BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Salah satu ciri khas ilmu pengetahuan adalah sebagai suatu aktivitas,
yaitu sebagai suatu kegiatan yang dilakukan secara sadar oleh manusia. Ilmu
menganut pola tertentu dan tidak terjadi secara kebetulan. Ilmu tidak saja
melibatkan aktivitas tunggal, melainkan suatu rangkaian aktivitas, sehingga
dengan demikian merupakan suatu proses. Proses dalam rangkaian aktivitas ini
bersifat intelektual, dan mengarah pada tujuan-tujuan tertentu. Disamping ilmu
sebagai suatu aktivitas, ilmu juga sebagai suatu produk.
Dalam hal ini ilmu dapat diartikan sebagai kumpulan pengetahuan yang
merupakan hasil berpikir manusia. Ke dua ciri dasar ilmu yaitu ujud aktivitas
manusia dan hasil aktivitas tersebut, merupakan sisi yang tidak terpisahkan
dari ciri ketiga yang dimiliki ilmu yaitu sebagai suatu metode. Metode ilmiah
merupakan suatu prosedur yang mencakup berbagai tindakan pikiran, pola kerja,
cara teknis, dan tata langkah untuk memperoleh pengetahuan baru atau
mengembangkan pengetahuan yang telah ada. Perkembangan ilmu sekarang ini
dilakukan dalam ujud eksperimen. Eksperimentasi ilmu kealaman mampu menjangkau
objek potensi-potensi alam yang semula sulit diamati. manusia lewat perantara
nabi-nabi yang diutusnya).
B. Rumusan
Masalah
1. Bagaimanakah
ilmu itu dapat berkembang ?
2. Apa cara untuk
memperoleh pengetahuan ?
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk
mengetahui dengan metode apa saja ilmu itu dapat berkembang
2. Untuk
mengetahui tujuan dari pengembangan ilmu
3. Apa saja
mamfaat dari pengembangan ilmu
BAB II
PEMBAHASAN
A. Metode
pengembangan ilmu
Yang dimaksudkan dengan metode
yaitu metode ilmiah. Metode ilmiah ialah
cara untuk mendapatkan atau menemukan
pengetahuan yang benar dan bersifat
ilmiah. Metode ilmiah mensyaratkan asas, pengembangan dan prosedur tertentu
yang disebut kegiatan ilmiah misalnya
penalaran, studi kasus dan penelitian.
Metode ilmiah dapat dengan penalaran dan
pembuktian kebenaran ilmiah. Metode Ilmiah
dengan penalaran dan kesimpulan atau pembuktian kebenaran. Penalaran merupakan
suatu proses penemuan kebenaran di mana tiap-tiap jenis penalaran mempunyai
kriteria kebenarannya masing-masing. Penalaran adalah suatu proses berpikir
dalam menarik suatu kesimpulan yang benar dan
bukan hasil perasaan.
Penalaran merupakan kegiatan yang
mempunyai ciri tertentu dalam penemuan
kebenaran. Dua ciri penalaran : [1]
1. Berpikir logis
adalah kegiatan berpikir menurut pola, alur dan kerangka tertentu (frame of
logic) yaitu, menurut logika: deduksi-induksi, rasionalism-empirism,
abstrak-kongkrit.
2. Berpikir
analitis adalah konsekuensi dari adanya suatu pola berpikir analisis- sintesis
berdasarkan langkah-langkah tertentu (metode ilmiah/ penelitian).
Menurut Archie J. Bahm, metode pengembangan
ilmu ilmiah memiliki enam karakteristik utama, yaitu:
1. Rasa ingin tahu
(curiosity)
Rasa ingin tahu ilmiah berupaya mempertanyakan bagaimana sesuatu itu
eksis, apa hakekatnya, bagaimana sesuatu itu berfungsi, dan bagaimana hubungannya
dengan hal-hal lain. Rasa ingin tahu ilmiah berujung pada pengertian.
2. Spekulatif
Yang dimaksudkan dengan spekulatif oleh Bahms adalah keinginan untuk
mencoba menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi. Dia harus membuat beberapa
upaya. Ketika solusi terhadap suatu masalah ilmiah tidak muncul dengan segera,
upaya harus dilakukan untuk menemukan solusi. Seseorang harus mencoba untuk
mengemukakan hipotesis-hipotesis yang dapat dimanfaatkan sebagai solusi-solusi.
