Thursday, April 19, 2018

MAKALAH LINGKUNGAN PENDIDIKAN


BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang
Lingkungan pendidikan Islam merupakan karakter pendidikan yang semstinya diberlakukan secara nasional di negara kita. Islam adalah manhaj Rabbani yang sempurna, tidak membunuh fitrah manusia, dan diturunkan untuk membentuk pribadi yang sempurna dalam diri manusia artinya, pendidikan Islam dapat membentuk pribadi yang mampu mewujudkan keadilan ilahiah dalam komunitas manusia serta mampu mendayagunakan.., sebab bagaimanapun bila berbicara tentang lembaga pendidikan sebagai wadah berlansungnya pendidikan maka tentunya akan  menyangkut masalah lingkungan dimana pendidikan tersebut dilaksanakan. Berbicara lingkungan pendidikan Islam berarti kita akan berbicara keluarga , sekolah, dan masyarakat.
Lingkungan yang nyaman dan mendukung terselenggaranya suatu pendidikan amat dibutuhkan dan turut berpengaruh terhadap  pencapaian tujuan pendidikan yang diinginkan. Demikian pula dalam sistem pendidikan Islam, lingkungan harus diciptakan sedemikian rupa sesuai dengan karakteristik pendidikan Islam itu sendiri.
KI Hajar Dewantara menganggap ketiga lembaga pendidikan tersebut sebagi tripusat pendidikan maksudnya tiga pusat pendidikan yang secara bertahap dan terpadu mengembang suatu tanggung jawab pendidikan bagi generasi mudanya.
Dari urian diatas dapat diketahui bagaimana pentingnya Lingkungan terhadap terjadinya proses pendidikan terutama pendidikan Islam. Oleh karena itu, pada makalah ini akan di bahas mengenai “Lingkungan dalam Pendidikan Islam”.



B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalah dalam makalah ini adalah :
1.      Apa yang dimaksud dengan pengertian lingkungan pendidikan?
2.      Apa saja Macam-macam Lingkungan dan Atmosfer Akademik?
3.      Bagaimana pandangan islam tentang lingkungan?
4.      Apa saja macam-macam lingkungan pendidikan dalam Islam?

C.     Tujuan   
Tujuan pembahasan makalah ini adalah ;
1.      Untuk mengetahui pengertian lingkungan pendidikan
2.      Untuk memahami Macam-macam Lingkungan dan Atmosfer Akademik
3.      Untuk memahami pandangan islam tentang lingkungan
4.      Untuk memahami macam-macam lingkungan pendidikan dalam Islam


