BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Lingkungan
pendidikan Islam merupakan karakter pendidikan yang semstinya diberlakukan
secara nasional di negara kita. Islam adalah manhaj Rabbani yang sempurna,
tidak membunuh fitrah manusia, dan diturunkan untuk membentuk pribadi yang
sempurna dalam diri manusia artinya, pendidikan Islam dapat membentuk pribadi
yang mampu mewujudkan keadilan ilahiah dalam komunitas manusia serta mampu
mendayagunakan.., sebab bagaimanapun bila berbicara tentang lembaga pendidikan
sebagai wadah berlansungnya pendidikan maka tentunya akan menyangkut masalah lingkungan dimana
pendidikan tersebut dilaksanakan. Berbicara lingkungan pendidikan Islam berarti
kita akan berbicara keluarga , sekolah, dan masyarakat.
Lingkungan
yang nyaman dan mendukung terselenggaranya suatu pendidikan amat dibutuhkan dan
turut berpengaruh terhadap pencapaian
tujuan pendidikan yang diinginkan. Demikian pula dalam sistem pendidikan Islam,
lingkungan harus diciptakan sedemikian rupa sesuai dengan karakteristik
pendidikan Islam itu sendiri.
KI
Hajar Dewantara menganggap ketiga lembaga pendidikan tersebut sebagi tripusat
pendidikan maksudnya tiga pusat pendidikan yang secara bertahap dan terpadu
mengembang suatu tanggung jawab pendidikan bagi generasi mudanya.
Dari
urian diatas dapat diketahui bagaimana pentingnya Lingkungan terhadap
terjadinya proses pendidikan terutama pendidikan Islam. Oleh karena itu, pada
makalah ini akan di bahas mengenai “Lingkungan dalam Pendidikan Islam”.
B.
Rumusan
Masalah
Berdasarkan
latar belakang di atas maka rumusan masalah dalam makalah ini adalah :
1.
Apa yang
dimaksud dengan pengertian lingkungan pendidikan?
2.
Apa saja Macam-macam
Lingkungan dan Atmosfer Akademik?
3.
Bagaimana pandangan
islam tentang lingkungan?
4.
Apa saja
macam-macam lingkungan pendidikan dalam Islam?
C.
Tujuan
Tujuan pembahasan makalah
ini adalah ;
1.
Untuk
mengetahui pengertian lingkungan pendidikan
2.
Untuk
memahami Macam-macam Lingkungan dan Atmosfer Akademik
3.
Untuk
memahami pandangan islam tentang lingkungan
4.
Untuk
memahami macam-macam lingkungan pendidikan dalam Islam
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
dan Tujuan Lingkungan Pendidikan
Secara
harfiah lingkungan dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang mengitari
kehidupan, baik berupa fisik scperti alam jagat raya dengan segala isinya,
maupun berupa nonfisik, seperti suasar.a kehidupan beragama, nilai-nilai dan
adat istiadat yang berlaku di masyarakat, ilmu pengetahuan dan kebudayaan yang
berkembang, serta teknologi. Kedua lingkungan tersebut badir secara kebetulan,
yakni tanpa dim- inta dan direncanakari oleh manusia. Seseorang yang lahir di
Indonesia dengan lingkungan alainnya, afau yang lahir di Ametika Serikat dengan
lingkungan alamnya pula, bukanlah atas permintaannya sendiri. Demikian pula
orang-orang yang menjadi orang tuanya, saudaranya, tetangganya, dan lainnya
terjadi secara kebetulan dilihat dari sudut pandang manusia, dan merupakan takdir
Tuhan dilihat dari sudut pandang Tuhan.[1]
Lingkungan
merupakan salah satu faktor pendidikan yang ikut serta menentukan corak
pendidikan islam, yang tidak sedikit pengaruhnya terhadap anak didik.
