Sunday, April 22, 2018

Makalah Pendekatan Kajian Islam Bidang Keilmuan Pendidikan


BAB 1
PENDAHULUAN
 
A.    Latar Belakang
Pendidikan Islam sebagai sebuah sistem adalah suatu kegiatan yang didalamnya terkandung aspek tujuan, kurikulum, guru, metode, pendekatan, sarana prasarana, lingkungan, adminstrasi, dan sebagainya yang antara satu dan lainnya saling berkaitan dan membentuk suatu sistem yang terpadu. Dalam proses pendidikan Islam, pendekatan dan metode memiliki kedudukan yang sangat signifikan untuk mencapai tujuan. Bahkan melalui pendekatan dan metode sebagai seni dapat mentransfer ilmu pengetahuan/materi pelajaran kepada peserta didik dianggap lebih signifikan dibanding dengan materi itu sendiri.
Sebuah realita bahwa cara penyampaian yang komunikatif lebih disenangi oleh peserta didik walaupun sebenarnya materi yang disampaikan sesungguhnya tidak terlalu menarik. Sebaliknya, sebagus apapun materi yang akan kita ajarkan, kalau cara atau metodenya kurang tepat maka semua itu tidak akan bisa dicerna oleh peserta didik, sehingga tujuan yang sudah kita tetapkan akan sia-sia dan percuma. Oleh karena itu penerapan metode dan pendekatan yang tepat sangat mempengaruhi pencapaian keberhasilan dalam proses belajar mengajar. Pendekatan dan metode yang tidak tepat akan berakibat terhadap pemakaian waktu yang tidak efesien.
Keberhasilan penggunaan suatu pendekatan dan metode merupakan keberhasilan proses pembelajaran yang pada akhirnya berfungsi sebagai diterminasi kualitas pendidikan. Sehingga pendekatan dan metode pendidikan yang dikehendaki akan membawa kemajuan pada semua bidang ilmu pengetahuan dan keterampilan.



B.     Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan pendidikan dalam islam?
2.      Bagaimana Perkembangan Model Pendekatan dalam Studi Islam?
3.      Apa saja Pendekatan Studi Islam dalam Pendidikan ?

C.    Tujuan Pembahasan
Pembahasan  makalah ini memiliki tujuan sebagai berikut :
1.      Untuk mengetahui pendidikan dalam Islam
2.      Untuk memahami Perkembangan Model Pendekatan dalam Studi Islam
3.      Untuk memahami Pendekatan Studi Islam dalam Pendidikan