BAB II
PEMBAHASAN

A.     Pengertian dan Tujuan Lingkungan Pendidikan
Secara harfiah lingkungan dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang mengitari kehidupan, baik berupa fisik scperti alam jagat raya dengan segala isinya, maupun berupa nonfisik, seperti suasar.a kehidupan beragama, nilai-nilai dan adat istiadat yang berlaku di masyarakat, ilmu pengetahuan dan kebudayaan yang berkembang, serta teknologi. Kedua lingkungan tersebut badir secara kebetulan, yakni tanpa dim- inta dan direncanakari oleh manusia. Seseorang yang lahir di Indonesia dengan lingkungan alainnya, afau yang lahir di Ametika Serikat dengan lingkungan alamnya pula, bukanlah atas permintaannya sendiri. Demikian pula orang-orang yang menjadi orang tuanya, saudaranya, tetangganya, dan lainnya terjadi secara kebetulan dilihat dari sudut pandang manusia, dan merupakan takdir Tuhan dilihat dari sudut pandang Tuhan.[1]
Lingkungan merupakan salah satu faktor pendidikan yang ikut serta menentukan corak pendidikan islam, yang tidak sedikit pengaruhnya terhadap anak didik. Lingkungan pendidikan adalah tanggung jawab siapa yang melaksanakan dalam pendidikan itu. Hal ini berkenaan dengan tiga pusat lingkungan pendidikan, lingkungan pendidikan di keluarga, lingkungan pendidikan di sekolah, dan lingkungan pendidikan di masyarakat. [2]
Dalam arti yang luas lingkungan mencakup iklim dan geografis, tempat tinggal, adat istiadat, pengetahuan, pendidikan dan alam. Dengan kata lain lingkungan adalah segala sesuatu yang tampak dan terdapat dalam alam kehidupan yang senantiasa berkembang. [3] 
Lingkungan fisik dan nonfisik tersebut demikian inelekat dalam kehidupan manusia dan mengelilinginya. Itulah yang selanjutnya menjadi ciri khas lingkungan dan membentuk semacam suasana yang khas (atmosfer) bagi kehidupan. Karena lingkungan tersebut demikian kuat dan besar pengaruhnya bagi kehidupan manusia, khususnya menurut aliran behaviorisme dan empirisme, maka lingkungan tersebut harus memiliki nilai-nilai pendidikan, yaitu lingkungan yang rnemberi pe- ngaruh positif bagi pembentukan pola pikiran, sikap,’ dan perbuatan manusia, yang pada gilirannya dapat membentuk kepribadian dan   karakter manusia. Lingkungan yang demikian itulah yang selanjutnya disebut lingkungan pendidikan, vakni lingkungan yang mendidik.
Lingkungan yang mengandung nilai pendidikan itu dapat dicontohkan dengan lingkungan lingkungan pesantren. Secara fisik, di pesantren terdapat masjid, asrama atau pondokan, rumah kiai, santri, dan kitab kuning. Kelima ciri fisik tersebut hanya ada di pesantren, khususnya pesantren tradisional. Di tempat lain secara terpisah-pisah bisa dijumpai adanya masjid (di kampung-kampung atau di kota-kota yang berpenduduk mayoritas muslim), adanya kitab kuning (di pasar- pasar) dan seterusnya. Namun masing-masing unsur atau komponen tersebut terpisah-pisah dan tidak mernbentuk sebagai satu kesatuan lingkungan fisik sebagaimana yang terdapat di pesantren. Selanjutnya secara nonfisik, di pesantren terdapat nilai-nilai yang dipahami, dihayati dan diamalkan dalam kehidupan sehari. Nilai-nilai tersebut se- bagian besar didominasi oleh nilai-nilai fiqh dan tasawuf. Nilai-nilai fiqh terlihat dari sikap dan pandangan para santri terhadap sesuatu yang dihubungkan dengan status hukumnya, serta dalam kebiasaan- nya menjalankan ibadah shalat berjama’ah.[4] Adapun nilai-nilai tasawuf terlihat dari sikap dan prilaku para santri yang cenderung sederhana (zuhud), tawadlu’ (rendah hati), sabar, tawakal, ikhlas, dan qana’ah. Nilai-nilai tasawuf ini mereka dapati dari informasi yang terdapat dalam berbagai kitab kuning yang mereka pelajari, seperti Kilab Ta’lim Muta’allim Thuruq al-Ta’allum, karangan Burhanuddin al-Jarnuji; Kitab Nashaih al-Ibad, karangan al-Nawawiy, Kitab Ihya' Ulum al- Din, karangan Imam al-Ghazali, dan sebagainya.
Baik lingkungan fisik maupun nonfisik sebagaimana tersebut di atas selanjutnya menjadi ciri khas lingkungan pesantren, yang selanjutnya menjadi suasana yang khas bagi kegiatan pendidikan. Inilah yang selanjutnya dapat disebut sebagai atmosfer akademik.