Seseorang dapat saja mengeksplorasi beberapa hipotesis alternatif. Spekulasi
adalah keinginan untuk terus mencoba dan mencoba, sehingga dapat dikatakan
bahwa ciri khas dari sikap ilmiah adalah keinginan untuk berspekulasi.
3. Kesediaan untuk
menjadi objektif
Objektifitas adalah salah satu hal dari sikap subjektifitas. Objek
selalu merupakan objek dari subjek. Objektifitas bukan saja berhubungan erat
dengan eksistensi subjek tetapi juga berhubungan dengan kesediaan subjek untuk
memperoleh dan memegang suatu sikap objektif. Bahm menyatakan bahwa kesediaan
untuk menjadi objektif meliputi beberapa hal yaitu:[2]
a)
Kesediaan untuk mengikuti rasa ingin tahu
ilmiah kemana saja rasa itu membimbing. Kesediaan ini mengisyaratkan
keingintahuan dan kepedulian tentang penyelidikan lebih lanjut yang dibutuhkan
demi pengertian sampai tahap kebijaksanaan yang dimungkinkan.
b)
Kesediaan untuk mau menerima. Yang dimaksud di
sini adalah penerimaan terhadap data. Data adalah sesuatu yang sebagaimana
adanya (given) dalam pengalaman ketika objek-objek diamati, diterima sebagai
suatu masalah untuk dipecahkan. Sikap ilmiah termasuk kesediaan untuk menerima
data sebagaimana adanya. Data dan hipotesis dilihat sebagai instrumen untuk
menerima kebenaran tentang objek itu sendiri, dapat mewujudkan kesediaan
menjadi objektif. Suatu hipotesis dalamnya terkandung dua hal yaitu penemuan
(pengamatan fakta-fakta tentang objek atau masalah) dan hasil dari penemuan
(ide-ide yang bertujuan untuk membangun konsep tentang objek atau masalah).
c)
Kesediaan untuk bertahan. Tidak ada aturan yang
menyatakan berapa lama seorang ilmuan harus bertahan dalam pergulatan dengan
masalah yang alot. Kesediaan untuk tetap objektif mensyaratkan kesediaan untuk
terus melanjutkan dan bertahan selama mungkin dan mencoba mengerti objek atau
masalah sampai pengertian diperoleh.
4. Pikiran yang
terbuka
Sikap ilmiah mengisyaratkan kesediaan untuk berpikiran terbuka. Hal itu
termasuk kesediaan untuk mempertimbangkan segala hal yang relevan seperti
hipotesis, dan metodologi yang berhubungan dengan masalah. Hal itu termasuk kesediaan
untuk menerima, bahkan mengundang ide-ide baru yang berbeda dengan
kesimpulan-kesimpulan yang telah dibangun. Kesediaan untuk mendengarkan dan
menguji pandangan-pandangan yang lain.
5. Kesediaan untuk
menangguhkan keputusan
Ketika suatu masalah kelihatannya tidak terselesaikan atau terpecahkan
dengan jawaban-jawaban penelitian yang dilakukan, maka kesediaan untuk
menangguhkan keputusan adalah hal yang tepat sampai semua kebenaran yang
diperlukan diperoleh atau tersedia. Dalam bagian ini, yang dibutuhkan adalah
sikap kesabaran ilmiah.[3]
6. Tentativitas
Sikap ilmiah membutuhkan kesediaan untuk tetap bersifat sementara dalam
menerima seluruh kesimpulan-kesimpulan ilmiah yang dibangun. Walaupun suatu
hasil dalam kajian ilmiah itu bersifat sementara, tetapi kesediaan untuk tetap
mempertahankan kesimpulan yang telah diperoleh dan dibuat juga perlu.
B. Teori
Perkembangan
Teori adalah keyakinan umum yang membantu kita menjelaskan apa yang kita
amati dan membuat prediksi. Teori yang baik memiliki hipotesis, yang merupakan
asumsi yang harus diuji. Macam-macam teori perkembangan :
1.
Teori-teori Psikoanalitis
Freud mengatakan kepribadian terdiri dari tiga struktur - id, ego dan
superego - dan bahwa kebanyakan pemikiran anak-anak bersifat tidak disadari.
Tuntutan struktur kepribadian yang saling bertentangan menyebabkan kecemasan.
Mekanisme pertahanan, khususnya represi, melindungi ego dan mengurangi
kecemasan. Freud yakin bahwa masalah berkembang karena pengalaman masa
anak-anak sebelumnya. Ia mengatakan bahwa individu melampaui lima tahap
psikoseksual - oral, anal, phallic, latency dan genital. Selama tahap phallic,
Oedipus Complex merupakan sumber utama konflik.
