BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Pada masa era globalisasi, tentunya teknologi termasuk dalam salah satu
bagian dari Globalisasi. Tentunya tidak akan pernah luput dari kemajuan
Teknologi ataupun kemajuan-kemajuan lainnya. Seperti halnya saat ini, salah
satunya yaitu begitu banyaknya handphone yang semakin canggih dan menawarkan
kecanggihan produknya. Dan tentunya setuju ataupun tidak setuju kita harus
berhubungan dengan teknologi, sebab teknologi tersebut mempengaruhi kehidupan
kita sehaari-hari. Tidak hanya orang tua yang memakai teknologi tersebut,
Anak-anak saat ini pun sudah sangat banyak yang sudah memakai ataupun membawa
handphone ataupun teknologi lainnya, dan hal ini seperti sudah dianggap lumrah
oleh masyarakat. Seperti kita ketahui, masa Kanak-anak seharusnya adalah masa
dimana anak harus bisa belajar sosialisasi dengan cara mermain ataupun
bercengkrama dengan teman-teman
seumurnya. Dan karna sebab globalisasi, anak-anak lebih senang berada
dirumah daripada bermain di luar rumah bersama teman-temannya.
Oleh sebab itu saya mengangkat judul dalam makalah ini “Dampak
Globalisasi Terhadap Anak Usia Dini”.
B. Rumusan
Masalah
1. Apa yang
dimaksud dengan Globalisasi?
2. Apa dampak
positif dan negative dampak globalisasi?
3. Apa yang harus
dilakukan oleh Orang tua untuk anak-anaknya tentang Globalisasi?
C. Tujuan
Memberikan pemahaman atau penjelasan tentang bagaimana anak-anak usia
dini seharusnya berkembang dalam era globalisasi ini, dampak negative dan
positif globalisasi untuk anak usia dini, cara terbaik orang tua untuk anak
usia dini tentang globalisasi.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Globalisasi
Secara umum,Pengertian Globalisasi adalah suatu proses yang mendunia
dimana individu tidak terikat oleh negara atau batas-batas wilayah. Setiap
individu dapat terhubung oleh siapa saja yang ada dibelahan bumi ini dan
terjadi penyebaran informasi dan komunikasi melalui media cetak dan elektronik
yang mendunia. Globalisasi sendiri berasal dari bahasa inggris yaitu
Globalization. Kata "Global" berarti mendunia sedangkan
"Lization" berarti proses. Sehingga dalam Pengertian Globalisasi
menurut Bahasa adalah suatu proses yang mendunia. Globalisasi merupakan suatu
proses masuknya negara ke dalam pergaulan dunia. Globalisasi membuat suatu
negara semakin kecil .atau sempit dikarenakan kemudahan dalam berinteraksi
antarnegara baik itu dalam perdagangan, teknologi, pertukaran informasi, dan gaya hidup maupun dengan bentuk-bentuk
interaksi lainnya.[1]
Adapun pengeritan Globalisasi menurut para ahli. Yaitu sebagai berikut:
Pengertian globalisasi menurut definisi Achmad Suparman yang mengatakan bahwa
pengertian globalisasi adalah suatu proses yang menjadikan sesuatu benda atau
perilaku sebagai ciri dari setiap individu di dunia tanpa dibatasi oleh
wilayah. Pengertian Globalisasi menurut definisi Anthony Giddens mengatakan
bahwa globalisasi adalah intensifikasi hubungan sosial secara mendunia sehingga
menghubungkan antara kejadian yang terjadi dilokasi yang satu dengan yang
lainnya serta menyebabkan terjadinya perubahan pada keduanya. Menurut definisi
Selo Soemardjan.