B.     Macam-macam Lingkungan dan Atmosfer Akademik
Konsep lingkungan dalam hubungannya dengan pendidikan dan manusia sebagai makhluk yang merdeka, memiliki daya pilih yang kuat, serta berbagai potensi jasmani, rohani dan spiritual yang dimi- likinya, telah menimbulkan berbagai aliran yang antara satu dan lain- nya menunjukkan perbedaan yang sangat mencolok. Berbagai aliran tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut.
Pertama, aliran empirisme atau behaviorisme dari John Locke. Menurut aliran ini, manusia atau peserta didik dianggap sebagai gelas kosong yang dapat diisi apa saja oleh pemiliknya. Peserta didik dinilai sebagai yang pasif seperti robot yang mengikuti dan tunduk sepenuhnya kepada pemiliknya. Murid ibarat kertas putih yang kosong yang dapat ditulis apa saja oleh pemiliknya. [5]
Menurut aliran yang ekstrem luar (eksternal) ini, bahwa watak dan karakter peserta didik ditentukan oleh faktor dari luar yang ditransmisikan oleh pendidik. Dengan pandangan empirisme ini, maka yang menentukan dan aktif dalam pendidikan ialah guru (teacher centris). Pandangan empirisme dan behaviorisme ini selanjutnya menjadi sebuah aliran yang memiliki paradigma belajar sebagai berikut:
1.      Memandang bahwa ilmu pengetahuan sebagai hal yang objektif, pasti, tetap, dan tidak berubah. Karenanya ilmu pengetahuan tidak lagi perlu diperdebatkan oleh peserta didik atau siapa pun. Tugas guru menyampaikan ilmu pengetahuan tersebut, sedangkan tugas peserta didik adalah menerima ilmu pengetahuan tersebut.
2.      Memandang belajar sebagai upaya memper- oleh pengetahuan, dan mengajar dinilai sebagai upaya menvampaikari ilmu pengetahuan.
3.      Mengharapkan agar seluruh peserta didik memperoleh pengetahuan dan pemaharnan yang sama.
4.      Tujuan pembelajaran ditentukan pada penambahan ilmu pengetahuan.
5.      Penyajian isi pelajaran menekankan pada keterampilan yang terpisah dan terakumulasi pada fakta yang mengikuti tiruan dari bagian keseluruhan.
6.      Pembelajaran mengikuti urutan kurikulum secara ketat, dan aktivitas belajar lebih banyak didasarkan pada buku teks dan keterampilan, dan menekankan pada respons positif dengan menggunakan paper dan pensil tes.
Pada aliran empirisme dan behaviorisme inilah faktor lingkungan dan atmosfer akademik sangat menentukan keberhasilan pendidikan dan pengajaran. Dengan kata lain, bahwa setiap kali berbi- cara tentang lingkungan dan atmosfer akademik, maka sesungguhnya yang dibicarakan adalah pengaruh lingkungan dan atmosfer akademik tersebut dalam menentukan keberhasilan pendidikan. Pada aliran ini guru dianggap aktif dan menentukan. Adapun murid dianggap pasif dan ditentukan. Berbagai teori pendidikan yang menaukung aliran ini sungguh amat kuat hingga sekarang. Skinner sebagai penganut paham ini misalnya pernah berkata: berikanlah aku sepuluh orang, maka masing-masing orang tersebut akan aku bentuk sesuai dengan keinginanku, yakni apakah akan menjadi seorang ekonom, politik, budaya, sastrawan, agamawan, dan sebagainya.[6]
Kedua, aliran nativisme dari Scopenhaur. Menurut aliran ini, bahwa yang menentukan seseorang menjadi apa saja, bukanlah lingkungan sebagaimana yang dianut oleh behaviorisme dan empirisme sebagaimana disebutkan di atas, melainkan watak, pembawaan dan potensi yang dimiliki seorang peserta didik dari sejak lahir. Berdasarkan pandangan ini, maka keberhasilan pendidikan ditentukan oleh anak didik itu sendiri. Pembawaan yang jahat akan menjadi jahat, dan pembawaan yang buruk akan menjadi buruk. Pendidikan yang tidak sesuai dengan bakat dan pembawaan anak didik tidak akan berguna untuk perkembangan anak sendiri. Meskipun pandangan ini mengakui pentingnya belajar, namun pengalaman dalam belajar itu atauputi penerimaan dan persepsi seseorang banyak ditentukan oleh kemampuan memberi makna kepada apa yang dialaminya itu. Dengan kata lain, bahwa pengalaman belajar ditentukan oleh “internal frame of reference”, yang dimilikinya. Pendekatan ini sangat mementingkan pandangan holistik (menyeluruh. Gestalt), serta pema'naman perilaku orang dari sudut pandang si empunya perilaku itu. Intinya aliran nativisme sebagai lawan atau kebalikan dari paham empirisme sebagaimana tersebut di atas. Jika pada aliran empirisme, lingkungan sangat menentukan dan berpengaruh terhadap pembentukan kepribadian seseorang, maka pada aliran nativisme. lingkungan sama sekali tidak menentukan dan tidak berpengaruh terhadap pembentukan kepribadian seseorang.
Ketiga, aliran konvergensi Aliran ini dirintis oleh William Stern (1871-1939), seorang ahli pendidikan bangsa Jerman yang berpenda- pat, bahwa seorang anak dilahirkan di dunia sudah disertai pembawaan baik dan pembawaan buruk. Penganut aliran ini berpendapat, bahwa dalam proses perkembangan anak, baik faktor pembawaan maupun faktor lingkungan sama-sama mempunyai peranan yang sangat pen- ting.
Bakat yang dibawa pada waktu lahir tidak akan berkembang dengan baik tanpa adanya dukungan lingkungan yang sesuai dengan bakat itu. Sebaliknya, lingkungan yang baik tidak dapat menghasilkan perkembangan anak yang optimal, kaiau memang pada diri anak tidak terdapat bakat yang diperlukan untuk mengembangkan itu. Sebagai contoh, hakikat kemampuan anak manusia berbahasa dengan kata- kata, ialah juga hasil konvergensi. [7]
Aliran konvergensi pada umumnya diterima secara luas sebagai pandangan yang tepat dalam memahami tumbuh kembang manusia. Meskipun demikian, terdapat variasi pendapat tentang faktor-faktor mana yang paling dominan dalam menentukan tumbuh kembang manusia itu.