BAB II
PEMBAHASAN

A.    Konsep Pendidikan dalam Islam
Pendidikan dalam islam adalah suatu konsep pendidikan yang berlandaskanpada Agama islam. Pendidikan islam juga dapat diartikan sebagai penegnalan dan pengakuan yang secara berangsur ditanamkan kepada diri manusia. Menurut Athiyah Al-Abrasy, pendidikan ilsam adalah mempersiapkan diri manusia supaya hidup dengan sempurna dan bahagia, mencintai tanah air, tegap jasmaninya, sempurna budi pekertinya, pola pikirnya teratur dengan rapi, perasaanya halus, profesional dalam bekerja dan manis tutur katanya.
Menurut Ahamd D. Marimba, pendidikan islam adalah bimbingan jasmani dan rohani berdasarkan hokum-hukum islam menuju kepada terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran islam.  Sedangkan menurut Syeh Muhammad Naquid Al-Attas, pendidikan adalah suatu proses penanaman sesuatu kedalam diri manusia mengacu kepada metode dan sistem penanaman secara bertahap, dan kepada manuisa penerima proses dan kandungan pendidikan tersebut.
Pendidikan dalam bahasa indonesia berasal dari kata “didik” dengan memberinya awalan “pe” dan akhiran “kan” mengandung arti “perbuatan”. Istilah pendidikan semula berasal dari kata Yunani yaitu “paedogogie”, yang berarti bimbingan yang diberikan kepada anak. istilah ini diterjemahkan ke dalam bahasa inggris dengan “education” yang berarti pengembangan atau bimbingan. [1]
Merujuk kepada informasi al-Qur’an pendidikan mencakup segala aspek jagat raya ini, bukan hanya terbatas pada manusia semata, yakni dengan menempatkan Allah sebagai Pendidik Yang Maha Agung. Konsep pendidikan al-Qur’an sejalan dengan konsep pendidikan Islam yang dipresentasikan melalui kata tarbiyah, ta’lim dan ta’dib.
Tarbiyah berasal dari kata Robba, pada hakikatnya merujuk kepada Allah selaku Murabby (pendidik) sekalian alam. Kata Rabb (Tuhan) dan Murabby (pendidik) berasal dari akar kata seperti termuat dalam ayat al-Qur’an:
وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرا ً
“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil". (Q.S. Al-Israa:24)
Menurut Syed Naquib Al-Attas, al-tarbiyah mengandung pengertian mendidik, memelihara menjaga dan membina semua ciptaan-Nya termasuk manusia, binatang dan tumbuhan (Jalaluddin, 2003: 115). Sedangkan Samsul Nizar menjelaskan kata al-tarbiyah mengandung arti mengasuh, bertanggung jawab, memberi makan, mengembangkan, memelihara, membesarkan, menumbuhkan dan memproduksi baik yang mencakup kepada aspek jasmaniah maupun rohaniah.[2]
Kata Rabb di dalam Al-Qur’an diulang sebanyak 169 kali dan dihubungkan pada obyek-obyek yang sangat banyak. Kata Rabb ini juga sering dikaitkan dengan kata alam, sesuatu selain Tuhan. Pengkaitan kata Rabb dengan kata alam tersebut seperti pada surat Al-A’raf ayat 61:
قَالَ يَاقَوْمِ لَيْسَ بِي ضَلاَلَة ٌ وَلَكِنِّي رَسُول ٌ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ
 “ Nuh menjawab: Hai kaumku, tak ada padaku kesesatan sedikitpun tetapi aku adalah utusan Tuhan semesta alam.”
Pendidikan diistilahkan dengan  ta’dib, yang berasal dari kata kerja “addaba” . Kata al-ta’dib diartikan kepada proses mendidik yang lebih tertuju pada pembinaan dan penyempurnaan akhlak atau budi pekerti peserta didik.[3] Kata ta’dib tidak dijumpai langsung dalam al-Qur’an, tetapi pada tingkat operasional, pendidikan dapat dilihat pada praktek yang dilakukan oleh Rasulullah. Rasul sebagai pendidik agung dalam pandangan pendidikan Islam, sejalan dengan tujuan Allah mengutus beliau kepada manusia yaitu untuk menyempurnakan akhlak .  Allah juga menjelaskan, bahwa sesungguhnya Rasul adalah sebaik-baik contoh teladan bagi kamu sekalian. [4]
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَة ٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرا
 “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”(Q.S. Al-Ahzab, 21)
Selanjutnya Rasulullah Saw meneruskan wewenang dan tanggung jawab tersebut kepada kedua orang tua selaku pendidik kodrati. Dengan demikian status orang tua sebagai pendidik didasarkan atas tanggung jawab keagamaan, yaitu dalam bentuk kewajiban orang tua terhadap anak, mencakup memelihara dan membimbing anak, dan memberikan pendidikan akhlak kepada keluarga dan anak-anak.
Pendidikan disebut dengan ta’lim yang berasal dari kata ‘alama berkonotasi pembelajaran yaitu semacam proses transfer ilmu pengetahuan. Dalam kaitan pendidikan ta’lim dipahami sebagai sebagai proses bimbingan yang dititikberatkan pada aspek peningkatan intelektualitas peserta didik.[5] Proses pembelajaran ta’lim secara simbolis dinyatakan dalam informasi al-Qur’an ketika penciptaan Adam As oleh Allah Swt. Adam As sebagai cikal bakal dari makhluk berperadaban (manusia) menerima pemahaman tentang konsep ilmu pengetahuan langsung dari Allah Swt, sedang dirinya (Adam As) sama sekali kosong. Sebagaimana tertulis dalam surat al-Baqarah ayat 31 dan 32:
وَعَلَّمَ آدَمَ الأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلاَئِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَاؤُلاَء إِنْ كُنتُمْ صَادِقِينَ
 “Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar.”
قَالُوا سُبْحَانَكَ لاَ عِلْمَ لَنَا إِلاَّ مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ
 “ Mereka menjawab, “Maha suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami, sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
Dari ketiga konsep diatas, terlihat hubungan antara tarbiyah, ta’lim dan ta’dib. Ketiga konsep tersebut menunjukkan hubungan teologis  (nilai tauhid) dan teleologis (tujuan) dalam pendidikan Islam sesuai al-Qur’an yaitu membentuk akhlak al-karimah