Erikson mengembangkan suatu teori yang menekankan delapan tahap
perkembangan psikososial : kepercayaan versus ketidakpercayaan; otonomi versus
rasa malu dan ragu-ragu; prakarsa versus rasa bersalah; tekun versus versus
rasa rendah diri; identitas versus kebingungan identitas; keintiman versus
keterkucilan; bangkit versus mandeg; kepuasaan versus kekecewaan (keputusasaan).[4]
2.
Teori-teori Kognitif
Piaget mengatakan bahwa anak-anak melampaui empat tahap perkembangan
kognitif, yaitu : sensorimotor, praoperasional, operasional konkrit, dan
operasonal formal. Teori pemrosesan informasi mengenai bagaimana individu
memproses informasi tentang dunianya, yang meliputi : bagaimana informasi masuk
ke dalam pikiran, bagaimana informasi disimpan dan disebarkan, dan bagaimana
informasi diambil kembali untuk memungkinkan kita berpikir dan memecahkan
masalah.
3.
Teori-teori Perilaku dan Belajar Sosial
Behaviorisme menekankan bahwa kognisi tidak penting dalam memahami
perilaku. Menurut B.F. Skinner, seorang pakar behavioris terkenal, perkembangan
adalah perilaku yang diamati, yang ditentukan oleh hadiah dan hukuman di dalam
lingkungan. Teori belajar sosial yang dikembangkan oleh Albert Bandura dan
kawan-kawan, menyatakan bahwa lingkungan adalah faktor penting yang
mempengaruhi perilaku, tetapi proses-proses kognitif tidak kalah pentingnya.
Menurut pandangan belajar sosial, manusia memiliki kemampuan untuk
mengendalikan perilakunya sendiri.[5]
4.
Teori Etologis
Konrad Lorenz adalah salah seorang pengembang penting teori etologi.
Etologi menekankan landasan biologis dan evolusioner perkembangan. Penanaman
(imprinting) dan periode penting (critical periods) merupakan konsep kunci.
Garis besar teori ini mengatakan pada dasarnya sumber dari semua perilaku
social ada dalam gen. ada instink dalam makhluk untuk mengembangkan
perilakunya. Analogi yang dikemukakan adalah “genes setting the stage, and society
writing the play”. Teori ini memberikan dasar bagi pemahaman periode kritis
perkembangan dan perilaku melekat pada anak segera setelah dilahirkan.
5.
Teori-teori Ekologi
Teori etologis menempatkan tekanan yang kuat pada landasan perkembangan
biologis. Berbeda dengan teori etologi, Urie Bronfenbrenner (1917) mengajukan
suatu pandangan lingkungan yang kuat tentang perkembangan yang sedang menerima
perhatian yang meningkat. Teori ekologi adalah pandangan sosiokultular
Bronfenbrenner tentang perkembangan, yang terdiri dari 5 sistem lingkungan
mulai dari masukan interaksi langsung dengan gen-gen social (social agent) yang
berkembang baik hingga masukan kebudayaan yang berbasis luas. Ke 5 sistem dalam
teori ekologis Bronfenbrenner ialah mikrosystem, mesosyem, ekosistem,
makrosistem dan kronosistem.
6.
Orientasi Teoritis Eklektis
Tidak satupun toeri dapat menjelaskan kompleksitas perkembangan masa
hidup yang kaya dan mengagumkan. Masing-masing teori memberikan sumbangan yang
berbeda, dan barangkali strategi yang paling bijaksana adalah mengadopsi
perspektif teoritis eklektis jika kita ingin memahami perkembangan masa hidup
secara lengkap. Sebagai suatu perspektif, pandangan masa hidup mengkoordinasikan
sejumlah prinsip teoritis tentang hakekat perkembangan. Dengan mempertimbangkan
gagasan-gagasan tentang perspektif masa hidup bersama dengan teori-teori
perkembangan yang ada, maka dapat diperoleh suatu rasa konsep teoritis yang
penting dalam memahami perkembangan masa hidup.