C.     Pandangan Islam tentang Lingkungan
Aliran empirisme behaviorisnie, nativisme humanisrne, dan kon- vergensi dengan berbagai variasinya sebagaimana tersebut di atas pada dasarnya berbicara tentang aspek yang memengaruhi pembentukan pribadi manusia. Pada empirisme yang berperan membentuk pribadi manusia ialah lingkungannya, bukan pembawaannya. Adapun pada nativisme sebaliknya, yaitu bahwa yang berperan membentuk pribadi manusia adalah pembawaannya, bukan lingkungannya. Dan pada kon- vergcnsi yang berperan membentuk pribadi manusia ialah pembawaan dan lingkungannya secara sekaligus.
Dengan mengacu kepada prinsip keseimbangan yang terdapat dalam ajaran Islam, yakni antara lahir (empirisme) dan batin (nativisme), serta hadis Nabi yang artinya: Bahwa setiap anak yang dilahirkan dalam keadaan suci, lalu kedua orang tuanyalah yang menvebabkan anak tersebut menjadi penganut Yahudi, Nasrani, atau Majusi,8 di kalangan para pendidikan Islam, banyak yang berpendapat, bahwa dalam hal proses dan faktor yang memengaruhi pembentukan pribadi manusia, Islam lebih cenderung kepada aliran konvergensi sebagaimana tersebut di atas.[8]
Namun demikian, jika dilakukan analisis secara agak mendalam dan saksama, tampaknya ajaran Islam tidak menganut salah satu aliran tersebut, karena ketiga aliran tersebut semata-mata mengandalkan pengaruh atau faktor yang berasal dari usaha manusia sendiri. Pada empirisme yang berpengaruh faktor dari luar yang dibikin manusia. Pada nativisme yang berpengaruh faktor dari dalam yang juga berasal dari diri manusia. Dan pada konvergensi yang berpengaruh faktor dari dalam dan dari luar yang juga sama-sama diciptakan manusia. Dengan demikian, seluruh aliran tersebut masih memusat pada usaha manusia (anthropo-centris), dan belum melibatkan peran Tuhan. Hal ini bertentangan dengan ideologi pendidikan Islam yang bercorak humanisme teo-centris, yang pada intinya memadukan antara usaha manusia dan pertolongan (hidayah) dari Tuhan.
Dalam pandangan Islam, proses pembentukan pribadi manusia tidak hanya diusahakan oleh manusia dengan berbagai teori tersebut, melainkan juga ditentukan oleh hidayah dari Allah SWT. Proses pendidikan dalam Islam digambarkan oleh Nabi Muhammad SAW seperti proses bertani. Bahwa untuk menghasilkan produk pertanian yang baik diperlukan bibit yang unggu! dan baik (nativisme) dan tanah yang subur, pupuk yang cukup, cuaca yang tepat, air yang cukup, pe- meliharaan yang telaten, dan cara menanam yang benar (empirisme). Namun semua ini, belum menjamin bahwa pertanian tersebut akan berhasil dengan baik. Usaha-usaha tersebut tidak bisa sepenuhnya menjamin, bahwa pertanian akan berhasil dengan baik. Masih ada yang menentukan hasil pertanian tersebut, yaitu Allah SWT. Dalam kaitan ini, Allah SWT berfirman:
Läê÷ƒuätsùr& $¨B šcqèOãøtrB ÇÏÌÈ   óOçFRr&uä ÿ¼çmtRqããu÷s? ÷Pr& ß`øtwU tbqããͺ¨9$# ÇÏÍÈ  