Lingkungan pendidikan adalah tanggung jawab siapa yang melaksanakan dalam
pendidikan itu. Hal ini berkenaan dengan tiga pusat lingkungan pendidikan,
lingkungan pendidikan di keluarga, lingkungan pendidikan di sekolah, dan
lingkungan pendidikan di masyarakat. [2]
Dalam
arti yang luas lingkungan mencakup iklim dan geografis, tempat tinggal, adat
istiadat, pengetahuan, pendidikan dan alam. Dengan kata lain lingkungan adalah
segala sesuatu yang tampak dan terdapat dalam alam kehidupan yang senantiasa
berkembang. [3]
Lingkungan
fisik dan nonfisik tersebut demikian inelekat dalam kehidupan manusia dan
mengelilinginya. Itulah yang selanjutnya menjadi ciri khas lingkungan dan
membentuk semacam suasana yang khas (atmosfer) bagi kehidupan. Karena
lingkungan tersebut demikian kuat dan besar pengaruhnya bagi kehidupan manusia,
khususnya menurut aliran behaviorisme dan empirisme, maka lingkungan tersebut
harus memiliki nilai-nilai pendidikan, yaitu lingkungan yang rnemberi pe-
ngaruh positif bagi pembentukan pola pikiran, sikap,’ dan perbuatan manusia,
yang pada gilirannya dapat membentuk kepribadian dan karakter
manusia. Lingkungan yang demikian itulah yang selanjutnya disebut lingkungan
pendidikan, vakni lingkungan yang mendidik.
Lingkungan
yang mengandung nilai pendidikan itu dapat dicontohkan dengan lingkungan
lingkungan pesantren. Secara fisik, di pesantren terdapat masjid, asrama atau
pondokan, rumah kiai, santri, dan kitab kuning. Kelima ciri fisik tersebut
hanya ada di pesantren, khususnya pesantren tradisional. Di tempat lain secara
terpisah-pisah bisa dijumpai adanya masjid (di kampung-kampung atau di
kota-kota yang berpenduduk mayoritas muslim), adanya kitab kuning (di pasar-
pasar) dan seterusnya. Namun masing-masing unsur atau komponen tersebut
terpisah-pisah dan tidak mernbentuk sebagai satu kesatuan lingkungan fisik
sebagaimana yang terdapat di pesantren. Selanjutnya secara nonfisik, di
pesantren terdapat nilai-nilai yang dipahami, dihayati dan diamalkan dalam
kehidupan sehari. Nilai-nilai tersebut se- bagian besar didominasi oleh
nilai-nilai fiqh dan tasawuf. Nilai-nilai fiqh terlihat dari sikap dan
pandangan para santri terhadap sesuatu yang dihubungkan dengan status hukumnya,
serta dalam kebiasaan- nya menjalankan ibadah shalat berjama’ah.[4] Adapun
nilai-nilai tasawuf terlihat dari sikap dan prilaku para santri yang cenderung
sederhana (zuhud), tawadlu’ (rendah hati), sabar, tawakal, ikhlas, dan qana’ah.
Nilai-nilai tasawuf ini mereka dapati dari informasi yang terdapat dalam
berbagai kitab kuning yang mereka pelajari, seperti Kilab Ta’lim Muta’allim
Thuruq al-Ta’allum, karangan Burhanuddin al-Jarnuji; Kitab Nashaih al-Ibad,
karangan al-Nawawiy, Kitab Ihya' Ulum al- Din, karangan Imam al-Ghazali, dan
sebagainya.
Baik
lingkungan fisik maupun nonfisik sebagaimana tersebut di atas selanjutnya
menjadi ciri khas lingkungan pesantren, yang selanjutnya menjadi suasana yang
khas bagi kegiatan pendidikan. Inilah yang selanjutnya dapat disebut sebagai
atmosfer akademik.
B.