C. Cara-Cara
Memperoleh Pengetahuan
1. Pengetahuan
Secara etimologi pengetahuan berasal
dari kata dalam bahasa Inggris yaitu knowledge. Dalam Encyclopedia of
Philosophy dijelaskan bahwa difinisi pengetahuan adalah kepercayaan yang benar
(knowledge is justified true belief).Sedangkan secara terminologi definisi
pengetahuan ada beberapa definisi. Pengetahuan adalah apa yang diketahui atau
hasil pekerjaan tahu. Pekerjaan tahu tersebut adalah hasil dari kenal, sadar,
insaf, mengerti dan pandai. Pengetahuan itu adalah semua milik atau isi
pikiran. Dengan demikian pengetahuan merupakan hasil proses dari usaha manusia
untuk tahu.[6]
a. Pengetahuan
adalah proses kehidupan yang diketahui manusia secara langsung dari kesadarannya sendiri. Dalam
hal ini yang mengetahui (subjek) memiliki yang diketahui (objek) di dalam
dirinya sendiri sedemikian aktif sehingga yang mengetahui itu menyusun yang
diketahui pada dirinya sendiri dalam kesatuan aktif.
b. Pengetahuan
adalah segenap apa yang kita ketahui tentang suatu objek tertentu, termasuk
didalamnya ilmu, seni dan agama. Pengetahuan ini merupakan khasanah kekayaan
mental yang secara langsung dan tak langsung memperkaya kehidupan kita.
Pada dasarnya
pengetahuan merupakan hasil tahu manusia terhadap sesuatu, atau segala
perbuatan manusia untuk memahami suatu objek tertentu. Pengetahuan dapat
berwujud barang-barang baik lewat indera maupun lewat akal, dapat pula objek
yang dipahami oleh manusia berbentuk ideal, atau yang bersangkutan dengan masalah
kejiwaan.
Pengetahuan adalah
keseluruhan pengetahuan yang belum tersusun, baik mengenai matafisik maupun
fisik. Dapat juga dikatakan pengetahuan adalah informasi yang berupa common
sense, tanpa memiliki metode, dan mekanisme tertentu. Pengetahuan berakar pada
adat dan tradisi yang menjadi kebiasaan dan pengulangan-pengulangan. Dalam hal
ini landasan pengetahuan kurang kuat cenderung kabur dan samar-samar.
Pengetahuan tidak teruji karena kesimpulan ditarik berdasarkan asumsi yang
tidak teruji lebih dahulu. Pencarian pengetahuan lebih cendrung trial and error
dan berdasarkan pengalaman belaka. Ruang Lingkup pengetahuan secara ontologi,
epistomologi dan aksiologi ada tiga yaitu Ilmu, Agama dan Seni.[7]
Logika didefinisikan
sebagai pengkajian untuk berpikir secara sahih.
1) Sumber
Pengetahuan, pada dasarnya terdapat dua cara kita mendapatkan pengetahuan yang
benar yaitu mendasarkan diri pada rasio atau disebut rasionalisme dan
mendasarkan diri pda pengalaman atau disebut empirisme, namun masih terdapat
cara lain yaitu intusi (pengetahuan yang didapatkan tanpa melalui proses
penalaran tertentu) dan wahyu merupakan pengetahuan yang disampaikan oleh tuhan
kepada manusia lewat perantara nabi-nabi yang diutusnya).
2) Kriteria
Kebenaran:
(a) Teori Koherensi
yaitu suatu pernyataan dianggap benar bila pernyataan itu bersifat koheren atau
konsisten dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya yang dianggap benar. Misalnya
bila kita menganggap bahwa, “semua manusia pasti akan mati” adalah suatu
pernyataan benar maka pernyataan bahwa, “si polan adalah seorang manusia dan si
polan pasti akan mati” adalah benar pula karena kedua pernyataan kedua adalah
konsisten dengan pernyataan yang pertama.
(b) Teori
Korespondensi yang ditemukan oleh Bertrand Russell (1872-1970). Suatu
pernyataan dalah benar jika materi pengetahuan yang dikandung pernyataan itu
berkorespondensi (berhubungan) dengan obyek yang dituju oleh pernyataan
tersebut. Misalnya jika seseorang mengatakan bahwa ibukota republik Indonesia
adalah Jakarta maka pernyataan tersebut adalah benar sebab pernyataan itu
dengan obyek yang bersifat faktual yakni Jakarta yang memang menjadi ibukota
republik Indonesia.
(c) Teori Pragmatis
dicetuskan oleh Charles S. Pierce (1839-1914). Suatu pernyataan adalah benar jika pernyataan itu
atau konsekuensi dari pernyataan itu mempunyai kegunaan praktis dalam kehidupan
manusia.