Maka terangkanlah kepada-Ku tentang yang kamu tanam? Kamukah yang menumbuhkannya ataukah Kami yang menumbuhkannya? (QS. al- Waqi’ah (56): 63-64).[9]
Dengan demikian, proses pendidikan dalam Islam dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu faktor pembawaan dari dalam diri manusia, faktor lingkungan, dan faktor hidayah dari Allah SWT. Itulah sebabnya, jika seseorang berhasil mendidik manusia, maka diharapkan ia tidak som- bong, karena keberhasilan tersebut atas izin Tuhan. Sebaliknya, jika seorang belum berhasil mendidik mariusia, maka diharapkan tidak putus asa, karena ketidakberhasilan tersebut juga atas kehendak Tuhan.
D.    Macam-macam Lingkungan Pendidikan dalam Islam
Di kalangan para ahli pendidikan pada umumnya, dan pendidikan Islam pada khususnya, terdapat kesepakatan, bahwa lingkungan pendidikan terdiri dari lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat.10 Tiga lingkungan ini secara singkat dapat dikemukakan sebagai berikut.
Pertama, lingkungan keluarga sebagai unit terkecil dari suatu masyarakat, sangat penting artinya dalam pembinaan masyarakat bangsa. Apabila tiap-tiap keluarga hidup tenteram dan bahagia, maka dengan sendirinya masyarakat yang terdiri dari keluarga-keluarga yang ber- bahagia itu akan bahan dan aman tenteram pula. Dalam tiap keluarga, wanita mempunyai dua fungsi yang terpenting dalam pembinaan moral, yaitu sebagai istri dan ibu."
Islam memandang, bahwa keluarga merupakan lingkungan yang paling berpengaruh pada pembentukan kepribadian anak. Hal ini dise- babkan: 1) Tanggung jawab orang tua pada anak bukan hanya bersifat duniawi, melainkan ukhrawi dan teologis. Tugas dan tanggung jawab orang tua dalam membina kepribadian anak merupakan amanah dari Tuhan: 2) Orang tua di samping memberikan pengaruh yang bersifat empiris pada setiap hari, juga memberikan pengaruh hereditas dan genesitas, yakni bakat dan pembawaan serta hubungan darah yang melekat pada diri anak; 3) Kedua anak lebih banyak tinggal atau ber- ada di rumah dibandingkan dengan di luar rumah; 4) Orang tua atau keluarga sebagai yang lebih dahuliv memberikan pengaruh. dan pengaruh yang lebih dahulu ini pengaruhnya lebih kuat dibandingkan dengan pengaruh yang datang belakangan.
Berkenaan dengan berbagai keistimewaan orang tua dalam hu- bungannya dengan anak tersebut, maka ajaran Islam sebagaimana terdapat di dalam al-Qur’an memberikan perhatian yang cukup besar dalam mengupayakan lahirnya keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah, keluarga yang sehat, kukuh, dan efektif. Ajaran Islam sebagaimana terdapat di dalam al-Qur’an dan as-Sunah sangat berkepen- t’ngan dan ikut campur secara luas dalam pembentukan rumah tangga yang dapat mendidik anak-anak yang baik. Hal ini misalnya dimulai dengan keharusan menikah secara sah menurut hukum, menjauhi perbuatan zina, menikah dengan wanita atau pria yang sama-sama beragama Islam, do’a yang harus dibaca pada saat pernihakan, saat melakukan hubungan