B.     Perkembangan Model Pendekatan dalam Studi Islam
Perkembangan pengaruh global terhadap penduduk muslim dunia menyebabkan Islam mendapat perhatian besar dalam studi agama. Pemahaman tentang Islam sebagai agama dan pemahaman tentang agama dari sudut pandang Islam merupakan persoalan yang perlu dielaborasikan, dalam diskusi dan pembahasan para pelajar di bidang studi agama.[6] Berbagai peristiwa di Timur Tengah dan di dunia Islam lainnya juga ikut mendorong sejumlah sarjana, jurnalis dan kaum terpelajar, termasuk dari Barat, untuk menulis karya-karya baru tentang Islam.
Studi Islam sebagai sebuah disiplin, sebenarnya sudah dimulai sejak lama. Studi ini mempunyai akar yang kokoh di kalangan sarjana muslim. Mereka telah mengupayakan interpretasi tentang Islam dan hal ini terus berlanjut hingga sekarang. Ketika terjadi kontak antara orang Kristen dan orang Islam, studi Islam mulai memasuki wilayah Kristen Eropa pada masa pertengahan. Pada masa ini, kajian lebih diwarnai oleh tujuan polemik karena Islam dipahami dengan pemahaman yang tidak layak oleh kalangan orientalis. Namun hal ini memperoleh manfaat besar dari perkembangan metodologi dan kajian ilmiah di Barat.[7]
Jika dilacak, sejarah pertumbuhan studi Islam, dapat dilihat pada abad ke-19, di mana kajian Islam pada masa ini lebih menekankan pada tradisi filologi. Para pengkajinya berasal dari kalangan pakar bahasa, ahli teks-teks kunci klasik, yang melalui bahasa dan teks klasik itu mereka dapat memahami gagasan-gagasan dan konsep-konsep utama yang membentuk umat Islam, tanpa memahami konteks.
Pendekatan filologi (philogical approach) menekankan pada bahasa teks. Melalui bahasa dan teks klasik mereka dapat memahami gagasan-gagasan dan konsep-konsep utama tanpa memahami konteks. Namun pendekatan ini memiliki keterbatasan, di antaranya adalah penekanannya eksklusif terhadap teks. Dunia Islam dipahami melalui cara tidak langsung, tidak dengan melakukan penelitian tentang kehidupan masyarakat muslim yang ada di masyarakatnya. Kajian ini hanya berfokus pada tulisan-tulisan muslim, bukan pada muslimnya sendiri.[8]
Setelah mengetahui kelemahan filologi para pengkaji menggunakan kajian baru yaitu pendekatan sains. Pendekatan ini berdasarkan keyakinan bahwa semua masyarakat akan mengalami proses perkembangan historis. Kelemahan :
1.      Perhatian yang lebih pada fungsi daripada bentuk-bentuk atau muatan kultural dari institusi sosial.
2.      Selalu mengesampingkan keunikan masyarakat, menyamakan semua masyarakat di dunia, yang berjalan di atas rute yang sama, menuju modernitas.
Karena kelemahan keduanya maka para pengkaji memunculkan pendekatan fenomenologi. Pendekatan ini menggunakan dasar/pendekatan sejarah yang paling penting dan universal, dan fenomenologi diartikan oleh Charles J. Adams sebagai metode memenuhi agama orang lain dengan cara menempatkan diri pada posisi netral.[9]

