tabiat Munafik dalam Al Quran, (Jakarta: Kalam Mulia, 1994), h. 12
[9] Sayyid Mujtaba Musawi Lari, Psikologi Islam: Membangun kembali Moral Generasi Muda, terj. Satrio Pinandito (Jakarta : Pustaka Hidayah, 1993), h. 57.
[10] Kartini, Kartono, Pengantar Metodologi Riset Sosial, (Bandung : Mandar Maju, 1996), hal :26
[11] Suharsini Arikunto, 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Renika Cipta, Jakarta, , hal. 10
[12] Ruslan, Rusadi, Metode Penelitian Public Relation dan Komunikasi, (Bandung:PT Rosdakarya, 2010) hlm 138.
[13] Noeng Muhajir, Metode Penelitian Kualitatif,  (Jakarta: Rekasarasin, 1994), Hlm. 49
[14] Sutrisno Hadi, Metodologi Research, (Yogyakarta:Andi 2001), Hlm. 42
[15] Suharsimi Arikunto, Manajemen Penelitian , (Jakarta:Bina Aksara,1989), hlm.197-198

No comments:

Post a Comment