suami istri, dan saat rnelahirkan anak, yang intinya akan dikaruniai anak yang saleh dan salihah. Selanjutnya memberikan madu yang melambangkan keharusan memberikan makanan yang baik dan halal; memberi narna yang baik, karena nama akan mendo’akan kepada orang yang diberi nama tersebut, mengaqiqahi yang melambangkan penyambutan sukacita atas kelahiran dan kehadiran anak dalam lingkungan keluarga; mencukur rambutnya yang melambangkan perlunya pendidikan kebersihan dan keindahan, mengkhitannya yang melambangkan keberanian berkorban dalam rangka menyucikan diri, mengajarkan membaca al-Qur’an, mengajarkan shalat mulai usia tujuh tahun, dan menikahkannya ketika dewasa.
Kedua, lingkungan sekolah diadakan sebagai kelanjutari dari lingkungan rumah tangga. Di lingkungan sekolah ini, tugas pendidikan diserahkan kepada guru, mu’alim atau ulama. Di sekolah seorang anak mendapatkan berbagai informasi tentang ilmu pengetahuan serta keterampilan yang diperlukan dalam kehidupannya. Islam sangat rne- nekankan agar setiap orang yang berilmu harus mengamalkan ilmu- nya. Dalam Islam, bahwa ilmu merupakan amanah Allah SWT yang harus dipertanggungjawabkannya. Ilmu yang diajarkan kepada orang lain berarti amanah yang dilaksanakan dengan baik. Dan ilmu yang tidak diajarkan kepada orang lain, berarti tidak melaksanakan amanah. Imam al-Ghazali membagi manusia ke dalam beberapa bagian. Pertama, ada orang yang alim, dan menyadari kealimannya, kemudian ia mengajarkan ilmunya dan inilah orang yang baik. Kedua, ada orang yang bodoh, namun ia tidak menyadari kebodohanriya, dan inilah orang yang celaka. Ketiga, ada orang yang ’alim, namun ia tidak menyadari tentang kealimannya, sehingga ia tidak mengajarkan ilmunya, maka orang ini harus diingatkan. Keempat, ada orang yang bodoh, namun ia menyadari kebodohannya, sehingga ia mau belajar menghilangkan kebodohannya. Jika orang tua mengajar dan mendidik di rumah, maka seorang guru mengajarkan ilmunya di sekolah atau di majelis-majelis ilmu, atau di rumah-rumah yang memungkinkan untuk menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran.
Ketiga, lingkungan masyarakat, pada hakikatnya adalah kumpul- an dari keluarga yang antara satu dan lainnya terikat oleh tata nilai atau aturan baik yang tertulis maupun tidak tertulis. Di dalam masyarakat tersebut terdapat berbagai peluang bagi manusia untuk memperoleh berbagai pengalaman empiris yang kelak akan berguna bagi kehidup- annya di masa depan. Di dalam masyarakat terdapat organisasi, per- kumpulari, yayasan, asosiasi, dan lain sebagainya. Di dalam berbagai perkumpulan tersebut setiap orang dapat memperoleh berbagai hal yang diinginkannya. Misalnya perkumpulan tentang kepemudaan, ke- pramukaan, pencinta lingkungan, pemberantasan buta huruf, keaman- an lingkungan, dan lain sebagainya. Mereka yang mau memanfaatkan lingkungan masyarakat, niscaya akan dapat menimba berbagai pengalaman yang baik.