Macam-macam
Lingkungan dan Atmosfer Akademik
Konsep
lingkungan dalam hubungannya dengan pendidikan dan manusia sebagai makhluk yang
merdeka, memiliki daya pilih yang kuat, serta berbagai potensi jasmani, rohani
dan spiritual yang dimi- likinya, telah menimbulkan berbagai aliran yang antara
satu dan lain- nya menunjukkan perbedaan yang sangat mencolok. Berbagai aliran
tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut.
Pertama,
aliran empirisme atau behaviorisme dari John Locke. Menurut aliran ini, manusia
atau peserta didik dianggap sebagai gelas kosong yang dapat diisi apa saja oleh
pemiliknya. Peserta didik dinilai sebagai yang pasif seperti robot yang
mengikuti dan tunduk sepenuhnya kepada pemiliknya. Murid ibarat kertas putih
yang kosong yang dapat ditulis apa saja oleh pemiliknya. [5]
Menurut
aliran yang ekstrem luar (eksternal) ini, bahwa watak dan karakter peserta
didik ditentukan oleh faktor dari luar yang ditransmisikan oleh pendidik.
Dengan pandangan empirisme ini, maka yang menentukan dan aktif dalam pendidikan
ialah guru (teacher centris). Pandangan empirisme dan behaviorisme ini
selanjutnya menjadi sebuah aliran yang memiliki paradigma belajar sebagai
berikut:
1.
Memandang
bahwa ilmu pengetahuan sebagai hal yang objektif, pasti, tetap, dan tidak
berubah. Karenanya ilmu pengetahuan tidak lagi perlu diperdebatkan oleh peserta
didik atau siapa pun. Tugas guru menyampaikan ilmu pengetahuan tersebut,
sedangkan tugas peserta didik adalah menerima ilmu pengetahuan tersebut.
2.
Memandang
belajar sebagai upaya memper- oleh pengetahuan, dan mengajar dinilai sebagai upaya
menvampaikari ilmu pengetahuan.
3.
Mengharapkan
agar seluruh peserta didik memperoleh pengetahuan dan pemaharnan yang sama.
4.
Tujuan
pembelajaran ditentukan pada penambahan ilmu pengetahuan.
5.
Penyajian
isi pelajaran menekankan pada keterampilan yang terpisah dan terakumulasi pada
fakta yang mengikuti tiruan dari bagian keseluruhan.
6.
Pembelajaran
mengikuti urutan kurikulum secara ketat, dan aktivitas belajar lebih banyak
didasarkan pada buku teks dan keterampilan, dan menekankan pada respons positif
dengan menggunakan paper dan pensil tes.
Pada aliran empirisme dan behaviorisme
inilah faktor lingkungan dan atmosfer akademik sangat menentukan keberhasilan
pendidikan dan pengajaran. Dengan kata lain, bahwa setiap kali berbi- cara
tentang lingkungan dan atmosfer akademik, maka sesungguhnya yang dibicarakan
adalah pengaruh lingkungan dan atmosfer akademik tersebut dalam menentukan
keberhasilan pendidikan. Pada aliran ini guru dianggap aktif dan menentukan.
Adapun murid dianggap pasif dan ditentukan. Berbagai teori pendidikan yang
menaukung aliran ini sungguh amat kuat hingga sekarang. Skinner sebagai
penganut paham ini misalnya pernah berkata: berikanlah aku sepuluh orang, maka
masing-masing orang tersebut akan aku bentuk sesuai dengan keinginanku, yakni
apakah akan menjadi seorang ekonom, politik, budaya, sastrawan, agamawan, dan
sebagainya.[6]
Kedua, aliran
nativisme dari Scopenhaur. Menurut aliran ini, bahwa yang menentukan seseorang
menjadi apa saja, bukanlah lingkungan sebagaimana yang dianut oleh behaviorisme
dan empirisme sebagaimana disebutkan di atas, melainkan watak, pembawaan dan
potensi yang dimiliki seorang peserta didik dari sejak lahir. Berdasarkan
pandangan ini, maka keberhasilan pendidikan ditentukan oleh anak didik itu
sendiri. Pembawaan yang jahat akan menjadi jahat, dan pembawaan yang buruk akan
menjadi buruk. Pendidikan yang tidak sesuai dengan bakat dan pembawaan anak
didik tidak akan berguna untuk perkembangan anak sendiri. Meskipun pandangan ini
mengakui pentingnya belajar, namun pengalaman dalam belajar itu atauputi
penerimaan dan persepsi seseorang banyak ditentukan oleh kemampuan memberi
makna kepada apa yang dialaminya itu. Dengan kata lain, bahwa pengalaman
belajar ditentukan oleh “internal frame of reference”, yang dimilikinya.