Pengertian globalisasi adalah sebuah proses terbentuknya sistem
organisasi dan komunikasi antar masyarakat di seluruh dunia untuk mengikuti
sistem dan kaidah-kaidah tertentu yang sama. Pengertian Globalisasi menurut
Laurence E. Rothernberg adalah percepatan dari intensifikasi interaksi dan
integrasi antara orang-orang, perusahaan dan pemerintah dari negara yang
berbeda. Pengertian Globalisasi menurut definisi Emanuel Ritcher mengatakan
bahwa pengertian globalisasi adalah suatu jaringan kerja global yang
mempersatukan masyarakat secara bersamaan yang sebelumnya tersebar menjadi
terisolasi kedalam saling ketergantungan dan persatuan dunia. Pengertian
Globalisasi menurut definisi Martin Albrow adalah seluruh proses penduduk yang
terhubung ke dalam komunitas dunia tunggal, komunitas global.[2]
B. Dampak
Positif Dan Negatif Globalisasi
Dampak
Positif:
1. Komunikasi yang
semakin cepat dan mudah
2. Meningkatnya
taraf hidup dari masyarakat
3. Mudahnya
mendapatkan informasi dan ilmu pengetahuan.
4. Tingkat
pembangun yang semakin tinggi
5. Meningkatnya
turisme dan pariwisata
6. Meningkatnya
ekonomi menjadi lebih produktif, efektif, dan efisien
Dampak Negatif:
1. Informasi yang
tak terkendali
2. Timbulnya sikap
yang ala kebarat-baratan
3. Munculnya sikap
individualism
4. Berkurang sikap
solidaritas, gotong royong, kepedulian dan kesetiakawanan
5. Perusahaan
dalam negeri lebih mementingkan perusahaan dari luar ketimbang perusahaan yang
ada dalam negeri membuat perusahaan dalam negeri sulit berkembang
6. Berkurangnya
tenaga kerja pertanian akibat dari sektor industri yang menyerap seluruh
petani.
7. Budaya bangsa
akan terkikis
Untuk anak usia dini, Dampak
Positif:
1. Untuk edukasi
secara E-learning
2. Mampu memahami
teknologi secara baik dan benar
3. Dapat
mempelajari bahasa-bahasa asing.
Dampak Negatif
1. Sosialisasi
anak-anak dengan dunia luar kurang
2. Perkembangan
Motorik anak kurang
3. Sikap pasif
pada diri usia dini yang tertanam tanpa sengaja.
C. Pengaruh
Globalisasi Terhadap Moral Anak
Arus modernisasi dan globalisasi itu mempunyai banyak nilai positif dan
negatifnya:[3]
Segi positifnya, informasi yang didapat menjadi lebih cepat dan akurat
daripada masa-masa sebelumnya yang kebanyakan masih menggunakan cara-cara
manual. Selain itu, semua orang juga merasa senang apabila ikut serta terhadap
perkembangan zaman. Mereka tidak mau dikatakan ketinggalan zaman. Malah orang
yang tidak mengikuti era globalisasi ini seringkali diejek oleh teman
sejawatnya.
Sisi negatif dari arus modernisasi dan globalisasi pun juga tak kalah
sedikitnya, fasilitas-fasilitas yang ada di era globalisasi ini sebagian besar
disalahgunakan oleh para penggunanya. Contoh, internet sekarang ini sering
dijadikan arena untuk mencari situs-situs porno, handphone digunakan untuk
menyimpan data-data yang tidak mendidik moral seseorang, dan lain-lain.
Hal yang sangat mengkhawatirkan adalah para penikmat
’aksesoris-aksesoris’ era modernisasi ini kebanyakan melakukan hal-hal yang
sebagaimana diungkapkan di atas. Yang membuat hati semua masyarakat Indonesia
miris lagi, objeknya adalah para remaja, sang penerus bangsa Indonesia di masa
yang akan datang. Para remaja bukannya ’disibukkan’ untuk menuntut ilmu dalam
meneruskan pembangunan bangsa ke depan, melainkan disibukkan dengan menikmati
’hiburan-hiburan’ yang tersaji pada era globalisasi sekarang ini, seperti
handphone, televisi, dan lain-lain. Bahkan, ’hiburan-hiburan’ yang bersifat
negatif pun mereka terima dan nikmati. Mereka tidak sadar bahwa hal itu akan
memorak-porandakan negara ini dalam waktu beberapa saat lagi.