BAB III
PENUTUP

A.     Kesimpulan
Berdasarkan uraian dan analisis sebagaimana tersebut di atas, dapat dikeinukakan beberapa catatan penutup sebagai berikut. Pertama, lingkungan pendidikan atau atmosfer pendidikan adalah merupakan salah satu komponen pendidikan yang menarik perhatian para ahli untuk mengkajinya.
Kedua, lingkungan pendidikan telah menimbulkan tiga aliran pendidikan, yaitu empirisme yang mengagung-agungkan peranan lingkungan, nativisme yang kurang peduli kepada peranan lingkungan, dan konvergensi yang mementingkan lingkungan dan pembawaari dari dalam diri manusia.
Ketiga, Islam dengan sifatnya yang seimbang, serta bertumpu pada hubungan dengan manusia, manusia dan dengan Tuhan secara seimbang, memandang bahwa keberhasilan pendidikan tidak semata- mata ditentukan oleh usaha manusia, melainkan juga ditentukan oleh kehendak Tuhan.

B.     Saran
Demikianlah pembahasan makalah mengenai lingkungan pendidikan dalam islam, semoga dapat bermanfaat bagi kita semua. Kritik dan saran sangat pemakalah harapkan demi untuk perbaikan makalah kami selanjutnya.


DAFTAR PUSTAKA

Abudin Nata, Ilmu Pendidikan Islam. (Jakarta: Kencana Prenada Media Grup, 2012)

Miftahul Ulum, Pengantar Ilmu Pendidikan. I (Yogyakarta, STAIN Po Press, 2007)

Zakiah Daradjat. Ilmu Pendidikan Islam. (Jakarta: Bumi Aksara, 2012)

Abu Ahmadi dan Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan. (Jakarta: PT. Rieneka Cipta, 1991)

Departemen Agama RI,  Al-Qur'an dan Terjemahannya (Jakarta: Bumi Restu, 1976)


[1] Abudin Nata, Ilmu Pendidikan Islam. (Jakarta: Kencana Prenada Media Grup, 2012) h. 291
[2] Miftahul Ulum, Pengantar Ilmu Pendidikan. I (Yogyakarta, STAIN Po Press, 2007) h. 145
[3] Zakiah Daradjat. Ilmu Pendidikan Islam. (Jakarta: Bumi Aksara, 2012) h. 63
[4] Abudin Nata, Ilmu Pendidikan Islam.  … h. 292
[5] Abudin Nata, Ilmu Pendidikan Islam.  …. h. 294
[6] Abudin Nata, Ilmu Pendidikan Islam.  …. h. 295
[7] Abu Ahmadi dan Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan. (Jakarta: PT. Rieneka Cipta, 1991) h. 296
[8] Abu Ahmadi dan Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan.  ... h. 297
[9]Departemen Agama RI,  Al-Qur'an dan Terjemahannya (Jakarta: Bumi Restu, 1976) h. 472

No comments:

Post a Comment