Pendekatan ini sangat mementingkan pandangan holistik (menyeluruh. Gestalt),
serta pema'naman perilaku orang dari sudut pandang si empunya perilaku itu.
Intinya aliran nativisme sebagai lawan atau kebalikan dari paham empirisme
sebagaimana tersebut di atas. Jika pada aliran empirisme, lingkungan sangat
menentukan dan berpengaruh terhadap pembentukan kepribadian seseorang, maka
pada aliran nativisme. lingkungan sama sekali tidak menentukan dan tidak berpengaruh
terhadap pembentukan kepribadian seseorang.
Ketiga,
aliran konvergensi Aliran ini dirintis oleh William Stern (1871-1939), seorang
ahli pendidikan bangsa Jerman yang berpenda- pat, bahwa seorang anak dilahirkan
di dunia sudah disertai pembawaan baik dan pembawaan buruk. Penganut aliran ini
berpendapat, bahwa dalam proses perkembangan anak, baik faktor pembawaan maupun
faktor lingkungan sama-sama mempunyai peranan yang sangat pen- ting.
Bakat
yang dibawa pada waktu lahir tidak akan berkembang dengan baik tanpa adanya
dukungan lingkungan yang sesuai dengan bakat itu. Sebaliknya, lingkungan yang
baik tidak dapat menghasilkan perkembangan anak yang optimal, kaiau memang pada
diri anak tidak terdapat bakat yang diperlukan untuk mengembangkan itu. Sebagai
contoh, hakikat kemampuan anak manusia berbahasa dengan kata- kata, ialah juga
hasil konvergensi. [7]
Aliran
konvergensi pada umumnya diterima secara luas sebagai pandangan yang tepat
dalam memahami tumbuh kembang manusia. Meskipun demikian, terdapat variasi
pendapat tentang faktor-faktor mana yang paling dominan dalam menentukan tumbuh
kembang manusia itu.
C.
Pandangan
Islam tentang Lingkungan
Aliran
empirisme behaviorisnie, nativisme humanisrne, dan kon- vergensi dengan
berbagai variasinya sebagaimana tersebut di atas pada dasarnya berbicara
tentang aspek yang memengaruhi pembentukan pribadi manusia. Pada empirisme yang
berperan membentuk pribadi manusia ialah lingkungannya, bukan pembawaannya.
Adapun pada nativisme sebaliknya, yaitu bahwa yang berperan membentuk pribadi
manusia adalah pembawaannya, bukan lingkungannya. Dan pada kon- vergcnsi yang
berperan membentuk pribadi manusia ialah pembawaan dan lingkungannya secara
sekaligus.