C.    Berbagai Pendekatan Studi Islam dalam Pendidikan
Pendekatan berarti proses, perbuatan, dan cara mendekati. Dari pengertian ini pendekatan pendidikan' dapat diartikan sebagai suatu proses, perbuatan, dan cara mendekati dan mempermudah pelaksanaan pendidikan. Jika dalam kegiatan pendidikan, metode berfungsi sebagai cara mendidik, maka pendekatatan berfungsi sebagai alat bantu agar penggunaan metode tersebut mengalami kemudahan dan keberhasilan. [10]
Selain metode-metode memiliki peranan penting dalam kegiatan pendidikan Islam, pendekatan-pendekatan juga menempati posisi yang berarti pula untuk memantapkan penggunaan metode-metode tersebut dalam proses pendidikan, terutama proses belajar mengajar. Pendekatan pendidikan Islam yang seharusnya dipahami dan dikembangkan oleh para pendidik adalah meliputi:
1.      Pendekatan Psikologis. Yang tekanannya diutamakan pada dorongan-dorongan yang bersifat persuasif dan motivatif, yaitu suatu dorongan yang mampu menggerakan daya kognitif (mencipta hal-hal baru), konatif (daya untuk berkemauan keras), dan afektif (kemampuan yang menggerakkan daya emosional). Ketiga daya psikis tersebut dikembangkan dalam ruang lingkup penghayatan dan pengamalan ajaran agama di mana faktor-faktor pembentukan kepribadian yang berproses melalui individualisasi dan sosialisasi bagi hidup dan kehidupannya menjadi titik sentral perkembangannya.
2.      Pendekatan sosial-kultural: yang ditekankan pada usaha pengembangan sikap pribadi dan sosial sesuai dengan tuntutan masyarakat, yang berorientasi kepada kebutuhan hidup yang semakin maju dalam berbudaya dan berperadaban. Hal ini banyak menyentuh permasalahan-permasalahan inovasi ke arah sikap hidup yang alloplastis (bersifat membentuk lingkungan sesuai dengan ide kebudayaan modern yang dimilikinya), bukannya bersifat auto plastis (hanya sekedar menyesuaikan diri dengan lingkungan yang ada)
3.      Pendekatan Religik. Yakni suatu pendekatan yang membawa keyakinan (aqidah) dan keimanan dalam pribadi anak didik yang cenderung ke arah komprehensif intensif dan ekstensif (mendalam dan meluas). Pandangan yang demikian, terpancar dari sikap bahwa segala, ilmu pengetahuan itu pada hakikatnya adalah mengandung nilai-nilai ke-Tuhanan. Sikap yang demikian harus di internalisasikan (dibentuk dalam pribadi) dan di eksternalisasikan (dibentuk dalam kehidupan di luar diri pribadinya. [11]
4.      Pendekatan historis, yang ditekankan pada usaha pengembangan pengetahuan, sikap dan nilai keagamaan melalui proses kesejarahan. Dalam hubungan ini penyajian serta faktor waktu secara kronologis menjadi titik tolak yang dipertimbangkan dan demikian pula faktor keteladanan merupakan proses identifikasi dalam rangka mendorong penghayatan dan pengamalan agama.
5.      Pendekatan komparatif. Yaitu pendekatan yang dilakukan dengan membandingkan suatu gejala sosial keagamaan dengan hukum agama yang ditetapkan selaras dengan siatuasi dan zamannya. Pendekatan komparatif ini sering diwujudkan dalam bentuk komparatif  studi, baik di bidang hukum agama maupun j uga antara hukum agama itu sendiri dengan hukum lain yang berjalan, seperti hukum adat, hukum pidana/perdata, dan lain-lain.
6.      Pendekatan filosofis. Yaitu pendekatan yang berdasarkan tinjauan atau pandangan falsafah. Pendekatan demikian cenderung kepada usaha mencapai kebenaran dengan memakai akal atau rasio. Pendekatan filosofis sering dipergunakan sekaligus dengan pola berpikir yang rasional dan membandingkan dengan pendapat-pendapat para ahli filsafat dari berbagai kurun zaman tertentu beserta aliran filsafatnya.
Pendekatan dalam pendidikan Islam merupakan suatu cara untuk mempermudah dalam kelangsungan belajar mengajar. Sehingga tercapai tujuan pendidikan yang diharapkan dan lebih bisa menunjukkan keberhasilan pendidikan anak didik yang berdasarkan Skill yang dimilikinya.