Bagi para produsen, kelompok usia remaja adalah salah satu pasar bisnis
yang sangat potensial karena pola konsumsi seseorang itu terbentuk pada saat
usia remaja. Di samping itu, remaja juga sangat mudah terbujuk rayuan iklan,
suka ikut-ikutan teman, tidak realistis, dan cenderung boros dalam menggunakan
sesuatu yang dimilikinya, misalnya uang atau harta benda.
Sifat-sifat di atas itulah yang dimanfaatkan oleh para produsen untuk
memasuki ‘pasar remaja’. Jadi sering sekali kita lihat di televisi-televisi bahwa
intensitas acara remaja itu lebih banyak daripada acara kalangan usia lain.
Salah satu karakter yang khas di kalangan remaja adalah identifikasi (peniruan
dan penyeragaman) dalam suatu kelompok. Untuk itu, mereka biasanya membutuhkan
panutan untuk dijadikan contoh. Saat ini, kita harus mengakui bahwa remaja masa
kini miskin figur panutan yang bisa dijadikan contoh. Betapa tidak, di satu
sisi mereka sangat membutuhkan seseorang yang dapat dijadikan panutan,
sedangkan di sisi lain mereka disuguhi panutan-panutan yang berlaku negatif
yang sering tampil di layar-layar televisi, misalnya pemain sinetron yang
sering memerankan adegan berpacaran, berpegangan tangan antar lawan jenis, dan
lain-lain.[4]
Kuatnya pengaruh tontonan televisi terhadap perilaku seseorang telah
dibuktikan lewat penelitian ilmiah. Seperti diungkapkan oleh American
Psychological Association (APA) pada tahun 1995 bahwa tayangan yang bermutu
akan memengaruhi seseorang untuk berperilaku baik. Sedangkan tayangan yang
kurang bermutu akan mendorong seseorang untuk berperilaku buruk. Bahkan,
penelitian itu menyimpulkan bahwa hampir semua perilaku buruk yang dilakukan
orang adalah hasil dari pelajaran yang mereka terima dari media semenjak usia
anak-anak.
Sebuah penelitian tentang pergaulan remaja di kabupaten Bandung
memberikan informasi kepada kita bahwa sekitar 40 % remajanya sudah pernah
berciuman dengan pasangannya. Sedangkan 60 % remaja Bandung pernah bersentuhan
dengan teman lawan jenisnya. Dalam hal ini seperti berpegangan tangan, dan
lain-lain. Kemudian sekitar 25 % dari data itu sudah pernah melakukan hubungan
seksual dengan pasangannya. Hasil penelitian tersebut menjadi keprihatinan
tersendiri bagi kita semua, mengingat kabupaten Bandung belumlah menjadi daerah
yang modern seperti halnya kota Bandung.
Untuk menanggulangi permasalahan di atas diharapkan peran aktif pihak
keluarga terutama para orang tua dalam mendidik anak-anaknya agar anak-anaknya
tidak terjerumus ke dalam perbuatan yang negatif. Orang tua hendaklah
memberikan teladan yang baik kepada anak-anaknya. Sesungguhnya nilai moral dan
budi pekerti yang merupakan fondasi utama perilaku baik dapat dimiliki oleh
setiap orang dari keteladanan orang tua dan tokoh-tokoh masyarakat yang
diidolakannya.[5]
Pemahaman dan pengamalan ajaran agama semenjak dini pun diyakini dapat
menanggulangi permasalahan di atas. Pengetahuan agama akan membentengi
seseorang dari perilaku amoral, kriminal, dan budaya-budaya asing yang negatif.
D. Usaha yang
dilakukan Untuk Anak Usia Dini Tentang Globalisasi
Pada saat pengenalan teknologi pada anak usia dini, kita pun selaku
orang tua harus pintar-pintar untuk dapat mengajari anak-anak tentang
teknologi. Dan dapat memberikan pembelajaran di sekolah-sekolahnya dengan
pemblajaran Teknologi Informasi. Dan tentunya memberi batasan-batasan untuk
nmetode pengenalan ataupun pembelajaran untuk anak usia dini.