Dengan
mengacu kepada prinsip keseimbangan yang terdapat dalam ajaran Islam, yakni
antara lahir (empirisme) dan batin (nativisme), serta hadis Nabi yang artinya:
Bahwa setiap anak yang dilahirkan dalam keadaan suci, lalu kedua orang
tuanyalah yang menvebabkan anak tersebut menjadi penganut Yahudi, Nasrani, atau
Majusi,8 di kalangan para pendidikan Islam, banyak yang berpendapat, bahwa
dalam hal proses dan faktor yang memengaruhi pembentukan pribadi manusia, Islam
lebih cenderung kepada aliran konvergensi sebagaimana tersebut di atas.[8]
Namun
demikian, jika dilakukan analisis secara agak mendalam dan saksama, tampaknya
ajaran Islam tidak menganut salah satu aliran tersebut, karena ketiga aliran
tersebut semata-mata mengandalkan pengaruh atau faktor yang berasal dari usaha
manusia sendiri. Pada empirisme yang berpengaruh faktor dari luar yang dibikin
manusia. Pada nativisme yang berpengaruh faktor dari dalam yang juga berasal
dari diri manusia. Dan pada konvergensi yang berpengaruh faktor dari dalam dan
dari luar yang juga sama-sama diciptakan manusia. Dengan demikian, seluruh
aliran tersebut masih memusat pada usaha manusia (anthropo-centris), dan belum
melibatkan peran Tuhan. Hal ini bertentangan dengan ideologi pendidikan Islam
yang bercorak humanisme teo-centris, yang pada intinya memadukan antara usaha
manusia dan pertolongan (hidayah) dari Tuhan.
Dalam
pandangan Islam, proses pembentukan pribadi manusia tidak hanya diusahakan oleh
manusia dengan berbagai teori tersebut, melainkan juga ditentukan oleh hidayah
dari Allah SWT. Proses pendidikan dalam Islam digambarkan oleh Nabi Muhammad
SAW seperti proses bertani. Bahwa untuk menghasilkan produk pertanian yang baik
diperlukan bibit yang unggu! dan baik (nativisme) dan tanah yang subur, pupuk
yang cukup, cuaca yang tepat, air yang cukup, pe- meliharaan yang telaten, dan
cara menanam yang benar (empirisme). Namun semua ini, belum menjamin bahwa
pertanian tersebut akan berhasil dengan baik. Usaha-usaha tersebut tidak bisa
sepenuhnya menjamin, bahwa pertanian akan berhasil dengan baik. Masih ada yang
menentukan hasil pertanian tersebut, yaitu Allah SWT. Dalam kaitan ini, Allah
SWT berfirman:
Läê÷uätsùr&
$¨B cqèOãøtrB ÇÏÌÈ óOçFRr&uä ÿ¼çmtRqããu÷s? ÷Pr& ß`øtwU tbqããͺ¨9$# ÇÏÍÈ
Maka terangkanlah
kepada-Ku tentang yang kamu tanam? Kamukah yang menumbuhkannya ataukah Kami
yang menumbuhkannya? (QS. al- Waqi’ah (56): 63-64).[9]
Dengan
demikian, proses pendidikan dalam Islam dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu
faktor pembawaan dari dalam diri manusia, faktor lingkungan, dan faktor hidayah
dari Allah SWT. Itulah sebabnya, jika seseorang berhasil mendidik manusia, maka
diharapkan ia tidak som- bong, karena keberhasilan tersebut atas izin Tuhan.
Sebaliknya, jika seorang belum berhasil mendidik mariusia, maka diharapkan
tidak putus asa, karena ketidakberhasilan tersebut juga atas kehendak Tuhan.
D.
Macam-macam
Lingkungan Pendidikan dalam Islam
Di
kalangan para ahli pendidikan pada umumnya, dan pendidikan Islam pada
khususnya, terdapat kesepakatan, bahwa lingkungan pendidikan terdiri dari
lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat.10 Tiga
lingkungan ini secara singkat dapat dikemukakan sebagai berikut.
Pertama,
lingkungan keluarga sebagai unit terkecil dari suatu masyarakat, sangat penting
artinya dalam pembinaan masyarakat bangsa. Apabila tiap-tiap keluarga hidup
tenteram dan bahagia, maka dengan sendirinya masyarakat yang terdiri dari
keluarga-keluarga yang ber- bahagia itu akan bahan dan aman tenteram pula.