D. Konsep dan
jenis jenis penelitian
1. Makna
Penelitian
Sebab adanya penelitian “pertama”
karena pengetahuan, pemahaman, dan kemampuan manusia sangat terbatas
dibandingkan dengan lingkungannya yang begitu luas.[8] Banyak hal yang yang tidak
diketahui, tidak dipahami, tidak jelas dan menimbulkan keraguan, dan pertanyaan
bagi dirinya, ketidaktahuan, ketidak pahaman, dan ketidak jelasan, seringkali
menimbulkan kecemasan, rasa takut, dan rasa terancam. Sebab “kedua” manusia
memiliki dorongan untuk mengetahui atau curiousity, manusia selalu bertanya apa
itu. Bagaimana itu disebut kedua sebab itu saling berhubungan, dorongan ingin
tahu disalurkan untuk menambah dan meningkatkan pengetahuan dan pemahaman.
“Ketiga” manusia didalam kehidupannya selalu dihadapkan kepada masalah,
tantangan, ancaman, kesulitan, baik didalam dirinya, keluarganya, masyarakat
sekitarnya serta lingkungan kerja. “Keempat” manusia merasa tidak puas dengan
apa yang telah dicapai, dikuasai, dan dimilikinya. Ia selalu ingin yang lebih
baik, lebih sempurna, lebih memberikan kemudahan, selalu ingin menambah dan
meningkatkan “kekayaan” serta fasilitas hidupnya.
2. Pengertian
Penelitian
Pengertian diartikan sebagai suatu
proses pengumpulan dan analisis data yang dilakukan RGGRsecara sistematis dan
logis untuk mencapai tujuan tertentu. Pengumpulan data dan analisis data
menggunakan metode ilmiah, baik yang bersifat kuantitataif ataupun kualitatif
eksperimental/non eksperimental, interaktif/non interaktif. Penelitian
merupakan upaya untuk mengembangkan pengetahuan mengembangkan dan menguji
teori, Mc Millan dan Schumacher mengutip pendapat Walberg (1986) ada 5 langkah
pengembangan pengetahuan melalui penelitian :
(a) Mengidentifikasi
masalah penelitian.
(b) Melakukan studi
empiris.
(c) Melakukan
replikasi atau pengulangan.
(d) Menyatukan
(sintesis) mereviu.
(e) Menggunakan dan
mengevaluasi oleh pelaksana.
3. Karakterstik
dan Langkah-langkah Penelitian
Bertolak dari 2 sifat dikemukakan
beberapa karakteristik dari penelitian, khususnya pendidikan : [9]
a. Objektivitas
Penelitian harus memiliki obkejtivitas baik dalam karakteristik maupun
prosedurnya. Objektivutas dicapai melalui keterbukaan terhindar dari bias dan
objektivitas. Penelitian juga harus memiliki tingkat ketetapan (percision)
secara teknis instrumen. Pengumpulan data harus memiliki validalitas dan
rehabilitas yang memadai, desain penelitian, pengambilan sample dan teknis
analisinya tepat.
b. Verifikasi
Penelitian dapat di verifikasi dalam arti dikonfirmasikan, direvisi dan
diulang dengan cara yang sama atau berbeda. Verifikasi dalam penelitian
kualitatif berbeda dengan kuantitatif, penelitian kualitatif memberikan
interprestasi deskriptif.
c. Penjelasan
Ringkas
Penelitian mencoba memberikan pebjelasan tentang hubungan antara
fenomena dan menyederhanakannya menjadi penjelasan yang ringkas. Tujuan akhir
dari suatu penelitian adalah meredutisi realita yang kompleks kedalam
penjelasan yang lengkap.
d. Empiris
Penelitian ditandai oleh sikap dan pendekatan empiris yang kuat secara
umum empiris berarti berdasarkan pengalaman praktis. Dalam penelitian empiris
kesimpulan didasarkan atas kenyataan yang diperoleh dengan metode penelitian
yang sistematik.
e. Penalaran Logis
Penalaran merupakan proses berpikir, menggunakan prinsip logika deduktif
atau induktif. Penalaran deduktif, penarikan kesimpulan dari umum ke khusus.[10]
f. Kesimpulan
Kondisional
Kesimpulan hasil penelitian tidak bersifat absolut, penelitian prilaku
dan juga ilmu kealaman tidak menghasilkan kepastian sekalipun yang relatif.
Baik kesimpulan penelitian kualitatif maupun kuantitatif bersifat kondisional.