BAB III
PENUTUP
A.        Kesimpulan
Pendidikan Islam merupakan usaha dan kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka menyampaikan sebuah agama, dengan berdakwah, menyampaikan ajaran, memberi contoh, melatih keterampilan dan berbuat, menciptakan kepribadian Muslim. Dalam rangka membentuk itu semua, untuk mengajukan pendidikan Islam yang ada, misalnya dalam perkembangan kemajauan intelektual pendidikan.
Metode dan pendekatan yang di jalankan dalam pendidikan islam merupakan suatu cara, alat untuk lebih meningkatkan tarap kemampuan dan keintelektualan bagi peserta didik. Dalam hal ini semua, metode dan pendekatan dalam pendidikan Islam yaitu usaha, jalan untuk meningkatkan serius dalam diri muslim itu sendiri. dan kemajuan akhlak yang ada bagi peserta didik.

B.         Saran
Dari makalah yang saya buat semoga bisa diterima oleh Tiem Dosen Penguji dan menjadikan manfaat bagi kita semua. Namun, penulis menyadari dari pembuatan makalah ini banyak sekali kesalahan baik dari tulisan maupun kata-katanya. Penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun


DAFTAR PUSTAKA

Arifin Muzain, Ilmu Pendidikan  Islam, (Jakarta : Bumi Askara, 1996)

Ayzumardi azra, Pendidikan Islam (Tradisi Dan Modernisasi Menuju Milenium Baru) (ciputat : Logos, 2000)

Koentjaraningrat, Metode-metode Penelitian Masyarakat (Jakarta: Gramedia, 1983)

Taufik Abdullah dan M. Rusli Karim (ed.), Metodologi Penelitian Agama, Sebuah Pengantar (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1990)

Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam. (Jakarta : kalam mulia. 2006)

Amin Abdullah, Studi Agama; Normativitas atau Historisitas (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002)

Zakiyah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam. (Jakarta : Bumi Askara, 1992)

Nizar, Samsul, Pengantar Dasar-Dasar Pemikiran Pendidikan Islam, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2001)

Jalaluddin, Teologi Pendidikan, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2003)


[1] Arifin Muzain, Ilmu Pendidikan  Islam, (Jakarta : Bumi Askara, 1996) h.160
[2] Nizar, Samsul, Pengantar Dasar-Dasar Pemikiran Pendidikan Islam, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2001) h. 87
[3] Nizar, Samsul, Pengantar Dasar-Dasar Pemikiran Pendidikan Islam,  … h. 90
[4] Jalaluddin, Teologi Pendidikan, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2003) h. 125
[5] Jalaluddin, Teologi Pendidikan,  … h. 126
[6] Ayzumardi azra, Pendidikan Islam (Tradisi Dan Modernisasi Menuju Milenium Baru) (ciputat : Logos, 2000) h. 3
[7] Koentjaraningrat, Metode-metode Penelitian Masyarakat (Jakarta: Gramedia, 1983), h. 20
[8] Taufik Abdullah dan M. Rusli Karim (ed.), Metodologi Penelitian Agama, Sebuah Pengantar (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1990), h. 92
[9] Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam. (Jakarta : kalam mulia. 2006) hlm.256
[10] Amin Abdullah, Studi Agama; Normativitas atau Historisitas (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002), h. 61.
[11] Zakiyah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam. (Jakarta : Bumi Askara, 1992), h. 27

No comments:

Post a Comment