Dalam tiap keluarga, wanita mempunyai dua fungsi yang terpenting dalam
pembinaan moral, yaitu sebagai istri dan ibu."
Islam
memandang, bahwa keluarga merupakan lingkungan yang paling berpengaruh pada
pembentukan kepribadian anak. Hal ini dise- babkan: 1) Tanggung jawab orang tua
pada anak bukan hanya bersifat duniawi, melainkan ukhrawi dan teologis. Tugas
dan tanggung jawab orang tua dalam membina kepribadian anak merupakan amanah
dari Tuhan: 2) Orang tua di samping memberikan pengaruh yang bersifat empiris
pada setiap hari, juga memberikan pengaruh hereditas dan genesitas, yakni bakat
dan pembawaan serta hubungan darah yang melekat pada diri anak; 3) Kedua anak
lebih banyak tinggal atau ber- ada di rumah dibandingkan dengan di luar rumah;
4) Orang tua atau keluarga sebagai yang lebih dahuliv memberikan pengaruh. dan
pengaruh yang lebih dahulu ini pengaruhnya lebih kuat dibandingkan dengan
pengaruh yang datang belakangan.
Berkenaan
dengan berbagai keistimewaan orang tua dalam hu- bungannya dengan anak
tersebut, maka ajaran Islam sebagaimana terdapat di dalam al-Qur’an memberikan
perhatian yang cukup besar dalam mengupayakan lahirnya keluarga yang sakinah,
mawaddah, dan rahmah, keluarga yang sehat, kukuh, dan efektif. Ajaran Islam
sebagaimana terdapat di dalam al-Qur’an dan as-Sunah sangat berkepen- t’ngan
dan ikut campur secara luas dalam pembentukan rumah tangga yang dapat mendidik
anak-anak yang baik. Hal ini misalnya dimulai dengan keharusan menikah secara
sah menurut hukum, menjauhi perbuatan zina, menikah dengan wanita atau pria
yang sama-sama beragama Islam, do’a yang harus dibaca pada saat pernihakan,
saat melakukan hubungan suami istri, dan saat rnelahirkan anak, yang intinya
akan dikaruniai anak yang saleh dan salihah. Selanjutnya memberikan madu yang
melambangkan keharusan memberikan makanan yang baik dan halal; memberi narna
yang baik, karena nama akan mendo’akan kepada orang yang diberi nama tersebut,
mengaqiqahi yang melambangkan penyambutan sukacita atas kelahiran dan kehadiran
anak dalam lingkungan keluarga; mencukur rambutnya yang melambangkan perlunya
pendidikan kebersihan dan keindahan, mengkhitannya yang melambangkan keberanian
berkorban dalam rangka menyucikan diri, mengajarkan membaca al-Qur’an,
mengajarkan shalat mulai usia tujuh tahun, dan menikahkannya ketika dewasa.
Kedua,
lingkungan sekolah diadakan sebagai kelanjutari dari lingkungan rumah tangga.
Di lingkungan sekolah ini, tugas pendidikan diserahkan kepada guru, mu’alim
atau ulama. Di sekolah seorang anak mendapatkan berbagai informasi tentang ilmu
pengetahuan serta keterampilan yang diperlukan dalam kehidupannya. Islam sangat
rne- nekankan agar setiap orang yang berilmu harus mengamalkan ilmu- nya. Dalam
Islam, bahwa ilmu merupakan amanah Allah SWT yang harus
dipertanggungjawabkannya. Ilmu yang diajarkan kepada orang lain berarti amanah
yang dilaksanakan dengan baik. Dan ilmu yang tidak diajarkan kepada orang lain,
berarti tidak melaksanakan amanah. Imam al-Ghazali membagi manusia ke dalam
beberapa bagian. Pertama, ada orang yang alim, dan menyadari kealimannya,
kemudian ia mengajarkan ilmunya dan inilah orang yang baik. Kedua, ada orang
yang bodoh, namun ia tidak menyadari kebodohanriya, dan inilah orang yang
celaka. Ketiga, ada orang yang ’alim, namun ia tidak menyadari tentang
kealimannya, sehingga ia tidak mengajarkan ilmunya, maka orang ini harus
diingatkan. Keempat, ada orang yang bodoh, namun ia menyadari kebodohannya,
sehingga ia mau belajar menghilangkan kebodohannya. Jika orang tua mengajar dan
mendidik di rumah, maka seorang guru mengajarkan ilmunya di sekolah atau di majelis-majelis
ilmu, atau di rumah-rumah yang memungkinkan untuk menyelenggarakan pendidikan
dan pengajaran.