E. Perbedaan
Ilmu Pengetahuan dengan Pengetahuan
Terdapat
beberapa definisi ilmu pengetahuan, di antaranya adalah:
1. Ilmu
pengetahuan adalah penguasaan lingkungan hidup manusia.
Definisi ini tidak diterima karena
mencampuradukkan ilmu pengetahuan dan teknologi.
2. Ilmu
pengetahuan adalah kajian tentang dunia material. Definisi ini tidak dapat
diterima karena ilmu pengetahuan tidak terbatas pada hal-hal yang bersifat
materi.
3. Ilmu pengetahuan
adalah definisi eksperimental. Definisi
ini tidak dapat diterima karena ilmu pengetahuan tidak hanya hasil/metode
eksperimental semata, tetapi juga hasil pengamatan, wawancara. Atau dapat
dikatakan definisi ini tidak memberikan tali pengikat yang kuat untuk
menyatukan hasil eksperimen dan hasil pengamatan.
4. Ilmu
pengetahuan dapat sampai pada kebenaran melalui kesimpulan logis dari
pengamatan empiris. Definisi mempergunakan metode induksi yaitu membangun prinsip-prinsip umum berdasarkan
berbagai hasil pengamatan. Definisi ini memberikan tempat adanya hipotesa,
sebagai ramalan akan hasil pengamatan yang akan datang. Definisi ini juga
mengakui pentingnya pemikiran spekulatif atau metafisik selama ada kesesuaian
dengan hasil pengamatan.[11]
Namun demikian, definisi ini tidak bersifat
hitam atau putih. Definisi ini tidak memberi tempat pada pengujian pengamatan
dengan penelitian lebih lanjut. Kebenaran yang disimpulkan dari hasil
pengamatan empiris hanya berdasarkan kesimpulan logis berarti hanya berdasarkan
kesimpulan akal sehat. Apabila kesimpulan tersebut hanya merupakan akal sehat,
walaupun itu berdasarkan pengamatan empiris, tetap belum dapat dikatakan
sebagai ilmu pengetahuan tetapi masih pada taraf pengetahuan.
Ilmu pengetahuan bukanlah hasil dari kesimpulan
logis dari hasil pengamatan, namun haruslah merupakan kerangka konseptual atau
teori yang memberi tempat bagi pengkajian dan pengujian secara kritis oleh
ahli-ahli lain dalam bidang yang sama, dengan demikian diterima secara
universal. Ini berarti terdapat adanya kesepakatan di antara para ahli terhadap
kerangka konseptual yang telah dikaji dan diuji secara kritis atau telah
dilakukan penelitian akan percobaan terhadap kerangka konseptual
tersebut.Berdasarkan pemahaman tersebut maka pandangan yang bersifat statis
ekstrim, maupun yang bersifat dinamis ekstrim harus kita tolak. Pandangan yang
bersifat statis ekstrim menyatakan bahwa ilmu pengetahuan merupakan cara
menjelaskan alam semesta di mana kita hidup. Ini berarti ilmu pengetahuan dianggap
sebagai pabrik pengetahuan. Sementara pandangan yang bersifat dinamis ekstrim
menyatakan ilmu pengetahuan merupakan kegiatan yang menjadi dasar munculnya
kegiatan lebih lanjut. Jadi ilmu pengetahuan dapat diibaratkan dengan suatu
laboratorium. Bila kedua pandangan ekstrim tersebut diterima, maka ilmu
pengetahuan akan hilang musnah, ketika pabrik dan laboratorium tersebut
ditutup.
Ilmu pengetahuan bukanlah kumpulan pengetahuan
semesta alam atau kegiatan yang dapat dijadikan dasar bagi kegiatan yang lain,
tetapi merupakan teori, prinsip, atau dalil yang berguna bagi pengembangan
teori, prinsip, atau dalil lebih lanjut, atau dengan kata lain untuk menemukan
teori, prinsip, atau dalil baru. Oleh karena itu, ilmu pengetahuan dapat
didefinisikan sebagai berikut: Ilmu pengetahuan adalah rangkaian konsep dan
kerangka konseptual yang saling berkaitan dan telah berkembang sebagai hasil
percobaan dan pengamatan yang bermanfaat untuk percobaan lebih
lanjut.Pengertian percobaan di sini adalah pengkajian atau pengujian terhadap
kerangka konseptual, ini dapat dilakukan dengan penelitian (pengamatan dan
wawancara) atau dengan percobaan (eksperimen).[12]
Bila kita analisis lebih lanjut perlu
dipertanyakan mengapa definisi ilmu pengetahuan di atas menekankan kemampuannya
untuk menghasilkan percobaan baru, berarti juga menghasilkan penelitian baru
yang pada gilirannya menghasilkan teori baru dan seterusnya – berlangsung tanpa
berhenti. Mengapa ilmu pengetahuan tidak menekankan penerapannya? Seperti yang
dilakukan para ahli fisika dan kimia yang hanya menekankan pada penerapannya
yaitu dengan mempertanyakan bagaimana alam semesta dibentuk dan berfungsi? Bila
hanya itu yang menjadi penekanan ilmu pengetahuan, maka apabila pertanyaan itu
sudah terjawab, ilmu pengetahuan itu akan berhenti.