Dan tentunya, yang paling berpengaruh yaitu pengenalan atau pembelajaran
tentang teknologi informasi pada umur yang tepat.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwa globalisasi memiliki dampak
positif maupun negatif. Oleh karena itu, kita harus bisa mengambil manfaat yang
positif dan menghindari dampak negatif dari globalisasi. Globalisasi secara
langsung maupun tidak langsung dapat mempengaruhi perkembangan moral. Seseorang
dapat berperilaku buruk akibat penggunaan teknologi yang tidak pada tempatnya.
Efek dari Globalisasi tersebut dapat kita rasakan dalam kehidupan sehari-hari.
Meleburnya norma dan nilai di masyarakat akibat Globalisasi membuat generasi
muda tidak lagi mengindahkan aturan. Tindakan dan perilaku masyarakat yang
arogan, mengikuti mode/trend, bergaya hidup mewah/boros, merupakan contoh nyata
dari adanya globalisasi.
Semestinya, dengan adanya globalisasi akan mampu menjadikan hidup
manusia lebih mudah, cepat, efisien, dan hemat. Namun, penggunaan teknologi
yang tidak diimbangi dengan Sumber Daya Manusia yang berkualitas justru akan
menimbulkan masalah. Oleh karena itu, masayarakat harus dididik dan dilatih
agar benar-benar siap menghadapi arus Globalisasi yang memang tidak dapat
dihindari. Dalam hal pemanfaatan produk globalisasi, kesiapan mental dan moral
manusia merupakan modal yang sangat penting. Banyak kasus penyalahgunaan
teknologi disebabkan karena rendahnya moral dan mental manusia.
B. Saran
Pengenalan terhadap teknologi ataupun apapun yang berhubungan dengan
Globalisasi kepada anak-anak usia dini memanglah penting, akan tetapi selaku
orang tua wajib untuk selalu mengawasi anak-anaknya dalam penggunaan teknologi.
Dan pengenalan teknologi pada umur yang tepat adalah salah satu kuncinya.
DAFTAR
PUSTAKA
Wisok, Yohanes P. Etika: Mengalami Krisis, Membangun Pendirian.
(Bandung: Jendela Mas Pustaka, 2009)
Artikel Siana. Pengertian Globalisasi
Penyebab dan Dampaknya. (Online) sumber: http://www.artikelsiana.com diunggah pada 01/04/2015 pukul 17.00 dan diakses pada 05/11/2016 pukul 20.00 Wib.
Duska, Ronald; M. Whelan. Perkembangan
Moral: Perkenalan dengan Piaget dan Kohlberg, Terjemahan Dwija Atmaka.
(Yogyakarta: Kanisius, 1982)
Haricahyono, Cheppy. Dimensi-Dimensi
Pendidikan Moral. (Semarang: IKIP Semarang Pres, 1995)
[1] Wisok, Yohanes P. Etika:
Mengalami Krisis, Membangun Pendirian. (Bandung: Jendela Mas Pustaka,
2009) H. 65
[2] Artikel Siana. Pengertian Globalisasi Penyebab dan Dampaknya. (Online)
sumber: http://www.artikelsiana.com
diunggah pada 01/04/2015 pukul 17.00 dan
diakses pada 05/11/2016 pukul 20.00 Wib.
[3] Artikel Siana. Pengertian Globalisasi Penyebab dan Dampaknya. (Online)
sumber: http://www.artikelsiana.com
diunggah pada 01/04/2015 pukul 17.00 dan
diakses pada 05/11/2016 pukul 20.00 Wib.
[4] Duska, Ronald; M. Whelan. Perkembangan Moral: Perkenalan dengan
Piaget dan Kohlberg, Terjemahan Dwija Atmaka. (Yogyakarta: Kanisius, 1982)
H. 55
[5] Haricahyono, Cheppy. Dimensi-Dimensi Pendidikan Moral. (Semarang:
IKIP Semarang Pres, 1995) H. 162
No comments:
Post a Comment