Ketiga,
lingkungan masyarakat, pada hakikatnya adalah kumpul- an dari keluarga yang
antara satu dan lainnya terikat oleh tata nilai atau aturan baik yang tertulis
maupun tidak tertulis. Di dalam masyarakat tersebut terdapat berbagai peluang
bagi manusia untuk memperoleh berbagai pengalaman empiris yang kelak akan
berguna bagi kehidup- annya di masa depan. Di dalam masyarakat terdapat
organisasi, per- kumpulari, yayasan, asosiasi, dan lain sebagainya. Di dalam
berbagai perkumpulan tersebut setiap orang dapat memperoleh berbagai hal yang
diinginkannya. Misalnya perkumpulan tentang kepemudaan, ke- pramukaan, pencinta
lingkungan, pemberantasan buta huruf, keaman- an lingkungan, dan lain
sebagainya. Mereka yang mau memanfaatkan lingkungan masyarakat, niscaya akan
dapat menimba berbagai pengalaman yang baik.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Berdasarkan
uraian dan analisis sebagaimana tersebut di atas, dapat dikeinukakan beberapa
catatan penutup sebagai berikut. Pertama, lingkungan pendidikan atau atmosfer
pendidikan adalah merupakan salah satu komponen pendidikan yang menarik
perhatian para ahli untuk mengkajinya.
Kedua,
lingkungan pendidikan telah menimbulkan tiga aliran pendidikan, yaitu empirisme
yang mengagung-agungkan peranan lingkungan, nativisme yang kurang peduli kepada
peranan lingkungan, dan konvergensi yang mementingkan lingkungan dan pembawaari
dari dalam diri manusia.
Ketiga,
Islam dengan sifatnya yang seimbang, serta bertumpu pada hubungan dengan
manusia, manusia dan dengan Tuhan secara seimbang, memandang bahwa keberhasilan
pendidikan tidak semata- mata ditentukan oleh usaha manusia, melainkan juga
ditentukan oleh kehendak Tuhan.
B.
Saran
Demikianlah
pembahasan makalah mengenai lingkungan pendidikan dalam islam, semoga dapat
bermanfaat bagi kita semua. Kritik dan saran sangat pemakalah harapkan demi
untuk perbaikan makalah kami selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA
Abudin Nata, Ilmu Pendidikan Islam. (Jakarta: Kencana Prenada
Media Grup, 2012)
Miftahul Ulum, Pengantar Ilmu Pendidikan. I (Yogyakarta, STAIN Po
Press, 2007)
Zakiah Daradjat.
Ilmu Pendidikan Islam. (Jakarta: Bumi Aksara, 2012)
Abu Ahmadi dan
Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan. (Jakarta: PT. Rieneka Cipta, 1991)
Departemen Agama
RI, Al-Qur'an dan Terjemahannya
(Jakarta: Bumi Restu, 1976)
[3] Zakiah Daradjat. Ilmu Pendidikan Islam. (Jakarta: Bumi
Aksara, 2012) h. 63
[7] Abu Ahmadi dan Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan. (Jakarta: PT.
Rieneka Cipta, 1991) h. 296
[8] Abu Ahmadi dan Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan. ... h. 297
No comments:
Post a Comment