Oleh karena itu, definisi ilmu pengetahuan
tidak berorientasi pada penerapannya melainkan pada kemampuannya untuk
menghasilkan percobaan baru atau penelitian baru, dan pada gilirannya
menghasilkan teori baru. Para ahli fisika dan kimia yang menekankan
penerapannya pada hakikatnya bukan merupakan ilmu pengetahuan, tetapi merupakan
akal sehat (common sense). Selanjutnya untuk membedakan hasil akal sehat dengan
ilmu pengetahuan William James yang menyatakan hasil akal sehat adalah sistem
perseptual, sedang hasil ilmu pengetahuan adalah sistem konseptual. Kemudian
bagaimana cara untuk memantapkan atau mengembangkan ilmu pengetahuan?
Berdasarkan definisi ilmu pengetahuan tersebut
di atas maka pemantapan dilakukan dengan penelitian-penelitian dan percobaan-percobaan.
Perlu dipertanyakan pula bagaimana hubungan antara akal sehat yang menghasilkan
perseptual dengan ilmu pengetahuan sebagai konseptual. Jawabannya adalah akal
sehat yang menghasilkan pengetahuan merupakan premis bagi pengetahuan
eksperimental. Ini berarti pengetahuan merupakan masukan bagi ilmu pengetahuan,
masukan tersebut selanjutnya diterima sebagai masalah untuk diteliti lebih
lanjut. Hasil penelitian dapat berbentuk teori baru. Sedangkan Ernest Nagel
secara rinci membedakan pengetahuan (common sense) dengan ilmu pengetahuan
(science).[13]
Perbedaan tersebut adalah sebagai berikut:
1. Dalam common
sense informasi tentang suatu fakta jarang disertai penjelasan tentang mengapa
dan bagaimana. Common sense tidak melakukan pengujian kritis hubungan sebab-akibat
antara fakta yang satu dengan fakta lain. Sedang dalam science di samping
diperlukan uraian yang sistematik, juga dapat dikontrol dengan sejumlah fakta
sehingga dapat dilakukan pengorganisasian dan pengklarifikasian berdasarkan
prinsip-prinsip atau dalil-dalil yang berlaku.
2. Ilmu
pengetahuan menekankan ciri sistematik. Penelitian ilmiah bertujuan untuk
mendapatkan prinsip-prinsip yang mendasar dan berlaku umum tentang suatu hal.
Artinya dengan berpedoman pada teori-teori yang dihasilkan dalam penelitian-penelitian
terdahulu, penelitian baru bertujuan untuk menyempurnakan teori yang telah ada
yang berkaitan dengan masalah yang diteliti. Sedang common sense tidak
memberikan penjelasan (eksplanasi) yang sistematis dari berbagai fakta yang
terjalin. Di samping itu, dalam common sense cara pengumpulan data bersifat
subjektif, karena common sense sarat dengan muatan-muatan emosi dan perasaan.
3. Dalam
menghadapi konflik dalam kehidupan, ilmu pengetahuan menjadikan konflik sebagai
pendorong untuk kemajuan ilmu pengetahuan.Ilmu pengetahuan berusaha untuk
mencari, dan mengintroduksi pola-pola eksplanasi sistematik sejumlah fakta
untuk mempertegas aturan-aturan. Dengan menunjukkan hubungan logis dari
proposisi yang satu dengan lainnya, ilmu pengetahuan tampil mengatasi konflik.
4. Kebenaran yang
diakui oleh common sense bersifat tetap, sedang kebenaran dalam ilmu
pengetahuan selalu diusik oleh pengujian kritis. Kebenaran dalam ilmu
pengetahuan selalu dihadapkan pada pengujian melalui observasi maupun
eksperimen dan sewaktu-waktu dapat diperbaharui atau diganti.
5. Perbedaan
selanjutnya terletak pada segi bahasa yang digunakan untuk memberikan
penjelasan pengungkapan fakta. Istilah dalam common sense biasanya mengandung
pengertian ganda dan samar-samar. Sedang ilmu pengetahuan merupakan
konsep-konsep yang tajam yang harus dapat diverifikasi secara empirik.
6. Perbedaan yang
mendasar terletak pada prosedur. Ilmu pengetahuan berdasar pada metode ilmiah.
Dalam ilmu pengetahuan alam (sains), metoda yang dipergunakan adalah metoda
pengamatan, eksperimen, generalisasi, dan verifikasi. Sedang ilmu sosial dan
budaya juga menggunakan metode pengamatan, wawancara, eksperimen, generalisasi,
dan verifikasi. Dalam common sense cara mendapatkan pengetahuan hanya melalui
pengamatan dengan panca indera. Dari berbagai uraian berdasarkan pandangan
tokoh-tokoh tersebut dapatlah dikatakan: ilmu pengetahuan adalah kerangka
konseptual atau teori uang saling berkaitan yang memberi tempat pengkajian dan
pengujian secara kritis dengan metode ilmiah oleh ahli-ahli lain dalam bidang
yang sama, dengan demikian bersifat sistematik, objektif, dan universal. Sedang
pengetahuan adalah hasil pengamatan yang bersifat tetap, karena tidak
memberikan tempat bagi pengkajian dan pengujian secara kritis oleh orang lain,
dengan demikian tidak bersifat sistematik dan tidak objektif serta tidak
universal.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan
uaraian di atas dapat dibuat kesimpulan sebagai berikut :
1. Ada perbedaan
prinsip antara ilmu dengan pengetahuan. Ilmu merupakan kumpulan dari berbagai
pengetahuan, dan kumpulan pengetahuan dapat dikatakan ilmu setelah memenuhi
syarat-syarat objek material dan objek formal
2. Ilmu bersifat
sistematis, objektif dan diperoleh dengan metode tertentu seperti observasi,
eksperimen, dan klasifikasi. Analisisnya bersifat objektif dengan menyampingkan
unsur pribadi, mengedepankan pemikiran logika, netral (tidak dipengaruhi oleh
kedirian atau subjektif).
3. Pengetahuan
adalah keseluruhan pengetahuan yang belum tersusun, baik mengenai matafisik
maupun fisik, pengetahuan merupakan informasi yang berupa common sense, tanpa
memiliki metode, dan mekanisme tertentu. Pengetahuan berakar pada adat dan
tradisi yang menjadi kebiasaan dan pengulangan-pengulangan. Dalam hal ini
landasan pengetahuan kurang kuat cenderung kabur dan samar-samar. Pengetahuan
tidak teruji karena kesimpulan ditarik berdasarkan asumsi yang tidak teruji
lebih dahulu. Pencarian pengetahuan lebih cendrung trial and error dan
berdasarkan pengalaman belaka
4. Dalam penulisan
karangan ilmiah atau penulisan lainnya harus dibedakan antara ilmu dengan
pengetahuan, agar kekaburan makna dari kata tersebut tidak terjadi.
B. Saran
Ada pun saran dari kami adalah semoga penemuan-penemuan di bidang ilmu
pengetahuan yang ada atau pun yang nanti nya akan berkembang lagi dapat di
gunakan sebaik mungkin dan dapat bermafaat bagi semua masyarakat dunia.
DAFTAR
PUSTAKA
Jujun S. Suriasumantri, Filsafat
Ilmu . Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2003.
Bakhtiar Amsal. Filsafat Ilmu. PT
Raja Granfindo Persada. Jakarta. 2006.
Surajiyo. Ilmu Filsafat. Jakarta.
2005.
Jerume R. Rovertz. Filsafat Ilmu.
Pustaka Pelajar. Yogyakarta. 2006.
Soetriono, Hanafie Rita. Filsafat
Ilmu dan Metodologi Penelitian. C.V Andi Offset. Yogyakarta. 2007.
Surajiyo. Filsafat Ilmu. Bumi
Angkasa. Jakarta. 2010.
[8] Soetriono, Hanafie Rita. Filsafat Ilmu dan Metodologi Penelitian.
(C.V Andi Offset. Yogyakarta. 2007) h. 126
No comments:
Post a Comment